<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630</id><updated>2011-04-22T01:02:28.759+07:00</updated><title type='text'>langitku biru</title><subtitle type='html'>Kucatat titik-titik embun dan kubiarkan mengkristal dalam hati  agar ia tersimpan abadi sebelum mentari merebutnya dariku</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://langitkubiru.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>50</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-6493746252403272674</id><published>2007-06-15T11:16:00.000+07:00</published><updated>2007-06-15T11:18:22.675+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>"Cantik Itu Luka" Sebuah Terobosan Literer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khazanah sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama saya merasa tak mendapatkan kepuasan optimum setiap kali selesai membaca sejumlah novel-novel karya penulis asli Indonesia, yaitu semenjak terakhir kali saya membaca “Olenka” karya Budi Darma. Dan baru kali ini saya memperoleh kembali kenikmatan itu, setelah saya menyelesaikan pembacaan saya yang kedua kalinya atas “Cantik Itu Luka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik untuk dicermati, bahwa “Cantik Itu Luka” adalah sebuah novel yang menawarkan begitu banyak alternatif kemungkinan pembacaan, dan oleh karena itu ia jauh dari kata membosankan. Ia tidak saja menawarkan sebuah fiksi dengan latar sejarah yang digarap dengan pendekatan yang cukup komprehensif, namun juga didukung oleh resensi dan riset penulisan yang cukup lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal, “Cantik Itu Luka” telah berhasil menampilkan persingunggan dengan fakta yang cukup rinci dan sekaligus mendetail. Di sisi lain, karya tersebut memiliki kesadaran yang sangat kuat atas keberadaannya sebagai sebuah karya fiksi, yang dengan bebas melakukan manufer-manufer yang nyaris tak terbatas, bahkan hingga yang paling liar sesuai dengan kekuatan imajinasi sang pengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam novel ini, secara jenial Eka berhasil meramu begitu banyak aspek permasalahan, beragam peristiwa, dan juga berbagai karakter manusia yang multi dimensional, hingga menjadi sebuah adonan yang luar biasa kaya dan mengenyangkan. Bila coba kita urai satu persatu, maka akan kita temukan berbagai hal yang berkaitan dengan fakta-fakta sejarah, legenda dan juga mitos, kondisi sosio-kultural masyarakat dari berbagai bangsa, sisi-sisi psikologis manusia yang paling wajar hingga kepada yang paling absurd, sampai pada romantika dari hubungan cinta, seksualitas dan kebencian yang demikian rumit dan berbelit sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tak berhenti sampai di situ, ia juga menampilkan masalah-masalah pelik yang berhubungan dengan aspek ideologis, politis hingga filsafat. Yang antara lain muncul dalam sosok seorang preman, seorang partisan, seorang syudanco, serta seorang pelacur kelas atas yang sekaligus seorang ibu dari sejumlah anak gadis. Dan Eka juga membawa kita menelusuri sejumlah proses pencarian jati diri dari beberapa orang anak manusia, serta konflik-konflik kejiwaan para tawanan perang dan penderitaan para jugun ianfu, hingga perjuangan manusia dalam upaya menegakkan harkat kemanusiaanya untuk dapat meraih kemerdekaan dan kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu semua, dengan fasih Eka juga berbicara tentang berbagai fenomena yang berhubungan dengan hal-hal yang berbau gaib, supranatural dan juga misteri, serta yang berkaitan dengan masalah kanuragan dan kedigdayaan hingga masalah penyimpangan seksual. Semua itu mampu ia lebur menjadi satu menjadi sebuah karya yang tidak saja apik, namun sanggup mengocok imajinasi pembaca hingga melampaui batas-batas realitas dan juga ilusi, fakta dan fiksi sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebabnya mengapa saya berani mengatakan, bahwa “Cantik Itu Luka” adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khasanah sastra Indonesia. Ia telah melampaui semua batas-batas pencapaian yang telah dilakukan oleh para penulis pendahulunya. Ia tidak berhenti sebagai sebuah fenomena realisme absurd sebagaimana “Olenka” dan “Rafilus” karya Budi Darma. Ia juga mampu  mengupas problematika seksualitas dan kisah percintaan dengan latar sejarah menjadi sebuah drama dan sekaligus epik yang menggugah sebagaimana trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” nya Ahmad Tohari, dan dwilogi milik Ayu Utami “Saman” dan “Larung.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter-karakter tokoh dalam “Cantik Itu Luka” terasa begitu komplet dan kaya. Dalam banyak hal, mereka juga terasa begitu hidup. Sekilas mereka memang tampak berkesan main-main, namun di dalam upaya main-main itu mereka juga sekaligus bisa sangat serius. Memang, banyak karakter-karakter di dalam novel ini yang digambarkan oleh sang penulis dengan cara sedemikian rupa, hingga memberi kesan komikal. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki kedalaman. Menurut pengamatan saya, sebagian besar karakter bahkan telah berhasil menampilkan sisi yang paling  tragis dan paling ironis dari kehidupan manusia yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit kelemahan barangkali adalah karena Eka terlampau berani menafikan logika justru kepada hal yang menurut saya sangat mendasar. Bahwa ada beberapa hal, yang menurut saya tetap membutuhkan sebuah penjelasan logis. Dan itu yang tidak berhasil saya temukan sampai kisah ini berakhir. Seperti misalnya dalam kasus mayat sang tokoh utama yang hidup lagi setelah puluhan tahun itu. Walaupun bengkoknya logika tersebut tak mengurangi kenikmatan saya dalam membaca. Namun, rasa ingin tahu atas dasar apa Eka membuat “absurditas” itu menjadi suatu hal yang dapat diterima sebagai kewajaran dalam sebuah fiksi dengan latar sejarah, tetap saja menyisakan sebuah ganjalan di dalam diri saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun patut saya katakan, bahwa masa depan sastra Indonesia banyak bergantung kepada orang muda seperti Eka Kurniawan. Ia tidak berhenti sebagai seorang pendongeng yang cerdas dan sekaligus piawai memainkan alur cerita, dan menggambarkan watak serta karakter tokoh-tokohnya dengan cara yang demikian hidup. Namun lebih daripada itu, harus saya akui bahwa ia mempunyai sebuah visi yang jauh melampaui pemikiran penulis-penulis yang sebaya atau bahkan lebih tua dari usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Juni 2007&lt;br /&gt;Titon Rahmawan&lt;br /&gt;titon87@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-6493746252403272674?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/6493746252403272674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/6493746252403272674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#6493746252403272674' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-1243701685470356852</id><published>2007-06-14T17:04:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T17:05:23.580+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Andaikata Dabir Seorang Penyair*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ketika rekan saya yang bernama Dabir menyatakan hal serupa ini kepada saya, bahwa menulis sajak baginya pertama-tama adalah merupakan sebuah solilokui, yaitu sebentuk percakapan dengan diri sendiri sebagai upaya yang ia lakukan terus menerus untuk memberikan penafsiran atas sekumpulan embun yang perlahan-lahan membatu di dalam dirinya. Embun itu memang bukan sembarang embun yang kita kenal, lebih kurangnya ia adalah merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang kita terima di dalam kehidupan. Dabir teman saya ini memang lain daripada yang lain. Ia dikenal sebagai orang yang selalu berlagak puitis dan mengaku-aku dirinya sebagai seorang penyair, bukan saja karena ia paling getol menulis puisi namun di dalam bentuk percakapan sehari-hari pun ia paling suka mempergunakan kata-kata yang berbau-bau puisi. Sepertinya hal itu merupakan bagian yang sudah terlanjur melekat dengan dirinya. Walau kadang-kadang saya dibuat jengkel oleh gayanya yang norak dan berlebihan, namun dalam banyak hal saya juga belajar dari dirinya. Mungkin ia memang tidak sembarangan ngomong, mungkin juga karena ada saya temukan lentik-lentik kebenaran di dalam kata-katanya itu.&lt;br /&gt;Kembali ke rekan saya Dabir, ia sempat bilang bahwa titik-titik embun itu telah ia himpun sepanjang perjalanan hidupnya setetes demi setetes. Sekalipun sekarang embun itu telah menjelma menjadi batu kristal dengan begitu banyak kilau yang penuh dengan berbagai warna tetapi proses mencari dan mengumpulkan embun itu sendiri masih merupakan sebuah prosesi yang terus ia jalani. Selanjutnya Dabir mengatakan pada saya bahwa menulis sajak adalah merupakan upaya bagi dirinya untuk memahami diri sendiri yaitu lewat ungkapan kata-kata. Karena pemikiran, perenungan dan pengalaman seringkali begitu cepat berlalu bersama angin tanpa pernah sempat ia dokumentasikan. Dengan mimik yang bersungguh-sungguh Dabir bilang pada saya bahwa ia tak ingin mati dengan cara seperti itu, mati sendiri tanpa meninggalkan sebuah jejak pun.&lt;br /&gt;Saya memang tak seketika menangkap apa yang dimaksud oleh Dabir ketika itu, maklum saja karena daya tangkap saya memang seringkali lemah, apalagi kalau harus menafsirkan kata-katanya yang penuh dengan simbol-simbol atau dengan pralambang yang rumit serupa itu. Memang tak gampang bagi saya untuk menangkap makna sebuah sajak seperti yang sering Dabir perlihatkan kepada saya. Butuh waktu lama bagi saya untuk menangkap apa yang tersembunyi di balik setiap pilihan kata-katanya dan saya selalu kesulitan untuk dapat mengupas lapis-lapis makna yang sengaja ia sembunyikan di balik balutan metafora. Jadi saya hanya bisa manggut-manggut ketika Dabir dengan penuh semangat berkata kepada saya dengan gaya yang kocak serupa ini, bahwa ia memakai sajak sebagai tempat untuk bercermin dan seringkali pula ia merasa dirinya telah tenggelam ke dalam sajak, karena sekalipun kilau embun itu sudah ada di dalam dirinya seringkali pula ia masih harus jauh menggali dan menafsirkannya kembali bahkan untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Dengan penuh antusiasme dan kepercayaan diri Dabir menegaskan bahwa sajak-sajaknya tidaklah lahir dengan sendirinya, seringkali ia masih harus berlari-lari untuk menangkap makna dari kata-kata itu, yang seolah-olah beterbangan serupa bunga-bunga rumput liar di tengah padang. Kadang-kadang kata-kata itu berhenti dan membiarkan Dabir menarik nafas sejenak untuk merenungkan kembali setiap sisi peristiwa dari setiap kilau embun yang berhasil ia temui, sayang-sayangnya banyak masa terlewat demikian saja tanpa pernah berhasil ia catat. Juga saat bunga rumput itu terbang terbawa angin ke tempat jauh sehingga seringkali pula Dabir merasa telah kehilangan jejak. Oleh sebab itu besar sekali dorongan hasrat dalam dirinya untuk dapat menemukan kembali seluruh jejak-jejak yang terlewat dari seluruh kehidupannya di masa lampau.&lt;br /&gt;Di setiap kelahiran sebuah sajak Dabir merasa perlu untuk memperoleh sebuah penegasan atas keberadaan jejak itu sebagai sebuah keinginan dalam dirinya untuk menggoreskan rajah di atas dedaunan atau dalam upayanya mengguratkan jari ke batang pohon. Saya sekali lagi memang tak tahu persis apa yang sesungguhnya ia maksud dengan segala ungkapan-ungkapannya yang sok puitis itu, namun tak ada hal lain yang dapat saya lakukan selain manggut-manggut sambil menatap ke arah wajah Dabir dengan sorot mata penuh kekaguman. Hal itu membuat Dabir bertambah bersemangat untuk meneruskan wejangan-wejangannya. Sekali lagi Dabir menegaskan bahwa ia tidak ingin karya-karyanya sekedar menjadi sebuah bayang-bayang semu dari realitas. Dabir tak ingin menulis di atas pasir karena ia tahu angin akan segera menghapuskannya, sekali lagi ia tak ingin mati dengan cara demikian, ia tak ingin mati begitu sajak-sajak itu selesai ia tuliskan! begitu kata Dabir dengan mata berapi-api dan dengan ludah yang muncrat kemana-mana.&lt;br /&gt;Saya mungkin dapat sedikit menangkap betapa rekan saya Dabir itu memiliki hasrat yang sangat luar biasa kuat untuk dapat hidup di dalam sajak-sajaknya dan apakah hasrat Dabir itu akan terpenuhi saya tak sepenuhnya tahu karena saya bukan nabi atau malaikat, tapi dengan kesadaran terbatas seorang manusia yang daif saya mungkin dapat mempercayai pandangannya bahwa banyak orang-orang di dunia ini yang akan terus berbicara lewat sajak seperti angan-angan ulat untuk menjelma menjadi kupu-kupu, karena seperti ujaran Dabir sendiri saya merasa yakin bahwa siapa pun sesungguhnya orang-orang yang memiliki hasrat besar seperti Dabir selalu memiliki sayap kupu-kupu dalam dirinya untuk mewujudkan impian-impian itu.&lt;br /&gt;Dabir memang tak bosan berkotbah dan saya memang senang mendengar ujaran-ujarannya yang kocak, seperti ia katakan satu kali di warung Mbok Darmi sambil sibuk mengunyah bakwan dan sesekali menyeruput segelas teh manis. Dabir menyatakan padaku bahwa sajak haruslah merupakan lentik sebuah pemikiran, ia tidak cukup semata-mata indah dan menghibur, ia harus menjadi sebuah kilau kristal embun yang berkilau, yang sanggup memberi makna dan memberi pengharapan untuk bisa menyentuh jauh ke dalam lubuk hati pembacanya. Karena sesungguhnyalah setiap lentik pemikiran, perenungan, dan pengalaman  demikian berharga untuk di lewatkan begitu saja. Begitu kata Dabir sambil terus mengunyah bakwan Mbok Darmi yang memang terkenal lezat.&lt;br /&gt;Dabir selalu berpijak pada satu anggapan bahwa hidup seharusnya merupakan serangkaian proses berpikir, sementara dalam proses berpikir itu seringkali kita tak dapat menduga dari mana ia berawal dan kemana ia menuju karena ide atau gagasan seringkali tercetus begitu saja tanpa manusia sadari. Pengalaman puitik seringkali lahir dari kegairahan pada waktu membaca karya orang lain dan kegiatan membaca sangatlah merangsang otak untuk berpikir. Tidak seperti saya yang selalu malas-malasan kalau disuruh membaca, apalagi untuk membaca yang berat-berat. Dabir suka sekali membaca Lorca, Rimbaud, Octavio Paz, Ts. Eliot, Gabriel Garcia Marques dan Nietzsche misalnya dan sekalipun ia berulangkali menyatakan pada saya bahwa ia tidak selalu setuju dengan pandangan-pandangan dari tokoh-tokoh besar itu tapi Dabir merasa senang karena tulisan mereka telah memaksa dirinya untuk berpikir dan dalam proses berpikir itulah Dabir menyatakan bahwa sering timbul gagasan di dalam dirinya untuk menulis apa saja dan terutama sajak.&lt;br /&gt;Jadi begitulah sajak-sajak Dabir lebih banyak hadir karena sebuah pemikiran dan lebih sedikit mungkin oleh karena kejadian yang ia rasakan di dalam kehidupan, dan bilamana sajak itu tidak mencerminkan lentik pemikiran seperti yang ia inginkan maka Dabir akan menganggap sajak itu sebagai sebuah karya yang gagal. Dalam kesempatan lain di sebuah sesi diskusi tentang sastra di sebuah milis saya pernah melihat tulisan Dabir seperti ini, bagi Dabir perjalanannya sejauh ini telah mengajaknya untuk bertualang melalui padang kata-kata dan ia merasa dirinya telah cukup berhasil mengumpulkan sekian tetes embun. Akan tetapi Dabir sesungguhnya tak cukup yakin apakah ia telah cukup jauh berjalan dan berhasil mengumpulkan kilau-kilau embun yang paling murni, tapi setidaknya ia telah berusaha menampung embun-embun itu dari ujung-ujung rumput dan dedaunan yang berhasil ia temui. Dan barangkali pula dari yang sedikit terkumpul dan ia catat itu ada yang cukup berguna untuk dibaca kembali, ditafsirkan sekali lagi dan mungkin juga bermanfaat bagi orang-orang lain juga.&lt;br /&gt;Saya ingat sekali bahwa saya tertawa waktu membaca catatan Dabir kala itu, karena ia toh tak merasa cukup yakin dengan pendapat serta apa yang ia tuliskan sendiri. Jadi bagaimana ia dapat memotivasi orang lain dengan karya-karyanya itu kalau ia tak pernah menghasilkan sebuah bukti yang nyata bahwa karyanya memang layak untuk dihargai? Saya tahu Dabir memang gemar berandai-andai seperti juga yang penah dinyatakannya sendiri bahwa seandainya saja sajak-sajaknya itu sanggup berbicara lebih lantang, lebih dalam, atau lebih jauh dari kemauannya maka itu adalah sebuah keniscayaan agar dirinya dapat terus hidup di dalam sajak-sajaknya. Bagi Dabir sekali lagi karya-karyanya itu adalah merupakan sebentuk upaya untuk meraih keabadian di dalam pikiran-pikiran orang lain. Sekali lagi saya tertawa dalam hati dan berusaha memaafkan kenaifannya. Bagi saya pikiran-pikiran Dabir tetap merupakan cetusan perasaan yang polos dan barangkali juga agak berlebihan, tapi betapapun ia tetap merupakan seorang sahabat yang menyenangkan. Sampai kemudian saya menemukan fakta beberapa karya Dabir mulai bermunculan di media massa dan sebuah sajak karyanya bahkan telah berhasil pula memenangkan sebuah sayembara sebagai karya terbaik. Saya sejenak tersentak dan sekaligus kagum, ternyata Dabir teman saya itu telah mulai menemukan jalan untuk meraih apa yang selama ini ia cita-citakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta,  Desember 2003 - Juli 2006&lt;br /&gt;Titon Rahmawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tulisan ini terinspirasi oleh esei Budi Darma yang berjudul “Andaikata Nirdawat Seorang Kritikus Sastra” dari kumpulan esei “Harmonium” (Pustaka Pelajar, Yogyakarta 1995)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-1243701685470356852?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/1243701685470356852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/1243701685470356852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#1243701685470356852' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-8717487875312129000</id><published>2007-06-14T17:03:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T17:04:32.633+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>budi darma - posting 8:&lt;br /&gt;D. KESAN-KESAN PRIBADI ATAS KARYA-KARYA BUDI DARMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan saya sebagai pembaca pernah berpikir mengapa sosok-sosok karakter dalam novel “Olenka” karya Budi Darma itu seolah merasuk begitu rupa ke dalam benak saya. Saya memang tidak menemukan jawabannya seketika itu juga sampai kemudian saya menemukan buku kumpulan esei Budi Darma yang berjudul ”Solilokui” dan juga “Harmonium” yang kebetulan sekali saya peroleh di sebuah kios tukang loak di Pasar Senen (agak ironis memang). Di dalam kumpulan esei tersebut saya kemudian memperoleh sebuah penjelasan yang lebih masuk akal atas pertanyaan-pertanyaan yang sekilas memenuhi diri saya betapa sesungguhnya “Olenka” memang terlahir dari sebentuk obsesi, dan entah bagaimana obsesi yang menghinggapi Budi Darma pada waktu ia menulis “Olenka” itu agaknya telah berhasil ia tularkan dengan cara sedemikian rupa ke dalam diri saya sebagai pembaca. Sejak saat itu entah mengapa setiap kali saya hendak menulis saya pasti selalu teringat kepada Olenka, dan dorongan itu entah bagaimana pula telah menjelma menjadi  sebuah serbuan inspirasi, sesuatu yang mendorong saya untuk menuangkan uneg-uneg ke dalam bentuk sebuah tulisan.&lt;br /&gt;Dalam berbagai peristiwa “Olenka” memang telah menjadi sumber inspirasi bagi diri saya, dapat saya utarakan pula bahwa “Olenka” merupakan buku pertama yang mendorong saya untuk menulis. Harus saya sadari bahwa saya memang telah tergila-gila pada “Olenka” dan tentu saja hal tersebut dalam artian yang positif dimana “Olenka” tidak saja berperan menjadi pendorong motivasi saya dalam menulis, dan di sisi lain ia telah menjadi referensi awal bagaimana seharusnya saya menulis. Dan sejauh ini memang tak ada karya lain yang melampaui “Olenka” sebagai pendorong motivasi kepenulisan saya. Novel pertama saya lahir sedikit banyak karena terinspirasi oleh “Olenka”, walaupun pada waktu menulis novel tersebut saya telah berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari bayang-bayang “Olenka” namun harus saya akui bahwa saya tidak sepenuhnya berhasil, karena dapatlah saya rasakan betapa ‘Olenka’ seolah telah meninggalkan begitu banyak jejak di dalam seluruh batang tubuh novel saya tersebut. Bagi saya karya pertama itu betapapun adalah merupakan suatu hal yang sangat bagus karena sebelumnya saya tak pernah mengira akan berhasil menyelesaikan sebuah novel dan bahkan saya tidak pernah berpikir akan menulis sebuah novel.&lt;br /&gt;Pengaruh “Olenka” telah saya rasakan semenjak awal mula dari proses kepenulisan saya, saya tahu dan sadar bahwa saya tak mungkin hidup di bawah bayang-bayang keberadaannya. Saya harus berusaha keluar dari gaya penulisan serupa ini, dan saya sungguh bersyukur bahwa ternyata kemudian saya mampu. Namun saya tidak akan memungkiri realitas bahwa “Olenka” secara tidak langsung telah membesarkan diri saya, dan mengajarkan banyak hal kepada diri saya. Bahwa untuk menjadi penulis serius kita harus sungguh-sungguh hidup dari pikiran-pikiran kita sendiri yang paling sublim, serta dari pengalaman-pengalaman puitik yang paling menyentuh hati, dan juga dari perasaan-perasaan terdalam yang paling otentik. Dan kesemua gagasan itu harus berdiri di atas sebuah kebenaran yang sifatnya universal. Bahwa dengan segenap bekal berharga serupa itu kita berharap dapat menuangkan gagasan-gagasan yang lebih orisinal, lebih bermakna dan sekaligus lebih berkualitas.&lt;br /&gt;Namun harus pula saya akui bahwa tanpa pernah bersentuhan dengan “Olenka” saya mungkin tak akan pernah menulis sama sekali. Yang jelas Olenka telah memicu hasrat di dalam diri saya untuk terus menulis hingga saat ini. Boleh jadi karya saya yang pertama lahir dari sebentuk obsesi yang kurang lebih sama dengan yang memicu kelahiran Olenka. Disitulah sesungguhnya saya menemukan adanya sebuah ‘chemistri’ dan sekaligus keterikatan psikologis bahwa saya tidak sekedar terkesan oleh keberadaan novel itu, namun lebih jauh lagi saya sudah jatuh cinta padanya. Barangkali realitas serupa itu terdengar absurd dan tak masuk akal, namun demikianlah kenyataan yang sesungguhnya. Benar apa yang dikatakan Budi Darma bahwa karya-karya yang baik tidak berhenti sekedar sebagai sebuah bacaan namun ia sekaligus memberikan inspirasi bagi orang lain. Sebagaimana juga pemikiran atas asal-muasal demokrasi yang tak mungkin lahir tanpa adanya karya-karya besar dari para filsuf mulai dari Plato, Aristoteles, John Locke, hingga Rousseau. Dan adalah sebuah ketidakmungkinan wajah dunia akan menjadi seperti saat ini bila tak ada orang-orang seperti Kristus, Nabi Muhammad, Thomas Aquinas, Machiavelli, Karl Marx dan mungkin juga Hitler.&lt;br /&gt;Saya bahkan dapat menegaskan kepada diri saya sendiri bahwa tanpa membaca Olenka mungkin saya tak akan pernah menemukan katup-katup yang memicu hasrat kepenulisan di dalam diri saya, dengan kata lain pula bahwa saya mungkin tidak akan pernah menulis sama sekali. Saya tak akan pernah membuat puisi, esei, cerpen dan mungkin juga novel tanpa pernah bersentuhan dengan Olenka. Sedemikian dahsyatkah pengaruh novel itu bagi diri saya? Saya rasa demikian, tak syak lagi “Olenka” adalah sebuah novel yang sangat inspiratif, sugestif dan sarat dengan begitu banyak nuansa pemikiran, gejolak-gejolak perasaan dan sekaligus ketegangan psikologis. Tak banyak saya temukan karya-karya serupa itu baik di dalam kazanah kesusasteraan kita maupun dalam literatur-literatur asing. Dalam “Olenka” seakan kita dibawa untuk menjelajahi dan menelisik lebih jauh atas hasrat-hasrat yang terbelenggu di dalam diri seorang manusia serupa Olenka, kegelisahan batin seorang Fanton Drummond, ketidak berdayaan Wayne Danton, serta keresahan Mary Jane. Ada ketegangan dramatik di dalam hubungan tokoh-tokoh di dalam novel itu, ada lesatan-lesatan pikiran yang demikian imajinatif, perbenturan-perbenturan keinginan manusiawi, kejutan-kejutan romantik yang saling berkelit-kelindan di dalam sebuah rangkaian kisah yang sedemikian hidup dan sekaligus memikat.&lt;br /&gt;Budi Darma menuturkan seluruh jalinan kisah “Olenka” itu dengan tehnik penulisan yang telah purna, terasa begitu lancar mengalir (meminjam istilah Satyagraha Hoerip) seperti air mancur yang ngocor dengan derasnya dari pancuran sawah, seakan seluruh jalinan kisah itu merupakan hasil sebuah reportase dari jalannya berbagai peristiwa yang saling kait-berkait. Dengan serta merta pula pembaca akan dibawa dari satu peristiwa kelain peristiwa tanpa merasakan adanya jeda yang membosankan atau sedikit saja lanturan, semua mengalir begitu saja. Inilah kelebihan “Olenka” yang bahkan tidak saya temukan dalam karya-karya Budi Darma yang lain. Tidak di dalam “Rafilus”, dan terlebih bila kita bandingkan dengan novelnya yang lain, “Ny. Talis” (kisah tentang Madras) &lt;br /&gt;Kelebihan “Olenka” di banding “Rafilus” adalah kita merasakan begitu banyak loncatan pikiran, begitu banyak hasil perenungan yang tidak saja dalam namun juga puitis, memang “Olenka” lebih banyak berbicara dalam tataran pemikiran. Ia mengeksplorasi sisi psikologis para tokohnya dengan cara yang demikian luar biasa menawan. Sementara itu di dalam “Rafilus”, kita merasakan pergerakan yang agak lebih lambat, jalan cerita yang lebih berbelit dan lebih banyak bertutur di dalam tataran fisik. Hampir tak ada gejolak-gejolak pemikiran di dalamnya, tokoh-tokoh “Rafilus” lebih banyak bergumul dalam konteks yang lebih bersifat fisikal. Budi Darma bahkan tidak mengijinkan tokoh-tokohnya untuk berpikir, kita tidak menemukan satu penjelasan logis mengapa kepala Rafilus harus terpental sedemikian rupa dan berulang kali terlibas kereta tanpa menderita cedera sedikit pun. Walaupun demikian “Rafilus” tetap memberikan kepuasan tertentu walaupun tidak seoptimum yang saya rasakan seperti pada waktu saya membaca “Olenka” dan dapat saya katakan bahwa “Rafilus” juga jauh  lebih menarik dibandingkan dengan “Ny. Talis”. Namun banyak hal lagi yang lebih sulit untuk kita pahami di dalam novel Budi Darma yang satu ini. Absurditas yang banyak muncul di dalam novel “Rafilus” masih menemukan benang merah dengan latar belakang kehidupannya yang cenderung komikal namun di dalam novel “Ny. Talis” tak kita temukan gagasan komikal itu, seolah tokoh-tokoh bergerak di ranah yang lebih tak masuk akal lagi, yaitu sebuah kawasan antah berantah yang sulit kita temukan referensinya dengan realitas kehidupan kita sehari-hari. &lt;br /&gt;Bahkan dari segi pemberian judul pun saya merasakan adanya ketidakkonsistenan tersebut, sub judul “kisah tentang Madras” sepertinya terpaksa ditambahkan kemudian, karena referensi mengenai penulisan “Ny. Talis” ini sebetulnya telah muncul pada waktu Budi Darma masih menggarap “Olenka” sebagaimana kita ketahui “Ny. Talis” memang ditulis lebih awal dari “Olenka”. Keberadaan Ny. Talis itu sendiri terasa tidak fokus lebih menyerupai tempelan dari kisah Madras, yang merupakan tokoh utama dalam kisah tersebut yang sepenuhnya berbeda dengan keberadaan tokoh Olenka yang walaupun bukan representasi dari si tokoh aku namun merupakan subyek utama di dalam kisah itu sendiri.&lt;br /&gt;Kekuatan utama tentang pengolahan bahan-bahan yang akrab dalam novel “Olenka”, seperti setting, karakter tokoh-tokohnya yang sangat unik, hingga jalannya peristiwa tidak ada kita temukan di dalam “Ny. Talis”. Bagi mereka yang telah membaca Olenka sebelumnya mungkin akan beranggapan bahwa novel “Ny. Talis” ini adalah merupakan sebuah anti klimaks. Betapapun memang agak kurang berimbang untuk membandingkan kedua novel tersebut, walaupun kita juga tahu bahwa “Ny. Talis” ditulis dalam kurun waktu yang lebih lama, sempat terhenti selama beberapa waktu justru untuk menuliskan “Olenka” ini. Namun dari sini justru kita dapatkan sebuah  pelajaran betapa pentingnya pengaruh ketegangan akibat dari keberadaan “obsesi” itu dalam keberhasilan sebuah tulisan. Apa yang tengah dialami dan dirasakan oleh Budi Darma saat itu sehingga ia mengabaikan naskah yang telah digarapnya selama kurun waktu tertentu demi menyelesaikan naskah yang lain. Pasti ada sebuah dorongan hasrat yang sangat kuat untuk dapat berkarya dengan pendekatan serupa itu.  Bukannya tak mungkin bahwa ia telah menyihir saya. Sebagai sebuah catatan saya telah membaca novel “Olenka” ini tidak kurang dari delapan kali, bagi saya hal itu merupakan sebuah rekor tersendiri, tak ada karya lain yang lebih sering saya baca selain daripada novel “Olenka” ini. Entah bagaimana pula saya senantiasa menemukan hal-hal baru setiap kali saya selesai membacanya. Dan lebih dalam lagi saya merasa terpikat, saya merasakan semacam keterikatan yang tiada lain dari sebuah ‘chemistri’. Bagi saya “Olenka” adalah sebuah fenomena, ia tidak saja membawa saya pada sebuah dunia fiktif rekaan yang semata-mata hidup di dalam pikiran seorang penulis, namun lebih jauh lagi ia telah menggiring saya ke dalam sebentuk kehidupan yang sedemikian kaya dengan berbagai nuansa pemikiran. Sebagai pembaca saya tidak pernah merasa jemu saat membacanya bahkan seakan saya dapat merasakan bagaimana sosok-sosok itu berkelebat dan kemudian hidup di dalam pikiran saya dan menghantui segenap proses di dalam penulisan karya-karya saya sendiri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-8717487875312129000?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/8717487875312129000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/8717487875312129000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#8717487875312129000' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-4281704213122650642</id><published>2007-06-14T17:02:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T17:03:20.126+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>budi darma - posting 7:&lt;br /&gt;3. “RAFILUS” POTRET ABSURDITAS DAN SIMBOL KEHIDUPAN MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kelam barangkali bukan merupakan satu-satunya kata yang paling tepat untuk menggambarkan dunia yang ingin dinyatakan oleh Budi Darma di dalam novelnya yang berjudul “Rafilus” ini. Karena barangkali ada kata lain yang menurut saya jauh lebih mewakili yaitu absurd. Absurd memang mengandung pengertian mustahil atau tak masuk akal, dan di dalam banyak hal ia tidaklah senantiasa identik dengan kekelaman. Memang kekelaman banyak mewarnai seluruh isi novel ini, namun kekelaman itu bukanlah satu-satunya kesan yang kemudian kita tangkap, kekelaman lebih merupakan gambaran sekilas daripada esensi keseluruhan novel. Absurditas adalah merupakan benang merah dan sekaligus esensi pembentuk karya ini. Yaitu gambaran absurditas dari karakter-karakter manusia yang timbul-tenggelam di dalam serentetan peristiwa dan permasalahan utama di dalam novel ini.&lt;br /&gt;Di dalam “Rafilus”, Budi Darma sepertinya memang hendak menampilkan sebuah rangkaian potret. Tidak serupa dengan novelnya terdahulu “Olenka”, ia tidak mengajak kita untuk berpikir. Ia justru menyeret kita memasuki realitas sebuah dunia yang sepertinya tampak demikian dekat dan akrab dengan kehidupan kita namun sekaligus jauh. Dengan mengambil setting kota Surabaya dan sekitarnya realitas itu sepintas lalu terasa tidak berjarak, akan tetapi dengan gambaran-gambaran karakter yang sedemikian ekstrem sepertinya realitas itu kemudian mengalami semacam metamorphosis menjadi sebuah dunia yang sedemikian amburadul, keras dan bahkan kasar. Dan kita pun seolah dipaksa untuk menjadi saksi atas segenap kekasaran dan centang-perentangnya kehidupan manusia. Di dalam dunia yang ditinggali oleh Rafilus dan juga Tiwar ini kita memang tak menemukan panorama lain daripada sebuah potret kekelaman sebagai perwujudan dari carut-marutnya kehidupan sekelompok manusia yang pada dasarnya adalah binatang. Sebagai binatang maka tokoh-tokoh di dalam novel ini tak dapat berbuat lain selain daripada melata. Dan sebagai binatang mereka sama sekali tidaklah diijinkan untuk berpikir, sekiranya mereka sanggup berpikir sekalipun maka mereka tidaklah berpikir sebagaimana para pendeta atau filsuf yaitu demi meraih atau membongkar makna kebenaran. Mereka berpikir hanya untuk sekedar mempertahankan eksistensinya. Sebagai binatang tak ada hal lain yang dapat mereka lakukan selain daripada mengikuti dorongan naluri, atau sekedar menuruti hasrat untuk memuaskan kehendak dan keinginan di dalam dirinya masing-masing. &lt;br /&gt;Tak heran semenjak awal kisah kita akan disuguhi serangkaian kejadian dan juga peristiwa yang tak lain adalah merukan perwujudan dari kehendak rendah manusia dalam upaya memenuhi hasrat fisik dan juga materinya. Pada dasarnya sifat-sifat kebinatangan itulah yang menjadi tema utama dari keseluruhan kisah Rafilus ini. Dan manakala sekumpulan binatang itu saling berbenturan antara satu dengan yang lain maka yang kita saksikan kemudian adalah sebuah gambaran realitas yang nampak demikian ekstrem dan sekaligus absurd. Kita mungkin tak akan dapat memahami gambaran tokoh-tokoh serupa Rafilus, yang dijabarkan sebagai sosok yang seakan tiada tersusun daripada tulang dan daging melainkan dari lonjoran-lonjoran besi. Digambarkan pula bahwa sekiranya Rafilus bukanlah sebuah kejanggalan maka tiada kejanggalan yang menyerupai dirinya. Memang banyak kita temui kejanggalan di dunia ini seperti orang yang berkepala dua, orang tak berkaki, dan orang yang mempunyai pantat tanpa lubang namun tidaklah mungkin orang-orang itu terbuat dari bahan yang salah, dan tokoh kita Tiwar sebagai penutur tunggal di dalam rangkaian kisah Rafilus ini seolah mendapat kesan bahwa Rafilus benar-benar terbuat dari besi dan oleh karena itu tidak mungkin mati, rebah terguling ke tanah dan kembali menjadi tanah.&lt;br /&gt;Selain Rafilus kita akan menjumpai tokoh eksentrik serupa Jumarup, seorang yang sangat kaya dan memiliki banyak sekali perusahaan, mulai dari pabrik kaos oblong, pabrik lampu petromaks, dan sebuah bank. Namun gambaran absurd dari tokoh ini tampak dari sikapnya yang jumawa pada saat ia mengundang sejumlah besar warga kota untuk menghadiri pesta khitanan anak tunggalnya. Di dalam pesta itu jumarup dan anggota keluarganya justru tidak muncul, ia malahan menyewa sejumlah restauran besar untuk melayani segala kebutuhan para tamu namun ia sendiri tak menampakkan batang hidungnya. Seluruh tamu sengaja dibuat bingung dan dibiarkannya berlalu-lalang tak tahu apa yang harus mereka lakukan, sementara itu segala tindak-tanduk mereka direkam dengan kamera. Sintingnya lagi,  semua tamu yang diundang itu tak pernah melihat atau mengenal Jumarup dari dekat, mereka dipilih secara acak dari surat pembaca di surat kabar, pemenang teka-teki silang, dan daftar-daftar lain yang tidak jelas. Apa yang dilakukan oleh Jumarup itu bisa jadi adalah meruapakan perwujudan keinginan untuk mempermain-mainkan hidup orang lain sebagai cerminan watak seorang megalomania.&lt;br /&gt;Kita juga akan berkenalan dengan seorang pemuda berandalan bernama Sinyo Minor yang kerjanya tak lain daripada membuat onar dengan mencuri, menganiaya atau memalak orang lain. Dan sebagai orang yang tidak ketahuan juntrungannya ia dengan gampang dan tanpa perasaan bersalah telah menembak sekawanan burung di taman dan juga kera piaraan seorang pemilik toko bernama Albatrip. Ia juga adalah orang yang dicurigai telah menembak seorang perempuan dan juga terlibat dalam beberapa peristiwa tabrak lari akan tetapi tidak terbukti. Sepintas lalu apa yang dilakukan oleh Sinyo Minor mungkin saja merupakan sebuah tindakan yang absurd dan tidak dapat dimengerti dalam konteks kehidupan yang wajar akan tetapi gambaran itu sesungguhnya adalah cerminan dari realitas yang dengan gampang dapat kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Memang gambaran-gambaran tokoh-tokoh di dalam Rafilus tidak lain dan tidak bukan adalah gambaran dari absurditas itu sendiri, seperti juga tampak dalam sosok upas pos Munandir yang gemar membicarakan orang lain dan juga dirinya sendiri dengan gaya yang terlalu dilebih-lebihkan. Upas pos ini sesungguhnya pula sudah harus menjalani masa pensiun namun ia meminta atasannya untuk dapat dipekerjakan lagi. Sebagian besar pelukisan tokoh-tokoh di dalam novel ini lahir dari pengamatan Munandir yang pandangannya sedikit banyak patut kita curigai. Sebagaimana pandangannya atas  Rafilus yang menurutnya tak lain adalah merupakan penjelmaan dari roh-roh jahat. Dari pengamatan Munandirlah kita ketahui sosok pribadi Rafilus yang memiliki kegemaran untuk menghantam-hantamkan tubuh dan kepalanya ke tiang listrik, dan sekalipun ia senantiasa berbuat baik namun patutlah ia dicurigai bahwa kebaikan hatinya itu tak lain dari upayanya untuk mengubur kedekilan jiwanya belaka. Seluruh gerak dan warna mata Rafilus adalah merupakan pasang surut pertempuran antara kebaijkan dan kejahatan dimana dalam setiap pertempuran kebajikan hampir-hampir tak pernah menang.&lt;br /&gt;Dari mulut Munandir pulalah kita mengenal tokoh Belanda hitam, yaitu orang-orang yang mengganggap dirinya Belanda namun bukan sebenarnya Belanda yang bernama Van der Klooning. Tokoh ini digambarkan memiliki kekuatan yang fantastis dan sudah tiga kali kawin. Dari istri pertama dia tidak mempunyai anak. Istri pertama diceraikannya karena sudah merasa tidak cocok sementara istri kedua ditinggalkannya karena istrinya tersebut ketahuan telah bunting dengan orang lain. Pada saat ia kawin untuk ketiga kalinya ia merasa tak betah tinggal di rumah dan lebih suka memilih hidup seperti anjing geladak yang ngelayap kemana-mana sampai berminggu-minggu jarang pulang apalagi menggarap istrinya. Tahu-tahu istrinya itu pun bunting tanpa ia pernah merasa membuntinginya. Walaupun istrinya berani mengangkat sumpah demi setan dan malaikat bahwa bayi di dalam perutnya itu tak lain adalah anak dari Van der Klooning sendiri. Namun akhirnya istri ketiganya ini pun juga minggat dari kehidupannya.&lt;br /&gt; Disamping ketiga istrinya itu Van der Klooning memiliki seorang gundik bernama Raminten yang ia perlakukan seperti gombal. Raminten bukannya tidak menyadari bahwa ia memang tak lebih dari seorang perempuan murahan, namun dia bersedia menjadi gundik Van der Klooning bukannya tanpa degup harapan. Tak mungkin ia membiarkan dirinya tanpa rumah, tanpa pakaian dan juga tanpa tangsal perut. Walaupun ia rela sekalipun harus ditempatkan di ruang belakang atau dekat kakus sekalipun dia terpaksa mengalah karena dia sadar sesadar-sadarnya bahwa dia bukanlah istri yang sah. Gundik adalah gundik. Dan dia rela diperlakukan apa pun asal dia tidak dibiarkan sengsara tanpa rumah, tanpa pakaian dan juga kelaparan. Akan tetapi Van der Klooning memperlakukan Raminten seakan dia adalah binatang, setiap kali datang ia digarap secara serampangan hingga sampai belasan kali. Walaupun demikian tubuhnya tak ambrol sekalipun ia tahu bahwa beberapa bagian tubuh Van der Klooning tak lain adalah besi. Lama kelamaan Raminten tahu bahwa ternyata ia telah menyimpan bibit Van der Klooning di dalam tubuhnya dan tanpa ia sadari bibit itu pulalah yang membuat tubuhnya menjadi kebal, sekalipun Van der Klooning seringkali menghantami perutnya itu dengan lonjoran kayu dan bahkan besi. Raminten memang bertekat untuk mempetahankan jabang bayi itu sekalipun Van der Klooning bertekat untuk menggugurkannya.  Raminten sadar ia hanyalah gundik dan oleh karena itu bayinya tak lain hanyalah anak jadah tapi betapa pun demikian anak adalah merupakan masa depan baginya dan ia akan terus berusaha untuk mempertahankannya dengan cara apa pun.&lt;br /&gt;Kisah Van der Klooning dan gundiknya Raminten ini sedikit banyak merupakan petunjuk bagi pembaca bahwa Rafilus bisa jadi adalah merupakan anak hasil hubungan yang tidak sah antara kedua orang itu. Rafilus memang tidak pernah mengetahui dengan pasti siapa sesungguhnya kedua orang tuanya karena semenjak kecil ia terpaksa tinggal di rumah yatim-piatu. Realitas yang dihadapi baik oleh Rafilus sebagai anak jadah, Van der Klooning yang doyan kawin cerai  dan juga Raminten yang bersedia menjadi gundik asal boleh memelihara anaknya tidak lain adalah merupakan perwujudan realitas yang absurd. Akan tetapi absurditas itu tidak berdiri sebagai sebuah absurditas manakala kita melihatnya dari kacamata para pelakunya. Hal ini jelas merupakan sebuah paradoks. Semakin hebat dan luar biasa gambaran tokoh dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya akan terasa semakin menarik pula kisah itu di hadapan para pembaca. Hal serupa inilah yang membuat novel ini menjadi terasa unik dan sekaligus menarik, sekalipun kita mungkin dibuat jemu oleh alurnya yang lambat atau loncatan-loncatan peristiwa yang seakan tiada juntrungan. Akan tetapi setiap energi yang kita habiskan untuk membaca novel ini seolah terbayar oleh seluruh upaya besar sang penulis dalam usahanya menghidupkan eksistensi tokoh-tokohnya dan juga menciptakan akhir cerita yang sama sekali tidak tertebak.&lt;br /&gt;Gambaran absurditas kehidupan manusia juga tampak dalam hubungan percintaan antara tokoh kita Tiwar dan Pawestri. Kedua tokoh ini bertemu secara tidak sengaja di sebuah kantor koran “Surabaya Kota” dimana kedua manusia itu seolah dipertemukan oleh takdir yang serba kebetulan bahwaTiwar dan Pawestri hendak mengambil hadiah karena wajah mereka secara tak sengaja terpilih secara acak dan dimuat di koran dengan diberi tanda lingkaran oleh redaksi. Akan tetapi sebelum sempat bertemu sekalipun kedua tokoh ini bahkan telah merasakan adanya getaran perasaan tertentu, bahwa Tiwar sudah melihat wajah Pawestri pada koran yang terbit pada hari itu sementara Pawestri sudah melihat Tiwar dalam koran yang terbit seminggu sebelumnya. Pertemuan yang tidak sengaja itu adalah merupakan awal dari pemicu segenap hasrat kebinatangan yang sebelumnya telah berkecamuk di dalam diri mereka masing-masing. Begitu saling bertatap muka jiwa mereka seolah tersulut oleh gejolak api gairah hasrat yang membara dan kemudian saling membayangkan bergelimpangan di atas tempat tidur dan siap untuk menghasilkan seorang anak. Gambaran serupa itu hanya mungkin timbul dari pikiran-pikiran liar yang tidak lain adalah merupakan pencerminan sifat kebinatangan. Hasrat kebinatangan itu pulalah yang rupa-rupanya telah mendorong Tiwar untuk segera menyatakan cintanya kepada Pawestri dan memintanya untuk bersedia menjadi istrinya. Memang Pawestri tidak serta-merta mengiyakan permitaaan Tiwar akan tetapi ia merasa perlu untuk menegaskan kembali segenap asal-usulnya yang tiada lain adalah berasal dari keluarga yang bobrok, hina-dina dan oleh karena itu darah yang mengalir di dalam dirinya tiada lain adalah darah yang berasal dari comberan.  &lt;br /&gt;Gambaran-gambaran tentang makhluk-makhluk celaka serupa itulah yang sepenuhnya menghiasi novel ini. Gambaran dari sebuah dunia yang centang-perentang, dalam hiruk-pikuknya manusia yang hidup berjejal-jejalan dalam sebuah komplek perkampungan di tengah-tengah kota yang sedemikian kumuh yang terkontaminasi oleh debu knalpot, asap pabrik aspal dan pengeboran minyak, serta limbah comberan yang berasal dari got yang mampet. Latar cerita bergerak di sebuah kawasan yang mempunyai jaringan gang yang sangat luas, sangat rumit dan sekaligus ruwet. Gang-gang sempit yang sesungguhnya lebih cocok untuk menghubungkan tikus daripada manusia. Sebuah kawasan yang sesungguhnya tak layak untuk ditinggali manusia namun di kawasan serupa inilah kisah ini bermula, bergerak melata dan seolah menggeliat di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang dikeroyok oleh sekian banyak gubuk, rumah-rumah yang lebih menyerupai kandang babi dan juga bangunan-bangunan liar. Dimana manusia harus hidup saling sodok dan berdesak-desakan seperti sarden di dalam kawasan yang sama sekali tidak teratur dan tidak bersahabat. Dimana bau amis, apek serta anyir bergumul menjadi satu dan menyerang setiap jengkal udara. Dimana anak-anak kecil dengan santai dan tanpa rasa bersalah dapat membuang kotoran seenaknya di atas batu nisan yang tersebar di seputar kawasan itu sambil menggaruk-garuk kudisnya dengan gaya yang sangat enak. Dimana agaknya seluruh jajaran mayat dipemakaman sekalipun tidak dapat lagi secara layak memperoleh penghormatan dari mereka yang masih hidup. Dimana bau tai, kencing dan got-got buntu berbaur dengan kelembaban udara panas. Dimana got-got buntu itu di musim penghujan akan meluapkan seluruh isinya kembali ke dalam rumah-rumah penduduk yang bahkan lebih kotor dan lebih jorok dari kandang babi.&lt;br /&gt;Gambaran realitas serupa itulah yang hendak dipertontonkan oleh Budi Darma di dalam novelnya ini, realitas yang telah menjelma menjadi teror di dalam benak kita. Bahwa realitas yang sepertinya terasa demikian absurd sesungguhnya adalah cerminan yang paling wajar dari realitas kehidupan itu sendiri, yang dengan sendirinya menjadi terasa demikian tajam mengusik dan bahkan mengiris jantung kita. Lewat perilaku-perilaku tokohnya yang menjijikkan yang tak lain adalah penjelmaan binatang, karena siapa yang mungkin dapat bertahan dalam situasi penuh tekanan dan teror serupa itu kalau bukan binatang? Ini merupakan gambaran dari sebuah realitas yang absurd dan sekaligus ironis. Ia tidak semata-mata dilebih-lebihkan, dalam banyak segi ia adalah kenyataan yang telanjang dan sekaligus jujur. Dalam kondisi masyarakat serupa itu, manusia tidak lagi berbicara soal moral, soal susila atau tatakrama, karena yang mungkin mereka pikirkan tak lain adalah bagaimana mereka dapat bertahan di dalam tekanan kehidupan yang sedemikian mencekam jiwa. Bahwa kebobrokan masyarakat, gambaran yang sedemikian menjijikkan itu adalah perwujudan nyata dari manusia-manusia yang tak menemukan jalan keluar selain dengan menerima jalannya aliran nasib yang tak pernah memihak. Serupa got buntu, segenap kemanusiaan itu telah terperangkap di dalam comberan bersama seluruh isinya yang tiada lain adalah kotoran itu sendiri sebagai akibat dari kegagalan manusia menafsirkan makna kehidupan. Kehidupan yang tiada memiliki warna lain selain daripada hitam-kelam. Bahkan orang-orang terpelajar serupa Tiwar sekalipun tidak dapat berbuat apa-apa selain sekedar mengangkatnya sebagai sebuah potret yang buram dari realitas.&lt;br /&gt;Kita dapat menyadari ketidakmampuan Tiwar dalam usahanya mengatasi segenap kesemrawutan itu dan oleh karenanya pula dia digambarkan sebagai seorang yang gagal, sebagai seorang laki-laki yang impoten. Ia mencintai Pawestri sebagaimana ada dirinya, bahkan ia rela sekiranya Pawestri harus memperoleh anak melalui cara yang tidak lazim. Tiwar sepenuhnya pasrah sekiranya ia harus membiarkan Rafilus menggarap tubuh Pawestri, dan demikian pula hasrat Pawestri untuk memperoleh bibit yang unggul agar pada akhirnya nanti ia memperoleh seorang anak dari hubungan itu untuk dapat ia persembahkan sebagai bukti cintanya kepada Tiwar. Sekali lagi gambaran absurd ini merupakan pralambang dari simbol sebuah keinginan dan juga kesadaran atas keterbatasan diri. Keberadaan seorang anak adalah merupakan lambang dari segala bentuk hasrat terdalam dari jiwa manusia yang ingin keluar dari kebuntuan permasalahan kehidupan yang demikian komplek, oleh karena itu gambaran ideal anak dinyatakan oleh Pawestri serupa ucapan sang Nabi dalam gambaran Kahlil Gibran yang muncul dalam salah satu sajaknya yang paling terkenal. Identifikasi anak menurut pandangan Pawestri adalah sebagai perwujudan lembaga sebagaimana perkawinan adalah lembaga. Ia tidak sepenuhnya terikat seratus persen namun ia juga mempunyai kebebasan, yaitu kebebasan di dalam keterikatan itu.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah Pawestri menginginkan anak seperti sosok ideal Ahmad Bartak, yaitu seorang dosen Ilmu Pengetahuan Sosial di IKIP Ketintang yang merupakan gambaran sosok yang pendiam, sopan, ramah, lembut dan mampu memimpin sekian banyak yayasan sosial. Bartak tak lain adalah cerminan orang yang berprestasi di dalam persepsi Parwestri dan bahkan ia dicalonkan untuk menerima penghargaan Ramon Magsaysay. Sekalipun sesungguhnya ia adalah seorang anak jadah. Walaupun demikian Ahmad Bartak tetap menghormati dan berterimakasih kepada laki-laki yang selama ini ia anggap sebagai ayanhnya, kepada ibunya dan juga kepada laki-laki yang merupakan ayah kandungnya yang sebenarnya. Dia merasa bersyukur karena memiliki jasmani dan rohani yang sehat, dia bersyukur karena berasal dari bibit yang baik, dan dilahirkan dengan itikad yang baik. Dan dibesarkan dalam kasih sayang dan tanggung jawab yang besar. Keluhuran budi Ahmad Bartak itulah yang mendorong Parwestri ingin mengikuti apa yang telah dijalani oleh ibu Ahmad Bartak, yaitu mencari seorang yang berbudi luhur yang dapat memberinya keturunan yang luhur pula sekalipun ia sadar bahwa dirinya hanyalah berasal dari comberan&lt;br /&gt;Betapapun luhur dan berbudinya gambaran ideal dari anak serupa sosok Ahmad Bartak itu namun hasrat dan keinginan Pawestri dan juga keikhlasan Tiwar tetap merupakan suatu hal yang absurd. Sedikit banyak mereka mengabaikan norma demi meraih nilai-nilai lain yang sepintas lalu tampak ideal. Sulit bagi kita untuk mengelakkan kenyataan bahwa hasrat serupa itu adalah merupakan hasrat yang tidak normal. Namun sesungguhnya keinginan itu adalah gambaran yang nyata dari realitas yang sesungguhnya. Ia bukanlah suatu hal yang seolah mengada-ada atau dibikin-bikin, betapa manusia-manusia yang melihat dirinya terlanjur terjerembab dan berkubang di dalam lumpur kenistaan pastilah memiliki suatu harapan untuk dapat mengentaskan dirinya sendiri, untuk dapat diangkat oleh orang-orang yang sekiranya peduli kepada nasib dan juga keberadaan mereka yang hina dina.&lt;br /&gt;Jadi sekalipun gambaran yang terpampang di dalam novel ini sepintas lalu terlihat suram dan sekaligus kelam, bahkan nyaris tanpa harapan ia masih menyisakan titik terang.  Sekalipun tokoh-tokohnya merupakan penjelmaan sisi kegelapan dan sekaligus absurditas dunia yang centang-perentang namun di sisi lain dari segenap rasa kemuakan kita serta rasa jijik kita atas pergulatan hidup mereka dan hasrat-hasrat kebinatangan yang menjadikan mereka lebih menyerupai ular melata daripada manusia, maka karya Budi Darma ini berniat besar untuk mengantar kita pada sebuah katarsis. Akan tetapi sebagaimana juga Tiwar, Budi Darma sepenuhnya sadar bahwa dengan penggambaran serupa itu kita tidak mungkin untuk memihak, karena semenjak awal mula setiap langkah seakan telah membuat kita terperosok semakin dalam dan hampir-hampir musykil untuk mengharapkan jalan keluar dari gang-gang yang demikian sempit dan juga got-got buntu yang tidak lain dan tidak bukan hanya menghasilkan kebusukan dan kemampatan. Tak ada tempat yang cukup lapang untuk berpikir atau sedikit merenung, setiap tokoh dalam novel ini tak lain harus menjalani takdir buruk dari nasib mereka masing-masing.&lt;br /&gt;Berbeda dengan Olenka, Rafilus memang tidak menyediakan coda dan kesempatan bagi pembaca untuk lebur bersama tokoh-tokohnya menjadi abu serupa burung phoenix. Dan Budi Darma sepertinya telah sampai pula pada sebuah kesdaran bahwa tak ada satu makhluk pun yang dapat memutus rantai kesengsaraan itu selain melalui jalan kematian. Sebagaimana kematian yang terjadi pada diri Rafilus adalah merupakan sebuah tragedi. Takdir celaka bahkan memaksa dirinya untuk mati dua kali. Satu kali ia telah mati terlindas kereta api dan sebelum sempat dikuburkan ia telah mati sekali lagi oleh sebab yang sama dengan kepala tertancap ke atas tiang. Dengan cara seperti itulah Budi Darma mengungkapkan sebuah tragedi, lewat absurditas yang mengatasi logika dan menjadikannya sebagai bagian dari sebuah peristiwa kehidupan sehari-hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-4281704213122650642?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/4281704213122650642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/4281704213122650642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#4281704213122650642' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-1889250585667143096</id><published>2007-06-14T17:01:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T17:02:04.931+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>budi darma - posting 6:&lt;br /&gt;2.   semangat dan latar penulisan ‘internasional’ di dalam “Olenka” sebagai terobosan literer penting dalam kazanah sastra  indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita hendak mengulas karya-karya Budi Darma, maka kita tak mungkin melepaskan diri untuk tidak membicarakan novel “Olenka” sebagai buah karya Budi Darma yang terpenting. Sebagian besar kritikus beranggapan novel tersebut telah menancapkan tonggak baru dalam kazanah sastra Indonesia dan bahkan ada yang beranggapan pula bahwa novel tersebut telah layak pula dianggap sebagai sebuah karya master piece, yaitu sebuah karya pilih tanding yang sangat sulit untuk kita cari perbandingannya dengan karya-karya penulis Indonesia lainnya. Dalam banyak hal “Olenka” dianggap telah mampu mewakili genre penulisan karya sastra dalam hal ini novel Indonesia modern yang sophisticated, berwawasan universal, dan sekaligus canggih. “Olenka” adalah merupakan salah satu novel atau roman terpenting yang pernah ditulis oleh sastrawan kita dan oleh karena itu layak pula untuk menempati posisi paling terhormat sehingga dapat disejajarkan dengan karya-karya fenomenal lainnya di  dalam kesusasteraan Indonesia seperti “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli, “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisyahbana, “Belenggu” karya Armyn Pane, “Tetralogi Buru” Pramoedya Ananta Toer, “Ziarah” karya Iwan Simatupang, dan tentu saja “Para Priyayi” karya Umar Khayam.&lt;br /&gt;Selanjutnya marilah kita kaji apa yang sesungguhnya menjadi dasar atas bobot penting dari novel “Olenka” tersebut? Memang sebagai sebuah novel “Olenka” jelas telah membuat beberapa terobosan penting. Pertama-tama dalam soal pemilihan tema, tema yang diangkat oleh “Olenka” sedikit banyak telah keluar dari tradisi kepenulisan yang mendahuluinya. Novel-novel Indonesia umumnya adalah merupakan cerminan dari kultur tradisi serta pemikiran yang cenderung berkutat pada masalah-masalah lokal, akan tetapi novel ini telah bergerak lebih jauh lagi. Ia telah merambah ke ranah penulisan yang tidak pernah (belum) digarap oleh penulis asli Indonesia pada saat itu. Melalui novel “Olenka” ini Budi Darma telah membuat sebuah lompatan besar, ia menggarap novel ini sepenuhnya dengan semangat ‘internasional’. Hal ini tentu saja dapat kita pahami dalam konteks latar belakang pendidikan dan juga pengalamannya hidup dan tinggal di luar negeri selama beberapa waktu lamanya. Dengan piawai Budi Darma meramu setting, penokohan dan juga cerita berdasar proses adaptasi langsung atas perpaduan kultur budaya dan sekaligus alam pemikiran Barat dan juga Timur.&lt;br /&gt;Apa yang selama ini banyak diperbincangkan orang bahwa sudah selayaknya sastra Indonesia menjadi bagian dari sastra dunia mendapat relevansinya di dalam novel “Olenka” ini. Dan oleh karena itu polemik yang sebelumnya berkembang di dalam sastra kita yang coba mempertentangan visi pemikiran dan tradisi budaya antara Timur atau Barat sebagaimana muncul pada era Poejangga Baru seakan melebur sepenuhnya di dalam novel ini. Budi Darma telah menyatukan keseluruhan unsur visi dan alam pemikiran tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari mainstream sastra dunia yang universal. Budi Darma tidak saja menghadirkan tokoh-tokoh dengan karakter-karakter yang sepintas lalu terdengar asing seperti Fanton Drummond, Wayne Danton, Olenka dan Mary Jane, namun lebih jauh lagi ia telah membawa karakter-karakter tersebut melebur sepenuhnya di dalam latar budaya yang sepenuhnya asing yaitu kehidupan masyarakat kota Bloomington, Indiana Amerika Serikat. Akan tetapi bukan berarti keberadaan tokoh-tokoh itu terlepas demikian saja dari pijakan pemikiran dan akar budaya Budi Darma selaku penulisnya. Dapat kita katakan bahwa novel ini sekaligus telah mengukuhkan peranan penulis Indonesia menjadi bagian tak terpisahkan dari kazanah kesusasteraan dunia.&lt;br /&gt;Di sisi lain novel ini menunjukkan gaya penulisan yang sangat unik, dimana kita temukan taburan-taburan idiom lokal yang dengan enaknya bermain-main dan bersentuh-sentuhan dengan langgam pemikiran barat. Bagaimana kita dapat menemukan gaya penyapaan seperti ‘sampean’ dalam konteks percakapan pribadi-pribadi yang notabene dilakukan oleh ‘orang-orang bule’ tanpa terasa adanya kejanggalan di dalamnya. Novel ini terlihat mampu mengolah berbagai problematika sosial yang mungkin terasa tidak cukup familiar dengan akar kehidupan kita namun dengan mudahnya permasalahan-permasalahan itu di buat lumer dalam interaksi antar tokoh sehingga tidak lagi berjarak, seakan permasalahan itu telah pula menjadi bagian dari keseharian itu sendiri. Namun sisi yang paling menarik dari penggarapan karakter-karakter tokoh di dalam novel ini muncul dalam wujud gejolak-gejolak psikologis, pertentangan batin di dalam diri sang tokoh maupun dalam interaksinya dengan tokoh-tokoh lain. Semua permasalahan itu berulangkali muncul seperti bayangan-bayangan yang berkelebat sesekali dalam kilas balik dan juga dalam runtutan waktu yang linier. Namun secara keseluruhan telah mampu menyedot perhatian kita dan membawa kita hanyut ke dalam gejolak perasaan dan pikiran dari masing-masing tokoh.&lt;br /&gt;Perasaan terlibat dan juga keakraban inilah yang menurut saya merupakan daya tarik terpenting dari novel ini. Dengan latar belakang setting kehidupan masyarakat ultra modern yang sepintas lalu terasa asing namun dengan mudah pula kita dapat membayangkan latar-latar tersebut dengan segala bentuk atributnya, apakah itu dalam bentuk tatanan masyarakat sebuah kota sebagaimana tergambar dari alam pemandangan kota yang secara cukup detail digambarkan dalam bentuk taman, apartemen Tulip Tree dimana tokohnya tinggal, dan bahkan jalan-jalan yang sepintas terdengar asing namun dengan gamblang sang penulis membuat seluruh gambaran itu menjadi terasa demikian hidup. Dengan mengambil latar kehidupan masyarakat urban di sebuah kota bernama Bloomington di Indiana Selatan sebuah negara bagian di Amerika Serikat. Kita diajak berkenalan dengan tokoh yang begitu saja telah mencuri perhatian kita semejak awal mula kita mengenalnya, lewat kilasan-kilasan pikiran sang aku dalam hal ini seorang lelaki kulit putih bernama Fanton Drummond, dengan tiba-tiba pula kita masuk dan terjerat ke dalam kehidupan seorang wanita bernama Olenka. Sebuah realitas yang tak terlampau mengejutkan bahwa bila ternyata Olenka adalah seorang wanita yang telah bersuami dan sekaligus telah memiliki seorang anak. Akan tetapi yang justru mengejutkan adalah bagaimana sang aku telah terjerembab ke dalam situasi dimana seluruh hasrat dan gairahnya tersedot habis demi menemukan jalan untuk dapat menjalin hubungan dengan wanita yang telah berkeluarga itu.&lt;br /&gt;Kerjap-kerjap pikiran telah berubah menjadi hasrat yang demikian kuat dan menjelma menjadi semacam obsesi, yaitu semacam keterikatan psikologis yang lambat-laun berubah pula menjadi sebuah jalinan afinitas. Kelebat-kelebat ilusi dan juga bentuk-bentuk interaksi yang justru terasa demikian absurd. Lihatlah bagaimana bayang-bayang Olenka berkelebat dan memenuhi ruang pandang Fanton Drummond, sehingga seakan-akan Fanton seperti telah melihat Olenka berada di mana-mana. Saat menunggu bis, duduk-duduk di taman, bersembunyi di bawah meja, atau berkelebat di belakang pilar. Di dalam jalinan hubungan yang tidak wajar inilah Budi Darma menunjukkan kepiawaiannya dalam mengaduk-aduk emosi pembaca, dan menggiring pembaca pada sebuah situasi di mana kita seolah-olah terlibat di dalam intensitas hubungan yang absurd itu. Bagaiman gejolak perasaan dan juga kelebat pikiran bermain-main di dalam rangkaian kisah yang bergerak demikian cepat dan sekaligus memukau. Entah bagaimana kita seolah dapat mengidentifikasikan tokoh-tokoh di dalam novel itu seakan menyerupai diri kita sendiri. Hasrat-hasrat yang menguasai diri Fanton Drummond, kegairahan estetis dan juga kejemuan yang sempat menguasai diri Olenka, ketidak berdayaan Wayne Danton suami Olenka dalam mengatasi permasalahan yang mengungkung hidupnya, dan tokoh-tokoh lain yang secara unik telah menunjukkan kualitas kedalaman karakter.&lt;br /&gt;Sisi lain yang juga tak kalah menarik adalah bahwa di dalam novel ini unsur-unsur  ketidaksengajaan atau sifat-sifat serba kebetulan bukanlah merupakan suatu hal yang tidak terjelaskan. Unsur-unsur itu secara piawai telah diramu oleh sang penulis menjadi sebuah warna tersendiri yang mampu mengangkat kefaktualan cerita. Berbeda dengan gaya ungkap yang penuh diwarnai unsur kebetulan yang tidak terjelaskan yang sering mewarnai novel-novel Indonesia yang paling mutakhir sekalipun (satu contoh adalah novel terbaik pilihan DKJ “Dadaisme”). Alur cerita di dalam “Olenka” terasa mengalir demikian lancarnya, dan setiap peristiwa seolah telah diantisipasi sedemikian rupa oleh penulisnya yang bahkan rujukannya dapat kita temui dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya seolah peristiwa itu memang sungguh-sungguh terjadi. Di dalam catatan penulis akan kita temukan adanya latar pendukung dari setiap jalannya peristiwa yang membuat keseluruhan kisah ini terasa demikian otentik. Seperti misalnya catatan tentang keberadaan pesawat trans atlantik yang tiba-tiba nyelonong begitu saja di atas Tulip Tree dan langit kota Bloomington. Juga tentang ulah pendeta jalanan yang berkotbah di taman (yang bahkan disertakan fotonya), kemudian tentang pembuatan sebuah film dimana Fanton Drummond sang tokoh utama terlibat di dalam proses pembuatannya. Pertautan fakta dan cerita itu menjadi sebuah unsur yang sangat unik yang tak pernah kita jumpai dalam novel Indonesia mutakhir manapun.&lt;br /&gt;Kelebihan “Olenka” yang paling utama adalah karena Budi Darma telah berhasil menggambarkan sosok tokoh-tokohnya dengan cara yang sangat hidup, begitu akrab dan bahkan seolah-seolah dapat kita temui keberadaan sosok-sosok itu di mana pun. Saya bahkan pernah berpikir bahwa mungkin suatu ketika saya akan berpapasan dengan Fanton Drummond dalam perjalanan saya pulang dari kantor, atau mungkin pula saya akan dapat melihat Wayne Danton tengah bergelantungan di bus kota, atau bisa jadi saya akan berada bersama-sama dengan Olenka di dalam sebuah lift yang kebetulan membawa saya ke kantor yang hendak saya tuju. Kadang pula terlintas pemikiran bahwa saya akan menemui Olenka di sebuah taman, tengah bermain bersama anaknya sambil membuat sebuah gambar sketsa. Gambaran tokoh-tokoh di dalam novel itu terasa demikian hidup dan tidak berhenti sekedar sebagai sebuah gagasan di dalam benak sang penulis ataupun lompatan-lompatan dari sebuah fenomena afinitas yang tidak terjelaskan, namun sebagai sebuah cerita ia telah melampaui imaji pembaca. Ia seolah telah menjadi sebuah potret yang aktuil dari keberadaan realitas itu sendiri.&lt;br /&gt;Kekuatan Olenka ini di sisi lain mampu memberikan begitu banyak keragaman perspektif pembacaan. Dengan kata lain bahwa di dalam setiap proses pembacaan dia mampu memberikan bias-bias keragaman imajinasi dan sekaligus interpretasi. Ia menggugah dan sekaligus inspiratif. Dan apakah hal itu merupakan sebuah upaya tendensius dari pengarangnya kita tidak dapat mengetahuinya dengan pasti, sekalipun pernah dalam salah satu eseinya Budi Darma menyatakan bahwa karya sastra yang baik adalah pemicu bagi lahirnya karya-karya yang baik lainnya. Akan tetapi hampir suatu kemustahilan untuk dapat memberikan interpretasi atas karya Budi Darma ini hingga sampai kepada motif-motifnya yang paling sublim, karena betapa pun motif itu tetap merupakan sebuah misteri bahkan mungkin bagi diri sang pengarang pribadi. Selalu merupakan godaan bagi setiap pembaca untuk membongkar proses di balik ramuan sebuah novel akan tetapi apa yang telah diberikan oleh Budi Darma dalam novel ini lewat kisah asal-usul Olenka adalah sesuatu yang lebih dari cukup. Karena tak pelak lagi novel ini telah memberikan sebuah nafas baru, sebuah adaptasi budaya secara lintas kultural, dan sekaligus terobosan yang sangat memukau dibidang penulisan karya sastra di Indonesia khususnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-1889250585667143096?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/1889250585667143096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/1889250585667143096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#1889250585667143096' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-5307980293539433571</id><published>2007-06-14T17:00:00.001+07:00</published><updated>2007-06-14T17:00:52.687+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>budi darma - posting 5:&lt;br /&gt;C. sekilas Apresiasi atas karya-karya Budi Darma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Napak tilas jejak kepengarangan Budi Darma dari kumpulan cerpen “Orang-Orang Bloomington” hingga “Fofo dan  senggring”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terbitnya kumpulan cerpen Budi Darma yang terbaru “Fofo dan Senggring” sepertinya kita harus membaca perjalanan kepengarangan Budi Darma dalam sebuah kilas balik. Memang kumpulan cerpen terakhir ini dimaksudkan untuk menapak tilas kembali seluruh jejak perjalanan literer Budi Darma dari karya-karyanya yang paling awal hingga yang paling mutakhir. Di dalam kumpulan ini secara runtut dapat kita amati seluruh perkembangan gaya penulisan, pilihan tema dan juga tehnik kepengarangannya. Kumpulan cerpen “Fofo dan Senggring” sepintas lalu cukup dapat memberikan gambaran yang utuh atas perkembangan gaya penulisan Budi Darma yang bermula dari penulisan dengan gaya realisme dan kemudian berkembang hingga pada pencapaian tehniknya yang paling mutakhir yang lebih banyak mengolah simbol-simbol dalam gaya pendekatan absurditas.&lt;br /&gt;Dalam periode awal penulisannya Budi Darma memang seolah bergelut dengan semacam keterbatasan yaitu menulis sekedar untuk menulis tanpa pretensi apa pun selain untuk memenuhi hasrat itu sendiri, karena sebagaimana yang ia nyatakan sendiri bahwa pada masa awal kepenulisannya itu situasinya memang tidak memungkinkan bagi dirinya untuk melakukan ekplorasi apalagi eksperimentasi atas gaya kepenulisan lebih jauh. Namun keterbatasannya dan kesibukannya sebagai dosen tidak menyurutkan hasratnya untuk terus menulis, dan oleh karena itu obsesinya yang paling utama di kala itu tiada lain adalah untuk memiliki sebuah mesin ketik sendiri.&lt;br /&gt;Perjalanan literer Budi Darma tampaknya memang mengalami sebuah perkembangan yang sangat menyolok. Hal tersebut secara sepintas ia utarakan sendiri dalam pengantar atas kumpulan “Fofo Dan Senggring”, bahwa karya-karyanya dimasa-masa awal itu memang membuatnya enggan untuk menengok kembali ke masa lalu, dalam artian bahwa setiap kali ia membaca karya-karyanya yang terdahulu senantiasa ada hasrat dalam dirinya untuk kembali merombak karya-karya itu dan menyesuaikannya kembali dengan ekspresi kekinian. Tentu saja hal ini tidak sesuai dengan niatan penerbit, betapapun upaya-upaya yang telah digalang untuk menelisik kembali perjalanan karir kepenulisan Budi Darma ini merupakan sebuah upaya yang layak dihargai untuk memberikan gambaran sesungguhnya dari wajah kepenulisan Budi Darma secara utuh.&lt;br /&gt;Dalam ikhwal membicarakan cerita-cerita pendek Budi Darma ini tentu saja kita tidak boleh melewatkan ulasan tentang “Orang-Orang Bloomington” yang dianggap merupakan titik tolak terpenting dari keseluruhan jejak kepengarangannya.  Dalam banyak hal karya ini mewakili gambaran paling awal dari keseluruhan sosok Budi Darma sebagai seorang pengarang, kumpulan ini dianggap memiliki kekayaan psikologis yang tiada habisnya untuk digali oleh para kritikus dan juga para pengamat sastra. Kekuatan utama “Orang-Orang Bloomington” adalah di dalam kemampuannya menggambarkan perilaku, watak dan kepribadian manusia. Bahwa di dalam penggambaran itu kita temukan keragaman yang tidak saja unik dan mengundang rasa ingin tahu, namun sekaligus terasa adanya kepelikan dan juga kerumitan. Tak syak lagi karya ini menunjukkan kepekaan dan kejelian Budi Darma dalam menangkap gejala-gejala yang tampak di dalam sebuah masyarakat, sekaligus merupakan bukti dari kemampuannya membaca sisi psikologis dan hasrat-hasrat terdalam dari wajah kemanusiaan. Pada dasarnya “Orang-Orang Bloomington” berbicara tentang hakekat kemanusiaan itu sendiri. Apapun wujud dari gambaran itu adalah merupakan pencerminan dari realitas kehidupan.&lt;br /&gt;Sangat menarik bahwa Budi Darma berusaha mendeskripsikan hakekat kemanusiaan itu berdasar wajah orang-orang Bloomington dan bukannya wajah orang-orang Jakarta atau Surabaya misalnya. Hal ini haruslah kita pahami bukan atas dasar pendekatan setting budaya yang menjadi latar keseluruhan cerita, namun lebih kepada aspek psikologis dari cerita itu sendiri. Disinilah letak kelebihan utama dari kumpulan cerita pendek ini. Sekalipun sepertinya ia bercerita tentang orang-orang Bloomington kita sebagai pembaca seakan terjerat oleh gagasan bahwa wajah yang dipotret oleh Budi Darma itu sesungguhnya tak lain daripada wajah kita sendiri. Kita dengan segenap kompleksitas permasalahan hidup kita sehari-hari,  dari keganjilan pemikiran, dorongan-dorongan hasrat, rasa ingin tahu, dan watak-watak alamiah yang sepenuhnya banal. Bahwa sesungguhnya tiada beda antara Joshua Karabish atau Charles Lebourne dengan tetangga kita Suryo Bharoto dan Akhmad Sanusi, atau bayi Orez dengan anak-anak tetangga yang biasa kita lihat menunjukkan keusilannya di dalam pergaulan rumah tangga kita sehari-hari.      &lt;br /&gt;Sementara itu penilaian atas karya-karya Budi Darma yang lainnya tidak terlepas pula dari adanya berbagai kontroversi sebagaimana dapat kita lihat di dalam pengantar atas kumpulan cerita pendek terbaik pilihan Kompas tahun 2001 yang menobatkan cerpen “Mata yang Indah” karya Budi Darma sebagai karya terbaik. Hasif Amini sebagai penulis tamu di dalam pengantarnya atas kumpulan itu menulis sebagai berikut, “Tapi membaca cerpen-cerpen mutakhir Budi Darma, yang seakan-akan tak ambil pusing dengan tetek bengek “estetika” bercerita dan berbahasa itu, dapat menimbulkan kegamangan atau setidaknya rasa penasaran pada pembaca yang mengikuti jejak literer pengarang tersebut.” Selanjutnya Hasif menilai Budi Darma secara mendadak dan entah mengapa bercerita dengan gaya ungkap yang amat lugu dan nada moralistik yang kuat, serta perwatakan yang cenderung datar dan statis. Dalam cerita-cerita pendeknya yang dimuat di Kompas mulai dari “Gauhati” kemudian “Derabat” dan “Mata yang Indah”  Budi Darma memang sepertinya mencoba melakukan eksperimentasi dan sekaligus eksplorasi dalam gaya penceritaan yang jauh berbeda dari karya-karya cerita pendeknya yang terdahulu terutama dari kumpulan cerpen psikologisnya yang paling banyak dikenal yaitu “Orang-Orang Bloomington.”  Memang dapat kita rasakan adanya pergeseran di dalam pendirian kepengarangan dan juga teknis kepenulisannya, sebagaimana yang kita tengarai pula sebagai sebuah perbedaan yang cukup mencolok antara “Olenka” dan “Rafilus”&lt;br /&gt;Hasif rupa-rupanya melihat perkembangan literer Budi Drama lebih dari garis tradisi yang ia ciptakan lewat “Olenka” dan bukanya “Rafilus” sementara ciri yang menonjol dalam cerpen-cerpen mutakhir Budi Darma justru lebih tampak dari gaya pendekatan penulisan “Rafilus” ini. Sebagaimana “Rafilus”, cerpen-cerpen yang dimuat di dalam harian Kompas itu memang lebih banyak bergerak di ranah pergulatan kehidupan yang cenderung fisikal dan sekaligus absurd yang merupakan bentuk gaya ungkap dan sekaligus ciri khas penulisan Budi Darma yang tampak dominan kemudian. Di mana permasalahan yang selajutnya muncul di dalam cerita-cerita absurd adalah seringkali esensi cerita tersembunyi di balik simbol atau lambang. Hal ini serupa dengan lapis-lapis makna yang tersembunyi di balik metafora di dalam sebuah karya puisi. Kegagalan menangkap simbol atau lambang secara tidak langsung menghalangi penafsiran pembaca atas makna sebuah cerita. Oleh karena itu kegagalan bisa ditilik dari keutuhan proses pembacaan dan kapasitas seseorang di dalam memahami sebuah karya sastra. Adalah sangat menarik melihat kenyataan bahwa seorang HB. Jassin sekalipun memberikan komentar serupa ini atas karya-karya Budi Darma, “Saya juga tidak mengerti membaca Budi Darma, tapi toh karyanya menarik. Menarik karena mendorong kita berpikir jauh tentang maksudnya. Kita mendapatkan jawaban kalau sampai pada simbolisme.”&lt;br /&gt;Dengan simbolisme itulah sesungguhnya Budi Darma lebih banyak berbicara melalui cerpen-cerpennya. Sebagaimana kita lihat di dalam cerpen “Derabat” misalnya, kita memang melihat penggambaran karakter tokoh-tokoh yang sepintas lalu tampak demikian hitam-putih, yaitu antara tokoh protogonis si tukang pedati dan tokoh-tokoh antagonis si burung Derabat dan juga pemburu Matropik. Sekali lagi saya justru melihat gambaran tokoh-tokoh tersebut tak lain hanyalah sebagai simbolisme dari realitas dan bukan semata merujuk realitas harafiah di dalam cerita. Memang dalam penggambaran watak dan karakter-karakter itu kita dengan segera akan menangkap kesan yang ekstrem dan juga berlebihan, seperti kita tangkap dalam penggambaran watak pemburu Matropik yang serupa ini: Perilaku dia sangat kejam. Dalam berburu, dia tidak sekedar berusaha untuk membunuh, namun menyiksa sebelum akhirnya membunuh. Maka begitu banyak binatang telah menderita berkepanjangan, sebelum akhirnya dia habiskan dengan kejam. Cara dia makan juga benar-benar rakus…. Dia juga suka mabuk-mabukan. Apabila dia sudah mabuk, maka dia menciptakan suasana yang benar-benar meresahkan dan memalukan. Dia sering meneriakkan kata-kata kotor, cabul dan menjijikkan. Dalam keadaan mabuk dia suka telanjang, lari kesana kemari, mengejar-ngejar apa saja, terutama perempuan.&lt;br /&gt;Gambaran serupa itu tiada lain adalah gambaran simbolis dari realitas manusia yang telah mengingkari harkat kemanusiaannya sendiri, dan tiada kata yang lebih tepat untuk merujuk gambaran simbolik dari  realisme telanjang yang hendak dinyatakan oleh Budi Darma dalam cerpennya itu selain daripada hasrat kebinatangan yang sesungguhnya bercokol di dalam diri manusia. Akan tetapi sesungguhnya Budi Darma telah dengan konsisten berusaha menampilkan wajah absurditas dan juga perilaku ekstrem dari sisi kemanusiaan itu melalui cara-cara yang sepenuhnya simbolik. Karena itu muncul pula ungkapan di dalam cerita itu “Bahwa Derabat tidak lain adalah Matropik, dan Matropik tidak lain adalah Derabat.” Bahwa wajah moralitas yang seakan dipertentangakan secara ekstrem justru tidak sepenuhnya muncul dalam pemahaman kita secara hitam-putih, karena unsur putih disini yang diwakili oleh si tukang pedati justru tidak berbuat apa-apa. Ia bahkan sama sekali tidak mempunyai minat untuk menyaksikan apa yang akan dan sedang terjadi, karena apa yang terjadi justru pertentangan antara hasrat-hasrat kebinatangan itu sendiri yang saling bertempur dan berusaha saling menghancurkan. Sebagaimana kata penutup di dalam cerpen itu menyatakan, “Biarlah iblis bertempur melawan iblis.” Sesungguhnya ungkapan itu bukanlah ungkapan yang secara utuh dapat mewakili pandangan moralitas yang naif dan juga telanjang.&lt;br /&gt;Sekali lagi manakala kita melihat sebuah cerita yang ciri dominannya adalah absurditas maka kita harus melihat lambang yang berkelebat di balik unsur-unsur pendukung cerita itu. Kejanggalan di dalam penggambaran sosok tokoh-tokoh di dalam cerita beserta petualangan-petulangan luar biasa yang mereka alami tak lain adalah gambaran yang sepintas tampak kontradiktif dari kondisi manusia secara umum. Tentu saja mudah sekali bagi pembaca untuk terjerat dalam suasana yang rumit dalam upaya memberikan penafsiran atas makna yang sesungguhnya diharapkan dari karya tersebut. Karena libatan pemikiran itu hanya akan menjadi jelas dan lebih mudah dipahami manakala kita melihat gugusan pemahaman itu dari kacamata sang penulis. Dalam hal ini kita dapat melihat betapa Budi Darma secara khas dan unik mempertahankan gaya ungkap tertentu di dalam penulisannya dan secara tidak langsung adalah mewakili pandangannya atas dunia yang centang perentang ini.&lt;br /&gt;Sebagaimana dinyatakan oleh Albert Camus di dalam ulasannya atas karya-karya Franz Kafka (Mite Sisifus, Pergulatan Dengan Absurditas): Dalam kontradiksi-kontradiksi itulah dikenali tanda-tanda sebuah karya absurd. Pikiran memproyeksikan tragedi rohaninya ke- dalam wujud yang konkret. Dan itu hanya dapat dilakukan dengan menggunakan suatu paradoks abadi yang memberikan kepada sang penulis warna-warna yang kaya sebagai kemampuan untuk menjelaskan makna kekosongan, dan kepada tindakan-tindakan sehari-hari suatu kekuatan untuk menerjemahkan ambisi-ambisi yang abadi. Secara jenial Budi Darma telah menerjemahkan hasrat-hasrat abadi di dalam benak manusia itu menjadi sebuah rangkaian kisah yang tidak sekedar berbicara sebagai sebuah realitas harafiah melainkan lewat sebuah abstraksi dari kehidupan. Bahwa wajah kemanusiaan kita tidak saja secara hitam-putih diwakili oleh tokoh serupa tukang pedati, yang walau sepintas terlihat arif dan baik hati namun sesungguhnya menyimpan ketidakpedulian. Dan lebih jauh lagi ternyata wajah kemanusiaan itu didominasi oleh kekuatan-kekuatan nafsu rendah sebagaimana yang mengusai jiwa pemburu Matropik dan juga penjelmaan nafsu kebinatangan sebagaimana nampak dalam diri burung Derabat.      &lt;br /&gt;Kegagalan Hasif Amini di dalam melihat simbolisme di dalam cerpen-cerpen Budi Darma yang dimuat oleh Kompas baik dalam kumpulan “Derabat” maupun “Mata Yang Indah” tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dari kegagalan Budi Darma sendiri dalam melihat simbolisme dalam karya-karya Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan “Lampor” maupun dalam “Pelajaran Mengarang.” Dalam pengantarnya atas kumpulan tersebut Budi Darma melihat bahwa Seno di dalam berkarya cenderung bermain-main tanpa memiliki maksud untuk serius, sehingga sama sekali tidak terbaca apa yang menjadi obsesinya. Akan tetapi apa yang terlihat sebagai sebuah permainan yang tidak serius menurut pandangan Budi Darma itu rupa-rupanya memperoleh penafsiran berbeda di dalam pandangan Budiarto Danujaya di dalam esei pembanding atas kumpulan cerpen tersebut yang menyingkap makna-makna simbolis dari cerita-cerita kelam dalam simbolisme absurditas “dunia bawah dan juga kelompok perlawanan” dari karya-karya Seno yang sesungguhnya jauh dari kata main-main. Hal tersebut sekaligus merupakan satu sisi lain yang menegaskan pemahaman bahwa absurditas tidak selamanya mewakili dunia yang tidak dapat dipahami atau dimengerti, justru gambaran-gambaran absurd itu seringkali dapat membawa kita pada kesadaran yang jauh lebih jernih dan juga menyentuh. Dan betapapun absurditas cerita-cerita Budi Darma di sisi lain adalah merupakan salah satu bentuk kepeloporannya di dalam perkembangan penulisan prosa di Indonesia, di mana ragam-ragam penulisan serupa itu dapat pula kita temukan kini dalam gaya penulisan yang telah jauh berkembang sebagaimana dapat kita saksikan pada karya-karya Agus Noor, Gus tf Sakai, dan juga Afrizal Malna.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-5307980293539433571?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/5307980293539433571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/5307980293539433571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#5307980293539433571' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-148342927955010409</id><published>2007-06-14T16:58:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T16:59:36.058+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>budi darma - posting 4:&lt;br /&gt;3. Absurditas Dan Potret Ekstrem Realitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan “Olenka” berbeda pula dengan “Rafilus”, dalam banyak segi kedua karya itu dapat kita sandingkan sebagai sebuah antitesis. Bila novel “Olenka” kaya dengan berkelebatnya pemikiran dan muncul dari luapan perasaan yang sublim, maka novel “Rafilus” justru sangat kaya dengan perbuatan-perbuatan fisik yang lahir dari sebentuk keprihatinan dan kesadaran penulis atas kehidupan masyarakat kelas bawah yang cenderung ekstrem. Tak pelak lagi bahwa “Rafilus” lahir melalui sebuah rangkaian observasi yang mendalam dan juga melalui berbagai pengamatan yang serba teliti atas setting dan berbagai latar kehidupan manusia. Dengan kata lain “Rafilus” lahir dari rangkaian-rangkaian peristiwa yang telah membaur sedemikian rupa dengan abstraksi kehidupan sebagai hasil dari sebuah perenungan pemikiran. Kesamaan antara “Rafilus” dengan “Olenka” barangkali adalah bahwa sang penulis sama-sama ingin menjungkir balikkan pandangan kita selaku pembaca lewat absurditas kehidupan tokoh-tokoh yang diciptakannya.&lt;br /&gt;Dalam “Olenka”, kita menemukan absurditas itu lewat kilatan-kilatan pikiran para tokoh utama yang terlibat secara penuh dalam seluruh jalinan kisah, sementara kita tidak melihat keterlibatan yang mendalam dari sang penutur di dalam jalinan kisah “Rafilus” ini. Tiwar sebagai penutur tunggal di dalam kisah ini cenderung bertindak sebagai seorang pengamat, kadang sebagai seorang penonton yang sesekali berteriak-teriak dari pinggir lapangan demi untuk menyoraki tindakan-tindakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh lainya. Hanya sesekali saja ia melepaskan atributnya itu dan ikut turun bertanding di tengah lapangan. Dalam banyak peristiwa ia lebih banyak bertindak sekedar sebagai pencatat yang bahkan tidak berbuat apa pun selain sekedar mendengarkan luapan perasaan orang-orang lain. Oleh karena itu pulalah maka gaya pengungkapan cerita “Rafilus” dalam bentuk pengakuan tunggal Tiwar ini bagi sebagian orang mungkin terasa sangat lambat dan bahkan nyaris menjemukan. Namun manakala kita melihat pengakuan itu lebih kepada keberadaan eksistensi dari masing-masing tokoh maka kita akan merasakan konflik-konflik kejiwaan dari serentetan peristiwa itu dengan lebih intens. Kita memang cenderung melihat pengakuan Tiwar dalam “Rafilus” ini lebih sebagai potret atau sebagai sebentuk kesaksian, dan oleh karenanya ia terasa lebih berjarak dibanding rentetan peristiwa yang terjadi di dalam “Olenka” yang lebih banyak bergerak dalam tataran pemikiran yang seakan membawa kita melebur langsung ke dalam karakter tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;Akan tetapi dengan segera dapatlah kita temukan keunikan dari novel “Rafilus” ini, yaitu sebagai gambaran dari potret kemanusiaan yang sepintas lalu tampak demikian suram, seakan tanpa harapan dan terlihat hitam sepenuhnya. Dalam banyak karakter ia bahkan terlihat demikian ekstrem dan cenderung dilebih-lebihkan. Kisah ini sendiri diawali dengan sebuah ungkapan yang secara sugestif menyiratkan hal tersebut, “Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi.” Tokoh-tokoh dalam “Rafilus” juga digambarkan memiliki begitu banyak kejanggalan, dengan gaya yang persuasif sang penutur berusaha meyakinkan kita bahwa tokoh-tokoh itu antara lain Rafilus, Van der Klooning dan Jan van Kraal bukanlah merupakan perwujudan manusia yang lumrah sebagaimana manusia pada umumnya.&lt;br /&gt;Tidak seperti di dalam kisah mengenai Olenka, di dalam “Rafilus” kita justru akan menemukan begitu banyak loncatan peristiwa yang seolah terasa demikian simpang-siur. Bagaimana kita digiring oleh sang penulis dari satu peristiwa ke lain peristiwa yang pada awalnya sekan-akan tidak berhubungan sama sekali. “Rafilus” tidak mengajak kita untuk mendalami karakter melalui apa yang mungkin tengah mereka pikirkan, melainkan terlebih pada situasi apa yang sesungguhnya tengah mereka hadapi. Karena titik berat “Rafilus” bukan pada percikan-percikan api yang timbul sebagai akibat dari loncatan pemikiran itu, melainkan bertumpu pada tindakan-tindakan mereka secara fisik yang terasa lebih sebagai perbuatan-perbuatan yang absurd dan sekaligus tidak masuk akal. Dalam banyak hal kita bahkan tidak dapat mengidentifikasikan perbuatan-perbuatan tokoh-tokoh di dalam “Rafilus” sebagai pencerminan sikap dan perilaku manusia melainkan lebih banyak disebabkan oleh dorongan hasrat kebinatangan yang muncul begitu saja di dalam diri tokoh-tokohnya. Oleh karena itu tindakan-tindakan fisik di dalam “Rafilus” bukanlah suatu hal yang artifisial sifatnya melainkan sebuah esensi.&lt;br /&gt;Absurditas di dalam “Rafilus” bukan dalam konteks ketidakwajaran yang tidak dapat kita mengerti, karena beberapa aspek ketidakwajaran itu lebih banyak diungkapkan secara sengaja oleh sang pengarang sebagai sebuah lambang atau simbol. Kekuatan dan kekebalan tokoh-tokoh “Rafilus” adalah merupakan wujud pengejawantahan dari harkat kemanusiaan dalam upaya untuk merobohkan takdir yang tidak memihak, dan demikian pula perilaku kebinatangan adalah merupakan representasi dari hasrat dan sekaligus harkat terendah dari kemanusiaan itu sendiri. Mereka bukanlah sesuatu yang tampak asing, apabila di dalam latar kehidupan masyarakat yang sedemikian amburadul keadaanya kita tak akan melihat sisi lain dari kemanusiaan itu kecuali dari sisinya yang paling kelam. Di dalam kehidupan masyarakat yang tidak dapat berbuat apa pun selain menerima ketertindasan mereka, maka harapan-harapan dan juga mimpi menjadi sebuah gambaran yang melampaui realitas yang benar-benar ingin mereka wujudkan. Inilah obsesi sang pengarang yang sesungguhnya bergerak di atas bayang-bayang suram realitas yang tampak demikian kelam sebagaimana terpampang di dalam seluruh wajah dari novel “Rafilus” ini. Betapa pun absurdnya gambaran dari tokoh-tokoh di dalam novel itu mereka bagaimanapun tetap berpijak di atas sebuah realitas yang tak dapat kita abaikan begitu saja. Dan oleh karena itu Budi Darma membuat tokoh-tokohnya itu lebur dengan segenap kelebihan dan terutama dengan keterbatasan kemanusiaanya.&lt;br /&gt;Dalam beberapa eseinya Budi Darma telah menjabarkan batasan-batasan mengenai sebuah karya yang baik yang antara lain adalah bahwa karya yang baik adalah karya yang sublim, bahwa pengarang sangat mungkin terbius oleh suasana perasaan dan pikiran tertentu dan oleh karenanya mereka didesak untuk menjabarkan suasana yang sublim itu dimana perasaan dan pikiran itu adalah mewakili sisi psikologisnya yang paling dalam. Dalam kesempatan lain ia mengatakan bahwa karya sastra yang baik bukanlah tulisan yang kaya dengan tindakan-tindakan jasmani yang mentakjubkan, akan tetapi kaya berkelebatnya sekian banyak pikiran.  “Olenka” adalah karya yang secara otentik mewakili kebenaran dari seluruh penilaian Budi Darma atas karya-karya yang baik tersebut. Ia secara utuh mampu mewakili apa yang dimaksudkan Budi Darma sebagai rangkaian berkelebatnya sekian banyak pikiran dan sekaligus lahir sebagai ungkapan perasaan yang sublim. Namun batasan ini sepertinya tidak tepat lagi untuk kita pakai sebagi tolok ukur di dalam memberikan penilaian yang obyektif pada novel “Rafilus”.    &lt;br /&gt;Perbedaan yang mencolok dari kedua novel ini sepenuhnya unik, bukan berarti dalam “Rafilus” Budi Darma berniat keluar dari gaya penulisannya sendiri yang telah terbentuk berdasar tradisi kepenulisan “Olenka”. Namun lebih daripada itu, dengan gaya yang tak kurang uniknya lewat novelnya “Rafilus” ini Budi Darma berusaha menegakkan gaya kepenulisan yang tampaknya cukup berbeda dan telah mengalami beberapa perkembangan. Di dalam ”Rafilus” Budi Darma memang seolah menafikan prinsip-prinsip yang semula ia anut sendiri dalam gaya kepenulisan “Olenka” yaitu terutama dalam batasan pengertian karya sastra yang baik bukanlah yang kaya dengan tindakan-tindakan jasmani yang mentakjubkan akan tetapi kaya dengan berkelebatnya sekian banyak pikiran. Betapa pun “Rafilus” lebih condong sebagai sebuah karya yang banyak menampilkan tindakan-tindakan yang mentakjubkan dibanding berkelebatnya serangkaian pemikiran. Namun demikian “Rafilus” tetap merupakan bukti nyata bahwa dalam menulis karya-karya yang keluar dari tradisi “Olenka” sekalipun Budi Darma mampu menghasilkan sebuah karya yang tidak saja berbobot namun sekaligus memiliki keunikan yang mampu menyedot seluruh rasa ingin tahu pembaca untuk menelusuri jejak kepengarangan penulis ini lebih lanjut. Dan pada kenyataannya absurditas masih merupakan tema sentral yang terus mewarnai karya-karya Budi Drama dikemudian hari sebagaimana yang kemudian tampak di dalam cerita-cerita pendeknya yang paling mutakhir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-148342927955010409?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/148342927955010409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/148342927955010409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#148342927955010409' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-2869564305189370602</id><published>2007-06-14T16:57:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T16:58:42.868+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>budi darma - posting 3:&lt;br /&gt;2. Perwujudan sublimitas dan Upaya pencapaian katarsis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi “Olenka” memang lahir dari obsesi yang terlanjur mengendap dan bukan dari sebuah rentetan gagasan yang kemudian menuntut untuk diwujudkan ke dalam bentuknya yang terlihat kemudian. Akan tetapi sebagai sebuah karya ia jelas merupakan sebuah karya otentik justru karena kelugasannya di dalam menuangkan beban-beban obsesi yang membayang-bayangi benak sang pengarang. Ia sekaligus merupakan karya yang sangat baik dalam keberhasilannya menyentuh kesadaran terdalam pembaca karena ia lahir dari luapan perasaan terdalam dari diri sang pengarang sendiri yang jelas-jelas mencerminkan hakikatnya yang paling sublim. Sublimitas adalah merupakan warna lain yang menonjol dari novel “Olenka” ini. Dalam banyak hal kita dapat melihat bahwa novel ini telah mewakili hasrat-hasrat dan kecenderungan sang pengarang yang paling mendasar. Ia tidak sekedar menampilkan sisi-sisi kelam dari sang tokoh, ia juga menampilkan begitu banyak gejolak emosi psikologis. Keresahan yang senatiasa menghantui tokoh-tokohnya tidak lain dan tidak bukan adalah beban-beban obsesi yang juga mendera diri sang pengarang. Ada rasa keterlibatan yang mendalam dari sang pengarang di dalam karyanya yang satu ini, sehingga seolah kita dapat melihat batas-batas yang seharusnya rapat dan tertutup itu menjadi begitu transparan sehingga kita bahkan bisa melongok lebih jauh lagi ke dalam segenap isi dapur dari sang peramu kisah yang menawan ini.&lt;br /&gt;Dalam novel ini sang pengarang memang tidak seketika mati begitu ia selesai menuliskan karyanya. Ia justru bangkit dari remah-remah abu serupa burung phoenix untuk memberikan semacam ‘catharsis’ yaitu semacam pencerahan bagi para pembaca. Bahwa dari segala bentuk kemuakan kita atas wajah kemanusiaan ini, atas segenap realitas dari dunia yang centang-perentang yang tercermin di dalam novel ini sesungguhnya kita harus kembali melihatnya ke dalam diri sendiri. Dan betapa melalui novel ini kita dapat melihat wajah kita yang compang-camping. Bahwa novel yang lahir dari ungkapan-ungkapan terdalam yang paling sublim justru akan mewakili kebenaran yang juga universal. Kejujuran serupa itulah yang merupakan kekuatan utamanya dan keakrabannya di dalam menggali segenap aspek kemanusiaan kita adalah merupakan unsur-unsur pembentuk cerita yang membuat novel ini berhasil.&lt;br /&gt;Dalam banyak peristiwa di dalam novel ini kita dapat melihat bahwa Budi Darma memang seolah tidak berjarak. Ia mengajak kita melebur dalam kegelisahan jiwa yang mendera kehidupan para tokohnya. Seolah kita dapat mengidentifikasikan persoalan-persoalan mereka ke dalam diri kita sendiri. Hasrat-hasrat besar yang menggelayuti benak Fanton Drummond untuk menguasai Olenka, ketidak berdayaan Wayne Danton suami Olenka mengatasi kegagalannya sebagai seorang penulis dan juga sebagai suami serta pandangan-pandangan hidup para tokohnya dalam menyiasati kehidupan dan bahkan sisi-sisi misterius dalam diri Olenka yang demikian memikat telah berhasil merampok begitu banyak perhatian kita. Ketiadaan jarak itulah yang justru membuat kita sebagai pembaca merasa terlibat.   &lt;br /&gt;Bagi saya ini bukan sebuah kekurangan, ini justru merupakan kelebihan penting dari karya ini. Karena semenjak awal mula ia tampil dengan jujur dan apa adanya, ia tidak merumitkan masalah atau berusaha mendramatisasi peristiwa, ia mengalir seperti aliran sungai yang bening dan jernih dan dengan senang hati kita akan mencelupkan kaki dan tangan kita dan bahkan mencuci wajah kita di dalam aliran sungai itu. Namun ia tidak mengajak kita untuk menjadi seorang Narcissus, justru sebaliknya ia mengajak kita untuk berkaca betapa compang-campingnya wajah kita yang sesungguhnya. Seperti yang penulisnya katakan sendiri bahwa novel ini adalah merupakan pandangan dari orang-orang yang tidak malu mengakui siapa diri mereka yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Karena itu Budi Darma dengan cara yang tak tanggung-tanggung berusaha membongkar dan melucuti topeng-topeng yang selama ini menutupi wajah kemanusiaan itu sendiri, bahwa tokoh-tokoh di dalam novel ini bukanlah sejenis pahlawan, bukan orang-orang hebat yang pantas disanjung-sanjung atau bahkan juga tidak untuk diteladani melainkan justru merupakan potret realistis dari wajah orang-orang yang kalah yang terhimpit oleh serangkaian beban dunia yang sedemikian sempit dan juga terbatas. Tokoh-tokoh Budi Darma adalah orang-orang yang tidak merasa perlu berpura-pura dan bersikap tanpa tedeng aling-aling. Justru disinilah saya melihat pesona Olenka yang sesungguhnya, bahwa Budi Darma tidak sedang meramu sebuah cerita sebagaimana yang diinginkan oleh khalayak umum. Ia tidak sedang mengungkapkan gagasan atau pikiran yang muluk-muluk, atau sejenis moralitas semu melainkan ia hanya berusaha menampilkan sebuah potret keseharian yang bahkan dapat kita temukan di mana pun di dalam kehidupan kita sehari-hari. Tokoh-tokoh “Olenka” adalah orang-orang kebanyakan yang dapat kita temukan di pasar, di mall, di kantor dan bahkan di rumah kita sendiri karena ia adalah potret dari keseharian kita.&lt;br /&gt;Harus kita akui bahwa demikianlah wajah kita yang sesungguhnya, penuh luka, hina-dina, dan sekaligus anggun dan agung. Namun justru dengan segenap kejujuran serupa inilah “Olenka” mampu meraih tataran sebagai novel yang monumental. Betapapun tak ada penilaian yang lebih baik yang dapat saya berikan untuk Budi Darma atas karyanya yang satu ini selain bahwa ia telah mencapai tataran sebuah ‘Opus Magnum.’ Bahwa perasaan keterlibatan tidak serta merta membuat tokoh-tokoh di dalam cerita itu mati. Budi Darma justru telah menunjukkan sebuah pendekatan gaya penulisan yang mau tak mau harus kita akui sebagai sebuah terobosan literer penting di dalam kazanah kesusasteraan kita. Dan dalam banyak segi novel ini begitu inspiratif, begitu mengundang dan memancing hasrat untuk terus-menerus menggali dan menggali ke dalam rangkaian ceritanya, ke dalam strukturnya, dalam gaya bahasanya yang unik dan juga cara penulisannya yang sepenuhnya memikat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-2869564305189370602?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/2869564305189370602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/2869564305189370602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#2869564305189370602' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-5650815793819757607</id><published>2007-06-14T16:56:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T16:57:25.390+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>budi darma - posting 2:&lt;br /&gt;B. MITOS DI SEPUTAR PROSES kreatif BUDI DARMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. rangkaian Proses berpikir, mempertanyakan dan Obsesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam “Harmonium”, Budi Darma membuat sebuah pernyataan bahwa ia menulis karena ia berpikir dan banyak mempertanyakan berbagai hal. Sepintas lalu pernyataan itu dapat kita telusuri asal-muasalnya dari rancangan pemikiran Rene Descartes sang filsuf pendiri filsafat modern yang sekaligus pula adalah pencetus gagasan ‘cogito ergo sum’ yang terjemahan harafiahnya adalah ‘Aku berpikir maka aku ada’. Dalam kasus Budi Darma hal tersebut bisa jadi adalah merupakan titik tolak terpenting dari keseluruhan proses kreatifnya, sebagaimana tampak dalam pengantar eseinya di dalam kumpulan “Harmonium” tersebut dimana Budi Darma menyatakan bahwa proses berpikir dan mempertanyakan adalah merupakan hakikat dari keberadaan sebuah obsesi. Dan ia pun memiliki anggapan bahwa semua penulis pada hakikatnya adalah sama karena terlahir oleh sebuah dorongan obsesi. Namun apakah dorongan obsesi itu kemudian dapat diidentikkan dengan proses berpikir sayangnya tidak sempat pula ia paparkan lebih jauh.&lt;br /&gt;Budi Darma selanjutnya menyatakan bahwa tak ada perbedaan mendasar di antara kalangan penulis, apakah ia itu seorang eseis, penyair, ataupun pengarang karena pada prinsipnya mereka menulis karena mereka berpikir dan mempertanyakan sesuatu. Dalam esei tersebut Budi Darma menguraikan bahwa begitu seseorang terlibat di dalam sebuah obsesi maka dia akan mengadakan dialog dengan dirinya sendiri dan dengan dialog itu ia akan berusaha untuk menemukan jawaban. Dan di dalam kajiannya mengenai masalah itu Budi Darma nampaknya  telah sampai pula pada sebuah konklusi bahwa dialog dengan diri sendiri pada dasarnya tidak akan pernah mampu memberikan jawaban yang bersifat final dan oleh karenanya mereka akan berproses secara terus-menerus. Keadaan serupa ini oleh Budi Darma dianalogikan serupa keadaaan yang harus dijalani oleh Sisifus yang dikutuk oleh para dewa untuk menggelindingkan batu hingga ke puncak gunung sebelum kemudian melihat batu itu kembali meluncur ke arah lembah. Mitos ini pulalah yang kemudian berkembang menjadi sebuah anggapan umum bahwa seorang pengarang ataupun juga para pekerja sastra lainnya adalah merupakan perwujudan dari orang-orang yang kena kutuk. Tuntutan jiwa yang senantiasa membayangi kehidupan mereka seringkali telah menjelma menjadi sebuah obsesi, yaitu untuk terus-menerus menggali ke dalam segenap rekoleksi pemikiran, pengalaman, dan juga perenungan demi untuk menemukan jawaban atas segenap bentuk kegelisahan yang terlanjur mengelayuti kehidupan mereka. &lt;br /&gt;Sangatlah menarik untuk mengetahui bahwa karya-karya kreatif Budi Darma terlahir dari gagasan ataupun proses serupa itu, bahwa ia ada karena ia berpikir dan mempertanyakan sesuatu. Dengan kata lain gagasan-gagasan kreatifnya lahir melalui sebuah rangkaian pemikiran hingga kemudian berwujud menjadi sebuah obsesi. Semula saya memang tak seberapa yakin apakah keberadaan obsesi ini yang kemudian mendesak pemikiran di dalam dirinya untuk melahirkan karya-karya kreatif atau justru sebaliknya. Namun kemudian saya  melihat bahwa proses berpikir dan mempertanyakan itu ternyata lebih banyak berlaku untuk karya-karya Budi Darma yang berbentuk non fiksi daripada karya-karya fiksinya, sebagaimana tampak di dalam novelnya “Olenka” dan juga kumpulan cerita pendek “Orang-Orang Bloomington”. Gagasan ini menemukan relevansinya yang sepintas lalu justru terlihat seperti sebuah kontradiksi dan mendorong diri saya untuk berusaha mengkajinya lebih jauh.&lt;br /&gt;Dalam asal-usul Olenka, Budi Darma tidak menyangkal bahwa novel tersebut terlahir dari serangkaian peristiwa kebetulan yang antara lain dipicu oleh peristiwa pertemuannya yang tidak sengaja dengan seorang wanita di dalam sebuah lift. Bagi Budi Darma kebetulan itu tidak akan memiliki arti apa-apa sekiranya tidak berkaitan dengan kebetulan-kebetulan lainnya yang seolah datang beruntun. Kemudian ia menjelaskan pula bahwa betapa nama Olenka itu terlahir dari kilasan-kilasan ingatan dari masa lampau yang berhubungan dengan sebuah cerpen hasil buah karya Anton P. Chekov yang ia baca pada waktu ia masih SMP kelas III di Salatiga. Kilasan-kilasan ingatan itulah yang tanpa sengaja telah menggiring Budi Darma untuk memakai nama Olenka di dalam novelnya, bukan saja karena nama itu terlanjur berkelebat begitu saja masuk ke dalam benaknya melainkan tanpa ia sadari ternyata nama tokoh di dalam cerpen “The Darling” karya Chekov itu adalah Olga Semyonovna yang di dalam versi aslinya dikenal dengan nama Olenka. Peristiwa kebetulan itu memang baru ia sadari kemudian dan secara tidak langsung telah mempertautkan dirinya dengan takdir tokoh utama dalam novelnya sendiri.&lt;br /&gt;Kesadaran bahwa ada serangkaian kebetulan serupa itu barangkali adalah merupakan pemicu dari sebuah kegairahan menulis. Kenyataan yang kemudian terjadi bahwa setelah pertemuannya dengan seorang wanita di dalam lift itu Budi Darma langsung menggeblas masuk ke kamar apartemennya dan mulai menulis dengan semangat menggebu-gebu. Pada saat itu, ia sempat pula berpikir akan menyelesaikan sebuah cerpen namun karena ia merasakan serbuan desakan yang sangat hebat untuk terus menulis akhirnya ia bahkan telah berhasil menyelesaikan sebuah novel. Demikianlah proses novel “Olenka” itu terlahir hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu. Penjelasan atas asal-usul Olenka inilah yang kemudian memancing sedikit keragu-raguan di dalam diri saya bahwa apakah benar karya-karya kreatif Budi Darma memang terlahir dari sebuah proses pemikiran atau ia menulis karena tengah mempertanyakan sesuatu?&lt;br /&gt;Sejauh itu pula saya belum menemukan hubungan yang jelas dari rangkaian kebetulan itu dengan rangkaian proses berpikir yang mungkin memang mendasari kelahiran Olenka, betapapun novel Budi Darma tersebut adalah merupakan sebuah karya yang sangatlah fenomenal. Dalam asal-usul Olenka, Budi Darma memang tidak secara gamblang menggambarkan bagaimana korelasi dari kedua proses itu berjalan bersamaan pada saat ia membidani proses kelahirannya. Saya justru melihat bahwa kelahiran novel ini bukan melalui serangkaian proses berpikir dalam artian karena ia memang telah melalui sebuah proses perenungan atau pengendapan di dalam diri pengarangnya, yaitu dari suatu kesadaran di mana bangunan cerita novel tersebut disusun secara sengaja berdasar sebuah plot atau kaidah penulisan tertentu. Satu hal yang menjadi argumen saya adalah karena Budi Darma sendiri pun semenjak awalnya tidak pernah merasa yakin akan menulis sebuah novel. Ia menulis novel tersebut justru karena dorongan hasrat menulis yang sangat kuat sehingga kata-katanya seakan ngocor begitu saja tanpa dapat ia kendalikan. Dorongan gelombang spontanitas yang sangat luar biasa itulah yang kemudian memang kita rasakan manakala kita membaca Olenka. Spontanitas yang saya rasa tidak mungkin diatur-atur berdasar suatu proses analisa atau logika tertentu, karena alur cerita yang mengalir terasa demikian lancar dan bahkan demikian deras jelas telah menafikan adanya rekayasa pemikiran yang cenderung bersifat logis dan analitis. Dengan kata lain Olenka sesungguhnya lahir karena sang penulis lebih banyak mengikuti naluri atau intuisinya daripada mengekor kepada percikan pemikiran yang mungkin saat itu mengalir di dalam benaknya.&lt;br /&gt;Di sisi lain mungkin dapat kita peroleh sebuah penjelasan yang lebih baik yaitu apabila dorongan obsesi ini dapat diartikan sebagai lentik api pemikiran yang justru timbul lebih dulu dan kemudian merangsang lahirnya gagasan-gagasan yang mendorong lahirnya sebuah karya. Namun dengan demikian kita tidak dapat dengan serta merta mengidentikkan obsesi tersebut sebagai kontinuitas dari sebuah proses berpikir. Obsesi hanya dapat dilihat sebagai sebab dan bukan sebagai proses berpikir itu sendiri. “Olenka” sebagai sebuah novel bagaimanapun dapat kita lihat dari sudut pandang ini. Bahwa dalam sebuah kurun waktu tertentu ia mungkin saja telah mengendap di dalam pikiran sang penulis. Apakah itu dalam bentuk potongan-potongan peristiwa atau mungkin juga berupa kilasan-kilasan pemikiran yang masih belum menemukan bentuknya secara utuh. Dari rangkaian peristiwa serta kilasan pemikiran itulah yang barangkali kemudian muncul menjadi sebuah obsesi di dalam diri sang penulisnya.&lt;br /&gt;Ketidakyakinan saya atas latar pemikiran sesuai penuturan Budi Darma sebagai sebuah proses dan obsesi sebagai pemicu barangkali masih dapat diperdebatkan lebih lanjut, akan tetapi yang jelas “Olenka” serta sebagian besar cerita pendek dalam kumpulan “Orang-Orang Blomington” tidak sepenuhnya lahir melalui pengendapan pemikiran yang intensif namun justru berangkat dari letupan perasaan yang cenderung spontan sifatnya yang mampu membuat sang penulis seolah berada dalam keadaan terbius. Ada semacam dorongan yang kuat yang lebih menyerupai terjadinya proses penulisan otomatis yang nyaris tanpa perencanaan. Dalam “Olenka” dan juga “Orang-orang Bloomington” saya justru melihat bahwa yang terjadi adalah semacam proses menelisik, memilah, dan mengolah pengalaman fisik dan juga batin dalam diri pengarang untuk kemudian dicairkan ke dalam bentuk sebuah tulisan. Bahwa rangkaian peristiwa yang saling berkelit-kelindan di dalam ingatan dan benak pengarang menemukan katup pelepasannya di dalam wujud karya kreatif, baik itu dalam bentuk novel atau mungkin juga cerpen.&lt;br /&gt;Dengan demikian yang terjadi bukanlah sebuah rangkaian perenungan yang mendalam atau melalui serangkaian proses berpikir yang terstruktur secara analitis, karena semua bahan yang mengendap sebagai hasil rekoleksi pengalaman batin yang telah terkumpul sekian lamanya seolah terangkat begitu saja ke permukaaan tanpa melalui sebuah proses penyaringan kesadaran yang terkontrol. Segenap kata, bahasa, alur jalan cerita, karakter tokoh, hubungan-hubungan antar tokoh, perwatakan dan bahkan juga konflik cerita seakan keluar begitu saja seperti muntahan yang hampir-hampir tanpa di sadari langsung oleh penuturnya dan hasilnya tentu saja adalah sebuah karya yang spontan dan sekaligus jujur. Namun daya dorong kreatif serupa ini bukannya tanpa resiko karena endapan perasaan yang demikian sublim seringkali menentukan alur dan jalan ceritanya sendiri. Dalam kasus Olenka ia menjadi sebuah karya yang sangat berhasil karena sang penulis seolah sama sekali tidak menyisakan jarak, ia terasa demikian akrab, demikian hidup. Dan sang peramu dalam hal ini sang penulis seolah larut di dalam keseluruhan proses itu. Realitasnya menjadi berbeda sepenuhnya manakala jarak itu menjadi kabur, manakala sang peramu telah kehilangan orientasi dan pegangan atas fakta-fakta yang telah mengendap di dalam dirinya sehingga hasilnya bisa berarti sebuah kegagapan dalam bertutur seperti yang kemudian terjadi di dalam novel Budi Darma berikutnya yang berjudul Ny. Talis, kisah tentang Madras.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-5650815793819757607?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/5650815793819757607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/5650815793819757607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#5650815793819757607' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-2625670984107598836</id><published>2007-06-14T16:54:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T16:56:21.857+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Esai tentang Budi Darma - posting 1:&lt;br /&gt;A. biografi singkat BUDI dARMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;budi Darma lahir di Rembang 25 April 1937. Ia kita kenal sebagai seorang novelis, cerpenis dan juga eseis. Ia memiliki kedudukan yang sangat kuat di dalam peta sastra Indonesia modern. Karya-karyanya banyak dijadikan bahan kajian seminar, penelitian dan juga thesis di perguruan tinggi. Banyak pula dari karya-karyanya itu yang mendapat sorotan dari berbagai kalangan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Ia memperoleh gelar Doktorandus dari Universitas Gajah Mada, gelar Master of Arts dari Indiana University dan gelar Doctor of Philosophy juga dari Indiana University. Beberapa karyanya telah memperoleh banyak penghargaan antara lain novelnya “Olenka” terpilih sebagai pemenang utama naskah roman DKI tahun 1980 kemudian di susul dua buah cerpennya terpilih sebagai cerita pendek terbaik versi harian Kompas di tahun 1999 untuk cerpen “Derabat” dan kembali di tahun 2001 untuk cerpen “Mata Yang Indah”. Karya-karya Budi Darma yang telah terbit antara lain adalah; kumpulan cerpen “Orang-orang Bloomington” (Sinar Harapan, 1980), novel “Olenka” (Balai Pustaka, 1983), “Solilokui” kumpulan esei sastra (Gramedia, 1983) “Sejumah Esai Sastra” (1984), novel “Rafilus” (Balai Pustaka, 1988), “Harmonium” kumpulan esei sastra (Pustaka Pelajar 1995), novel “Ny.Talis, Kisah Mengenai Madras” (Grasindo, 1996), kumpulan cerpen “Kritikus Adinan” (2002) dan Kumpulan cerpen “Fofo dan Senggring” (Grasindo, 2005). Beberapa penghargaan penting telah pula diperolehnya antara lain adalah Penghargaan Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1983), SEA Write Award (1984),  Anugerah Seni Pemerintah RI (1993), Satya lencana Kebudayaan dari Presiden RI (2003) dan Ahmad Bakrie Award dari Freedom Institute (2005). Kesibukannya selain menulis adalah sebagai akademisi dan juga pembicara diberbagai kesempatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-2625670984107598836?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/2625670984107598836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/2625670984107598836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#2625670984107598836' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-2621426901937522150</id><published>2007-06-14T16:52:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T16:53:31.052+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Judul: Blindness&lt;br /&gt;Judul Asli: Blindness&lt;br /&gt;Pengarang: Jose Saramago&lt;br /&gt;Penerjemah: Arif Bagus Prasetyo&lt;br /&gt;Penerbit Karya Terjemahan: Ufuk Press&lt;br /&gt;Tebal: 447hal ; 20,5 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kebutaan Massal Menyebabkan "Chaos"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi, bila seketika, tanpa ada sebuah pertanda terlebih dahulu tiba-tiba seseorang menjadi buta dan ternyata kebutaan itu kemudian menular dengan sangat cepat, dari satu orang ke orang yang lain. Dan dalam waktu sekejap, seluruh kota telah terinfeksi oleh penyakit kebutaan massal itu.&lt;br /&gt;Orang-orang menjadi panik, institusi-institusi dan fasilitas umum diserbu dan di seluruh negeri terjadi chaos, sehingga memaksa pemerintah untuk segera turun tangan dengan melakukan sejumlah tindakan keras. Yaitu dengan membuat tempat karantina-karantina yang jauh dari pemahaman manusiawi, demi mencegah penyebaran penyakit yang seketika menjadi momok di seluruh negeri yang semuanya sengaja dibuat tak bernama.&lt;br /&gt;Orang-orang buta dadakan itu kemudian diambil dari segala penjuru dan selanjutnya di kurung dalam sebuah rumah sakit jiwa yang dialih fungsikan menjadi tempat karantina, dengan penjagaan yang super ketat oleh sejumlah besar tentara bersenjata. Di dalam karantina itulah terjadi sebuah proses pembusukan yang sangat mengerikan, di mana orang-orang buta itu perlahan tapi pasti kehilangan seluruh norma-norma kehidupan dan bahkan hakekat kemanusiaanya.&lt;br /&gt;Kebutaan massal yang menyebabkan "Chaos" inilah yang menjadi tema sentral dalam karya peraih nobel kesusastraan tahun 1998 Jose Saramago yang berjudul "Blindness" ini.&lt;br /&gt;Sebuah gambaran chaotik dari sebuah tatanan masyarakat yang terlanjur sakit. Perlahan namun pasti, orang-orang buta di dalam karantina itu kehilangan seluruh jati diri, dan bahkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri mereka. Karena mereka akan melakukan apa pun hanya demi untuk bertahan hidup.&lt;br /&gt;Dengan sangat piawai, Saramago menggiring tokoh-tokohnya, yaitu sekawanan orang yang kesemuanya buta kecuali satu orang yang terdiri dari: seorang dokter dan istrinya yang tidak buta, seorang pelacur, seorang pencuri mobil dan istrinya, seorang bocah bermata juling dan seorang laki-laki dengan tampal mata hitam. Mereka itu perlahan bertransformasi, dari manusia normal menjadi sekawanan binatang yang terpaksa harus mencuri, menjual diri, dan bahkan membunuh demi untuk mendapatkan atau mempertahankan jatah makanan yang sangat terbatas di dalam sebuah karantina yang sangat memprihatinkan keadaannya.  &lt;br /&gt;"Blindness" adalah sebuah novel muram dan pedih. Novel ini dengan genius berhasil mengungkap sisi lain dari harkat dan hakekat kehidupan, yang dipotret secara ekstrim dari sebuah kenisbian menjadi sebuah keniscayaan, yang barangkali sulit untuk dibayangkan terpaksa harus dijalani oleh makhluk yang menyebut dirinya sebagai manusia.&lt;br /&gt;Tak pelak lagi "Blindness" adalah sebuah adi karya yang sepatutnya dibaca, bukan saja oleh mereka yang gandrung pada bacaan-bacaan bermutu, akan tetapi juga oleh siapa saja yang ingin memperoleh pemahaman lebih dalam atas nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Karena Saramago tidak sekedar menawarkan sebuah potret buram dari kehidupan manusia itu sendiri, dan juga segala bentuk perilaku tak wajar dari sebuah masyarakat yang terlanjur sakit. Melainkan ia jauh menukik ke dalam esensi kehidupan dan juga kematian. Dengan gaya ironi yang sangat kental, Saramago memaparkan makna perjuangan hidup dan memadukannya dengan sejenis humor yang terasa getir dan pahit sekaligus. Seolah ia ingin menelanjangi wajah kemanusiaan kita, terutama dengan gaya satire-nya yang demikian cerdas dan sekaligus memikat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 8 Mei 2007&lt;br /&gt;titon rahmawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-2621426901937522150?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/2621426901937522150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/2621426901937522150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#2621426901937522150' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-5055256397824546017</id><published>2007-06-14T16:50:00.000+07:00</published><updated>2007-06-14T16:52:03.843+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Resensi: “My Name Is Red” - Kilau Sebuah Merah Delima  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku: My Name is Red&lt;br /&gt;Sub Judul: Namaku Merah Kirmizi&lt;br /&gt;Judul Asli: Benim Adim Kirmizi&lt;br /&gt;Penulis: Orhan Pamuk&lt;br /&gt;Penerjemah: Atta Verin&lt;br /&gt;Penerbit: Serambi&lt;br /&gt;Jumlah halaman: 725 ; 23 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya saja, makhluk-mahkluk berupa: sesosok mayat, seekor anjing, sebatang pohon, sesosok kematian, seulas warna merah, setan dan seekor kuda dapat berbicara, dan kemudian berkomunikasi seperti manusia lumrah pada umumnya. Apa yang bakalan terjadi?&lt;br /&gt;Inilah salah satu, dari begitu banyak keunikan yang dapat kita temui dari gaya bertutur Orhan Pamuk, peraih hadiah Nobel Kesusasteraan Tahun 2006. Dengan novel ini, tak pelak lagi Orhan telah mengukuhkan dirinya sendiri sebagai salah satu penulis Turki yang paling terkemuka, dan sekaligus novelis terbaik dunia saat ini.   &lt;br /&gt;Terlepas dari kenyatan bahwa Pamuk adalah peraih hadiah nobel, dan juga sejumlah hadiah sastra terkemuka dunia lainnya seperti Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (dari Pemerintah Perancis), Premio Grinzane Cavour 2002 (dari Italia) dan International IMPAC Dublin Literary Award 2003 (dari Irlandia) Pamuk telah menunjukkan reputasi kepenulisannya yang benar-benar memukau dan menarik perhatian besar di dalam karyanya yang fenomenal ini.&lt;br /&gt;Coba kita simak, bagaimana Pamuk mengawali bab pertama novel ini dengan judul bab yang sangat tidak konvensional: “Aku Adalah Sesosok Mayat” Semenjak mula, pembaca sudah berhasil disihirnya dengan keahlian tehnik bercerita ala dongeng 1001 malam, yang memaksa pembaca untuk terus-menerus mengikuti alur cerita yang sarat dengan ketengangan dan juga merangsang imajinasi ini.&lt;br /&gt;Selanjutnya kisah mengalir dengan deras, lewat gaya bertutur Pamuk yang cerdas, berani dan sekaligus memukau. Semenjak awal pembuka bab pertama, pembaca akan dibawa masuk ke dalam labirin penuh liku-liku sebuah petualangan ala detektif dari seorang laki-laki bernama Hitam di dalam upayanya untuk mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik kematian seorang miniaturis (seniman yang bertugas memberi hiasan pada buku-buku pesanan istana) yang dibunuh secara misterius.&lt;br /&gt;Dengan sangat jenial, Pamuk memaksa masing-masing tokoh-tokohnya yang meliputi berbagai karakter, dari yang paling masuk akal hingga yang paling ganjil untuk berbicara di sepanjang alur cerita, yang mengalir begitu cepat dan penuh dengan pergulatan batin, intrik sosial politik, dan juga bumbu-bumbu percintaan.&lt;br /&gt;Kisah yang dipersiapkan dan ditulis dalam waktu enam tahun ini, dilatari oleh sejarah kesultanan Ustmaniyah dan juga menampilkan sisi gemilang dari simbol tonggak kejayaan peradaban Islam terakhir - kota Istambul Turki - yang sangat artistik dan sekaligus mempesona. Karya Pamuk ini, secara cemerlang telah berhasil meramu sebuah kisah berlatar sejarah pertentangan antara budaya Timur dan Barat, dengan kisah percintaan yang panas dan menggebu, serta petualangan detektif menegangkan yang penuh dengan misteri dan mengandung begitu banyak renungan filsafat sekaligus.&lt;br /&gt;Ibarat sebuah ruby, batu merah delima yang mampu memancarkan kilau yang begitu mempesona. Novel “My Name is Red” dapat disetarakan dengan sebuah ‘precious stone.’ Dengan begitu gamblang, novel ini telah menjawab kontroversi yang beredar di sekitar fenomena estetika Pamuk yang sempat diperdebatkan oleh banyak kalangan, sebelum kemudian akhirnya ia dikukuhkan sebagai penerima hadiah nobel sastra tahun 2006. Dan oleh karena itulah, maka novel “Namaku Merah Kirmizi” yang diterjemahkan oleh Atta Verin dengan sangat bagus ini, patut dijadikan bacaan wajib dan menjadi bagian dari harta berharga koleksi perpustakaan pribadi. Terutama bagi mereka, yang memiliki minat besar pada bacaan-bacaan berkualitas dan sekaligus menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 09 Mei 2007&lt;br /&gt;Titon Rahmawan&lt;br /&gt;email: titon87@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-5055256397824546017?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/5055256397824546017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/5055256397824546017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2007_06_10_archive.html#5055256397824546017' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-115209815591812160</id><published>2006-07-05T18:15:00.000+07:00</published><updated>2006-07-05T18:20:15.046+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Proses Belajar Di Dalam Penulisan Karya Sastra Bagian 3&lt;br /&gt;(Peran Keterlibatan Dalam Meningkatkan Wawasan Kepenulisan)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah mulai menulis lalu tahapan apa lagi yang harus kita jalani? Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa apa yang telah kita tulis itu adalah sesuatu yang baik dan sekaligus bermanfaat bagi orang lain, terlebih lagi bagi diri kita sendiri? Dalam hal ini kita mulai melangkah pada tahapan berikutnya dari seluruh rangkaian proses kepenulisan ini. Setiap penulis tentu saja harus merambah jalan mereka masing-masing, ada yang tampak begitu lempeng dan lurus-lurus saja, ada pula yang berkelok-kelok dan menemui banyak sekali rintangan. Dan di dalam mengarungi jalan yang seringkali rumit itu sudah seharusnyalah kita menjaga diri agar jangan sampai kehilangan orientasi. Setidaknya kita harus menemukan sebuah peta petunjuk. Namun dimanakah kita dapat menemukan peta semacam itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah tuntutan keterlibatan itu mengambil peranannya; seberapa jauh sesungguhnya kita telah menggeluti segenap aspek dari dunia tulis-menulis ini? Apa yang sudah kita ketahui dan apa yang belum atau tidak kita ketahui? Banyak hal ternyata yang masih harus kita pelajari, dan tidak semuanya dapat begitu saja kita temukan jawabannya di dalam diri kita sendiri. Kita masih harus membaca karya-karya berbobot lebih banyak lagi demi memperkaya wawasan pemikiran kita. Hal ini merupakan pekerjaan rumah kita yang paling utama selain berusaha untuk dapat menulis dengan konsisten selama 2-3 jam sehari. Kita harus meluangkan waktu sekitar 1-2 jam sehari lagi untuk membaca. Wah ternyata berat juga untuk dapat menjadi seorang penulis handal. Memang demikianlah kenyataannya. Tanpa membaca kita tak akan pernah berkembang dan akan sekedar menjadi seorang penulis yang berwawasan dangkal, yang semata-mata berorientasi kepada kedalaman pemikiran diri sendiri. Lagi pula siapa yang mampu mengukur kemampuan kita kalau bukan orang lain? Oleh karena itu kita harus melebarkan wawasan, kita harus bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia tulis-menulis keberhasilan justru seringkali muncul dari sebuah hasil rekomendasi, dari sebuah kata bertuah yang muncul dari pernyataan dan pengakuan orang lain. Ini sungguh merupakan kenyataan yang berat dan sulit untuk dijalani, karena reputasi kita tidak sepenuhnya lahir dari kemampuan kita sendiri semata-mata. Kemampuan itu baru berarti kalau kita telah diakui oleh orang lain dan khalayak ramai bahwa kita memang layak untuk memanggul beban reputasi tersebut. Dalam aspek keterlibatan ini makna komunitas menjadi sangatlah penting. Dengan siapa anda bergaul seringkali menentukan pula kemana arah angin akan membawa keberhasilan atau kegagalan anda. Siapa yang mengenal anda saat ini? Siapa pula yang telah anda kenal? Mengapa saya harus membaca karya-karya anda sementara banyak karya lain yang mungkin saja lebih berbobot? Nah pertanyaan-pertanyaan serupa itulah yang memaksa kita mau tak mau harus keluar dari dalam tepurung kedangkalan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda harus menjual diri anda sendiri! demikian kata seorang editor kepada kita dengan nada yang cukup keras, dan kita tiba-tiba pula terperangah mendengar kata-kata yang sepintas berkonotasi agak kasar namun sesungguhnya bermakna dalam itu. Ungkapan itu adalah ungkapan yang jujur dan paling tepat untuk menggambarkan situasi kita sebagai seorang penulis pemula. Siapa anda? Anda mau mulai darimana agar diri anda bisa dikenal? Apakah anda akan berteriak-teriak di jalan agar dikenal orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak, karena banyak sekali wadah yang lebih tepat di mana kita bisa berteriak dengan suara yang lantang dan kencang sekaligus. Di dalam era kemajuan teknologi yang sedemikian canggih, maka segala hal bisa difasilitasi dengan sangat mudah. Anda bisa mulai mengirim karya-karya anda ke koran, ke majalah, buletin atau juga media-media lainnya. Dan bahkan ada cara yang lebih mudah lagi dan tidak ada tuntutan kompetensi yang rumit sebagaimana dipersyaratkan oleh media-media tersebut, yaitu bila kita bisa membuat semacam blog sebuah situs pribadi yang mewakili keberadaan kita, atau anda bisa mulai aktif terlibat di dalam kegiatan sebuah milis sastra, atau anda mungkin bisa mengirimkan karya-karya anda melalui beberapa situs-situs sastra tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran keterlibatan ini akan menjadi akses bagi anda untuk memantau sejauh mana perkembangan diri anda pribadi, apakah karya-karya anda telah mendapat respon yang layak, apakah karya anda telah berhasil dimuat di sebuah harian atau bahkan mungkin telah menjuarai sebuah even tertentu. Reaksi publik atas baik buruknya karya anda akan muncul dengan sendirinya bila anda melibatkan diri dengan berbagai kegiatan serupa itu. Tanpa anda duga seseorang akan menghubungi anda dan meminta anda untuk mengisi sebuah rubrik di dalam sebuah situs sastra budaya, atau tiba-tiba pula akan ada sebuah email pemberitahuan bahwa karya anda telah memenangkan sebuah sayembara penulisan puisi. Siapa tahu? namun hal itu tak akan pernah terjadi kalau anda tak berusaha melibatkan diri dalam kegiatan promosi dan upaya membangun reputasi serupa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya lebih banyak lagi hal yang akan anda peroleh dengan terlibat di dalam aktivitas berbagai komunitas, semakin anda bisa mengatur waktu anda diantara kesibukan kerja, membaca, menulis dan berinteraksi dengan orang-orang lain, maka dengan serta-merta pula anda akan merasakan betapa jauh perkembangan yang telah anda alami sejauh ini. Namun sebuah catatan penting yang harus selalu anda ingat adalah bahwa anda harus “terlibat” dalam segenap kegiatan itu dengan sungguh-sungguh. Ada beberapa konsekuensi yang harus anda tanggung bila anda telah menyatakan kesediaan untuk menjadi seorang moderator dalam sebuah kegiatan bedah buku, namun kemudian anda tidak muncul tanpa sebuah pemberitahuan. Hal ini akan mengingkari makna dan tujuan dari keterlibatan itu sendiri. Bahwa reputasi anda mau tak mau harus anda pertaruhkan dalam segenap keterlibatan dan interaksi anda dengan orang-orang lain.&lt;br /&gt;Yang justru sering menjadi hambatan adalah bahwa sebagai penulis pemula kita sering dihinggapi perasaan minder untuk memulai menyapa orang-orang lain yang sudah memiliki nama besar, namun di dalam dunia tulis menulis ini kita justru akan dikejutkan oleh kenyataan bahwa betapa ramahnya mereka-mereka itu -orang-orang yang sudah memiliki reputasi itu- dan hal tersebut berangkat dari pengalaman saya pribadi. Mengapa bisa demikian? Karena mereka sungguh-sungguh telah sadar atas makna dari Create and Share barangkali hal tersebut sudah menjadi bagian yang mendarah daging. Tanpa mau berbagi maka mereka pun tak akan mendapat tempat dikalangan para sastrawan yang lain.&lt;br /&gt;Pelajaran berharga lain yang dapat kita petik dari makna keterlibatan ini adalah betapa kita akan memperoleh banyak sekali pelajaran berharga dari orang-orang lain yang jauh lebih berpengalaman, atau bisa juga dari ajang kritik dan apresiasi, dari ajang temu sastrawan, dari ajang debat serta melempar opini. Kita akan menemukan banyak dinamika di sana dan juga begitu banyak peluang untuk mengembangkan diri, sepanjang tentu saja kita mau untuk terlibat dan melibatkan diri Memang segenap kegiatan tersebut menuntut kita untuk bersedia berkorban waktu dan juga tenaga namun semua itu harus kita lakukan demi membuka kesempatan bagi diri kita sendiri seluas-luasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya bisa rekomendasikan disini beberapa ajang dan komunitas satra yang sangat aktif dan sekaligus inspiratif dimana kita bisa melibatkan diri di dalamnya seperti Forum Lingkar Pena yang diasuh Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, Rumah Dunia yang diasuh oleh Gola Gong, Creative Writing Institute yang diasuh oleh Hudan Hidayat serta berbagai situs sastra terkemuka yang dapat anda kunjungi seperti: Puitika.net, Fordisastra.com, Cybersastra.net. Bumimanusia.org dimana situs-situs tersebut menyediakan berbagai rubrik sastra budaya dan juga forum untuk berdisikusi serta berbagi pengetahuan. Bagi yang gemar berkompetisi juga tersedia ajang sayembara dan berbagai lomba kreatif lainnya. Adapun untuk lebih mendekatkan diri kepada komunitas para penulis dan mengenal penulis-penulis senior anda bisa bergabung dengan milis-milis berwibawa berikut ini: Apresiasi Sastra, Sastra Pembebasan, Musyawarah Burung, Bunga Matahari, Koran Sastra, Penyair, Hitam Putih, Aku Baca, Escaeva, Gedong Puisi, Komunitas Ilalang, Panggung, Puitika, Sanggar Sastra Tasik dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran keterlibatan akan membuat kita lebih dikenal, untuk kemudian diterima dan baru diakui menjadi bagian dari komunitas besar para penulis. Dengan terlibat secara aktif tak akan ada lagi halangan bagi kita untuk bersama-sama penulis lain mengembangkan karir kepenulisan ini secara lebih intensif dengan prinsip create and share, karena di dalam berbagai komunitas itu kita tidak hanya dituntut untuk sekedar berkompetisi namun di sisi lain kita juga diminta lebih banyak memberi dan juga berbagi sumbang saran dan juga pemikiran kreatif. Karena apalah arti sebuah pengetahuan kalau ia tidak dibagikan kepada orang-orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 06 Juli 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-115209815591812160?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/115209815591812160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/115209815591812160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2006_07_02_archive.html#115209815591812160' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-115209804606524865</id><published>2006-07-05T18:12:00.000+07:00</published><updated>2006-07-05T18:22:58.836+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Proses Belajar Di Dalam Penulisan Karya Sastra Bagian 2&lt;br /&gt;(Peran Keakraban Dalam Pengolahan Materi Tulisan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Apa yang seringkali menjadi problem kita di dalam menulis? Apa pula yang sesungguhnya menjadikan sebuah tulisan terasa enak dibaca, menarik dan memiliki bobot kualitas yang tinggi? Sepertinya ada semacam resep yang harus kita temukan untuk dapat menjadi seorang penulis yang baik. Bahkan untuk menjadi seorang penulis yang handal dan berbobot kita harus meningkatkan diri kita sendiri untuk menjadi seorang yang benar-benar ahli di dalam bidang yang ingin kita tekuni tersebut. Seperti juga keahlian seorang koki, kalau memasak sekedar memasak mungkin banyak orang yang bisa melakukannya namun untuk menjadi seorang chef di hotel berbintang lima jelas dibutuhkan sebuah keahlian khusus. Dalam konteks inilah maka diperlukan proses belajar itu sebagai sebuah kegiatan yang harus terus-menerus kita jalankan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pertanyaan yang dapat kita jadikan indikasi untuk melihat tingkat keseriusan kita dalam menekuni bidang yang satu ini, Apakah di dalam penulisan karya sastra ini kita hanya ingin sekedar menjadi seorang penggembira atau lebih terdorong lagi untuk menjadi seorang maestro? Apakah menurut anggapan kita merupakan harapan yang terlalu muluk untuk mewujudkan impian-impian serupa itu? Apakah terlampau berlebihan bila sekiranya kita bercita-cita untuk menjadi seorang penyair hebat semacam Chairil Anwar atau novelis kondang setara Budi Darma? Tentu saja hal itu tergantung dari segenap kemauan dan kesadaran kita atas bakat dan seluruh kemampuan yang kita miliki. Ada beberapa tahapan tertentu yang harus kita jalani untuk dapat meraih apa yang kita idam-idamkan itu. Yang pertama-tama dan wajib kita lakukan tentu saja adalah kita harus mulai menulis. Apa yang dapat kita tulis tentu saja ada banyak hal. Disinilah peran keakraban itu mulai mengambil posisinya yang paling menentukan di dalam menentukan langkah keberhasilan kita di masa depan. Apakah kita cukup mengakrabi materi yang hendak kita tulis? karena tak ada satu hal pun yang instan dan datang dengan sendirinya. Kita harus mengenal diri kita sendiri, segenap bakat dan kemampuan, ketrampilan dalam mengolah kata, keahlian membangun narasi atau eksposisi atau mungkin juga menyusun sebuah argumentasi dan persuasi untuk membuat karya kita tersebut sebagai sebuah karya yang meyakinkan. Satu kata kunci yang harus kita pegang teguh adalah kita harus mengakrabi segala hal-hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari mana sesungguhnya asal dari keakraban itu? Sutardji Calsoem Bachri sang presiden penyair yang akrab dipanggil dengan sebutan Cals pernah menyatakan bahwa untuk bisa akrab dengan kata sebagai bagian yang paling esensial dari sebuah sajak maka jikalau perlu kita haru menyelam ke dalam batu. Wah bagaimana mungkin? dengan serta-merta pula kita akan membantah. Tentu saja mungkin! jawab sang penyair besar itu sambil tersenyum-senyum. Karena yang ia maksudkan adalah kita harus menyelami kata itu hingga ke dalam intinya yang paling mendasar. Dan demikianlah Sutardji kemudian menemukan bahwa inti kata di dalam sajak terdapat di dalam mantra, maka lahirlah sajak-sajak mantra dari segenap keahliannya itu. Dalam kesempatan lain Sapardi Djoko Damono yang sering dianggap pula sebagai guru besar para penyair pernah pula menyatakan bahwa, Pada mulanya adalah kata karena itu kata memegang peranan yang sangat esensial, tidak sekedar sebagai media utama dalam sebuah karya tulis namun juga dalam media komunikasi. Oleh karena itu --kata-mu harus mampu menyampaikan maksudmu, jangan jadikan kata berhenti sebagai kata yang tidak menyiratkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan-pendekatan penulisan serupa itulah yang harus dari awal mula kita pahami bila kita memang berniat sungguh-sungguh ingin menjadi seorang penulis dan terlebih lagi menjadi seorang penyair. Kita harus mampu menundukkan kata, karena seorang penyair atau penulis adalah orang-orang yang tidak sekedar mempergunakan kata dan bahasa itu sebagai media di dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasannya melainkan dalam banyak kesempatan mereka bahkan mampu menciptakan sebuah tradisi dalam proses berbahasa itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang jelas adalah bahwa keakraban lahir dari latihan terus-menerus dan kontinyu sifatnya. Keakraban yang lahir sebagai bentuk interaksi alamiah antara sang author dengan media yang dipergunakannya. Seorang rekan yang mengikuti sebuah workshop penulisan novel di Surakarta baru-baru ini menyampaikan bahwa mereka para peserta dituntut untuk menuangkan gagasan secara rutin di atas kertas setidaknya 2-3 jam sehari dan bila memungkinkan jadwal tersebut harus terus ditambah. Sekali lagi tidak ada cara yang instan, untuk menulis sebuah novel kita dituntut untuk dapat menulis dengan cara simultan atau kita akan kehilangan momentum. Dan demikianlah kenyataannya bahwa banyak penulis besar yang menyampaikan bahwa proses kreatif mereka seringkali lahir dengan cara begitu saja, tanpa resep-resep yang rumit, sekedar menulis dan terus menulis. Sehingga seperti yang pernah dialami oleh Budi Darma misalnya yang mampu menuangkan gagasannya bahkan tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu, kata-kata mengalir demikian deras serupa air yang ngocor dari pipa keran yang bocor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan menulis sebagai sebuah aktivitas rutin akan mengasah intuisi kita, sekaligus ketajaman pikiran serta kepekaan kita atas keberadaan dan eksistensi kata. Dalam banyak kasus seperti yang dialami Budi Darma itu banyak penulis handal yang mungkin nggak sempat berfikir lagi apa yang harus ditulis, bagaimana alurnya? bagaimana karakter tokohnya? mengapa harus begini? atau mengapa harus begitu? karena naluri mereka sudah mengarahkan pergerakan tangan untuk menulis dengan sendirinya. Peristiwa serupa ini memang mungkin saja terjadi dan seringpula disebut sebagai penulisan otomatis (automatic writing) seolah sang penulis tengah berada dalam keadaan trance (serupa kesurupan). Bahkan ada sebuah gerakan penulisan serupa itu di luar negeri yang dipelopori oleh Andre Breton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keakraban sekali lagi dapat muncul dari banyak aspek seperti intensitas pemakaian dan penggunaan media, bisa pula dari kedalaman pengendapan batin, perenungan yang matang dan intensif atau juga dari kekayaan pengalaman hidup seorang penulis. Keakraban di sisi lain akan melepaskan kita dari kebuntuan gagasan, hal ini seperti tampak dalam novel Surat Cinta Saiful Malook karya Risma Budiyani yang ditulis berdasar sebuah kisah nyata. Keakraban materi yang merupakan bagian dari kekayaan pengalaman pribadi sang penulis adalah merupakan bahan yang tidak akan ada habisnya untuk digali. Namun keberhasilan novel itu masih pula tergantung pada banyak aspek lainnya, yang antara lain adalah keahlian sang penulis dalam menggarap materi-materi yang telah tersedia di dalam dirinya. Selain intensitas pemakaian dan pengalamn hidup, keakraban yang lahir dari pengendapan batin dan perenungan pikiran tak bisa lepas dari kekayaan wawasan yang diperolehnya dari bacaan-bacaan yang bermutu yang memberikan daya dorong inspiratif. Betapapun keakraban adalah satu eleman dari sekian banyak elemen yang harus kita perhatikan dan mengenai elemen-elemen lainnya mungkin akan kita bahas lagi dalam kesempatan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 30 Juni 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-115209804606524865?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/115209804606524865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/115209804606524865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2006_07_02_archive.html#115209804606524865' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-115209755612698165</id><published>2006-07-05T18:04:00.000+07:00</published><updated>2006-07-05T18:24:11.736+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Proses Belajar Di Dalam Penulisan Karya Sastra Bagian I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak calon penulis yang mungkin menulis sekedar menulis tanpa pernah berusaha menekuninya dengan sungguh-sungguh atau berusaha untuk menjadi ahli. Dan oleh karenanya sebagaimana ditengarai oleh penyair Saut Situmorang bahwa di dalam jagad kepenulisan ini begitu banyak bertebaran dilettante dan hanya ada segelintir saja maestro. Banyak pula diantara para penulis di dalam proses kreatifnya cenderung sekedar menuruti kemauan kata hati tanpa ada upaya untuk menggabungkannya dengan teori, yang sesungguhnya dapat menunjang keahlian mereka di dalam menulis. Beberapa orang lagi bahkan mungkin sama sekali tidak peduli dengan semua pertimbangan-pertimbangan serupa itu, walaupun di dalam hati kecil mereka ingin segera menjadi seorang penulis yang terkenal dan dikagumi. Tentu saja hal ini adalah penyakit yang banyak mendera para penulis pemula yaitu berusaha meraih keberhasilan dengan cara-cara instan. Dengan segera pula dapat terlihat betapa para penulis yang tidak memperoleh perkembangan berarti di dalam hasil karya-karyanya manakala mereka berhenti dan mogok belajar, baik itu melewati proses pengkajian dari karya-karya orang lain maupun menelaah lebih jauh lagi saran dan kritik yang ditujukan kepada diri mereka pribadi.&lt;br /&gt;Sesungguhnya hal ini berlaku pula di dalam banyak hal lainnya. Dalam ranah tulis-menulis ini jelas bahwa tidak mungkin seseorang dapat bergantung sepenuhnya semata-mata hanya kepada bakat alamiah yang ia miliki, karena untuk menjadi besar diperlukan banyak kajian yang antara lain berupa bacaan-bacaan besar. Sebagaimana penulis-penulis besar tidak saja hidup dengan impian-impian besar melainkan terlebih lagi dari bahan-bahan bacaan besar yang dipelajarinya. Dengan kata lain untuk menjadi besar seseorang harus belajar pula untuk menafsirkan karya-karya orang lain. Namun apakah sejauh ini kita sudah cukup membuka diri? adakah kita cukup berbesar hati untuk menerima kritik dan juga saran? Permasalahannya pula adalah banyak orang yang berniat menjadi penulis besar namun malas membaca apalagi harus menafsirkan karya-karya orang lain. Bagi saya itu adalah sebuah kondisi yang absurd, yaitu apabila kita hanya tertarik pada karya-karya kita sendiri dan hanya punya satu niatan agar karya-karya kita tersebut dapat dibaca oleh seluas-luasnya kalangan tanpa kita memiliki kemampuan dan kemauan untuk dapat memberikan apresiasi pada karya-karya orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis yang serius pertama-tama adalah sekaligus juga seorang kritikus bagi dirinya sendiri, dan oleh karena itu ia harus terbiasa dengan budaya kritik serupa itu. Bagaimana kita dapat melihat baik buruknya sebuah karya kalau kita tidak melengkapi diri kita sendiri dengan seperangkat penilaian. Ukuran-ukuran estetis itu secara tidak langsung juga akan menambah kepekaan intuisi kita dalam proses menulis karya-karya kita sendiri. Seiring dengan bertambahnya wawasan kita melalui proses belajar ini maka akan meningkat pula kepekaan kita di dalam mengeluarkan gagasan kreatif. Segala bentuk gagasan penulisan umumnya lahir dari ungkapan perasaan dan sebagian lagi melalui perenungan pemikiran namun seberapa jauh gagasan itu dapat berhasil menyentuh perasaan dan pikiran orang lain tergantung pada banyak hal, yang antara lain adalah ditentukan oleh bagaimana caranya gagasan itu disampaikan dan juga oleh kemampuan resepsi pembaca.&lt;br /&gt;Pembacaan atas sebuah karya sastra apa pun bentuknya tentu saja adalah merupakan sebuah bentuk interaksi komunikatif antara karya itu sendiri dengan para pembacanya. Yang menjadi kesulitan dan sekaligus keunikan sebuah karya sesungguhnya adalah terletak pada berbagai kaidak-kaidah struktural dari karya itu sendiri yang notabene seringkali tak terlalu dianggap atau diperhatikan oleh pembaca yang sekedar berniat merentang-rentang waktu, oleh karena itu karya yang berusaha tampil dengan telanjang dan apa adanya seringkali dianggap sebagai karya yang kurang berhasil, karena unsur-unsur estetis sebuah karya seringkali justru terselubung, di mana makna baru diperoleh setelah kita sebagai pembaca berhasil mengungkap hikmah yang tersirat di balik struktur yang tersurat di dalam karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan seorang penulis di dalam menuangkan gagasan atau perasaannya seringkali lebih banyak dipengaruhi oleh keakrabannya dengan media komunikasi yang ia pakai, dan yang lebih utama lagi adalah pada kemampuannya untuk mengekspresikan kembali apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan, sehingga pembaca dapat merasakan secara eksplisit apa yang telah dirasakan oleh sang penulis. Misalnya saja sebuah sajak bisa terdengar indah, menyentuh perasaan dan bahkan mampu menggerakkan emosi pembaca manakala kata-kata telah dipilih dengan tepat untuk mengungkapkan maksud yang terdalam dari apa yang dirasakan oleh sang penyair. Namun sekali lagi ‘kata’ di sini bukanlah sekedar ‘kata’ dalam artian yang apa adanya. ‘Kata’ dalam sebuah karya sastra tentu saja harus dapat dibedakan dengan ‘kata’ di dalam berita surat kabar atau pun di dalam surat undangan pernikahan misalnya. Akan tetapi jangan pula keasyikan ‘kata’ menjadi sesuatu hal yang mubazir dan sia-sia karena sang penulis terlalu banyak mengumbar hasratnya dengan cara yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terus-menerus belajar mengkaji karya-karya orang lain dan terutama dari karya-karya yang bermutu maka kita akan tahu dimana sebenarnya letak kekuatan sebuah karya sastra. Budaya kritik sesungguhnya tumbuh seiring dengan budaya cipta dan apa yang sejauh ini telah dilaksanakan oleh milis ini sebagai sebuah media komunikasi antar penulis dengan pendekatan konsep saling berbagi dan saling belajar untuk meningkatkan mutu dari karya kita sendiri adalah sebuah langkah maju yang harus kita acungi jempol dan kita dukung terus kelangsungannya. Salam kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Juni 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-115209755612698165?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/115209755612698165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/115209755612698165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2006_07_02_archive.html#115209755612698165' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-108676123610614576</id><published>2004-06-09T13:06:00.000+07:00</published><updated>2004-06-09T13:07:16.106+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Gita Menulis Puisi, Gita Bernyanyi Lagukan Bunyi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang sangat menarik dari seorang Gita Romadhona, semerdu namanya semerdu itulah lirik-lirik sajaknya. Saya telah mencoba merunut karya-karyanya yang bertebaran di dalam situs Cybersastra dan saya menangkap sebuah intensitas yang kuat dari Gita untuk membuat sajak-sajaknya merdu di dengar. Bukan cuma sebatas itu saja, Gita tidak sekedar bernyanyi dengan larik-larik puisinya lewat padu padan rima dan irama dalam sajaknya, dibalik itu Gita juga mengguratkan pemaknaan yang dalam melalui simbol perlambangan yang sederhana namun apik. Ia tak ingin berumit-rumit dengan gaya pengungkapannya, justru melalui kesederhanaan pilihan diksi sajaknya menjadi lebih menonjol. Tampak sekali bahwa Gita pun tak hendak bermuluk-muluk dengan bahasa kias atau membungkus sajaknya dengan metafora yang rumit, semua pilihan diksinya terasa begitu akrab dengan pendengaran kita. Mari kita simak beberapa kutipan dari sajak “Di Jakarta Hujan Merindu”  berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang-orang yang kehilangan bosan&lt;br /&gt;aku yang kehilangan kenangan&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;hidup terbingkai, kota seperti bangkai &lt;br /&gt;di ujung gang, setiap kenangan tak juga melerai&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;pada nama-nama kecil yang sudah terlalu lelah&lt;br /&gt;tunjuk-tunjuk yang patah. warna-warna pun salah&lt;br /&gt;pada akhirnya pada kau juga semua kalah&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Juga pada sajak “Pada W.S” berikut ini akan kita rasakan intensitas bunyi yang kuat ditunjukkan oleh sang penyair dalam membangun imaji sajaknya dan membawa impresi kita sebagai pembaca pada pemahaman makna puisi yang lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;secepat riuh mencari sepi&lt;br /&gt;tinggal menunggu daun-daun berkemas pergi&lt;br /&gt;secepat itu juga ranting menyisih diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi tema tampak sekali kekuatan Gita menangkap keindahan dari hal-hal yang rutin, peristiwa yang ia jumpai setiap hari, pengalaman, kenangan, cinta, mimpi, kesedihan, kerinduan. Dalam hal ini Gita adalah seorang ekspresionis, dan itu mungkin yang menyebabkan saya merasakan adanya jejak Chairil Anwar dalam karya-karyanya, tapi berbeda dengan Chairil, Gita tidaklah meledak-ledak dalam mengekspresikan sajak-sajaknya Gita cenderung lebih tenang, lebih terkontrol, terasa sekali kelembutan perasaan kewanitaannya. Dalam mengungkapan rasa rindu atau cinta Gita memilih ungkapan yang lugas dia tidak memakai ungkapan melankolis atau mendayu-dayu dan itu justru membuat sajak cintanya tidak terjebak dalam melodrama, semua ungkapannya terasa wajar, ia tidak mengejar romantisme semata karena itu sajaknya tidak jatuh pada yang picisan. Mari kita simak pula ekpresi diri sang penyair yang penuh tenaga namun menghanyutkan pada sajak “Sampai”  berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;segala sesal mengental &lt;br /&gt;segala tapi menepi &lt;br /&gt;segala lupa terbuka &lt;br /&gt;dan detak itu sampai &lt;br /&gt;pada batu bermantra di sunyi yang bersinar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan ada kekuatan ekspresi yang mendalam ala Chairil dalam sajak di atas ada teknik pengungkapan pikiran dan perasaan dengan mengeksplorasi sisi-sisi psikologis. Pada dasarnya cara berpikir, cara bersikap, dan cara sang penyair mengungkapkan perasaanya pastilah tidak terlepas dari apa yang bergerak dalam alam bawah sadarnya, juga perenungan, atau bahkan mimpi dan lamunan yang berpengaruh pada kehadiran karya-karyanya. Mengenai masalah ini memang membutuhkan kajian yang lebih spesifik dan mendalam karena masih merupakan sebuah hipotesa yang sangat terbuka terhadap begitu banyak kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak pelak lagi gaya pengungkapan Gita jelas menunjukkan adanya kecenderungan untuk mengolah realita dari pengalaman empiris ke dalam penghayatannya lewat perenungan psikologis, tampak sekali bahwa sajak-sajaknya bukan semata-mata mimesis atau tiruan dari alam sekitar atau lingkungan tempat ia bertumbuh. Ia memberikan muatan lebih atas proses pengamatannya pada lingkungan, Juga atas kesadaran dan keberadaanya sebagai manusia yang senantiasa gelisah mencari. Dapat kita amati dari sajak-sajaknya berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;hutan kapuk yang itu-itu juga&lt;br /&gt;menatapku seolah tak pernah percaya&lt;br /&gt;“apa yang kau bawa, masa lalu di ranselmu&lt;br /&gt;dan setumpuk kenangan di sakumu&lt;br /&gt;sampai kapan akan sengaja kau biarkan terbuka?”&lt;br /&gt;embun tak lagi mampu dinginkan pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pada sajak “Kur Yang Tak Pernah Selesai” di atas Gita menggunakan pengungkapan pendek namun bernas untuk menggambarkan pengingkaran atas kenangan, permasalahan  seturut perjalanan waktu dalam hidupnya namun tak kunjung juga berhasil ia tuntaskan. Ada semangat untuk menggugat diri sendiri di sini namun Gita sengaja memakai pengimajian yang sangat unik, ia memakai simbol hutan kapuk yang itu-itu juga, sebuah upaya membungkus sajak dengan gambaran realitas yang sering kita lihat dalam  perjalanan. Juga pilihan pada diksi tukang ojek, langkah kaki, peluit mimpi adalah sebuah ungkapan yang sangat khas.  Daya dorong itulah yang mendominasi karya-karya Gita dan menjadikannya seorang ekspresionis, tampak sekali dalam pengimajian sajak berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;kemarin &lt;br /&gt;ketika langit sedang jadi miliknya, ia bicara pada rumput pada tanah pada angin pada jalan-jalan di sepanjang hutan kapuk itu &lt;br /&gt;ia tertawa, bertanya bahkan ia juga bernyanyi &lt;br /&gt;ini mimpi, katanya yang aku cari &lt;br /&gt;dan kujahit di keliman baju sendiri &lt;br /&gt;ini mimpi, katanya bukan segaris &lt;br /&gt;huruf yang bisa diubah, dibentuk, dimiliki &lt;br /&gt;siapa saja cuma karena pulpennya milik bersama &lt;br /&gt;ini mimpi, katanya yang kutemui setelah aku habis melalui nyenyak tanpa tepi &lt;br /&gt;ini mimpi, katanya: milik tidurku sendiri &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pada sajak “Seorang Laki-Laki Jalan Sendiri”  tampak pengimajian yang liris dengan daya ekspresi yang kuat merepresentasikan perasaan sang penyair tentang kesendirian, persahabatan, kesetiaan dan juga mimpi. Sekali lagi ia memilih diksi yang sederhana yang mudah kita kenali karena akrab dengan kehidupan kita namun dengan kekuatan ekspresinya sang penyair membuat sajaknya lebih berisi terasa sekali kepuitisannya, dan mampu meninggalkan kesan yang cukup mendalam dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Gita telah membawa kita menyelami sajak bukan sekedar sebagai tumpukan kata-kata, ia mengajak kita beryanyi, merenung, dan menghayati keindahan untuk meraih kebenaran sejati. Dalam karya-karya Gita kita menemukan bahwa sajak menjadi terasa utuh sebagai perwujudan intuisi, imajinasi dan sintesis yang akan memperkaya batin kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kuningan, Juni 2004&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-108676123610614576?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108676123610614576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108676123610614576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_06_06_archive.html#108676123610614576' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-108451923257486868</id><published>2004-05-14T14:18:00.000+07:00</published><updated>2004-05-14T14:20:32.576+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Nilai Kebenaran Universal Dalam Sajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa unsur terpenting dalam penulisan sebuah sajak? Jawabnya adalah kata, mengenai masalah ini pernah saya tulis dalam esai saya, 'Kata sebagai unsur paling esensial  dalam sebuah sajak.' Kata menjadi penting dalam sajak karena esensi sajak itu ada dalam pilihan katanya (diksi), tetapi di luar unsur itu kita tidak boleh melupakan unsur-unsur pembentuk puisi yang lainnya, begitupula hakekat yang menjadi latar belakang keberadaan ditulisnya sebuah sajak, mengenai intensi penulisan ini saya pernah mengulasnya pula dalam tulisan saya yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini saya ingin lebih banyak membahas mengenai bobot sebuah sajak, didorong oleh berbagai ragam tanggapan yang saya terima atas tulisan saya terdahulu antara lain dalam tulisan yang telah saya sebut di atas yang mempertanyakan makna perlunya pengungkapan nilai kebenaran universal itu di dalam sebuah sajak. Sekali lagi saya harus mengutip Immanuel Kant, seorang filsuf yang menyatakan bahwa bobot sebuah sajak dan juga karya sastra lainnya adalah terletak dalam kapasitas dan kemampuannya untuk mengungkapkan kebenaran universal. Pembahasan mengenai apakah yang dimaksud dengan kebenaran universal itu dapat kita lihat pada sajak di bawah ini, yang saya harap akan membantu kita memahami permasalahan bobot dalam sajak ini dengan lebih baik, saya ambil sajak Harmita Desmerry  sebagai contoh berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah saja dimatamu kutemukan indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debar tak biasa&lt;br /&gt;jiwa yang gelora&lt;br /&gt;dan dihati bertahta puisi&lt;br /&gt;diam dalam semadi&lt;br /&gt;mencari arah kembara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah saja dimatamu&lt;br /&gt;kutemukan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamnyong, April 1, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak di atas adalah sebuah sajak yang pendek bernas merepresentasikan sebuah perasaan akan keindahan cinta dan puisi, sajak itu cukup tertib menyusun pencitraan dan emosi, tidak ada upaya untuk tampil bermuluk-muluk atau mencari pencitraan yang rumit. Asosiasi mental yang dipakai untuk membangun imaji memang terasa sangat sederhana namun cukup mampu mewakili perasaan sang penyair. Kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan utama sajak ini, impresi yang kita peroleh adalah perasaan yang tenang, teratur, tertib, namun cukup menyentuh. Kita merasakan sebuah  kesadaran yang besar dalam diri si penyair atas keberadaan kata sebagai unsur yang paling esensial dalam penulisan sajaknya yang membantu diri si penyair dalam mengungkapkan perasaaaan kalbunya yang paling dalam. Kata-kata dipilih agar mampu menyampaikan gagasan, tetapi sekaligus juga mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak di atas berbicara tentang cinta sebagai tema ‘mental’ yang ingin diungkapkan sang penyair, dalam tema semacam ini seringkali banyak penyair terjebak pada suatu bentuk pengungkapan yang melodrama sentimental yang akhirnya menggiring mereka pada sajak yang kurang bernilai, di mana melodrama tercipta bila secara sadar atau tanpa sadar sang penyair memakai ungkapan yang terlalu berlebihan, tidak konsisten atau kontradiktif, dalam hal ini pilihan diksi sangat penting untuk menghindari jebakan-jebakan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intuisi penyair yang tertuang dalam sajak di atas merupakan bentuk upaya sang penyair untuk menyampaikan kebenaran perasaaannya mengacu pada kebenaran yang universal yang dapat di terima oleh wawasan umum, bukan sekedar masalah rasionalitas atau spiritual tapi lebih merujuk kepada nilai-nilai yang dapat diterima sesuai harkat kemanusiaaan atau “humanitas” dan teruji seturut rentang waktu. Oleh karena itu cinta adalah merupakan tema yang universal yang paling sering di garap oleh para penyair karena cinta memenuhi syarat atas tuntutan nilai kebenaran universal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kewajaran' adalah hal yang sangat diperhatikan oleh si penyair. Sajak di atas memilih ungkapan yang justru terasa sangat wajar bahkan apa adanya tanpa balutan metafora yang rumit sekalipun sepertinya menampakkan paradoks antara ‘jiwa yang gelora’ dan ‘diam dalam semadi’ tapi dua ungkapan itu muncul secara beriringan secara wajar, tanpa perlu menimbulkan penolakan dalam diri kita sebagai pembaca. Di situlah sebenarnya terletak konflik dalam sajak ini. namun berhasil diselesaikan dengan baik oleh sang penyair dalam bait berikutnya dengan ‘cukuplah saja dimatamu, kutemukan indah’  di mana kependekan sajak ini tidak berarti sajak ini menjadi dangkal dalam wawasan ataupun gagal dalam pengungkapan, karena sajak ini mampu menciptakan impresi ke dalam diri kita sebagai pembaca bahwa sebuah gejolak perasaan bisa menghasilkan puisi, dan puisi bisa jadi begitu indah menyentuh manakala ada perasaan yang menyublim dalam diri pengarang yang hadir utuh dalam sajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembanding mari kita lihat sebuah sajak lagi dari penyair yang sama sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kumengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kumengerti apa arti kebebasan, Tuhan&lt;br /&gt;saat temui sepi pantai dambaku&lt;br /&gt;tanpa badan-badan tak bertuan&lt;br /&gt;sekarang kubisa berjalan, lepas berangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir tenang seolah lupa bahwa disini pernah dicampakkan &lt;br /&gt;tubuh-tubuh tanpa tetanda&lt;br /&gt;mereka menyebutnya OTK&lt;br /&gt;gelombang telah menyapu bersih sisa darah, bahkan sisa benak&lt;br /&gt;akankah ombak menghapus juga luka didada yang mendamba damai &lt;br /&gt;dan tak hanya ada di negeri andai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun sajak di atas terasa lebih rumit karena mengambil tema (terinspirasi) oleh berbagai peristiwa kekejian yang sering muncul di koran atau televisi, di mana konflik batin sangat kentara namun penyair tetap mempergunakan gaya bahasa yang tertib dan pilihan diksi yang sederhana, asosiasi yang tidak terlalu rumit, pengimajian yang sangat wajar namun telah berhasil menampilkan sebuah potret kekejian secara utuh sebagai sebuah sintesa. Sentuhan kepedihan dalam sajak ini justru tampil menyayat saat kita dibawa sang penyair melihat sebuah lanskap bisu ‘pasir tenang…, gelombang yang telah menyapu bersih sisa darah dan sisa benak’ sebuah gambaran yang ‘seharusnya’ membuat kita bergidik ngeri namun sang penyair tak hendak membuat kita mual dengan menggiring imajinasi kita ke arah itu. Sang penyair justru mengajak kita melihat jauh dibalik peristiwa sebenarnya, ke dalam sebuah perenungan kontemplatif bahkan spiritual, yang membawa kita pada sebuah kesadaran arti kemanusiaan, mencari makna sebuah kebenaran yang paling hakiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kesederhanaan menjadi kekuatan utama sajak ini, bagaimana sebuah situasi diangkat menjadi sebuah sajak, mengajak kita menghayati arti kebebasan, pengharapan, derita dan kekejian dengan cara yang sama sekali berbeda bila kita membaca berita penganiayaan di koran atau mendengarkan berita pembantaian di televisi. Di sinilah kekuatan sajak di atas yang sanggup meninggalkan impresi yang berbeda dalam diri kita, sang penyair sanggup melepaskan diri dari beban muatan slogan atau moralisme yang terlalu bombastis yang senantiasa membayangi sajak-sajak jenis ini. Dimana seringkali penyair merasa sangat perlu untuk menyampaikan protes sehingga melupakan esensi sajak itu sendiri. Harus kita pahami bahwa sajak yang bagus akan terus meninggalkan gemanya merasuk ke dalam diri pembaca, sementara berita di koran akan segera terhapus dan kehilangan daya pukaunya setelah peristiwa itu berlalu.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai kebenaran universal adalah merupakan nilai-nilai yang dipercaya sanggup mewakili zamannya, dimana nilai-nilai itu tidak harus kita anut sebagai manusia yang asal ikut-ikutan arus melainkan kita dituntut untuk bisa tampil secara kreatif melihat permasalahan kehidupan disekitar kita secara peka melalui intuisi sudut pandang kita pribadi. Intuisi yang mungkin akan menimbulkan konflik dan keresahan dalam diri seorang penyair sehingga terpacu untuk berbicara lebih lantang lewat sajaknya. Adapun nilai-nilai universal itu tentunya haruslah sejalan dengan kodrat manusia untuk menghayati nilai-nilai yang baik, yang halus, manusiawi dan berbudaya. Memiliki hasrat untuk memperbaiki diri dan masyarakatnya agar lebih berbudaya, tidak menjadi vulgar atau bahkan barbar seperti yang dinyatakan oleh Budi Darma dalam ‘Harmonium’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-108451923257486868?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108451923257486868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108451923257486868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_05_09_archive.html#108451923257486868' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-108089777972763833</id><published>2004-04-02T16:21:00.000+07:00</published><updated>2004-04-02T16:28:18.936+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Intensi Dalam  Penulisan Dan Pembacaan Sajak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(oleh titon rahmawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:Teriring ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada Hasan Aspahani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses penulisan hingga pembacaan sebuah sajak sesungguhnya dapat kita telusuri lewat beberapa pendekatan, harus dipahami bahwa sajak dapat kita lihat sebagai sebuah obyek penafsiran dan tidak bergantung sepenuhnya pada teori pendekatan, akan tetapi justru sebaliknya keberadaan sebuah teori atau metode pendekatan sepenuhnya bergantung pada keberadaan sajak itu sendiri, dengan kata lain tidak sembarang metode dapat kita pakai untuk membedah sebuah karya karena keberadaaan (eksistensi) sebuah sajak memiliki arah dan visinya sendiri yang tidak dapat sembarang kita analisis dengan sebuah metode pendekatan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pendekatan yang kita kenal adalah melalui pendekatan intensi atau niatan, yaitu sebuah proses pendekatan yang mengkaji proses yang melatarbelakangi kelahiran sebuah sajak, proses ini bermula dari intensi penulisan sang penyair, apa yang ia rasakan dan ingin tuangkan dalam sajak adalah bagian yang terpenting oleh karena intensi penyair seringkali digali lewat proses pengendapan dalam diri si penyair dalam rentang waktu tertentu. Seyogyanyalah kelahiran sebuah sajak lahir lewat suatu pengendapan yang sublim, namun tidaklah tertutup kemungkinan bahwa gaya pengungkapan sajak seseorang yang lahir secara spontan tak menghasilkan hasil akhir yang bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terutama sekali dalam proses penulisan itu si penyair mampu mencapai kondisi yang sublim yang membius pikiran dan perasaannya sebagai sebuah perwujudan intensi yang kuat, gelora perasaan, gelombang hasrat yang menyentuh intuisi dan kepekaan puitik dalam diri seorang penyair, sebuah kegelisahan yang menerbitkan api kreativitas. Proses ini bisa terjadi secara spontan manakala penyair dihadapkan pada suatu realitas yang memicu sebuah pengalaman puitik  dalam dirinya, tetapi dalam karya-karya kontemplatif seringkali membutuhkan selang waktu beberapa lama untuk mencapai pengendapan yang sublim. Dalam kondisi ini di tuntut seorang penyair yang secara intens mau mengasah bakat dan kepekaannya, bagaimana hatinya dapat tergerak oleh sentuhan peristiwa-peristiwa kecil sederhana, seperti, gugur dedaunan, bocah bermain, rintik hujan, gonggong anjing. Demikian pula proses yang melalui lentik pemikiran seperti perenungan atas kehidupan, kematian, keimanan juga gugahan rasa atas peristiwa tertentu yang melanda si penyair semacam kesedihan, kemarahan, kegembiraan, adalah segala bentuk pikiran dan perasaan yang sanggup menyentil hasrat kepenyairan dalam diri seorang manusia. Demikian pula dengan percobaan penulisan yang secara terus menerus diasah dan efek penulisan yang berusaha dicapai oleh seorang penyair untuk menghasilkan sebuah gaya pengucapan yang baru atau sama sekali berbeda dari konvensi berbahasa yang umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi intensi sajak tidak cuma berhenti sampai di situ, intensi penyair  masih harus dituangkan dalam kata-kata. Di mana intensi kata-kata harus dipahami lebih lanjut sebagai sebuah proses yang menuntut seorang penyair untuk lebih jauh merasuk ke dalam struktur pengucapan, ke lorong-lorong bahasa, menggali kemerduan bunyi, menyiasati pengimajian, mengolah simbol dan perlambangan. Dalam tahap ini penyair bisa saja berhasil tapi mungkin pula ia menjadi tersesat ke dalam labirin kata-kata, atau terbata-bata dalam pengungkapan bahasa puitiknya, karena sublimitas yang dialami seorang penyair adalah sebuah kondisi yang abstrak yang sulit diterjemahkan atau dijabarkan dalam sebuah perwujudan sajak yang bagus dan berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahap ini seorang penyair harus waspada dalam pemilihan unsur-unsur pembentuk sajaknya, tidak sembarang pilihan diksi dapat mewakili karena intensi penyair bisa saja hilang tertelan kata-kata yang dipilihnya, manakala kata-kata tersebut tampil terlampau naïf, terlampau klise atau justru terlampau mubazir berlebihan, sehingga intensi kata-kata itu jadi tak sampai, gagap menerjemahkan intensi penyair, atau gagal menimbulkan impresi yang ingin di wujudkan si penyair. Sajak menjadi gelap karena intensi kata terasa usang, atau sajak berubah menjadi kitsch karena dangkal wawasan dan pengendapan, tidak ada sublimitas atau greget, tidak ada nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalam sajak itu. Sublimitas diri penyair tidak berhasil di cairkan ke dalam pilihan kata-kata yang tepat sehingga terjadilah antiklimaks, sajak mati sebelum intuisi penyair sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sajak yang baik tidak selalu harus komunikatif, justru seringkali sajak tampil terbalut oleh misteri yang rumit namun mengasyikkan, terbungkus oleh metafora yang halus berlapis-lapis yang semakin kuat menimbulkan citra atau pengimajian yang lebih kaya. Banyak sajak yang tetap bernilai tanpa sepenuhnya dapat dipahami karena intensi kata yang multi tafsir yang dapat lahir dari negasinya, bahkan intensi kata bisa tampil di luar arti leksikon atau arti harafiah kata itu sendiri, intensi muncul dari kekayaan interpretasi, dalam hal ini kita masuk ke dalam proses selanjutnya yaitu penelusuran atas intensi pembaca dalam mengapresiasi sebuah sajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sebuah sajak di publikasikan maka pembaca memegang otoritas untuk memberikan penafsiran dalam proses ini dan terbukalah begitu banyak kemungkinan pembacaan, setiap kemungkinan itu tidak secara mutlak menjadi cermin bagi keberhasilan atau kegagalan sebuah pembacaan karena proses pembacaan tidak pernah mencapai hasil yang final. Setiap pembaca boleh dan sah-sah saja memberikan penilaian bagus tidaknya sebuah sajak, sekali pun demikian banyak orang yang menilai bahwa  sajak adalah termasuk dalam karya tulis kreatif yang sulit dipahami. Mengapa demikian, adalah merupakan sebuah gejala yang sangat unik sebab yang paling utama adalah karena banyak orang yang tidak akrab dengan kata-kata, banyak orang yang tidak memiliki kemampuan menafsir, bahkan di kalangan yang menyebut diri mereka penyair sekali pun. Di satu sisi banyak penyair yang mampu melahirkan sajak-sajak yang bagus dan berhasil namun di sisi lain mereka tak mampu membuat penafsiran atas sajak orang lain, terlepas dari berhasil tidaknya penafsiran itu. Pada kenyataanya banyak penyair yang tidak memiliki nyali membuat penafsiran atas karya orang lain bahkan mungkin juga alergi menafsirkan karya sendiri, sebuah kenyataan yang barangkali aneh namun  nyata. Kegagapan itu sebenarnya adalah sedikit bukti bahwa disamping rendahnya minat membaca dan menulis di kalangan masyarakat kita juga sangat rendahnya kemampuan membuat sebuah penafsiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penyair lupa bahwa intensi kata-kata terletak pada penafsirannya. Kita membaca Arthur Rimbaud, Ernest Hemingway, Jean Paul Sartre, Kahlil Gibran, Jacques Derrida,  Octavio Paz, Pablo Neruda, dan sederet tokoh lain tapi kita tak memperoleh penghayatan apapun, pikiran bebal, jiwa kosong melompong. Adalah sebuah kenyataan yang ironis bila seorang penyair tak mengakrabi kata-kata sebagi dunianya, dan masih juga marah-marah bila dikritik dan dianggap menulis karya-karya yang tak bernilai sastra. Pada kenyataannya masih begitu banyak penyair mentah yang tidak belajar menafsir dan tidak mau menerima kritik yang justru sanggup memberi kesadaran baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses kritik kreatif sesunguhnya kritikus melemparkan sebuah kemungkinan pembacaan yang terbuka, yang aspiratif dan mengundang pembaca untuk lebih dalam mengali karya itu sendiri. Kritikus tidak harus mendasarkan diri semata-mata pada suatu metode, justru seharusnya mereka menciptakan metode sendiri yang tepat dalam pendekatannya, segala metode hanyalah sebuah alat untuk membongkar sajak. Pendekatan yang paling tepat adalah kearifan dan keakaraban pembaca dengan obyeknya, oleh karena itu pembaca yang baik pasti mampu berperan sebagai seorang kritikus yang baik pula. Apa pun hasil yang ia peroleh sepanjang sanggup menyuarakan kebenaran yang  mengangkat harkat dan martabat sastra maka intensi pembaca telah menemukan titik temunya dengan intensi penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya intensi pembaca cukup penting untuk dipahami sebagai sebuah proses integral yang berkesinambungan mulai semenjak proses pengendapan sublimitas diri seorang penyair yang lahir secara spontan berdasar realitas kehidupan maupun lewat perenungan yang mendalam, hingga merasuk ke dalam intensi kata di mana diharapkan pilihan kata-kata itu mampu mewakili atau merepresentasikan kejujuran yang universal (universal truth) sebagai cermin dari realitas kehidupan manusia itu sendiri. Kata dalam sajak harus mewujudkan kearifan dan keluasan pandang, menciptakan keindahan yang hakiki, mampu menyentuh, menggerakkan, membuai, menyemangati, mengetarkan, dan bergema ke dalam relung hati pembaca. Intensi pembaca menjadi penting karena pembaca membutuhkan karya yang baik, yang berbobot, yang sugestif, inspiratif merangsang kepekaan dan mendorong kreativitas dalam diri mereka juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sajak yang gagal merepresantasikan keterkaitan tiga proses tersebut umumnya adalah sajak yang lahir tanpa niatan penyair yang sublim, ditulis asal jadi atau dengan niat asal menulis, dimana penyair tidak menyadari niatannya sendiri yang hakiki, penyair tidak menyadari intensi kata-kata yang dipilihnya, malas menafsir dan memberikan penafsiran, kata yang dipilih asal bunyi, asal berirama, asal merdu namun dangkal dalam pemikiran, gagap dalam pengucapan, dan hampa dalam makna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sajak karya Hasan Aspahani di bawah ini barangkali dapat membantu kita memahami seluruh proses penelusuran intensi sebagaimana saya ungkapkan di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus Empat Kata Berhuruf Awal J&lt;br /&gt;jeramah: serupa inikah rasa enggan itu? telapak tanganmu&lt;br /&gt;di punggungku. aku menduga cinta itu merasuk&lt;br /&gt;lewat jemarimu. dua dada telanjang. dua mulut&lt;br /&gt;bercengkeraman. ada kata yang belum tuntas&lt;br /&gt;dibicarakan. "Sudah malam, sudah malam,"&lt;br /&gt;aku masih ragu, engkau pun tak kunjung faham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jerabak: ada pelabuhan, dua berjauhan. aku di tepi danau&lt;br /&gt;ini, kau di seberang sana. tak ada yang ingin&lt;br /&gt;jadi perahu. lalu waktu melapukkan tiang-tiang.&lt;br /&gt;kita terbengkalai, dalam penungguan yang lalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jerau: bulan merah tua. warna yang dikirim api dan asap,&lt;br /&gt;padang yang terbakar di sana: hati lapang kita.&lt;br /&gt;jangan berharap pada hujan. ini kemarau bukan?&lt;br /&gt;jangan menunggu malam berubah warna, sayang,&lt;br /&gt;(merah ini kelak semakin menua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jerah: lalu kita saling mengembara, saling menghindari.&lt;br /&gt;aku menemukan dia di mana-mana. (engkau jugakah?)&lt;br /&gt;tapi dia tak menunjukkan jalanku menemukanmu.&lt;br /&gt;aku menemukannya di setiap singgah. (engkau jugakah?)&lt;br /&gt;dia menawarkan lelah, dan merayuku agar menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada catatan pelengkap puisi ini di www.sejuta-puisi.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melihat catatan pelengkap yang melatarbelakangi proses penulisan yang mengiringi kelahiran sajak itu barangkali kita akan merasa sangat kesulitan untuk dapat memberikan penafsiran atas karya ini, justru lewat penelusuran proses itulah kita memperoleh gambaran bahwa intensi penyair yang kuat telah menjadi latar belakang lahirnya sajak eksperimental ini sesuai dengan pernyataan si penyair dalam catatannya. Menggangu atau tidaknya kehadiran catatan yang mengiringi lahirnya proses penulisan karya tersebut, Hasan telah memberikan contoh yang sangat bermakna bagaimana seharusnya seorang penyair bersikap, manakala ia merasa terpanggil untuk memberikan sedikit interpretasi atas pembacaaan karyanya, manakala ada keraguan bahwa orang lain bisa saja gagal memberikan penafsiran atau tak mampu sama sekali memberikan penafsiran. Dalam kondisi ini sebetulnya dibutuhkan peran seorang kritikus yang baik yang diharapkan mampu menjembatani intensi penyair dengan intensi pembaca, namun seorang kritikus bukanlah seorang paranormal yang serba tahu. Kritikus bukan dewa yang selalu benar, mereka bisa saja salah dan itu adalah sebuah kondisi yang sangat wajar, karena peran kritikus adalah sekedar memberikan sebuah alternatif dan alternatif itu bukanlah sebuah penilaian yang mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sajak Hasan di atas dapat coba kita pahami dari intensinya, dari kegelisahannya, sebagaimana yang ia ungkapkan bukan dengan maksud menyombong untuk memperoleh sebuah 'gaya pengucapan' yang berbeda namun sekedar sebuah proses eksperimental kecil. Dan kalau kegelisahan itu menemukan pintu puitik untuk menyuarakannya atau untuk menampung segala emosi yang sedemikian lama mengendap adalah bagian integral dari keseluruhan proses itu sendiri, sekalipun dalam proses pencariannya si penyair diiringi sedikit perasaaan bersalah karena belum menemukan 'rasa puisi' yang pas. Proses ini adalah merupakan sebuah bukti bahwa perasaan sublim tidak selalu memperoleh jalan pengucapan yang tepat. Kata-kata sudah lama diketemukan tapi 'rasa puisi' belum juga datang. keseluruhan proses inilah yang bisa kita telusuri untuk memperoleh pemaknaan hakiki dari eksistensi sebuah sajak. Apa pun kesan kita sebagai pembaca, apa pun penilaian kita, bagus tidaknya sajak ini sepenuhnya berpulang kepada kita sebagai pembaca, setidaknya kita bisa mencapai suatu tataran bahwa ternyata sebuah sajak dapat menghasilkan sebuah perenungan yang sedemikian mendalam kalau kita mau bersungguh-sungguh menggali intensitas itu jauh ke dalam sanubari sang penyair. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-108089777972763833?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108089777972763833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108089777972763833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_03_28_archive.html#108089777972763833' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-108088352437035146</id><published>2004-04-02T12:17:00.000+07:00</published><updated>2004-04-02T12:29:03.746+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sajak Tak Perlu Pembuktian Dirimu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;: eksistensialis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan apa yang kau mau dan mampu&lt;br /&gt;Bukan lantaran demi suatu pengakuan&lt;br /&gt;Tak perlu kau buktikan dirimu siapa&lt;br /&gt;Sebab dirimu sudah ada sejak semula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tahu kau siapa dan bisa apa&lt;br /&gt;Tuhan bangga padamu seperti apaadanya&lt;br /&gt;Kemuliaanmu ada karena pantulan-Nya&lt;br /&gt;Tapi dunia mana tahu siapa kau bisa apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau tahu sebenarnya asalmu&lt;br /&gt;Dan kelak akan kembali pada asalmu&lt;br /&gt;Maka mataegomu akan terbelalak&lt;br /&gt;Bahwa pengakuan dunia siasia belaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: selamat berkreasi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;babarsariyogya, 1 april 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: sajak diatas adalah karya Agustinus 'Onoy" Wahyono yang saya ambil dari milis Sastra Pembebasan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-108088352437035146?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108088352437035146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108088352437035146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_03_28_archive.html#108088352437035146' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-108088242031530120</id><published>2004-04-02T12:01:00.000+07:00</published><updated>2004-04-02T12:10:39.860+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Dunia Paradoks Seorang Penulis Eksistensialis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Sebuah persembahan untuk sahabatku Agustinus 'Onoy' Wahyono)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah menjadi kodrat manusia untuk menetapkan pilihan-pilihan dalam kehidupannya. Pilihan-pilihan itu merupakan wujud dari kehendak bebas. Sebuah konsep pemikiran yang menyandarkan diri pada filsafat eksistensialisme Jean-Paul Sartre yang diungkapkan dalam novelnya 'La Nausee'.  Bagi sebagian penyair atau penulis gagasan kebebasan bukan semata-mata tema yang mereka olah untuk mengukuhkan identitasnya tapi merupakan sebuah akar pemikiran yang mutlak sifatnya. Seperti dinyatakan Sartre, 'eksistensi tanpa kebebasan adalah suatu penjelmaan yang absurd'. Oleh karena itu kebebasan mereka jalani sebagai sebuah proses sadar diri, yaitu sadar akan keberadaan dan eksistensi dirinya sebagai seorang penyair atau penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan penyair atau penulis eksistensialis, tema kebebasan merupakan sebuah obsesi yang mendasari lahirnya karya-karya mereka. Secara intens mereka terus menerus mengunyah gagasan ini bahkan terbawa hingga kedalam sikap dan tindakannya sehari-hari, diwujudkan dalam upaya menyuarakan kebebasan berkarya, kebebasan menuangkan aspirasi, kebebasan berekspresi, dan kebebasan memunculkan identitas. Kondisi tersebut sejalan dengan pernyataan Sartre bahwa dalam diri manusia ada dua macam keberadaan, yaitu 'ada dalam diri' (l'entre-en-soi) dan 'ada untuk diri' (l'entre-pour-soi). Ada dalam diri adalah ada di dalam dirinya sendiri, sekedar mentaati prinsip identitas dalam arti tidak berhubungan dengan keberadaannya, sebuah kondisi yang memunculkan perasaan muak (la nausea) yaitu suatu situasi penolakan atas entitas dirinya sebagai seorang aku dengan ego pribadi yang menonjol, sementara ada untuk diri tidak mentaati prinsip identitas yang berhubungan dengan eksistensinya sebagai suatu hubungan yang ditentukan oleh kesadaran yaitu kesadaran sebagai manusia yang bukan sekedar obyek tapi juga sekaligus berperan sebagai subyek. Di mana manusia secara sadar untuk membuat pilihan-pilihan secara bebas atas segala tindakan dalam hidupnya dan mau mempertanggung-jawabkannya sebagai sebuah konsekuensi atas pilihan-pilihan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang saya lihat pada seorang Agustinus 'Onoy' Wahyono, seorang penyair, cerpenis, esais, kartunis,  yang secara 'sadar' menyatakan dirinya sebagai 'bukan pesajak, bukan penyair, bukan cerpenis, bukan siapa-siapa'   sebuah sikap yag bukannya tanpa dasar. Sebagai seorang yang banyak berkecimpung dalam dunia seni dan sastra dan telah membuktikan diri tidak saja secara produktif berkarya namun juga telah menghasilkan karya-karya yang berbobot dalam berbagai genre apakah itu cerpen, esai, sajak, dan seabreg karya lain dalam bentuk ilustrasi, sketsa, grafis, desain arsitektur, desain kaos, yang seluruhnya ditekuni secara cermat dan tidak semata-mata dikerjakan dengan semangat 'tukang' tapi secara piawai telah menunjukkan bobot dan wawasan berkesenian yang tidak sembarang orang mampu mencapai tataran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sikap yang selama ini ia jalani justru seperti memunculkan sebuah paradoks yang mencoba 'mengingkari eksistensi dirinya sendiri' yang terasa kontra produktif. Apakah itu merupakan sebuah bentuk penolakan sebagaimana tergambar pula dalam beberapa karyanya, yang selalu menyelipkan unsur-unsur main-main, dan humor yang satir tapi selalu digarap dengan seluruh kapasitas serius seorang 'Onoy' ataukah sikap tersebut justru merupakan sebentuk dorongan 'ego' yang diungkap dengan gaya paradoks yang berlebihan? Sebagai sebuah keyakinan yang jumawa atas potensi lebih dalam dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy sebenarnya mengakui bahwa dalam dirinya ada potensi yang selalu membutuhkan wadah untuk menampung luapan intuisinya, sebuah daya dorong bagi kreativitas yang luar biasa, meluber ke mana-mana bahkan hampir setiap hari dapat kita temui karya-karya postingannya di berbagai milis sastra, tetapi di lain pihak hasrat atas pengakuan itu ia tolak mentah-mentah dengan statement-statement yang seringkali keras dan pedas tanpa tedeng aling-aling. Oleh karena itu ia terus saja bergelut untuk memperlihatkan kebebasannya dalam upaya menundukkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa karyanya dapat kita lihat kecenderungan seorang Onoy dalam mengolah gagasan puitiknya maupun ragam dari tema-tema  yang selalu menjadi bahan cerita pendeknya adalah merupakan sebuah bukti kegelisahan perwujudan dari pencarian eksistensi dirinya selama ini seperti muncul dalam karya-karyanya. Kebusukan, kepalsuan manusia dan dunia yang semu adalah tema sajak yang cukup sering ia garap seperti dalam sajak 'Sebatang Lilin Putih Membaca Salju Di Kilimanjaro' dan 'Sarapanku' kemudian karya-karya yang bertema kehampaan, kesunyian, kegalauan seperti pada sajak-sajak 'Hampa Hari Ini', 'Kata-kata Pamit Malam Itu',  'Ketika Aku Telah Sendiri' dan 'Telaga Galau Dalam Buaian Abadi'. Di luar itu permasalahan eksistensi diri sangat sering ia garap dalam sajak-sajak seperti 'Aku Ada Maka Karyaku Ada' dan juga 'Aku Ingin Menulis Saja Tanpa Peduli Apakah Sajak Ataukah Bukan' dan 'Waktu Puisiku Pasrah' kemudian tema lain adalah penolakan atas cinta seperti pada sajak 'Jangan Datangi Aku Dengan Asmaramu' dan 'Menjahit Hati Terbelah'&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi karya-karya Onoy yang menggarap tema-tema eksistensialis semacam ini: sikap mandiri dan mementingkan diri sendiri seperti dalam cerpen pendek penuh kejutan 'Kala Gerimis Mengiris Malam'’ kemudian orang-orang yang gagal berhubungan dengan orang lain dan merasa terus menerus di kejar dosa seperti dalam cerpen 'Jadilah Bajingan Yang Sungguh-Sungguh' atau orang yang gagal memahami diri sendiri dalam cerpen 'Rayuan Pedang' juga cerpen-cerpen absurd semacam 'Di Bawah Bayang-Bayang Bulan' di luar itu Onoy banyak menulis karya-karya yang iseng sendiri yang terkumpul dalam sajak-sajak isengnya yang nakal penuh kejutan dan humor dan sajak-sajak protes yang ia sebut sebagai sajak-sajak slogan (pamflet) seperti 'Sajak dari Pinggir Jalan Raya Babarsari' dan 'Peringatan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas gambaran karya-karya di atas adalah sedikit dari lebih 400 sajak,  cerpen dan karya-karya lain yang telah ia hasilkan selama ini yang nampak menunjukkan pergumulannya yang intens dengan diri sendiri. Dalam beberapa dialog Onoy sering menyatakan dirinya kecil, tidak berarti, tidak punya kelebihan apa-apa sehingga memaksanya untuk terus menerus mengkaji perjalanan kepengarangannya, sebuah pandangan  yang mendorong dirinya untuk terus menerus belajar, karena dorongan tidak pernah puas ini yang menimbulkan perasaan 'sadar diri' yang barangkali tak wajar dalam kapasitasnya yang telah mampu membuktikan diri. Sebuah euphemisme yang sesungguhnya terlalu berlebihan namun menjadi suatu keadaan yang justru membuatnya terus menerus dilanda keresahan, kecemasan, kegelisahan oleh beban kreativitas sebagai konsekuensi pilihan-pilihan yang harus ia pertanggungjawabkan dalam proses pencarian jati dirinya. Kegelisahan yang secara kontradiktif mampu memicu kemampuan kreativitasnya disatu sisi tapi juga membelenggu kebebasannya di sisi yang lain. Sebuah kondisi di mana hasrat untuk melepaskan diri dari kecemasan itu semakin membuatnya menjauh dari kebebasan yang ia idamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi ia mengakui kebebasan tapi dilain pihak juga menyangkalnya, sebuah tindakan yang kontradiktif sebagai sikap menipu diri sendiri yang sebenarnya berakar dari keinginan-keinginan untuk mengurangi kegelisahan,  kesulitan dari pemenuhan ego pribadi, kecemasan yang timbul dari hasrat pribadi yang belum tercapai, dan mungkin pula lewat pergumulannya dengan dunia yang ia geluti selama ini belum memberikan kepuasan maksimal atau mungkin juga adanya permasalahan lain yang belum tuntas ia selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelusuran saya atas perjalanan kepengarangan seorang Onoy sesungguhnya bermuara pada konflik dalam dirinya yang tak hentinya mempertentangkan antara kebebasan dan keterbatasan yang justru memicu kemampuan kreatif yang luar biasa dahsyat, sebuah kegelisahan yang menjadi sumber bagi lahirnya karya-karya yang mungkin saja akan menjadi fenomenal suatu ketika nanti bila Onoy  tidak sekedar menuruti dorongan kreatif semata tapi mau secara mendalam mendedah ke inti pencariannya dan lebih banyak menulis dengan melibatkan isi hatinya yang terdalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy adalah sebuah pribadi yang unik yang dikaruniai begitu banyak talenta yang luar biasa dan sesungguhnya mudah baginya untuk mengukuhkan eksistensinya di dunia tulis menulis yang menawarkan begitu banyak kemungkinan ini asal ia mau tetap jujur pada diri sendiri dan lebih peka merespon lingkungan tempat dia bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 2004 &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-108088242031530120?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108088242031530120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108088242031530120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_03_28_archive.html#108088242031530120' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-108053510210925291</id><published>2004-03-29T11:35:00.000+07:00</published><updated>2004-03-29T11:41:55.670+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Komentar Sarabunis atas esai 'Masuk peti mati- kegelisahan batin seorang penyair' : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mas titon,&lt;br /&gt;bagi saya, sebuah proses menuju sebuah puisi lebih penting&lt;br /&gt;daripada mencipta puisinya atau puisi itu sendiri. Menuliskan&lt;br /&gt;puisi (mengarang puisi) hanyalah efek dari proses kehidupan&lt;br /&gt;seorang penyair. ketika sebuah puisi diciptakan ada benang&lt;br /&gt;merah yang tersambung pada proses2 kontemplasi yang telah&lt;br /&gt;dilakukan sebelumnya yang entah kapan masanya. disini baik&lt;br /&gt;atau tidaknya sebuah puisi yang diciptakan, tergantung dari&lt;br /&gt;baik dan tidaknya proses kontemplasi yang dilakukan dimasa&lt;br /&gt;yang entah kapan tersebut. bisa hasil perenungan dari masa&lt;br /&gt;yang sangat lama ataupaun dari waktu yang sangat sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;proses sebelum penciptaan puisi ini adalah sejatinya hidup.&lt;br /&gt;semua mesti direnungi dengan baik. apakah perenungan itu&lt;br /&gt;dimaksudkan sebagai alasan menulis puisi atau tidak itu&lt;br /&gt;tidak penting, yang terpenting sungguh2 berkontemplasi dan&lt;br /&gt;sungguh2 dalam proses kontemplasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hasil kontemplasi yang diperoleh akan dipengaruhi oleh&lt;br /&gt;perjalanan waktu, pengalaman, bacaan, pengaruh buruk&lt;br /&gt;dan baik dll. pergulatan itu semua di dalam batin memberi&lt;br /&gt;karakter pada pemikiran2 yang diyakini. pemikiran tersebut&lt;br /&gt;bisa jadi sangat fanatik, bisa juga sangat moderat, atau bahkan&lt;br /&gt;bisa jadi sangat kuno dan naif. tergantung pengaruh mana yang&lt;br /&gt;lebih dominan terhadap proses kontemplasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencairnya proses2 tsb ke dalam puisi, dipengaruhi oleh&lt;br /&gt;kondisi2 tertentu. bisa jadi pergesekan dengan karya orang lain&lt;br /&gt;sangat berpengaruh. atau bisa juga muncul secara spontan&lt;br /&gt;dan tiba2. atau juga dipengaruhi oleh kondisi jiwa, sedih, gembira&lt;br /&gt;sakit, sehat, cemburu, sesal dsb. pada akhirnya, puisi adalah&lt;br /&gt;tempat penyimpanan hasil2 tersebut. ruh dari proses itu yang&lt;br /&gt;menjadi energinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini proses penciptaan non teknis yang tidak bisa dipelajari&lt;br /&gt;di sekolah2. mungkin ini juga yang menyebabkan lulusan&lt;br /&gt;fakultas2 sastra hanya nol koma sekian persen saja yang&lt;br /&gt;jadi penyair serius. wallahu'alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. terima kasih mas Titon atas apresiasinya.&lt;br /&gt;sungguh diluar dugaan, luar biasa mas titon membongkar sajak saya &lt;br /&gt;dengan bahasan yang apik ini, mudah2an pencitraan yang saya bangun&lt;br /&gt;dalam 'memasuki peti mati' tak lagi menjadi sekedar hantu mengerikan bagi&lt;br /&gt;pembaca lainnya sekali lagi terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Sarabunis, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-108053510210925291?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108053510210925291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108053510210925291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_03_28_archive.html#108053510210925291' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-108028675534999993</id><published>2004-03-26T14:36:00.000+07:00</published><updated>2004-03-26T14:50:30.280+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kamera, Televisi, Cahaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamera mencatat derita bukan cuma berita dari putaran roda-roda gila kehidupan kita, lensa tidak cuma menembak jarak, kegamangan antara cerita kebahagiaan dan kepedihan semua melebur di situ jadi satu, dalam bias-bias warna hitam, putih, dan abu-abu, seperti gelas yang pecah dalam luapan perasaan melukai tangan, dan membuat kita tersentak sesaat. Ada yang ingin menangis dan tertawa pada saat yang sama, Televisi seperti kamera juga cuma ia lebih banyak menawarkan keriuhan cerita, perasaan yang mengelabui kesadaran kita, sihir cahaya, ada serigala menari dengan lidahnya yang  merah, taring kuning dan liur tak henti menetes. Televisi bukan sekedar tabung yang menyimpan ingatan ia menyimpan kepedihan dan kegalauan kita, masa-masa yang lewat jadi sejarah, mimpi-mimpi peradaban dan juga kekumuhan pikiran sibuk beronani dengan diri sendiri. Cahaya selalu datang dan pergi tanpa perlu kita catat kehadirannya, ia telah menjadi sebuah rutinitas, karena ia tak hendak berubah…tak akan mungkin berubah untuk waktu yang lama, sangat lama … mungkin hingga akhir peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rumah Orang Sakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemui seseorang di beranda depan sedang membebat kepalanya dengan kompres es batu, seseorang lagi sedang sibuk menekan paru-parunya yang basah oleh genangan lumpur sisa banjir bulan lalu, tubuhnya menggigil seperti batang-batang pisang di pinggir kali ditimpa derasnya hujan mencoba bertahan di atas akar-akar yang rapuh. Aih…air kali itu deras sekali kawan, seperti menyimpan amarah di matanya, menyihir malam-malam kita penuh dengan mimpi-mimpi seram. Aih…lihatlah ke dalam rumah kita kawan, sudah berjejal orang-orang sakit tercampak dari pinggiran waktu. Bibir-bibir pucat mengaduh ribut sekali ditingkahi dengung seribu nyamuk dan lalat. Rumah kita jadi etalase penuh lampu-lampu, tikar-tikar plastik, piring dan gelas pecah dan selang-selang infus. Tak ada lagi tempat bagi tawa anak-anak, celoteh mereka telah lama terpendam di halaman belakang rumah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih…apa yang terjadi dengan rumah kita kawan? Begitu banyak orang sibuk berlalu lalang dengan bendera-bendera dan kaos-kaos penuh slogan, riuh rendah meneriakkan jargon-jargon kosong. Photo-photo close-up menebar senyum serba palsu terpampang memenuhi tembok rumah. Aih…rumah apa ini kawan? Manakala semua orang sibuk dengan dering telephone dan percakapan di televisi mengobral janji-janji, peradaban jadi semakin jauh saja meninggalkan kita, seolah terlupa makin banyak anak-anak dan bayi-bayi terbaring mati di kamar sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret, 2004 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Manusia Angkuh &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Tentang Manusia 1): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlanjur masuk ke dalam belantara: sulur-sulur pemikiran yang riuh rendah, penuh gelak tawa yang mencederai kesadaran. Batin terusik oleh tawa-tawa pongah dan senyum mengejek. Belantara ini begitu tumpat dengan manusia-manusia angkuh, para moralis, eksistensialis dan nihilis, namun tak ada kutemui seorang pun ubermensch*, semuanya tampak busuk dan buruk rupa, menggonggong seperti serigala lapar dan bergelantungan seperti monyet sedang asyik bermain, menelanjangi diri sendiri, tak bermalu, tak berperasaan. Adakah mereka berpikir dengan mulut penuh kata-kata najis dan sumpah serapah? Ataukah mereka sedang mengigau di tengah kalutnya mimpi buruk? Mencelotehkan keakuan dan harga diri, menggumamkan kejujuran dan moralitas tapi mulut mereka bau bangkai, dan wajah mereka berlumur noda busuk terbungkus topeng emas kepalsuan. Aku tahu tak ada ketulusan dalam kilau mata mereka, cuma sebuah pisau yang sinis dan telanjang siap mencabik jiwa-jiwa naïf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kulihat di tengah belantara ini? Orang-orang yang mentertawakan kebebalanku, yang  membuat jiwaku gemetar oleh rasa malu dan iba, namun mengapa rimba ini sanggup menyihirku dengan belitan sulur mistis pemikiran demikan riuh? hingga tubuhku tak mampu meretas belenggu, lemah tiada daya tak ubahnya tubuh kijang kencana dalam kerkah taring besi serigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Nietzsche: 'Also Sprach Zarathustra'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Orang-Orang Kesepian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Tentang Manusia 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesendirian membuat mereka letih, maut tampak begitu dekat serupa hantu berjubah hitam dengan senyum tersungging di bibir. Ia lebih dekat dari bayangan, mengintai di balik cadar-cadar kabut, embun beku yang menggigilkan jantung. Mengapa perasaan itu demikian mencekik? seolah ia menemukan begitu banyak cara untuk membunuh harapan. Keberanian seakan lepas dari hulu pedang dan terhempas jatuh ke tanah, jauh sebelum gerbang arena di buka dan taring-taring harimau berkilau di mata mereka Kesadaran goyah berdiri diantara pekik peperangan dan sorak penonton di kejauhan, dipaksa berjalan di antara debu, seorang gladiator, manusia penyendiri, pergi menyongsong tikaman belati yang akan merobek jantung harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2004 &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-108028675534999993?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108028675534999993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108028675534999993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_03_21_archive.html#108028675534999993' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-108020792185684063</id><published>2004-03-25T16:39:00.000+07:00</published><updated>2004-03-25T16:48:50.106+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Memasuki Peti Mati – Kegelisahan Batin Seorang Penyair?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;Upaya memahami sebuah sajak bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan manakala sajak itu  tampil dalam balutan metafora yang rumit, manakala makna konotatif sebuah kata harus dilihat dalam pertaliannya dengan  kata-kata lain sebagai pendukung kesatuan makna yang utuh dan unikum, karena itu proses apresiasi selalu menjadi sebuah ajang yang mengasyikkan untuk menggali dan menguji kepekaan wawasan, persepsi, intuisi dan asosiasi pembaca dalam menafsirkan kata demi kata, baris demi baris dan bait demi bait sehingga dalam setiap pembacaan dapat diperoleh sebuah sintesa yang utuh. Pembaca dituntut untuk dapat mengurai lapisan demi lapisan pembungkus tubuh sajak sehingga tampaklah inti makna sajak yang paling esensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya mengapa kita mesti bersusah payah meraih pemaknaan dari sebuah sajak? pertanyaan itu selalu membayangi setiap proses pembacaan. Masih perlukah kiranya meraih pemaknaan atas sebuah sajak? Setiap individu penikmat sajak barangkali akan memberikan jawaban yang  berbeda antara satu dengan yang lain, begitu pula niatan dari seorang penulis bisa jadi pula akan berbeda ditafsirkan oleh pembacanya, di sinilah sebenarnya kritik berperan sebagai jembatan penghubung yang mengantarkan apresiasi pembaca ke depan pintu niatan penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi penting untuk meningkatkan kesadaran budaya pembaca, karena apresiasi sekaligus berperan untuk mendudukkan secara proporsional karya yang bermutu dan yang tidak. Selain juga mengemban misi sebagai sebuah legitimasi 'budaya' dalam menilai bobot seorang penyair. Tapi dalam zaman serba instant ini di mana segala sesuatu lebih banyak di ukur dari kadar  nilai budaya populer masih perlukah bagi kita mendudukkan posisi sastra dan sajak itu secara proporsional? Sekali lagi jawabannya bisa beragam sesuai dengan niatan pembaca, karena apresiasi tidak akan pernah dapat dilepaskan dari kaitan-kaitan subyektifitas. Dan subyektifitas bagaimana pun selalu menjadi dalih pembenaran atas opini seseorang. Oleh karena itu batasan-batasan diperlukan agar subyektifitas tidak menjadi anarkhi, agar subyektifitas dapat berkembang menjadi lebih obyektif, bukan dalam artian penyeragaman nilai atau pandangan tetapi mampu lebih merujuk kepada kedewasaan sikap dan kebenaran nilai-nilai universal di mana segala sesuatu dapat dipertanggungjawabkan, dan dalam hal ini kerangka teknis dan teoritis pendekatan penilaian atau apresiasi dapat mengambil peran yang sewajarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kita tidak perlu curiga kepada segala bentuk kritik,  dan menurut pandangan pribadi saya kita justru harus berterima kasih kepada kritik karena kritik yang baik dan benarlah yang akan membesarkan orang sementara pujian yang menyesatkan justru akan membuat orang tenggelam, dan wawasan kritik yang sehat senantiasa harus dikembangkan dalam sebuah komunitas yang peduli, dimana semua orang berani memunculkan karyanya dan pada saat yang bersamaan berani pula menanggung resiko karya itu di apresiasi oleh orang lain. Dalam beberapa konteks peristiwa, kita seringkali merasa berkeberatan dengan kritik-kritik yang lugas tanpa dasar teori, beberapa orang pun berargumen bahwa setiap pendekatan akan menghasilkan apresiasi yang berbeda pula, akan tetapi harus dipahami bahwa sebuah pendekatan adalah merupakan sebuah alternatif dari sekian banyak alternatif yang mungkin dan oleh karenanya setiap pembacaan selalu memiliki kemungkinan terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair yang baik  tak perlu merasa kawatir bila karyanya dibantai seorang kritikus karena bagaimana pun karya itu masih terbuka untuk diperdebatkan kritikus lainnya, dan satu hal yang saya percaya adalah bahwa karya yang baik akan menyuarakan kebenarannya sendiri  bagaimana pun caranya. Jadi kebenaran atau pun kegagalan sebuah proses apresiasi lewat tulisan kritik bukan merupakan suatu hal yang mutlak karena setiap proses apresiasi selalu memiliki dimensinya sendiri yang mungkin saja berbeda dengan pendekatan lainnya dan juga merujuk pula pada kemungkinan sajak yang multi penafsiran. Justru hal ini akan semakin memperkaya wawasan penyair dalam proses penulisannya di satu sisi dan sekaligus menambah wawasan pembaca di sisi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kerangka pikir yang demikian saya mencoba menepiskan syak wasangka berkaitan dengan semua bentuk wacana kritik yang selama ini berkembang, setiap kritik seyogyanya diterima dengan perasaan senang dan antusias sebagai indikasi bahwa karya kita memperoleh perhatian publik, dan dengan semangat yang sama pula saya akan terus mencoba menulis kritik yang saya harapkan berguna untuk para penyair dan penulis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini saya ingin mengulas sedikit karya Sarabunis Mubarok yang berjudul 'MEMASUKI PETI MATI' yang menurut saya sangat layak untuk kita kaji lebih jauh :  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMASUKI PETI MATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi tentang datangnya sebuah kekasih,&lt;br /&gt;mengembangbiakkan puluhan keris yang tumbuh&lt;br /&gt;di taman-taman buku. Bagaimana harus kubusurkan&lt;br /&gt;hati, ketika puisi tertancap di pohon-pohon lapuk.&lt;br /&gt;Bagaimana tak mengunyah bara, ketika musim paceklik&lt;br /&gt;di ladang kata-kata, memercikkan api ke garis usiaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang melambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memahami pekabungan sebagai ibu tiri dari&lt;br /&gt;risau-risau yang memukau. Mengapa harus menjelagakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asap-asap perih yang mengitari hari-hari kasat&lt;br /&gt;mataku.&lt;br /&gt;Ketika ibuku terus menembang, tajam mendesak ke&lt;br /&gt;sajak-sajak, ke rasa cemburu, ke rasa cemburu yang&lt;br /&gt;lantak,&lt;br /&gt;ke masa depan yang memihak, ke anak-anak bulan,&lt;br /&gt;anak-anak sunyi yang kusembunyikan di antara suap&lt;br /&gt;dan kunyah zikir-zikir semediku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama kitab-kitab sastra yang membajak kematian,&lt;br /&gt;aku mengairmatakan rayuan-rayuan. Ramalan bayi sinis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang kelak merayap di punggungku, darah yang&lt;br /&gt;menyingkap&lt;br /&gt;mitos rumit dari angka 13 selasa pahing kelahiranku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tenung asmara, jimat-jimat dan mantra-mantra, melulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menganaksungaikan kepenyairanku, melulu meninju&lt;br /&gt;kepuasan dari sakitnya sumpah-sumpahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini bukan jenis sajak yang mudah dimengerti, pertama adalah karena si penyair meramu sajaknya dalam balutan simbol-simbol yang tidak terlalu akrab, hal kedua adalah karena penyair banyak memakai asosiasi dan metafora yang rumit untuk menggambarkan ekspresi perasaan dirinya dan  ketiga adalah karena adanya konsep mistis yang melingkupi gagasan pemikiran penyair dalam pengungkapan intuisi dan bahasa puitiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang saya tangkap dari sajak ini adalah kegelisahan penyair atas eksistensi dirinya sebagai seorang penyair, ia tengah berharap atas kehadiran 'sebuah kekasih' sebuah simbol yang sangat unik, mengapa sebuah dan bukan seorang?  karena yang ia anggap kekasih itu memang bukan manusia tapi sesuatu yang sanggup 'mengembangbiakkan puluhan keris yang tumbuh di taman buku'. Dua buah symbol yang semakin rumit 'puluhan keris di taman buku'. Keris adalah bagian dari mitologi Jawa yang berfungsi sebagai  senjata atau 'gegaman' sesuatu yang tajam dan dapat dipakai untuk membunuh atau membela diri dan apa yang tajam di taman buku? imaji ini mengantar saya kepada ketajaman pena yang seringkali diasosiasikan lebih tajam dari senjata, dan imaji itu mendukung pemaknaan keberadaannya di taman buku. Saya tafsirkan yang dianggap kekasih oleh penyair adalah 'kata' dan ini memperoleh dukungan dari baris berikutnya 'ketika puisi tertancap di pohon lapuk' karya-karya si penyair tak memperoleh tempat berpijak yang nyaman untuk bergantung untuk menunjukkan eksistensinya. Sehingga penyair dipaksa untuk merasakan 'bagaimana tak mengunyah bara' sebuah perasaan pedih yang sangat menyakitkan, 'ketika musim paceklik di ladang kata-kata' makna bait ini memperoleh peneguhan di sini ketika penyair rindu kata-kata (kekasih) di mana  kata-kata tak lahir karena didera musim paceklik,  'memercik ke garis usiaku yang melambat' penyair mulai terbakar oleh kerinduannya untuk 'eksis' karena sudah dikejar usia produktivitasnya. Demikian penafsiran saya atas bait pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait ke dua di mulai dengan 'Aku memahami pekabungan sebagai ibu tiri dari risau-risau yang memukau' lagi-lagi kita dihadapkan pada perlambangan yang rumit, penyair dihadapkan kepada kematian adakah itu sebuah kematian kreatifitas? Induk dari kecemasan yang mengamuk batinnya, hadir sebagai seorang ibu tiri yang sesungguhnya tidak dikehendaki kehadirannya sehingga '…harus menjelagakan asap-asap perih yang mengitari hari-hari kasat mataku.' Penyair dihadapkan pada sebuah realitas yang membuatnya semakin gelisah 'ketika ibuku  terus menembang' di mana ibu realitasnya telah ikut mengomel pula dengan 'tajam mendesak (eksistensi) sajak-sajak' mempertanyakan hasil dari kepenyairannya,  sehingga timbul 'rasa cemburu yang lantak' dan makin mempertanyakan nasib 'masa depan yang memihak' perasaan yang begitu mengharu biru diri si aku lirik sampai ia terpaksa harus bergelut sedemikian rupa dengan batinnya sendiri dan memaksanya terus merenung '….diantara suap dan kunyah zikir-zikir semediku'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada bait ketiga si aku lirik semakin didera bimbang oleh karena perjalanannya sejauh ini 'bersama kitab-kitab sastra (telah) membajak kematian  (jiwa)' dan sanggup 'mengairmatakan rayuan-rayuan' sekali pun ia harus dihadapkan pada 'ramalan bayi sinis yang kelak merayap di punggungku' sebagai sebuah gambaran masa depan yang menyimpan ironi dan ketidak pastian 'darah yang menyingkap mitos rumit dari angka 13 selasa pahing kelahiranku' penyair terombang ambing antara kungkungan mitos kepercayaan yang tumbuh subur dalam hatinya seiring dengan proses penelusuran eksistensi hidupnya dan mitos itu begitu dalam membelit 'tenung asmara, jimat-jimat dan mantra-mantra…' yang selama ini menjadi sumber inspirasi kepenyairannya 'melulu menganaksungaikan kepenyairanku, …' tapi sekaligus menjadi harga yang harus ia bayar atas 'kepuasan dari sakitnya sumpah-sumpahku.' sebagai sebuah konsekuensi dari sebuah pilihan hidup seorang penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penafsiran saya atas sajak ini, sebuah sajak yang sangat dalam menggali pergelutan batin yang barangkali merefleksikan kegelisahan diri penyairnya. Bagaimana pun sajak ini sangat kuat merepresentasikan gagasan si penyair dengan pilihan kata-kata yang sangat sugestif dan mampu menggerakkan kesadaran emotif kita oleh pilihan-pilihan diksinya yang cermat. Kemampuan penyair membungkus tubuh sajak sedemikian rupa dengan simbol-simbol dan penggunaan pengimajian yang sedemikian kaya adalah merupakan nilai tersendiri yang meningkatkan bobot sajak ini dan saya pikir aura mistis yang menyelubungi karya-karya Sarabunis seperti dalam sajak ini adalah merupakan sebuah ciri khas yang unik dari penyairnya yang saya yakin sudah menemukan bentuknya dalam kegelisahan yang justru mampu memancing kreatifitas. Terlepas dari kemungkinan dapat diterima atau tidak bentuk penafsiran ini sejujurnya saya menilai seorang Sarabunis sudah sangat 'layak' diperhitungkan sebagai seorang penyair eksistensialis dewasa ini, hal ini terbukti dari kedalaman karya-karyanya yang semakin menunjukkan peningkatan bobot kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Maret 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya penulis lainnya dapat ditemui di:&lt;br /&gt;http://langitkubiru.blogspot.com/   &lt;br /&gt;http://filsafatsajak.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-108020792185684063?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108020792185684063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/108020792185684063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_03_21_archive.html#108020792185684063' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107958981197546845</id><published>2004-03-18T13:00:00.000+07:00</published><updated>2004-03-18T13:06:51.013+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kata Sebagai Unsur Paling Esensial &lt;br /&gt;Dalam Sebuah Sajak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Titon Rahmawan&lt;/em&gt;	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Darma dalam pengantar atas kumpulan cerpennya yang berjudul 'Orang-Orang Bloomington' menyatakan bahwa  unsur utama yang paling berperanan dalam sebuah cerita pendek adalah tema, namun apakah tema memegang peranan yang sama esensialnya dalam sebuah sajak? Pertanyaan tersebut cukup sering dilontarkan oleh orang awam yang berminat terhadap karya sastra dan mereka yang ingin mendalami sajak pada khususnya, namun ironisnya pertanyaan itu belum tentu dapat dijawab oleh orang yang mengaku dirinya sebagai seorang penyair sekali pun. Mengapa muncul hal yang demikian  adalah dikarenakan oleh begitu banyaknya calon penyair yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Para calon penyair itu terlampau sibuk dalam mengolah gagasan-gagasan untuk menjadikan karyanya sebagai sebuah karya yang fenomenal, sehingga terbebani oleh sejumlah misi untuk menyampaikan 'sesuatu' kepada pembacanya. Sesuatu itu bisa berupa pesan moral, khotbah, protes politik, kajian filsafat, kritik sosial, masalah cinta, masalah keluarga, atau laporan jurnalistik  dengan berbagai gaya ungkap, akan tetapi si penyair lupa bahwa sesunguhnya ia tengah menulis sebuah sajak dan bukannya propaganda politik, pamflet, teks iklan, surat cinta atau berita koran. Banyak calon penyair lupa atau tidak tahu bahwa esensi sebuah sajak sesungguhnya bukan pada masalah tema atau gagasan tapi lebih pada kata-kata, sebagaimana ditegaskan oleh Sapardi Djoko Damono salah seorang penyair terkemuka kita bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Menurut Marjorie Boulton sebagaimana di kutip oleh Prof. M. Atar Semi unsur-unsur pembentuk sajak dapat di lihat dari dua segi yaitu dari bentuk fisik  dan bentuk mental. Bentuk fisik itu meliputi tipografi, diksi, irama, intonasi, enjambemen, repetisi dan berbagai perangkat bahasa lainnya, sementara bentuk mental meliputi tema, asosiasi, simbol, pencitraan, dan emosi.  Pembahasan  atas setiap unsur-unsur dalam sajak adalah hal yang sangat rumit terutama  bila kita tidak melihatnya dalam kaitannya dengan unsur-unsur yang lain, karena sebuah sajak merupakan sebuah totalitas yang unikum, akan tetapi kesadaran seorang penyair atas keberadaan kata sebagai unsur yang paling esensial dalam penulisan sajak akan membantu diri si penyair dalam memahami esensi dari proses kreatif penulisan sajak itu sendiri, sekali pun tentu saja seorang penyair dituntut pula memiliki pemahaman yang sama mendalamnya atas unsur-unsur sajak yang lain sehingga ia mampu melahirkan sajak yang bagus dan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Perlu dipahami pula bahwa kata-kata di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan  memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis sebagaimana dapat kita lihat dari pendekatan puisi itu sendiri bertitik tolak dari bentuk organik puisi menurut Herbert Read yang di kutip oleh Prof. M. Atar Semi yang menyampaikan bahwa puisi adalah 'predominantly intuitive, imaginative, and synthetic' sementara pilihan kata-kata dalam prosa lebih mengedepankan logika, bersifat konstruktif dan analitis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Lebih lanjut Atar Semi menyampaikan bahwa intuisi di dalam sajak adalah  mengacu pada kemampuan sajak itu untuk menyatakan kebenaran yang dapat diterima secara universal, jadi sajak yang baik mutlak mengandung nilai-nilai kebenaran universal (universal truth). Sementara imajinasi  dalam sajak adalah merupakan upaya kreatif untuk memperkuat kesan suatu pengalaman puitik yang hendak disampaikan oleh seorang penyair, dengan kata lain proses penulisan sajak sepenuhnya harus lahir melalui sebuah proses kreatif. Selanjutnya Atar Semi menyatakan bahwa sajak adalah merupakan sebuah sintesis  yang mengandung maksud bahwa kata-kata dalam sajak haruslah memiliki keunikan yang tidak langsung mengacu pada sesuatu yang diungkapkannya tapi mengandung pengertian yang luas dan mampu menimbulkan kesan rasa dan daya anggap yang jauh lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Sapardi Djoko Damono dalam esainya 'Puisi Indonesia Mutakhir: Beberapa Catatan' menegaskan pula bahwa kata-kata dalam sajak berfungsi sebagai jembatan penghubung antara gagasan penyair dengan lentik penafsiran pembacanya oleh karena itu kata-kata dalam sajak harus mampu membentangkan panorama keindahan yang ingin dilukiskan lewat intuisi si penyair. Kekuatan kata-kata tidak semata-mata dalam kemampuannya mengkomunikasikan diri tapi terlebih pada kemampuan menciptakan imaji dan impresi yang akan meninggalkan bekas di dalam diri pembacanya, sehingga kesan itu tetap hidup bergema dalam pikiran, bergetar dalam perasaan, yang menyebabkan pembaca tersentuh oleh rasa haru, sedih, atau pun gembira sesuai impresi sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Hal inilah yang sering luput dari perhatian, bahwa kata-kata dalam percakapan sehari-hari yang bermakna denotatif dapat di pakai begitu saja dalam menulis sebuah sajak sehingga impresi yang muncul adalah sebuah realitas yang naif terlalu apa adanya, tak lebih daripada berita di surat kabar. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai hal tersebut dapat kita lihat pada sajak karya Theora Agatha sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA ATAS NAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi bukan lagi saluran mimpi, tapi sudah jadi kegeraman menyesak dada, dan koran bukan semata sumber berita tapi lebih banyak menjual kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat dan dengarkan;&lt;br /&gt;Berita pagi pukul 6 	– atas nama cinta seorang wanita kehilangan nyawa&lt;br /&gt;Berita pagi pukul 7	– atas nama harta 2 orang bersaudara saling aniaya &lt;br /&gt;                                   	   hingga sampai ajalnya&lt;br /&gt;Breaking news pukul 9 	– atas nama dendam 1 keluarga tewas ditikam&lt;br /&gt;Breaking news pukul  11 	– atas nama solidaritas 10 buruh tewas&lt;br /&gt;                                              	   dalam aksi demo yang panas&lt;br /&gt;Berita siang  pukul 12	– atas nama demokrasi 2 polisi binasa, &lt;br /&gt;	   8 mahasiswa terluka, &lt;br /&gt;	   15 orang lagi tak ketahuan rimbanya&lt;br /&gt;Berita kriminal  pukul 20   	– atas nama setan seorang wanita tewas dianiaya &lt;br /&gt;                                                      dan  dimakan dagingnya &lt;br /&gt;Berita kriminal pukul 20  	– atas nama kemelaratan seorang bayi dibuang ke &lt;br /&gt;   tong sampah oleh orang yang tak mau mengaku                  &lt;br /&gt;   sebagai ibunya &lt;br /&gt;Headline news pukul 21     	– atas nama kemanusiaan 500,000 orang dipaksa &lt;br /&gt;                                                      mengungsi dari negerinya sendiri, tak terhitung &lt;br /&gt;                                                      yang tewas karena lapar dan peperangan&lt;br /&gt;Headline news pukul 21  	– atas nama tuhan 80 orang tewas dalam ledakan &lt;br /&gt;                                                      1,000 orang tewas dalam kebakaran &lt;br /&gt;     dan lebih 1,000,000 orang tewas oleh pembantaian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama apa lagi kita musti meratap dan menangis? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, April 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Sajak di atas tak ubahnya sebuah laporan jurnalisme, yang sekali pun  berupaya menggambarkan realitas dengan gaya ironis atas kondisi sosial masyarakat namun ia hanya berhenti hanya sebagai sebuah protes namun gagal sebagai sebuah sajak, karena tidak mampu menciptakan imaji dan impresi yang mendalam. Karya di atas tak lebih dari sekedar teks yang cukup dibaca sekali  saja dan tidak meninggalkan kesan apa pun dalam diri pembaca, karena tak kita rasakan adanya misteri yang menyelubunginya, semua kata tampil demikian apa adanya. Ia hanya menyentuh bagian permukaan kesadaran kita, hanya berusaha menggugah emosi sejenak tanpa menukik lebih jauh ke dalam hati, karena sajak semacam itu hanya lebih menekankan aspek agitasi, tidak begitu orisinil dalam pengungkapan dan pengucapan, yaitu sebatas kutipan berita surat kabar atau berita televisi yang tampil terlalu apa adanya (naif). Pilihan kata-katanya pun terlampau klise karena banyak mengacu pada pendapat masyarakat umum. Tidak kita rasakan adanya sebuah proses kreatif di dalam penulisannya, dan tidak terasa pula adanya keunikan peran individu dalam mengolah karya itu sehingga karya di atas tak lebih dari sebuah kitsch yang tidak memiliki nilai sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Perlu kita garis bawahi bahwa kata-kata dalam sajak mengemban peran yang lebih majemuk, oleh karenanya pemilihan kata-kata atau diksi dalam sajak haruslah melewati suatu proses kreatif dan bersifat distingtif yang sanggup mengkomunikasikan pikiran dan perasaan sekaligus. Kata-kata tidak berhenti sebagai gagasan namun harus diolah kembali untuk mencapai nilai keindahan atau estetika yang tinggi untuk sanggup melahirkan sebuah impresi yang utuh dan menyentuh ke dalam diri pembaca. Impresi atau kesan dapat diperoleh dari aspek bunyi seperti aliterasi (pengulangan konsonan) atau asonansi (pengulangan vokal), kata-kata tersebut lebih mengutamakan susunan atas bunyi yang menciptakan efek merdu dalam pendengaran dan memiliki sifat emotif, yaitu mampu menimbulkan emosi yang berfungsi sebagai frase yang liris atau musikal. Setiap kata yang dipilih diharapkan memiliki asosiasi kepada berbagai kemungkinan penafsiran yang dapat di tinjau dari sensitivitas, intonasi, bunyi, irama, simbol, yang dapat berdiri sendiri secara otonom atau mempunyai pengertian yang mandiri. Di samping itu kata di pakai untuk mampu menciptakan sugesti dan mampu membangkitkan suasana tertentu dalam diri pembacanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Nilai estetis kata di dalam sajak itu biasanya merujuk kepada intuisi atau kepekaan dan pengalaman puitik seorang penyair sehingga mampu menciptakan pengertian kata dalam dimensinya yang baru, yang lebih segar dan hidup. Dimensi dalam perspektif yang lebih luas dari makna kata-kata itu sendiri dalam kandungan pengertiannya yang lama. Nilai kata-kata dalam sajak haruslah fleksibel atau lentur (plastis) dalam artian tidak semata–mata mengacu pada pengertian leksikon yang baku, tapi terlebih lagi mampu mewujudkan imaji puitis penyairnya. Perlu kita garis bawahi sekali lagi bahwa kata-kata dalam sajak harus memiliki karakter yang otonom dimana kata-kata sanggup berdiri sendiri secara utuh dan tidak tergantikan oleh kata lain bahkan oleh sinonimnya sekali pun dalam mendukung impresi sajak itu sendiri, sehingga kata itu tidak bisa kita hapus atau kita ganti begitu saja tanpa merusak arsitektur bangunan sajak secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Seorang penyair yang baik akan memusatkan perhatian sepenuhnya pada pilihan kata-kata untuk menyampaikan pengalaman puitiknya agar tidak terjebak kepada kitsch, slogan, protes, esai atau bahkan prosa. Di sini perlu kita pahami lebih lanjut perbedaan asasi antara sajak dan puisi, sebagaimana dinyatakan oleh Putu Arya Tirtawirya, 'Sajak adalah puisi, tetapi puisi belum tentu sajak' sebab puisi adalah suatu pengungkapan secara implisit, samar dengan makna tersirat dimana kata-kata condong pada artinya yang konotatif sementara sajak adalah apa yang ada dibalik yang tersirat itu. Sajak adalah cermin tempat manusia berkaca, tampak sosok dirinya dalam masa lalu, masa kini dan masa depan sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dalam esainya 'Arti Komunikasi Dalam Sebuah Sajak' Putu arya menjelaskan lebih lanjut bahwa di dalam sajak, kata tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi semata tetapi sesungguhnya merupakan lagu penggambaran jiwa sang penyair sebagai sebuah pribadi yang utuh. Tatkala berhadapan dengan sajak kita tidak lagi berasosiasi dengan kalimat, tetapi justru kepada pemikiran, pengalaman, emosi dan cinta. Oleh karena itu sajak yang baik tidak tampil sebagai sebuah realitas harafiah, ia harus mengandung misteri, terselubung oleh kabut tipis yang gaib tapi tidak sepenuhnya gelap atau pelik, harus ada setitik cahaya yang mengantarkan kita pada pemaknaan, lentik api itu harus terbit untuk merangsang pemikiran dan mampu menggugah perasaan. Kata-kata dalam sajak dipilih untuk menggugah rasa keindahan dan sekaligus harus mengandung kejujuran, karena kejujuran adalah elemen penting dalam setiap karya sastra yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Sajak sebagai sebuah karya seni harus diciptakan dengan kreativitas yang melahirkan perjalanan jiwa seorang penyair, dan diksi di pilih dari unsur yang dihayati oleh sang penyair. Penyair harus dapat menemukan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya dan mengangkatnya menjadi sebuah karya yang sanggup memberi manfaat bagi kemanusiaan. Budi Darma dalam esainya 'Perkembangan Puisi Indonesia Mutakhir' menyatakan bahwa salah satu jaminan yang penting dalam kreativitas adalah kejujuran penyairnya terhadap apa yang dia kuasai. Boleh dibilang bobot sebuah sajak dan juga karya sastra lainnya adalah untuk mengungkapkan kebenaran universal. Dimana dalam sajak, kebenaran itu terbungkus oleh metafora layaknya sutera tipis yang indah dan halus motifnya. Disitulah tantangan utama bagi seorang penyair  untuk melahirkan sebuah sajak yang bagus, ia harus melewati sebuah perjuangan kreatif yang tidak mudah. Perjuangan merangkai kata-kata menjadi suatu kesatuan unikum yang utuh yang mampu menggelorakan perasaan dan mampu menyentuh kalbu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Anggapan bahwa esensi sajak adalah tema atau gagasan dan bukannya kata menjadi gugur dengan sendirinya manakala kita melihat kenyataan bahwa sajak bukan semata kerja intelektual tapi lebih merupakan kerja seni, sebagaimana contoh yang pernah dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono bahwa seorang cendekiawan dengan segudang ide belum tentu dapat dengan mudah menulis sebuah sajak yang bagus dan berhasil. Bagi penyair seharusnyalah sajak merupakan sebuah proses pencarian, yaitu sebuah proses mencoba terus menerus dalam usahanya untuk menaklukkan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Setiap penyair yang baik pasti memiliki arah dan punya obsesi tertentu dalam berkarya di mana ia dengan setia dituntut terus menerus mengunyah kata demi kata untuk mencapai kesempurnaan estetiknya, sekali pun proses itu harus ia lewati berulang kali dengan susah payah. Mengolah gagasan yang sama terus menerus adalah merupakan bentuk obsesi, karena kata-kata bisa diciptakan kembali lewat sekian banyak pendekatan atau diproses kembali melalui segala aspek kreatif untuk mencapai sebuah impresi yang baru dan lebih segar dengan gaya pengucapan yang lebih bernas. Oleh sebab itu seorang penyair yang baik pada hakekatnya tidak pernah berhenti bereksperimen karena setiap bentuk percobaan penulisan pengalaman dan perenungan ke dalam sajak adalah upaya untuk memperoleh jawaban dari kegelisahan puitik seorang penyair untuk menemukan kata-kata yang tepat mewakili perasaan dan isi hatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Seperti dinyatakan pula oleh Budi Darma bahwa  tantangan utama seorang penyair adalah mengasah kreativitas, dan salah satu ciri kreativitas adalah mencari, tetapi bobot utama kreativitas bukan terletak pada usaha mencari itu sendiri melainkan terletak pada keakraban terhadap apa yang dia pakai, garap dan temukan. Oleh sebab itu sudah seharusnya para penyair mengakrabi kata-kata, atau kalau perlu memperlakukan kata-kata sebagai seorang kekasih karena itu merupakan  salah satu bentuk pendekatan yang efektif agar kata-kata dapat tampil hidup dalam sajak-sajaknya. Tema memang selalu saja berulang, seorang penyair bisa saja terus menerus menulis tentang cinta, hidup atau kematian tapi setiap kali pula ia bisa menghasilkan sajak yang berbeda sama sekali dari karya yang sebelumnya. Hal ini hanya mungkin berlaku bagi seorang penyair yang mau secara konsisten mengasah bakat, kepekaan dan pengalaman puitiknya sehingga setiap pengalaman, kejadian, maupun gagasan pemikiran yang paling sederhana sekali pun dapat ia ubah lewat inspirasi puitik menjadi sebuah sajak yang bagus tanpa merasa perlu kehabisan kosa kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2004&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bibliografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atar Semi, M. tanpa tahun. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya&lt;br /&gt;Damono, Sapardi Djoko. 1982. Kesusasteraan Indonesia Modern: Beberapa 	Catatan. Jakarta: Gramedia&lt;br /&gt;Darma, Budi. 1980. Orang-Orang Bloomington. Jakarta: Sinar Harapan  &lt;br /&gt;Darma, Budi. 1995. Harmonium. Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Layun Rampan, Korrie. 1984. Kesusasteraan Tanpa Kehadiran Sastra. 	Jakarta: Gunung Jati&lt;br /&gt;Suwondo, Tirto. 2003. Study Sastra, Beberapa Alternatif. Yogyakarta: 	Hanindita Graha Widya&lt;br /&gt;Teeuw. A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia &lt;br /&gt;Tirtawirya, Putu Arya. 1978. Apresiasi Sastra dan Prosa. Ende-Flores: Nusa 	Indah&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107958981197546845?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107958981197546845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107958981197546845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_03_14_archive.html#107958981197546845' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107812862703509234</id><published>2004-03-01T15:09:00.000+07:00</published><updated>2004-03-01T15:13:22.780+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>cerpen &lt;strong&gt;"MALAM KIAN KELAM"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APRESIASI oleh Agustinus 'Onoy' Wahyono:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini mengisahkan satu (saya bingung menyebut: seorang, sebuah,&lt;br /&gt;suatu, atau apa) malaikat pencabut nyawa yang sedang menunaikan tugas&lt;br /&gt;utama di sebuah bangsal rumah sakit. Kali ini nyawa yang akan&lt;br /&gt;dicabutnya adalah milik seorang lelaki sekarat dari kelas ekonomi&lt;br /&gt;miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berani menuduh bahwa tokoh "aku" adalah "malaikat pencabut&lt;br /&gt;nyawa", tentu saja dengan bukti-bukti otentik (waduh!) yang saya&lt;br /&gt;temukan pada kasus ini. Pertama, "membawa arwahnya (arwah milik&lt;br /&gt;lelaki sekarat itu – Agts.) pergi", dan, kedua, "pekerjaan ini telah&lt;br /&gt;aku jalani berjuta-juta kali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya saya ungkapkan, bahwa cerpen ini sangat menarik dalam&lt;br /&gt;penggambaran suasananya melalui detail benda-bendanya. Kipas angin,&lt;br /&gt;sarang laba-laba, dinding abu-abu kusam, bercak-bercak merah, noda-&lt;br /&gt;noda kuning, dan lain-lain. Setting lokasi dan suasana ditampilkan&lt;br /&gt;oleh pengarang ini membuat saya bisa leluasa berimajinasi. Pengarang&lt;br /&gt;sanggup menampilkan (showing) keadaan lingkungan bangsal rumah sakit&lt;br /&gt;yang sesuai dengan pasien yang berasal dari lingkungan serupa,&lt;br /&gt;kondisi lelaki yang sekarat dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya sangat salut pada hasil pengamatan pengarang ini.&lt;br /&gt;Diantara 24 cerpen yang saya apresiasikan, hanya cerpen ini yang&lt;br /&gt;mampu menggambarkan setting benda, lingkungan, dan situasi secara&lt;br /&gt;detail. Keseriusan pengarang dalam mengoptimalkan suasana, perabotan&lt;br /&gt;dan ekspresi / manifestasi tokoh-tokohnya memang patut saya acungi&lt;br /&gt;jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, maaf, ada beberapa hal yang mengganjal dalam tempurung&lt;br /&gt;kepala saya setelah saya membaca cerpen ini secara serius dan&lt;br /&gt;terkagum-kagum. Apa sajakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, Sidang pembaca yang terhormat.&lt;br /&gt;Pertama, saya menemukan suatu kondisi ganjil pada perkenalan cerpen&lt;br /&gt;ini. Di situ pengarangnya menulis, "Kipas angin tergantung lesu di&lt;br /&gt;langit-langit, terperangkap sarang&lt;br /&gt;laba-laba berputar lambat jelmakan bayangan muram merayapi dinding&lt;br /&gt;abu-abu kusam bangsal rumah sakit itu". Ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja: sebuah kipas angin terperangkap sarang laba-laba,&lt;br /&gt;tetapi kipas angin itu masih berputar meski lambat. Ya kasihan laba-&lt;br /&gt;labanya dong! Sia-sia saja hewan itu membangun rumah di kipas angin&lt;br /&gt;yang berputar. Dan, bagaimana laba-laba itu bisa serius membuat rumah&lt;br /&gt;pada saat kipas angin berputar meski lambat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saya hanya disuguhi kondisi yang tidak boleh saya ketahui tapi&lt;br /&gt;ditampilkan oleh pengarangnya. Oh ya? Saya temukan itu pada paragraf&lt;br /&gt;kedua, "Pikiranku terasa penuh seperti genangan air kemih dalam&lt;br /&gt;tempolong yang minta segera di buang ke kakus, setelah lewat jaga jam&lt;br /&gt;pertama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebab-musababnya dan apa faedahnya, saya sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;Entah mengapa kondisi tersebut dijejalkan pada cerpen ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bukan sulap, bukan sihir. Belum juga terjadi, tetapi sudah&lt;br /&gt;menimbulkan efek samping. Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba baca baik-baik kalimat berikut ini. Aku jadi ingin bercakap&lt;br /&gt;dengan angin, "Maafkan aku kawan.sesungguhnya tak ada yang dapat&lt;br /&gt;kuperbuat untukmu sekarang, karena kau sendiri yang mencuri hidupmu."&lt;br /&gt;Dan lanjutannya, "Kulihat air mata mengalir dari ujung mata lelaki&lt;br /&gt;itu seolah ia mengerti arti gumamku barusan," tulis pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja "ingin bercakap", pengarang sudah mengatakan "gumamku&lt;br /&gt;barusan". Waduh, kasihan sekali, sehingga menggulirkan air mata yang&lt;br /&gt;semula tertahan di ujung mata lelaki sekarat itu. Di situ pengarang&lt;br /&gt;sudah melakukan intimidasi atau teror psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, keempat dan seterusnya, tentang tema dan penokohannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema-tema alam roh semacam ini membuat saya harus kembali membuka&lt;br /&gt;kamus bahasa Indonesia yang berkaitan dengan: roh itu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut W.J.S. Poerwadarminta (1986), roh (=ruh) adalah:&lt;br /&gt;1) sesuatu yang hidup yang tidak berbadan jasmani, yang berakal budi&lt;br /&gt;dan berperasaan (spt malaikat, setan, dll);&lt;br /&gt;2) jiwa; badan halus;&lt;br /&gt;3) semangat; terbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bagaimana relevansinya dengan cerpen ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pada cerpen ini tokoh "aku" sebagai malaikat pencabut nyawa&lt;br /&gt;tidak sungguh-sungguh menjadi dirinya seutuhnya. Hal ini saya lihat&lt;br /&gt;pada kalimat-kalimat: "semut-semut merah serasa menjalari kaki,&lt;br /&gt;menggerumuti tubuhku sedikit demi sedikit", dan "dingin malam terasa&lt;br /&gt;menggigit lebih dari biasanya, menusuk merembes lewat pori-pori&lt;br /&gt;dinding langsung menembus jubah malamku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran. Jika berdasarkan defenisi yang disampaikan oleh&lt;br /&gt;Poerwadarminta bahwa roh itu tidak berbadan jasmani, jelas "rasa&lt;br /&gt;kesemutan" dan "rasa dingin" itu tidak berlaku pada sosok malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saya menemukan kalimat-kalimat yang meragukan. "Aku dapat&lt;br /&gt;membaca pikiran dan kegelisahannya, sekali pun kabur seperti titik-&lt;br /&gt;titik embun dalam cadar kabut,: tulis pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, wajar demikian. Saya sepakat. Artinya, "aku" sebagai "malaikat",&lt;br /&gt;tentu saja mengetahui kejadian-kejadian sebelumnya dan kecemasan&lt;br /&gt;tertentu yang dialami oleh lelaki itu sehingga membuat manusia itu&lt;br /&gt;gelisah. Sebagai malaikat, "aku" pun bisa leluasa beterbangan ke mana-&lt;br /&gt;mana untuk melihat situasi lainnya, baik di bangsal itu maupun latar&lt;br /&gt;belakang kehidupan laki-laki naas itu di rumah kardusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya terkejut membaca bagian lain dalam cerpen ini.&lt;br /&gt;Pengarangnya menulis, "Terlihat pandangan pasrah wanita itu, mungkin&lt;br /&gt;saja ia istri lelaki itu dan juga tangan penuh koreng tengadah milik&lt;br /&gt;bocah lelaki yang mungkin saja anaknya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho? Bagaimana bisa "aku" tidak yakin pada tokoh-tokoh lainnya itu&lt;br /&gt;dengan mengatakan "mungkin saja ia istri lelaki itu" dan "bocah&lt;br /&gt;lelaki yang mungkin saja anaknya"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, sampeyan jangan begitu dong, Mas. Saya ini terlanjur&lt;br /&gt;membayangkan malaikat maut ciptaan sampeyan itu tampil sebagaimana&lt;br /&gt;lazimnya, kok kenyataannya pada cerpen sampeyan ini malaikat itu&lt;br /&gt;tidak yakin pada tokoh lainnya dengan menyebut kata "mungkin". Coba&lt;br /&gt;tanyakan lagi pada malaikat sampeyan itu apabila sampeyan belum yakin&lt;br /&gt;pada kebenaran yang sampeyan tuliskan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan endingnya tidak membuat surprise apa-apa yang dapat&lt;br /&gt;menancapkan kesan kuat pada diri saya tentang cerpen yang berplot&lt;br /&gt;tertutup ini. Hanya sebuah laporan hasil kerja dari satu (seorang,&lt;br /&gt;sebuah atau suatu?) malaikat pencabut nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, plot cerpen ini tampak runtut dari perkenalan&lt;br /&gt;hingga akhirnya, dan tanpa terjadi suspens-suspens yang mengasyikkan,&lt;br /&gt;semisal terjadi sengketa nyawa dengan setan. Saya mencurigai&lt;br /&gt;pengarangnya terlalu bernafsu mengekploitasi estetika kata, sehingga&lt;br /&gt;ia tidak menyadari kata-kata sudah menyeleweng ke mana-mana dari&lt;br /&gt;logikanya seperti beberapa kejanggalan yang telah saya sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =&lt;br /&gt;Cerpen "Malam Kian Kelam" ini saya beri nilai 6&lt;br /&gt;Ini tindak balas dendam atas kematian orang miskin tersebut!&lt;br /&gt;Bukannya ditolongin kek, malah hak hidupnya dicabut!&lt;br /&gt;= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107812862703509234?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107812862703509234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107812862703509234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_29_archive.html#107812862703509234' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107812832272181098</id><published>2004-03-01T15:04:00.000+07:00</published><updated>2004-03-01T15:10:55.843+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&gt; Judul Cerpen: &lt;strong&gt;MALAM KIAN KELAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&gt; Nilai: 7,5&lt;br /&gt;&gt; Pemberi Komentar:Budiani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan cerpen ini pada kemampuan penulis yang pandai dan kaya akan kosa&lt;br /&gt;kata dalam menggambarkan suatu keadaan dan ide ceritanya yang agak unik.&lt;br /&gt;Juga kejutan yang cantik di akhir cerita dan imajinasi penulis yang cukup&lt;br /&gt;kreatif, membuat cerita ini bagus dan enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal cerita yang mengalir , diceritakan tentang tokoh Aku yang menunggu&lt;br /&gt;seseorang yang sakit yang dalam kondisi sekarat, merenggang nyawa. Sampai&lt;br /&gt;disini sebagai pembaca saya belum menyadari siapa tokoh Aku ini sebenarnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di akhir cerita dituliskan dalam kalimat sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan laki-laki di atas pembaringan itu pun barangkali tak akan pernah&lt;br /&gt;menyadari bahwa aku sudah begitu dekat dengan dirinya hanya sebatas&lt;br /&gt;degupan jantung, hingga waktu itu pun tiba, pukul 11 lewat 55 tepat&lt;br /&gt;saatnya bagiku mengucapkan salam, mengecup kening laki-laki itu dan&lt;br /&gt;membawa arwahnya pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kejutan yang cantik sekali untuk sebuah akhir cerita.&lt;br /&gt;Ternyata tokoh aku bukan sbg sosok manusia tetapi sebagai sosok malaikat&lt;br /&gt;pencabut&lt;br /&gt;nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang menganjal, kalau boleh disebut sbg ganjalan yaitu ternyata&lt;br /&gt;(seorang)malaekat itu bisa kedinginan juga yaa :) juga terlihat agak cuek /&lt;br /&gt;kurang lembut (perasaannya) .&lt;br /&gt;Ataukah sosok malaikat pencabut nyawa selalu identik dengan sosok yang&lt;br /&gt;tegaan ?. Entahlah mungkin hanya penulisnya yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107812832272181098?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107812832272181098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107812832272181098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_29_archive.html#107812832272181098' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107778210035451466</id><published>2004-02-26T14:54:00.000+07:00</published><updated>2004-02-26T14:57:49.966+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>From:  &lt;strong&gt;"sonydebono" &lt;/strong&gt;&lt;sonydebono@y...&gt; &lt;br /&gt;Date:  Fri Feb 20, 2004  1:20 pm&lt;br /&gt;Subject:  Re: Sajak Yang Baik Tidak Membutuhkan Pembelaan, Begitukah???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitukah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa seorang penyair akan mati setelah karyanya dirilis bisa jadi&lt;br /&gt;benar tapi apakah dia tidak bisa menjelma menjadi seorang `pembaca'&lt;br /&gt;atas karyanya,&lt;br /&gt;Bahwa ketika dia melancarkan otokritik terhadap karyanya adalah&lt;br /&gt;karena dia berada diwilayah pembaca dan bukan penulis karenanya&lt;br /&gt;tafsir atas seni akan menjadi relatif dan bukan mutlak berbau&lt;br /&gt;pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa sebuah karya akan otonom adalah kemutlakan dan dengan begitu&lt;br /&gt;apa yang menjadi opini penulis adalah bisa dilihat sebagai opini&lt;br /&gt;seorang pembaca saja; karena bisa jadi sebuah karya adalah lahir&lt;br /&gt;sebagai hasil kerja sub-concious&lt;br /&gt;Dimana tak disadarinya sampai dia menjadi seorang pembaca atas&lt;br /&gt;karyanya sendiri, dan tentunya segala aktifitas otokritik penulis&lt;br /&gt;terhadap karyanya adalah sangat subyektif dan belum tentu essensi&lt;br /&gt;bagi karya itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa karya bermutu tak perlu menjelaskan dirinnya adalah sangat&lt;br /&gt;mungkin Sebagai contoh La Jaconde, oleh Leonardo Da Vinci bisa&lt;br /&gt;bertahan dan membuktikan dirinya atas kritik bahwa dia adalah karya&lt;br /&gt;dengan senyum misterius yang bahkan mungkin tidak disadari oleh&lt;br /&gt;Leonardo Da Vinci itu sendiri, begitupula kritik oleh Freud juga&lt;br /&gt;hanya memberi sudut pandang yang juga sangat obyektif, lalu apakah&lt;br /&gt;polemik akan menjadi pudar dan menjadi pembelaan bila Leonardo&lt;br /&gt;mengkritisi sendiri karya-nya, yang tentunya karya adalah perspektif&lt;br /&gt;itu saja setelahnya terserah anda (anda disini termasuk penulisnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah hal haram bagi penulis untuk mengkritisi karyanya sendiri&lt;br /&gt;Namanya juga apresiasi yang kejam dan kanibal semua boleh bersuara,&lt;br /&gt;dengan sendirinya karya itu akan bersifat estetis egaliter, tidak ada&lt;br /&gt;beda penulis dan pembaca atas apresiasi karya sastra. Dan hal ini&lt;br /&gt;tidak otomatis implikatif merusak sajak yang baik menjadi buruk,&lt;br /&gt;sajak yang baik tetap sajak yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan Titon:&lt;br /&gt;terimakasih atas tanggapan Bang Sony, dan saya pikir banyak&lt;br /&gt;kesepahaman kita tentang masalah ini, juga soal otokritik itu;&lt;br /&gt;bagaimana pun persepsi penyair atas karyannya dan peran dia setelah&lt;br /&gt;menjelma jadi 'pembaca' begitu karya itu dipublikasikan akan selalu&lt;br /&gt;di'curigai'sebagai sebuah 'kecenderungan keberpihakan', semata-mata&lt;br /&gt;karena sifat subyektif dari interpretasinya. Apakah si penyair&lt;br /&gt;sanggup melepas kacamata subyektifnya barangkali itu yang akan&lt;br /&gt;menjadi sebuah pertanyaan dan publik yang demikian majemuk selalu&lt;br /&gt;dipenuhi dengan kecurigaan-kecurigaan semacam itu, karena itu saya&lt;br /&gt;cenderung setuju pada konvensi untuk sejauh mungkin&lt;br /&gt;menghindari 'pembelaan' atas karya sendiri sekali pun sebenarnya&lt;br /&gt;otokritik bisa muncul untuk menghujat karya sendiri, namun toh pada&lt;br /&gt;kenyataannya yang semacam ini hampir-hampir tidak pernah kita&lt;br /&gt;temukan. Dan selanjutnya biarkan karya-karya itu membela dirinya&lt;br /&gt;sendiri karena saya juga yakin bahwa karya yang baik adalah tetap&lt;br /&gt;merupakan karya yang baik betapa pun langit rubuh, dan kita tak&lt;br /&gt;sanggup lagi berkata-kata. terimakasih&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107778210035451466?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107778210035451466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107778210035451466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_22_archive.html#107778210035451466' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107778194171110940</id><published>2004-02-26T14:51:00.000+07:00</published><updated>2004-02-26T14:55:11.356+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>From:  &lt;strong&gt;entahlah e n t a h&lt;/strong&gt; &lt;entahlahentah@y...&gt; &lt;br /&gt;Date:  Sun Feb 22, 2004  11:48 pm&lt;br /&gt;Subject:  Re: [Penyair] Kitsch, Karya Sastra Tanpa Nilai Sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cuma sebuah kitsch yang tentu saja bukan bertujuan untuk menyampaikan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menanggapi atau menimbulkan apapun (apalagi menggerakkan jiwa). Tanpa tujuan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesuai kodratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH KITSCH UNTUK TITON&lt;br /&gt;: )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia datang. Bilang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ada beberapa entah apa yang dibuat hanya untuk ada, ingin ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kata-kata, yang beberapa, karena takut dosa, tak berani aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membebaninya dengan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja. Maaf, kalau tak indah. Nyaris sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sudah? Sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa apa? Lagipula, tidakkah kau lupa akan sperma-spermanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang membuahi sel rasa? Mengapa kau hianati dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, tidakkah kau lihat di depan? Sudah penuh sampai rubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi dia bilang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa ... dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga rasa, jadi rasa, bisa, ...rasanya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keranjang? Iya ... rubuh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi kamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudahmu, sudahlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar di balik pintu, di ruang tamu. Sampai kemudian kusadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada racun di teh yang kuminum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02/2004&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107778194171110940?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107778194171110940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107778194171110940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_22_archive.html#107778194171110940' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107725345134127687</id><published>2004-02-20T12:02:00.000+07:00</published><updated>2004-02-20T12:07:18.686+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kelahiran Sebuah Era, Di tengah Mitos Dan Tantangannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Titon Rahmawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik sekali membaca tulisan saudara Asep Sambodja yang dimuat dalam situs ini yang bertajuk ”Orang Tua Sebagai Sisyphus“. Rasa-rasanya kejengkelan saudara Asep dalam tulisan tersebut sangat beralasan, selama ini kita memang telah terkekang oleh berbagai mitos dan berbagai pandangan stereotype yang membelenggu kehidupan kita. Mitos yang membawa keengganan, ketakutan dan kekecewaan. Mitos yang tanpa kita sadari telah mengucilkan diri kita sendiri dari pentas dunia, boleh jadi mitos itu ada bersama kelahiran kita, tumbuh bersama kita dan lambat tapi pasti membelenggu jiwa kita, mitos yang secara tidak langsung telah memasung ide dan pemikiran kreatif. Kita terlanjur menerima saja dominasi dari orangtua yang selama ini berperan sebagai pihak yang memegang otoritas, begitu pula dalam dunia perpuisian di negeri ini di mana otoritas itu tampaknya telah didominasi oleh mereka yang mentahbiskan diri sebagai para penyair papan atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup dalam hegemoni yang membutuhkan pengakuan identitas padahal sebenarnya identitas adalah soal atribut, sekedar symbol yang kalau kita kaji lebih jauh tidak akan punya arti apa-apa. Dalam konteks kepenyairan ini atribut seorang penyair hanya mempunyai makna bila ada karya-nya yang berbobot, unggul dalam kualitas, sekali pun kualitas sebuah karya bagaimanapun tidak terlepas dari penilaian yang sifatnya kadang sangat subyektif. Subyektif dalam penafsiran dan pemahaman nilai dari karya itu sendiri dilihat secara kontekstual. Saya jadi teringat  pada kelahiran musik Rock &amp; Roll  yang kemudian menobatkan Elvis Presley menjadi raja dan begitu pula perjalanan karir The Beatles yang menciptakan revolusi dalam industri musik Pop. Bagaimanapun perjalanan mereka tidak terlepas dari kungkungan hegemoni dan mitos yang beredar pada masa itu yang terlanjur mendakwa Rock &amp; Roll dan musik The Beatles adalah sampah. Namun sejarah mencatat dan membuktikan bahwa penilaian subyektif sebuah masa (era) seringkali tidak bisa mewakili era atau masa yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian terhadap suatu karya seni bagaimanapun bentuknya harus kita kembalikan pada suatu konteks dan realitas yang berlaku pada suatu masa, karena realitas senantiasa berubah begitu pun dengan konteks suatu masalah selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Benarlah anggapan bahwa kita tak bisa semata-mata memandang pada isi (substansi) karena pada masa kini kemasan pun memegang peranan yang sama pentingnya, akan tetapi pandangan ekstrem yang menyatakan bahwa tai yang dikemas dengan bagus  akan lebih laku daripada puisi yang dikemas secara asal-asalan sebagaimana dinyatakan oleh presiden penyair Sutardji Calsoum Bachri adalah sebuah ungkapan arogan yang bahkan menyakitkan hati. Kalau Sutardji yang mengaku mantan pemabuk dan kini sedang ngebut di jalan lurus itu mengeluarkan pernyataan sedemikian rupa sudah selayaknya kita mempertanyakan kearifannya, barangkali itu merupakan sebuah pernyataan sinisme semata, tapi begitulah realitas orang tua kita, tak pernah bisa terlepas dari sikap apriori, menuduh, menyalahkan, mencemooh, egois dan tak hentinya mengecam sebuah kenyataan yang sangat stereotype, dan kita sudah kenyang dengan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cybersastra dengan segala keberadaannya sekarang bagaimanapun adalah sebuah statement, pernyataan sikap dari “para penulis puisi” era teknologi informasi ini sebagaimana dulu Sutardji menyampaikan kredo kepenyairannya. Cybersastra adalah sebuah pertanda kelahiran sebuah era baru, perubahan zaman di mana kita orang muda telah mengeksplorasi kemungkinan baru, wadah ekspresi baru, artikulasi baru, wacana baru, yang mutakhir, yang up to date yang tidak semata-mata berpijak pada warisan tradisi. Kalau orang tua tidak bisa menerima itu sebagai sebuah perubahan karena mereka masih tinggal dalam realitas yang lama, mereka masih tenggelam dalam mitos-mitos lama dan memungkiri kenyataan bahwa era mereka sudah surut, telah terbenam dan saatnya matahari baru menyingsing, melahirkan muka-muka baru, semangat baru dan berarti pula munculnya tantangan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cybersastra adalah pertanda kelahiran sebuah era yang harus dicatat, dan ia telah menjejakkan langkah pertamanya dengan “Graffity Grattitude” adapun tantangan yang sekarang harus dihadapi adalah melepaskan diri dari mitos yang selama ini membelenggunya; mitos Sutardji, mitos Sapardi, mitos Rendra, mitos Putu. Saya acungkan jempol buat Asep Sambodja yang telah berani membunuh mitos Sapardi dalam dirinya dan saatnya pula bagi rekan-rekan yang lain untuk menunjukkan identitas diri sendiri, identitas generasi ini. Kita tak bisa terus menerus memakai orang tua sebagai patron, benar kita harus berterimakasih pada Amir, Rustam, Chairil, Sitor, Rendra, Putu, Sutardji, Sapardi dan para pendahulu lainnya karena mereka telah menunjukkan jalan, sekarang saatnya bagi kita berjalan dengan langkah mantap untuk dapat menemukan jati diri. Itulah tantangan kita hari ini, Hidup Cybersastra. Hidup puisi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 juni 2003 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di http:/www.Cybersastra.net/ 04/07/2003&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107725345134127687?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107725345134127687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107725345134127687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_15_archive.html#107725345134127687' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107724750073203844</id><published>2004-02-20T10:24:00.000+07:00</published><updated>2004-02-20T10:27:42.280+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Karya Sajak Yang Baik Tidak Membutuhkan Pembelaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Titon Rahmawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;Sajak yang baik adalah sajak yang mampu berdialog dengan pembacanya, yaitu sajak  yang sanggup meninggalkan kesan di dalam diri kita begitu kita selesai membacanya, apakah itu berupa sebuah pemikiran , perasaan terharu, sedih gembira,  atau ungkapan perasaan lainnya. Dengan kata lain sajak sebagai sebuah struktur yang otonom sanggup menciptakan impresi secara langsung kepada pembacanya tanpa memerlukan perantaraan orang lain untuk membantu memberikan penjelasan lebih lanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak diperlukan orang lain untuk meraih pemaknaan atas sebuah sajak, apakah itu bantuan seorang kritikus atau pun juga penyairnya sendiri, karena sajak adalah sebuah teks yang merdeka untuk ditafsirkan karena setiap sajak memiliki dimensi yang begitu kaya. Itulah esensi sebenarnya dari sebuah sajak dimana letak baik dan buruknya semata-mata dapat dipahami dari seluruh tubuh sajak itu sendiri sebagai obyek pembacaan. Bahkan sebuah parafrase tidak dapat diterima sabagai pengganti eksistensi sebuah sajak karena parafrase dibuat semata-mata untuk menyingkap tabir di balik sajak tapi dia bukanlah sajak itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini pandangan yag menyatakan bahwa penyair mati setelah sebuah sajak selesai ditulis dan kemudian dipublikasikan memperoleh titik temunya. Begitu sajak selesai ditulis dan dirilis ke publik ia telah sah menjadi obyek sebuah penilaian, dengan kata lain si penyair telah merelakan anak kandungnya itu masuk ke dalam dunia apresiasi yang seringkali kejam dan tidak berperasaan. Sebuah realitas yang barangkali tidak disadari oleh   mereka yang baru mulai menulis dan ingin menjadi penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala pendekatan kritik terhadap sajak yang menghasilkan sebuah penilaian yang positif atau pun negatif harus dilihat sebagai sebuah perspektif pembacaan, dari sekian banyak perspektif yang mungkin, karena itu saya menilai segala bentuk pembelaan oleh seorang penyair atas karyanya yang dipublikasikan perlu dicurigai sebagai bentuk mencari pembenaran diri sendiri dan membuat karya itu semakin jauh dari kebenaran universal. Bagaimanapun apresiasi adalah hak pembaca sepenuhnya dan segala bentuk intrepretasi lewat tulisan kritik boleh dipandang sebagai suatu bentuk opini. Sejauh ini telah berlaku konvensi dikalangan para penulis dimana pun untuk menghindarkan diri mengkritisi karya sendiri untuk menjamin obyektivitas, karena itu saya yakin segala bentuk pembicaraan atas sebuah sajak oleh penyairnya sendiri pasti cenderung menjadi sebuah pembelaan, penyair bisa terpeleset untuk memalsukan realitas karyanya, dan  pembaca akan menilai hal itu sebagai sebuah usaha yang sia-sia. Apresiasi sekali lagi adalah hak pembaca sepenuhnya, dan tentu saja buat para penulis yang berkeberatan untuk dikritisi sebaiknya mereka menyimpan karya-karyanya itu dalam laci yang terkunci rapat agar tidak ada orang yang bisa menilai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesungguhnya pula karya yang baik sama sekali tidak membutuhkan pembelaan karena ia mampu secara obyektif menunjukkan kualitasnya, ia mampu memancarkan cahayanya sendiri sekali pun kritik datang bertubi-tubi, ia akan tetap bersinar memancarkan keindahannya karena karya yang baik selalu mengandung kebenaran universal itu, dan siapa yang sanggup membungkam kebenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kita mesti waspada terhadap kritik, baik saat melancarkan kritik atau pun dalam menerima kritik karena pisau kritik memiliki dua mata, tidak semua kritik dapat diterima sebagai sebuah tinjauan yang bermutu atau memberikan gambaran apresiasi yang tepat, bahkan kritik bisa dipakai pula sebagai ajang untuk menunjukkan rasa suka dan tidak suka yang bisa berujung pada perdebatan tiada putusnya yang justru akan membuat pembaca menjadi muak karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kenyataan di atas terasa berlebihan akan tetapi polemik seputar pertentangan itu bukanlah barang baru dikalangan penulis. Jadi apa yang bisa dipakai sebagai pegangan oleh pembaca adalah mengembalikan pertentangan itu pada esensi dari karya itu sendiri. Pembaca akan memperoleh lentik cahaya kebenaran dari setiap karya yang baik, jadi sesungguhnya seorang penyair yang baik tidak perlu mengkhawatirkan nasib sajak-sajaknya, bila karya-karya itu sungguh bernilai pastilah ia mampu dan sanggup bertahan dari terpaan kritik yang bagaimana pun derasnya dan kritik sebagai sebuah wacana berpikir tetaplah diperlukan untuk mengantarkan pembaca ke depan pintu apresiasi tanpa harus mencampuri keberadaan teks itu sendiri sebagai sebuah struktur yang otonom karena sebuah kritik adalah sebuah karya sastra juga yang memiliki peluang yang sama terbukanya untuk terus diuji dan diuji kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru kritik lahir setelah diilhami sebuah karya dan kritik berperan untuk menyodorkan sebuah alternatif pendekatan atas keberadaan sebuah teks, dari sekian banyak alternatif yang mungkin. Diterima atau tidaknya penafsiran itu juga berpulang kepada pembaca karya itu sendiri, kesan apa pun yang muncul oleh sebuah kritik pastilah bukan merupakan sebuah hasil apresiasi yang final, dan pembaca tentu saja memiliki hak penuh untuk menilai dan  memperbandingkan tawaran-tawaran itu kembali, demikianlah proses sebuah apresiasi yang wajar atas sebuah sajak mau pun karya sastra lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2004.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107724750073203844?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107724750073203844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107724750073203844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_15_archive.html#107724750073203844' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107716226997012500</id><published>2004-02-19T10:42:00.000+07:00</published><updated>2004-02-19T10:47:09.903+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;From:  "Budhisatwati KUSNI" &lt;katingan@c...&gt; &lt;/strong&gt;Date:  Mon Feb 16, 2004  5:20 pm&lt;br /&gt;Subject:  KRITIK,MENYIKAPI KRITIK DAN DEBAT IDE&lt;br /&gt;Are You a Woman 25-54?&lt;br /&gt;If You lose that first 3-8lbs quickly and then HIT a brick wall,&lt;br /&gt;InstaTrim has a weight Loss Package that is designed to help you&lt;br /&gt;Break through that wall and help you achieve your goals.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN BUDAYA:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KRITIK, MENYIKAPI KRITIK DAN DEBAT IDE&lt;br /&gt;[Menyambut Himbauan Titon Rahmawan]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artikel Titon Rahmawan, "Membudayakan Kritik: Bersedia Memberi Bersedia Menerima" yang disiarkan oleh milis koran-sastra@yahoogroups.com [16 Februari 2004] merupakan artikel pendek bernas, sekaligus disertai oleh kerendahan hati dan keterbukaan diri yang menandai perangai seorang pencari. Ciri-ciri ini sebenarnya bukan hanya diperlihatkan oleh Titon Rahmawan [selanjutnya aku sebut dengan Titon] dalam artikel di atas saja tapi telah nampak dalam tulisan-tulisannya yang lain, baik berupa artikel ataupun sanjak. Tentu saja hal begini tidak mengherankan karena kurang-lebih tulisan atau karya, tidak lain dari terjemahan diri penulis atau penciptanya itu sendiri.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku garis bawahi sikap ini karena seperti yang dikatakan oleh Titon, terutama di Indonesia, "sebagian besar orang lebih suka menerima pujian daripada kritik, [....] karena kritik seringkali diterima sebagai sikap oposisi, suatu bentuk ketidaksepahaman yang cenderung dipandang dari konotasinya yang negatif". Aku sendiri tidak jarang mendadak-sontak dicaci-maki sebagai "bajingan", "preman pasar", dan lain-lain kata sifat bermakna negatif ketika mengajukan pendapat terhadap karya-karya yang sudah disiarkan. Tentu saja, ulah begini tidak pernah mau aku layani karena samasekali tidak memberikan manfaat, apalagi menambah wawasan dan pengetahuan apapun, kecuali kejengkelan yang tak perlu. Sikap terhadap kritik seperti di atas, kukira tidak berdiri sendiri, tapi berkaitan dengan sistem nilai dominan dalam suatu masyarakat yang merasuki bawah sadar  lalu mengental sebagai pola pikir dan sikap mental mayoritas penduduk. Masyarakat paternalistik, otoriter dan militeristik [lebih-lebih di dunia kemiliteran yang tidak bersifat kerakyatan dan pembebasan] menganggap kebenaran adalah hak monopoli pihak atasan [termasuk elite dan yang merasa diri elite seta berpendidikan formal sehingga merasa diri serba tahu dan hebat], baik karena jabatan, posisi atau pun usia. Menggugat dan menyentuh monopoli bertentangan dengan dan bahkan mengancam kepentingan mereka.Dengan anggapan begini maka kritik dipandang sebagai menjatuhkan serta hinaan lalu tanpa menggunakan nalar lagi yang merasa dikritik atau memang dikritik menjadi berang, tersinggung dan mencak-mencak kehilangan akal sehat lantas mengumbar segala cacimaki tak obah laiknya seorang jagoan sejati. Padahal sesungguhnya ulah demikian tidak lain dari varian serta pernyataan hari-hari dari paternalisme, otoritarianisme dan militerisme yang mungkin di mulut yang terkait menyatakan tantangan serta mengaku diri sebagai demokrat. Lain keinginan dan pengakuan,  lain pula perbuatan nyata.Sehingga kita menjadi munafik. Ulah tersebut sebenarnya memperlihatkan dan dengan terus-terang  polos mengatakan: "Inilah kualitas, taraf dan diriku!". Seperti diketahui oleh umum, Indonesia selama tiga dasawarsa lebih didominasi oleh paternalisme, otoritarianisme, neo-feodal dan militerisme yang bahkan menganggap kritik bukan hanya hinaan tapi sama dengan tindak subversif. Pertanyaan yang erat hubungannya dengan kritik dibunuh. Satu generasi tumbuh dan besar secara fisik di bawah asuhan sistem nilai tersebut. Bertanya, mawas diri, kemampuan mendengarkan, rendah hati dan mencari, menjadi sesuatu yang langka serta asing dari jalan kisah kembara jiwa dan pikiran.Tanpa daya kritik dan budaya kritik, jiwa dan pikiran mandeg seperti hidup asal hidup. Diri kita hanya menjadi alat jinak pemegang monopoli kebenaran. Sistem nilai demikian menyukai jalan pintas yang penuh kekerasan yang menyebabkan bangsa ini sakit keras, termasuk angkatan yang tumbuh membesar secara fisik di bawah asuhannya. Dengan latarbelakang inilah maka seperti yang  ditulis oleh Titon:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"......segala bentuk kritik tidak dapat di terima sebagai sebuah bentuk relasi antar personal yang dapat hadir dengan sewajarnya. Benarkah budaya ini yang mendorong kita menjadi alergi terhadap segala bentuk kritik? Sehingga segala bentuk wacana kritik yang diharapkan menjadi sebuah pertukaran pemikiran yang ilmiah dan dewasa justru akhirnya berkembang menjadi sebuah debat kusir untuk mencari pembenaran atas pandangan masing-masing, adalah sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan karena hal demikian sering kita lihat di mana-mana bahkan di antara kalangan paling terpelajar sekali pun". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sikap Titon ini memperlihatkan bahwa sekalipun ia juga tumbuh diasuh oleh sistem paternalistik, otoritarianisme dan militeristik Orde Baru, tapi Titon bisa atau paling tidak dengan sadar mencoba melepaskan diri dari jeratan sistem nilai, pola pikir dan mentalitas yang mengasuhnya. Titon mau memberi dan menerima kritik. Hanya saja aku ingin membedakan antara dua pengertian yaitu antara yang "terpelajar" dan "yang berpendidikan formal". "Terpelajar" bagiku mengandung pengertian "tahu adat" alias berbudaya, punya sikap ilmiah, mampu mendengar pendapat orang lain dan berani menerima kebenaran orang lain, menghargai orang lain sebagai anak manusia, sedangkan orang-orang yang berkesempatan mendapatkan "pendidikan formal" belum tentu terpelajar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang yang terpelajar bakal paham bagaimana siklus praktek-persepsi-konsepsi-praktek merupakan suatu proses tak terelakkan dalam mencapai ilmu-pengetahuan yang membuatnya memberi tempat penting pada kritik. Orang yang terpelajar juga bisa membedakan jenis-jenis kontradiksi sehingga tahu bagaimana kritik itu disampaikan sesuai dengan sifat kontradiksi tersebut. Kritik yang berlangsung dalam lingkup kontradiksi di kalangan rakyat tentu akan berbeda caranya dari yang berada dalam lingkup kontradiksi antara rakyat dengan lawan-lawannya. Dalam melancarkan kritik inipun, orang yang terpelajar akan tahu mana yang pokok dan tidak pokok, mana yang menentukan dan primer serta mana yangt tidak menentukan serta sekunder. Pendidikan formal tidak otomatis membuat orang itu jadi terpelajar sekalipun benar bahwa pendidikan formal bisa membantu seseorang menjadi terpelajar. Kutipan dari buku ini dan itupun bukanlah petunjuk serta bukti bahwa seseorang itu telah menjadi terpelajar. Apalagi membaca dan membaca itu juga bersifat macam-macam. Membaca adalah suatu kegiatan yang menuntut kemampuan tertentu.Usai membaca sebuah buku, belum berarti kita paham dan menangkap isi serta pesan apa yang kita baca. Karena itu gelar akademi bukanlah jaminan otomatis bahwa seseorang itu telah menjadi terpelajar. Tidak juga menjamin orang pintar, lebih-lebih jika terlepas dari siklus ilmu-pengetahuan di atas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang-orang yang terpelajar ketika menyampaikan pendapat, juga tidak pernah dan tidak bakal berangkat dari anggapan bahwa pendapat-pendapatnya merupakan patokan kebenaran. Apa yang diajukannya tidak lebih dari suatu acuan dan ajakan untuk hadirnya pandangan lain. Hadirnya pandangan lain memberikan syarat bagi lahirnya suatu debat ide. Debat ide sama sekali bukan  caci-maki dan eyel-eyelan. Dalam debat ide, yang diadu adalah argumen dan data. Para peserta debat-ide mencoba bersama-sama mencari dan mendekati kebenaran sedekat mungkin. Dengan mencengkam tujuan ini maka peserta debat ini sanggup mengatakan keliru pada yang keliru di pihaknya dan tidak merasa kehilangan muka, serta memberikan tempat layak pada kebenaran yang ada pada teman debatnya. Bertolak dari sifat debat ide seperti di atas, maka para pesertanya menyiapkan diri dengan tumpukan data dan acuan yang padan guna menopang argumen-argumen serta kesimpulan sementaranya. Debat ide sungguh berbeda dari pokrol-bambu ataupun "debat kusir". Juga tidak mempunyai kemiripan dan kedekatan apapun dengan saling cerca, gertak ataupun gertak kepongahan yang hampa. Dengan persiapan dan mutu pengetahuan, data dan keruntunan logika, dari para peserta debat ide demikian maka  kita akan menyaksikan suatu debat ide yang bermutu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau metode debat ini diterapkan dalam dunia sastra-seni, kukira, ia akan banyak membantu peningkatan taraf apresiasi sastra-seni masyarakat. Melalui debat-ide, kritik kontra kritik demikian, baik para peserta debat ide maupun pembaca, pendengar dan pemirsa akan saling belajar, saling memberi dan menerima masukan-masukan baru sehingga setelah usai, semuanya tersenyum gembira karena merasa telah mendapatkan sesuatu yang berharga bernama pemahaman. Kemampuan melakukan debat ide akan paralel dengan tingkat keterpelajaran kita, sekaligus menjadi indikator tingkat yang sudah sudah dicapai dalam berbagai bidang, termasuk sastra-seni.Bermutu tidaknya sebuah karya tidak ditentukan oleh keinginan atau desakan penciptanya, tidak juga bisa didapatkan melalui resolusi, dan akan lebih tidak lagi disesuaikan dengan keinginan subyektif sastrawan-seniman.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Debat ide yang bermutu, kukira pernah diperlihatkan oleh Harian Rakjat dan Harian Merdeka Jakarta sekitar tahun-tahun 1964-65. Debat ini kemudian diterbitkan oleh Harian Rakjat. Adanya contoh tersebut membuktikan bahwa di negeri inipun sesungguhnya kita mampu melakukan debat ide. Apakah "yang sesungguhnya"  juga merupakan kenyataan di hari ini? Aku melihat kita diam, saling melihat berharap ada yang membuka suara menjawabnya lebih dahulu. Tapi kediaman dan kebungkaman masih saja menguasai suasana sampai akhirnya kita tertawa bersama-sama. Apakah kita sedang menertawai diri sendiri? Pertanyaan ini pun tenggelam dalam ketawa kita hingga membentur-bentur kota.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Paris, Februari 2004.&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;JJ.KUSNI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;From:  Agnes &lt;serenade@i...&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Date:  Wed Feb 18, 2004  9:55 am&lt;br /&gt;Subject:  Re: [koran-sastra] Membudayakan Kritik: Bersedia Memberi Bersedia Menerima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Membudayakan kritik?&lt;br /&gt;Boleh-boleh saja.... asal yang benar alias tidak ngawur.&lt;br /&gt;Dan seandainya ada pembelaan dari yang dikritik, anggaplah itu juga sebagai&lt;br /&gt;sebuah kritikan untuk Anda. Jangan lalu tidak mau menerima kritik balik.&lt;br /&gt;Bukan membudayakan itu namanya. Tapi mengekslusifkan namanya.&lt;br /&gt;Alias diktator.==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Diakui atau tidak sebagian besar orang lebih suka menerima pujian&lt;br /&gt;&gt; daripada kritik, mengapa demikian karena kritik seringkali diterima&lt;br /&gt;&gt; sebagai sikap oposisi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Semua orang akan cenderung begitu, tak terkecuali Anda dan saya.&lt;br /&gt;Sudah sifat alami manusia. Jadi wajar dan alami saja jika saya melakukan&lt;br /&gt;pembelaan yang menurut saya kasusnya berat sebelah.&lt;br /&gt;Maksud Anda melempar karya saya ke milis ini mungkin untuk bahan perdebatan,&lt;br /&gt;sayang tidak ada yang berminat memperdebatkannya, maka&lt;br /&gt;jadilah puisi saya sejenis puisi sampah di mata semua orang. Tanpa&lt;br /&gt;pembelaan. Ini yang saya maksud dengan berat sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya lagi bait terakhir tulisan saya tidak dapat dicerna dengan baik&lt;br /&gt;oleh si pemberi kritik. Di situ tertulis: "sebuah buku catatan kosong" bukan&lt;br /&gt;"sebuah buku catatan" saja. Jelas artinya berbeda.&lt;br /&gt;Inilah kunci ketidaktelitian pembaca yang menggiring ke arah pemikiran&lt;br /&gt;seolah-olah penyair dengan seenaknya mengalihkan persoalan ke "sebutir&lt;br /&gt;aspirin". Coba simak kembali komentar Anda waktu itu.&lt;br /&gt;(....."dan dalam bait terakhir sajak ini semakin terlihat seberapa bobot&lt;br /&gt;sajak ini di mana si aku lirik ternyata cuma membutuhkan aspirin dan&lt;br /&gt;bukan sebuah catatan karena toh matahari akan terbenam juga. Sebuah&lt;br /&gt;karya yang berawal dari miskinnya gagasan dan berakhir dengan nonsen.&lt;br /&gt;Inilah contoh kitsch yang saya maksud di mana karya ini tidak&lt;br /&gt;mencerminkan kebenaran universal dan penulis gagap dalam menyampaikan&lt;br /&gt;gagasannya bahkan kita tidak menemukan adanya sebuah lentik gagasan&lt;br /&gt;pun di situ....")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal pedas.....&lt;br /&gt;Suatu kebetulan jika saya membaca tulisan Anda di atas yang sedianya akan&lt;br /&gt;saya delete karena terlalu panjang dan ruwet. Cuman gak jadi karena saya&lt;br /&gt;lihat ada nama yang sangat-sangat saya kenal tertera di situ :o)&lt;br /&gt;Memang sebagian orang menyarankan agar saya melewatkan saja kritikan2 yg&lt;br /&gt;menurut mereka garing. Namun sesak juga kalau saya tidak mengungkapkan&lt;br /&gt;pemikiran saya yang sebenarnya. Sepertinya saya menulis asal-asalan dan&lt;br /&gt;tanpa arah tujuan. Itu jelas saya terima sebagai kritikan pedas yg ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah saya tidak lepas kendali sehingga tidak perlu melontarkan&lt;br /&gt;kata-kata seperti yang pernah diterima oleh Bung JJ Kusni (..."Aku sendiri&lt;br /&gt;tidak jarang mendadak-sontak dicaci-maki sebagai 'bajingan', 'preman pasar',&lt;br /&gt;dan lain-lain kata sifat bermakna negatif ")..... hehehe.... Tapi Bung JJ&lt;br /&gt;Kusni, seperti kata Titon, itu sudah risiko yang harus ditanggung dengan&lt;br /&gt;rela hati. Bermain api harus menanggung risiko terbakar. Wajar.&lt;br /&gt;Siapa tahu suatu saat saya juga akan mencoba mengucapkan kata-kata itu? :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bukan saya anti kritik. Kebetulan saja yang mendebat Anda adalah saya&lt;br /&gt;sendiri. Andai saya berdiri sebagai orang lain, apakah Anda masih menuduh&lt;br /&gt;saya sebagai yang anti kritik? Tidak bukan? Anda akan menganggap saya&lt;br /&gt;sebagai teman berdebat/berdiskusi yang asyik.==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; suatu bentuk ketidaksepahaman yang cenderung&lt;br /&gt;&gt; dipandang dari konotasinya yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Kritik positif akan ditanggapi secara positif. Kalau kritik negatif&lt;br /&gt;dilancarkan, bukankah kita jadi bertanya-tanya, "Mengapa?" Kalau memang ada&lt;br /&gt;pandangan yang salah dari pembaca tulisan saya, apakah salah jika saya&lt;br /&gt;mengembalikannya ke akar pemikiran saya? Apalagi tulisan tentang Kitsch&lt;br /&gt;tersebut seolah sengaja dibuat sebagai tuntunan pembelajaran untuk&lt;br /&gt;mereka-mereka yang ingin lebih mengerti seluk-beluk sastra. Tentu akan&lt;br /&gt;membingungkan masyarakat luas juga dalam memberikan penilaian. ==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Dan disadari pula bahwa menulis sebuah telaah kritis&lt;br /&gt;&gt; atas sebuah karya sastra bukannya tanpa resiko, mengingat hakekat&lt;br /&gt;&gt; karya sastra itu sendiri sebagai hasil kreativitas manusia yang&lt;br /&gt;&gt; bersifat imajinatif, intuitif, dan sangat terbuka pada kemungkinan&lt;br /&gt;&gt; penafsiran yang multi dimensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Syukurlah jika hal demikian dapat dipahami. ==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Kenyataan lain yang mungkin dapat kita kaji adalah adanya sikap `ewuh&lt;br /&gt;&gt; pekewuh' sebagai suatu bentuk peninggalan tradisi, yaitu suatu sikap&lt;br /&gt;&gt; di mana rasa sungkan atau enggan untuk mengedepankan wacana kritik&lt;br /&gt;&gt; sebagai bentuk penyadaran dan koreksi dalam segala aspek kehidupan&lt;br /&gt;&gt; masyarakat. Di mana segala bentuk kritik tidak dapat di terima&lt;br /&gt;&gt; sebagai sebuah bentuk relasi antar personal yang dapat hadir dengan&lt;br /&gt;&gt; sewajarnya. Benarkah budaya ini yang mendorong kita menjadi alergi&lt;br /&gt;&gt; terhadap segala bentuk kritik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Tentu tidak (kayak iklan obat cacing) jika didasari dengan pendekatan&lt;br /&gt;"personal-universal" terhadap penyair-pembacanya.&lt;br /&gt;Sehingga didapatkan penafsiran yang benar. Baru deh,&lt;br /&gt;pakai teori-teori penunjang yang pas buat mengkritik. Memang mudah&lt;br /&gt;mengatakan ini jelek, tapi tidak mudah memperbaikinya atau membuat yang&lt;br /&gt;lebih bagus. Setiap tulisan selalu mempunyai kelemahan jika dicari. Ibarat&lt;br /&gt;sebuah gedung yang dibangun dalam waktu 2 tahun, tetap dapat dihancurkan&lt;br /&gt;dalam waktu 2 detik saja. Tolong hargai pembuatnya.==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; sehingga segala bentuk wacana kritik&lt;br /&gt;&gt; yang diharapkan menjadi sebuah pertukaran pemikiran yang ilmiah dan&lt;br /&gt;&gt; dewasa justru akhirnya berkembang menjadi sebuah debat kusir untuk&lt;br /&gt;&gt; mencari pembenaran atas pandangan masing-masing, adalah sebuah&lt;br /&gt;&gt; kenyataan yang cukup memprihatinkan karena hal demikian sering kita&lt;br /&gt;&gt; lihat di mana-mana bahkan di antara kalangan paling terpelajar sekali&lt;br /&gt;&gt; pun. Di mana pemberi kritik dan pihak yang dikritik bersikukuh pada&lt;br /&gt;&gt; persepsi masing-masing yang sepenuhnya hanya mengacu pada&lt;br /&gt;&gt; subyektifitas nilai-nilai yang mereka akui benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Anda ngotot merasa benar, saya ngotot merasa benar juga. Nah, sebenarnya&lt;br /&gt;tidak perlu kan ini semua? Kecuali ada orang yang ingin&lt;br /&gt;karyanya diberi komentar saran dan kritik demi kemajuannya. Justru kritik&lt;br /&gt;kita telah menolong mereka untuk berkarya lebih baik lagi. Jika kritikan&lt;br /&gt;dilancarkan untuk kepentingan sepihak, sama saja dengan membunuh orang lain.&lt;br /&gt;Menginjakkan kaki ke atas kepala orang lain untuk meraih kesuksesan&lt;br /&gt;diri sendiri.==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Hal yang sama tampaknya menghantui dunia sastra kita, di mana&lt;br /&gt;&gt; penulis, pengarang, penyair barangkali juga lebih suka menerima&lt;br /&gt;&gt; pujian atas karya-karya mereka dan berusaha mati-matian menentang&lt;br /&gt;&gt; segala bentuk kritik baik yang ditulis melalui pendekatan praktis&lt;br /&gt;&gt; pragmatis maupun yang di landasi oleh teori sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Teori jika dipraktekkan di tempat yang salah, akan salah juga. Diagnosa&lt;br /&gt;seorang dokter yang salah bisa membuat jiwa orang lain melayang. Juga&lt;br /&gt;janganlah terlalu sering menjiplak pendapat orang lain, kata si ini dan kata&lt;br /&gt;si itu hanya karena mereka lebih senior. Sebaiknya pakai pikiran dan hati&lt;br /&gt;kita juga untuk mencernanya. Cocok tidak sih? Jangan ditelan langsung.&lt;br /&gt;Syukur-syukur Anda punya "style" sendiri, pendapat sendiri. ==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; kesalahan penafsiran atau pun kegagalan dalam menangkap maksud sebuah&lt;br /&gt;&gt; sajak barangkali masih bisa kita perdebatkan lebih lanjut sebagai&lt;br /&gt;&gt; kegagalan penyairnya atau kegagalan pembacanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Apakah ini suatu bentuk pernyataan kalau Anda alergi kritik juga?&lt;br /&gt;Just kidding.:))&lt;br /&gt;Saran bebas saya... jangan terlalu banyak memikirkan karya orang lain untuk&lt;br /&gt;dicari kelemahannya. Nanti orang menuduh kita, kurang kerjaan :) Kecuali&lt;br /&gt;Anda memperdebatkan karya Juara I lomba puisi nasional. Tapi saya ogah&lt;br /&gt;diajak berdebat lo, mending diajak makan pizza... hehehe...&lt;br /&gt;Lebih baik... cobalah menunjukkan karya sendiri atau orang lain yang bagus.&lt;br /&gt;Supaya kita semua bisa melihat contoh yang bagus. Dan bagaimana seharusnya&lt;br /&gt;sajak itu dibuat. Jangan buang waktu Anda hanya dengan berdebat.&lt;br /&gt;Nanti kesempatan Anda untuk berkarya malah terbengkalai.&lt;br /&gt;Mungkin ada banyak kritikan yang saya sampaikan selama ini, tapi ada banyak&lt;br /&gt;pula masukan yang Anda dapatkan bukan? ==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Barangkali itulah yang perlu menjadi perhatian kita semua yaitu&lt;br /&gt;&gt; sanggupkah kita memberi kritik dan juga menerima kritik dengan jiwa&lt;br /&gt;&gt; besar, tentu saja kita mengharapkan kritik yang sehat dan konstruktif&lt;br /&gt;&gt; yang menambah wawasan berpikir dan bukanya kritik yang merusak atau&lt;br /&gt;&gt; bahkan membunuh kreatifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Setuju Mas ! ==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Jakarta, Februari 2004&lt;br /&gt;&gt; Teriring ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada Agnes Veronica,&lt;br /&gt;&gt; Agustinus Wahyono dan Dody Iskandar, atas kesediaannya berbagi&lt;br /&gt;&gt; gagasan dan pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;== Sama-sama ==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tabik dan pamit,&lt;br /&gt;Agnes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107716226997012500?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107716226997012500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107716226997012500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_15_archive.html#107716226997012500' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107710122220918248</id><published>2004-02-18T17:44:00.000+07:00</published><updated>2004-02-18T17:49:41.123+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Catatan Dari Potret Yang Bisu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buat Ariani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pembicaraan tertunda di kamar 212 hotel itu, sikat gigi terlupa sampaikan pertanyaannya, “Adakah engkau baik-baik saja malam ini?” Di luar cuaca panas sekali seperti menyembunyikan pisau dimatanya, dan angin kencang terus-terusan bertiup menunggu berakhirnya TV kabel selesai memutar film biru. Matamu masih menyimpan api menggelegak sepanjang birunya air Swan River, membuat Burswood jadi kartu mati. Perut jadi kehilangan selera, seporsi sirloin steak jadi karet busa yang dingin menambah jarak diantara kita makin jauh saja sepelemparan kartu parkir ke Carousel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh marahmu lampu-lampu jadi padam, Hay Street, Murray Street hingga Northbridge diliputi kegelapan, gedung-gedung bertambah tua merambah fajar. Angin menitik di situ, menitik di situ satu-satu pada tiket kereta ke Joondalup. Hidungku amis mengucur darah 32°Celcius. Masih sempat kau telepon kekasihmu dan simpan api dalam kantongmu sampai roda merah mobil itu terbakar dan membawa asapnya sampai Sorento, pasir putih, tubuh telanjang, sekaleng coca-cola dingin, pemadam kebakaran, dan puluhan mata penuh tanda tanya yang membungkam mulutmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beranda rumah Bob aku mencoba membaca matamu lagi dari potongan           T-bone, senyum Leslie, dan tangan Adrian yang penuh bulu. angin laut meniup rambut perak Russel mengingatkanku pada Silver Fox. Istrinya selalu membuat semua orang tertawa, kecuali engkau dan kedalamanmu yang perih. Kita masih berjalan di atas pasir putih dan barbeque itu masih menyisakan aromanya di lidah. Bulan tidak menunggu gugurnya daun Eucalyptus dan kursi kayu jadi dingin oleh embun. Seharusnya saat itu kita menyimpan tawa tetapi malam sudah terlanjur larut tenggelam dalam  Samudra Hindia dan kembali terjaga oleh kerlip lampu pesawat yang mendarat. Jantung kita jadi roda, jadi asap, dan kota kita menyambutmu dalam diam, diam yang beku sepanjang album penuh potret-potret bisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenang 1998  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasrat Dalam Kaleng Coca-Cola&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut sudah jadi tawar dari keinginan menyetubuhi milik sendiri, karena pikiran begitu banyak disibukkan oleh setrika, penggorengan, sikat sepatu, botol susu, kain pel dan sabun cuci. Hari-hari merajam sepi dari pagi ke pagi, sedang badan tak lagi punya tempat buat angan-angan. Hasrat terlampau lelah buat berbagi dari diri yang asing dan sekaleng coca-cola. Pikiran mendengung oleh lemari es yang membeku dan kemarahan gemetar mengusir mimpi dari pompa air yang mengalir lewat pipa-pipa yang kosong, menyumbat penis, menyumbat hidung, menyumbat tenggorokan, menyumbat wastafel dan jamban juga. Hati jadi begitu rapuh, begitu mudah menyakiti diri sendiri. Dan mulut pun semakin tawar oleh hasrat yang kering, angan-angan pergi ke luar rumah mencari kesenangannya sendiri dalam kerlap-kerlip lampu kota, dalam tumpukan tabloid, dalam remang-remang kalutnya pikiran, kemana saja asal bukan rumah yang ingin dilupa dari waktu 30 menit saja. Rumah sudah bukan lagi milik sendiri, segala sesuatu telah berubah jadi milik orang lain dan hasrat jadi tandas dalam kaleng coca-cola berkarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menunggu Restu Semesta Dari Bibir Ibuku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buat Ibu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu &lt;br /&gt;Tempat haribaan bumi mengeluh&lt;br /&gt;Tutur seribu kisah resah berpeluh&lt;br /&gt;Dalam diam seribu sedih bertelut&lt;br /&gt;Dalam peluk seribu kalut bertaut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;Engkau yang simpan rahasia hati&lt;br /&gt;Dari waktu tafakur dini hari&lt;br /&gt;Buat keping hati anakmu paling rawan&lt;br /&gt;Setiap tetes doa serasa guyuran hujan&lt;br /&gt;Seperti fajar terbit di balik gumpalan awan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;Sujud pasrahku dalam ceruk rahimmu&lt;br /&gt;Basah air wudu di keningmu&lt;br /&gt;Rintik sendu ucap doamu&lt;br /&gt;Resap restu renungmu&lt;br /&gt;Aku menunggu&lt;br /&gt;Berkat semesta dari bibirmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suara Pengemis Dalam Diriku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengemis datang menyapaku dengan sungai rembulan dalam matanya mengharap kebijaksanaan 500 perak. Aku menggeleng saat itu melepas berkat rosario pada otot lenganku yang kaku,  “Mengapa engkau membenci diriku wahai anak Adam?” Ia bertanya dengan sungai rembulan dalam matanya. Doa terdiam dalam mulutku, tiba-tiba kata-kata jadi bisu sendiri. Suara cicak memengkis diriku, malam jadi begitu asing kedalamannya, waktu jadi begitu arif kedukaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupejam mata merenungi jiwa yang kosong mencoba mendengar kembali suara pengemis itu, tapi ia pergi begitu saja dalam desau angin. Doa-doa  jadi bisu sendiri dalam malam sungai rembulan yang simpan 500 perak di matanya, dalam suara cicak yang begitu arif dukanya, dalam suara waktu yang begitu asing kedalamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembulan menetes jadi hujan menggigilkan hatiku yang kering, rindukan suara pengemis dalam diriku, benarkah aku demikian miskin oleh ketidakhadiran 500 perak dalam diriku? Ataukah pengemis itu yang terlampau kaya dibanding batinku yang papa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang malam itu aku berlari-lari kesetanan mencari doaku yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2003 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107710122220918248?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107710122220918248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107710122220918248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_15_archive.html#107710122220918248' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107710090241363302</id><published>2004-02-18T17:38:00.000+07:00</published><updated>2004-02-18T17:44:21.403+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Perkawinan Hujan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buat Fidiyantri Cholid&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kulihat rintik hujan di matamu&lt;br /&gt;setelah penantian yang begitu gaib.&lt;br /&gt;Hujan adalah misteri yang penuh teka-teki&lt;br /&gt;yang tak pernah bisa kita duga kedatangannya&lt;br /&gt;karena ramalan cuaca tak lagi bisa dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kulihat gerimis hujan di matamu&lt;br /&gt;timbulkan haru  yang semerbak harum melati&lt;br /&gt;dan engkau terlihat begitu cantik pagi itu.&lt;br /&gt;Sungguh berbahagialah ia yang menyuntingmu&lt;br /&gt;menjadi karangan bunga abadi di rumah impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum pernah melihat perkawinan hujan seindah ini&lt;br /&gt;Menitik-nitik dari hati yang penuh cinta&lt;br /&gt;akan masa depan yang putih&lt;br /&gt;serta impian akan anak-anak hujan&lt;br /&gt;yang mungil dan lucu&lt;br /&gt;di mana sebuah perkawinan hujan &lt;br /&gt;menggantungkan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Malaikat Kecilku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buat Fanny dan Dion&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 9 ekor kupu-kupu terbang ke arahmu&lt;br /&gt;Mainkan biji saga merah, kuning, biru&lt;br /&gt;Diantara 2 tangan mungilmu&lt;br /&gt;Dan engkau tertawa&lt;br /&gt;Sambil berhitung 1,2,3,…&lt;br /&gt;Lalu kau ambil pensil warna&lt;br /&gt;Menyapu langit dan mega-mega&lt;br /&gt;Dengan warna merah muda.&lt;br /&gt;Kaki kecilmu berlompatan&lt;br /&gt;Tawa ceriamu bertebaran&lt;br /&gt;Disela bunga dan rerumputan&lt;br /&gt;Engkau jadi basah oleh hujan&lt;br /&gt;Embun berkilau senyummu rupawan&lt;br /&gt;Laksana matahari di punggung awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 9 ekor kunang-kunang terbang ke arahmu&lt;br /&gt;Kau eja nama mereka satu persatu&lt;br /&gt;Hinggap seekor di rambut  ikalmu&lt;br /&gt;Menambah seri paras wajahmu&lt;br /&gt;Lalu kau berikan salam kepada malam&lt;br /&gt;Dalam sebuah doa yang sederhana.&lt;br /&gt;Engkau malaikat kecilku&lt;br /&gt;Lingkarkan tanganmu pada bintang gemintang&lt;br /&gt;Dan kepakkan sayapmu dalam cahaya bulan&lt;br /&gt;Bersama kunang-kunang engkau terbang&lt;br /&gt;Dalam buaian nyanyian surga.&lt;br /&gt;Maka tidurlah malaikat kecilku&lt;br /&gt;Dalam kehangatan pelukan Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Phoenix&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buat Ajeng istriku terkasih&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat gerhana tiba Mentari menanggalkan topeng Rembulan, dan ia membilang luka-lukanya, seperti membaca rajah dedaunan dalam kilau embun. Rembulan menangis seolah malu akan masa mudanya, “Jangan…, aku bukan Narcissus yang sedang jatuh cinta pada diri sendiri.”  Ia pun berlari dengan tubuh telanjang membawa pedih luka-lukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut gelap membayang dan hujan tercurah dari langit mengguyur tubuh leta. “Siapa engkau? Mengapa kau mengejarku seperti angin, biarkan aku sendiri dengan kehinaanku.” Dan ia pun bersimpuh dalam rangkuman tanah padas, Mentari merengkuh tubuh Rembulan yang menggigil, seolah Rembulan adalah kekasih yang dirindukannya. “Aku Naga dan engkau Phoenix yang akan segera terlahir kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api memercik ke atas tubuh mereka dan mereka pun sama-sama terbakar menjadi abu, terbang terbawa angin ke negeri yang jauh, negeri di mana tak ada lagi kepedihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, September 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107710090241363302?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107710090241363302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107710090241363302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_15_archive.html#107710090241363302' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107691210312188788</id><published>2004-02-16T13:13:00.000+07:00</published><updated>2004-02-16T13:17:39.530+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Behind the scene kekasih-kekasih &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tanggapan Rian Arif atas 'Licentia Poetica.'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi komentar anda di hari kemarin, baiklah saya akan coba untuk menjelaskan apa maksud saya menuliskan nama-nama perempuan yang terkesan non-fiktif itu. &lt;br /&gt;Kalau kebetulan ada kesamaan nama dengan nama orang lain, melalui komentar singkat ini saya minta maaf kepada nama yang kebetulan sama itu. &lt;br /&gt;Bukan maksud saya untuk melechkan martabat kaum hawa; yang (mungkin) saya lecehkan di sini antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- rere listriana (jo). re re (berulang-ulang dan berulang ulang) list-triana (list ?try : mencoba memasukkan nama saya dalam daftar blacklistnya). Maksudnya yang menanamkan kebenciannya kepada saya. Saya rela mengorbankan apa saja yang saya miliki untuk membunuh kebencian itu; berhubung pada dasarnya saya miskin dan tak punya apa-apa; maka sebagai gantinya anggota tubuh saya inilah yang mewakili pengorbanan tersebut. Saya tahu mungkin pengorbanan itu sia-sia. Lalu Jo? Jo adalah yo! ?ejaan lama. Maksudnya cobalah untuk membenci; maka saya akan melakukan pengorbanan itu. Bila anda merasa benci karya jelek ini silahkan coba dan sebagai pengorbanannya saya rela karya ini dibuang dari peredarannya. Selagi yang anda benci itu karya bukan orangnya. Tapi kalau yang anda benci adalah saya; terpaksa dengan penuh maaf; saya mengundurkan diri dari ikatan kekeluargaan cybersastra.net dan itulah pengorbanan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- hikmah zuraiah (zuraiah = keadilan dalam bahsa Arab). Saya ingin sekali bercinta dengan keadilan; karena semakin hari semakin genit saja keadilan itu. Keadilan seperti bermain mata dengan para birokrat dan orang-orang kaya. Lalu tidak sedikit di antara mereka yang memperkosa keadilan itu. Ketika mereka mencintai keadilan, keadilan tidak mencintai mereka lalu muncul niat busuk dan terjadilah pemerkosaan itu. Tapi beda halnya dengan saya. Saya hanya ingin bercinta dengan keadilan atas dasar suka-sama-suka. Pernah anda nonton Patroli di Indosiar? Berita yang berasal dari Palembang umumnya tentang narkoba; dan uniknya ?pelaku? tersebut selalu saja dituturkan adalah warga jl Cambai Agung (komplek rumah saya). Padahal tersangka adalah warga komplek tetangga (tidak perlu saya sebutkan komplek yang mana). Lalu muncul trend bahwa Cambai Agung adalah gudang narkoba. Oya, pernah baca Cerpen Sutan Iwan Soekri Munaf yang berjudul ?terjebak?? Lalu ?polisi? (baca: oknum tertentu. Bukan polisi umumnya yang seharusnya menegakkan keadilan) sering raziah di komplek kami tersebut. Cuma uniknya lagi, karena memang tidak benar bahwa Cambai Agung bukan Gudang Narkoba, mereka tidak menemukan apapun. Lalu terjadilah seperti kisah terjebak. Sang Oknum seperti yang saya sebutkan di atas meraziah dengan narkoba yang disiapkannya di saku celana: setiap orang yang diraziahnya ?pasti? mengalami kerugian puluhan juta. Tetapi suatu malam orang yang diraziah adalah saya, dan seperti mangsa-mangsa sebelumnya saya ditodong puluhan juta untuk menghindari proses pengadilan yang akan memvonis 20 tahun penjara (bayangkan!). Sebagai orang yang tidak punya apa-apa, saya memilih proses pengadilan yang akan memenjarakan saya dan yang mungkin akan meliput saya di PATROLI sebagai warga Cambai Agung berikutnya. Tetapi berhubung tidak ditemukan sidik jari saya di narkobanya tersebut, maka saya terbebas sebelum proses pengadilan. Saat itu justru yang ketakutan adalah sang oknum bukan saya. Dan malam itu saya tertolong. Sang oknum lari terbirit-birit. Malam itu tepatnya saya merasa mengalami percintaan dengan keadilan, dan sangat berbeda dengan orang kaya yang memperkosa keadilan tersebut. Itulah yang melatar belakangi puisi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- masayu lydia. (masayu = sebutan untuk pembesar Palembang, lydia = lady = sebutan untuk pembesar secara universal). Orang miskin seperti saya tidak akan pernah bisa dicintai oleh orang kaya seperi masayu ataupun Lydia. Karena harta mereka memandang saya dengan tatapannya yang picing. Singkat kata, pengalaman bathin; saya pernah jatuh cinta dengan orang yang terlalu kaya, ayahnya adalah orang pemda tingkat I, rumahnya mewah bertingkat tiga, dan garasi rumahnya seperti dialer mobil. Tapi cinta sejati itu tak pernah ada; orangkaya akan menikah dengan orang kaya dan orang miskin adalah jodoh orang miskin. Lalu dengan modal baju pinjaman saya coba untuk berteman dengannya karena satpam di rumahnya hanya mampu menyambut tamu yang berpakaian seperti orang kaya. &lt;br /&gt;Saya berhasil menjadi salah satu temannya. Lalu muncul suatu kesempatan bahwa saya harus menjadi kekasihnya. Harapan saya ternyata terkabul. Saya mencintai dia dan dia mencintai saya. Kami berpacaran untuk beberapa hari lamanya karena saya merasa tidak nyaman untuk membohongi diri saya sendiri. Singkat kata saya mengaku kepadanya bahwa saya bukan orang kaya dan saya hanya berpura-pura kaya. Saya ajak dia bertandang ke rumah saya yang gubuk yang sempat jadi ?sasaran pembangunan? sebelum reformasi kemaren, saya perkenalkan orang tua saya yang jompo dan saya tunjukkan kepadanya harta yang paling berharga dalam kehidupan saya: keharmonisan keluarga. Dia tak percaya terhadap pernyataan bahwa saya adalah orang miskin, dia tetap yakin bahwa saya orang kaya. Lalu datang seorang sahabat dengan pakaian sederhana dan motor mewahnya yang biasa saya pinjam untuk sekedar mengapeli sang masayu atau lydia itu. Saya melepas busana bermerak impor itu dan mengembalikan kepada pemiliknya dan sebagai gantinya pakaian kesayangan saya yang masih basah di jemuran bergambar BATMAN entah sudah berapa tahun usianya saya kenakan saat itu juga. Dia tetap tidak percaya dengan semua ini. Dia tetap tak percaya saya miskin dan dia bilang pada saya bahwa saya adalah bunglon. Dia marah besar dan berlari ke mobilnya memacu cepat BMW nya. &lt;br /&gt;Lalu suatu waktu tanpa saya sadari, di sebuah semester pendek, ketika seperti hari rutin biasanya saya beroprasi dengan gitar di dalam bis kota, saya bertemu dengannya. Saya hanya menyanyikan lagu I love My Life (lagu ciptaan 11-11-99-Band; band jalanan tak terkenal asal Palembang, yang isinya kira-kira semiskin apapun hidup yang saya jalani saya tetap menyukai hidup ini) dan lagu dari Jewels entah judulnya apa, my hands are small I know, but they are not yours they are mine ? refrainnya seperti itu. Lalu sebagaimana ritual para pengamen, umunya diakhiri dengan ?penodongan? penumpang dengan menggunakan kantung kecil agar diisi beberapa receh saja untuk sekedar hidup hari itu, saya tidak menodongkan kantong kepadanya, saya hanya mengatakan ?aku memang Bunglon?. &lt;br /&gt;Suatu malam seperti biasa, rutinitas pegawai jalanan pada umunya: menghitung laba, honor harian yang jumlahnya selalu berbeda dari waktu ke waktu, dia (masayu) datang ke rumah saya dan mendapati saya sedang menghitung uang saya. Dia melemparkan beberapa uang ratusan ribu dengan kasar ke arah saya: ?Aku sudah dengar semua dari teman-temanmu. Ini yang kau inginkan dariku kan? Kau memang bunglon? katanya dan dia pergi begitu saja. Itulah yang melatar belakangi sanjak saya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- aries sapta mareta ? kalau anda menganggap nama ini tidak fiktif, apakah nama ini logis? aries: zodiak 20 Maret ? 20 April dan sapta mareta adalah 7 Maret. Jadi kalau nama itu tidak fiktif harusnya aries sapta April, ya kan? Sebenarnya adalah Arief (saya) pada tanggal 7 Maret. Aries adalah nama-perempuanku pengganti nama riana (riana rif) yang sudah lama tidak saya pakai. &lt;br /&gt;Seorang sahabat yang bergelar Nostradamus Cambai Agung meramalkan saya akan mengawali kehidupan dalam penjara dikarenakan seorang wanita (namanya dirahasiakan) pada tanggal 7 Maret, seperti ramalan di hari sebelumnya yang selalu tepat; pernah ia bilang bahwa saya akan jadian dengan ?Masayu Lydia? 2 hari setelah mementaskan naskah ?sayang ada orang lain? (karya Utuy Tatang Sontani, sastrawan eksil yang meninggal di Moskwa). Dan ramalannya itu tepat. Ia juga meramalkan bahwa suatu malam saya akan bertemu polisi; dan itu benar saya mengalaminya seperti yang saya kisahkan pada behind scene-nya Hikmah Zuraiah, juga ramalannya tentang saya akan pergi ke Prancis 2 kali untuk mendalami seni sebelum saya tua, tentang itu belum terbukti, tapi saya tetap percaya ramalannya. Lalu terbayang oleh saya bagaimana rasanya dipenjara oleh seorang wanita. Dan saya tuliskan betapa senangnya saya dipenjara oleh seorang wanita. Lalu pada hari yang dijanjikan tanggal 7 Maret, saya jadian dengan sebut saja putri seorang pejabat di UNIB. Kedua orang tuanya adalah pembesar UNIB. Dan memang ramalan itu benar. Kepribadian saya berubah 180 darjat. Saya diperkenalkannya dengan sisir, dia membelikan saya minyak wangi mahal yang saya tidak begitu suka minyak wangi, dan dia membelikan saya sampo, dia meminta saya untuk berkemeja ketika saya ke kampus, bahkan diapun membotaki kepala saya di sebuah salon bermerek di kota Bengkulu tentu saja dengan uang pribadinya. Saya seperti hidup dalam penjara olehnya ini diatur, itu diatur, tapi saya senang. Seperti yang saya tuturkan betapa bahagianya hidup dalam penjara. Yah, dengannya saya bermain politik saya hanya bershampo, ber parfum, dan berkemeja hanya ketika bertandang ke rumahnya ataupun ketika kencan di SS (rumah makan favorit). Apa yang saya tuliskan tentang kehidupan di penjara Aries Sapta Mareta ternyata benar; hidup di penjara itu menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Rice Puspa Dewi ? (rice = padi) Dewi Padi yang menebar bunga. Saya terpengaruh oleh dongengya Palembang tentang Dewi Sri, dan terbayang oleh saya bagaimana menjadi kekasih dari Dewi Sri, apalagi ketika ia memberi saya bunga sakura (begitulah khayalan saya saat itu). Lalu khyalan saya itu terbit menjadi pengalaman bathin. Dan lahirlah Sakura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang jadi permasalahan kalau anda begitu yakin dengan nama itu tidak fiktif, berarti saya yakin bahwa saya telah berhasil mengecoh anda; saya menorehkan pemaknaan tertentu yang ujung-ujungnya menyerupai nama perempuan; untuk itulah saya mohon maaf kepada kaum hawa bukan maksud saya untuk melecehkan mereka, saya hanya tidak bermaksud membuat itu terkesan melecehkan perempuan. Lalu ketika anda meminta saya untuk meminta maaf kepada orang-orang yang telah saya lecehkan, saya minta maaf kepada siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal bumbu sex dalam sastra yang tergolong menjijikan bagi anda, anda boleh buka essaynya Mer Magdad yang berjudul: ?ketika seks (lagi-lagi) menjadi bumbu sastra yang pernah dimuat dalam sinar harapan 30 Januari 2003. ternyata bukan hanya kaum lelaki yang mengubrak soal sex dalam sastra perempuan juga, sebagai contoh di sana tertulis : Clara Ng, Djenar Mahesa Ayu, Ayu Utami. Kalau mereka menulis soal sex dan menurut anggapan anda bicara soal sex adalah bicara pelecehan, maka siapakah yang dilecehkan oleh perempuan-perempuan itu? Kamu mereka sendirikah? Ataukah kita sebagai lelaki, coba anda tanya kepada perempuan-perempuan itu, siapa tahu anda bisa menemukan jawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sex sebagai bumbu, sebut saja begitu kalau bumbu itu memenuhi makanan akan menjadi nikmat, tetapi anda nilai sendiri aoakah masakan saya ini nikmat? Saya rasa jawabannya relatif karena setiap orang punya lidah yang berbeda. Ambil contoh saja score dari 2 orang perrating adalah 1,5 tahu-tahu datang perating ke-3 yang mengubah kondisi menjadi 2,33 kalau matematika saya tidak salah orang yang ketika membari sanjak itu rating 4 (empat). Tapi hari ini bertambah seorang perating lagi yang memberi (kalau matematika saya ngga? salah) 1 (satu) Bintang, hingga menjadi 2 Bintang saja dan orang itu bukan saya, bukan anda saya yakin, orangitu adalah orang yang lidahnya sesuai dengan masakan saya dan yang satu lagi lidahnya sesuai dengan lidah saudara dalam hal selera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari s/d bulan entah 2003, yang saya ingat inilah bulan di mana begitu banyak naskah yang fornografis di muat di cybersastra (salah satu yang sayaingat adalah kalau tidak salah yang menggunakan nama SN Mayasari), tapi menurut saya itu adalah seni bukan forno, makanya dimuat. Kalu menurut anda apa yang saya tulis tentang kekasih-kekasih adaalah tidak layak, maka dengan senang hati secara tulus saya meminta anda dan rekan-rekan anda untuk merekomendasikan kepada redaksi agar karya saya itu di hilangkan dari peredarannya. Terima kasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja pernyataan saya ini gila; tetapi sesungguhnya hanyalah orang gila yang mampu berlaku jujur. Dan sampaikan salamku dan maafku kepada anda-anda yang tergabung dalam forum diskusi dan anda-anda yang merasa umah anda telah saya kotori. Bila ada waktu mail ajah ke aku (blackapril@hackermail.com) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noviembre, 1st 2003, Bengkulu kota Ketupat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada nama-nama sastrawan yang tertulis di dalam komentar ini saya minta maaf, bukan maksud saya untuk melibatkan kalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107691210312188788?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107691210312188788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107691210312188788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_15_archive.html#107691210312188788' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107691181590575279</id><published>2004-02-16T13:08:00.000+07:00</published><updated>2004-02-16T13:12:52.360+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Membudayakan Kritik: Bersedia Memberi Bersedia Menerima&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Titon Rahmawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak sebagian besar orang lebih suka menerima pujian daripada kritik, mengapa demikian karena kritik seringkali diterima sebagai sikap oposisi, suatu bentuk ketidaksepahaman yang cenderung dipandang dari konotasinya yang negatif. Demikian pula dalam dunia sastra kita di mana setelah era HB. Jassin, MS. Hutagalung,  Subagyo Sastro Wardoyo, Goenawan Mohamad dan kemudian Korie Layun Rampan semakin sulit saja bagi kita menemukan tulisan kritik yang serius dan berbobot. Memang telah di sadari di antara kalangan penulis bahwa dalam perkembangan sastra kita sebuah kritik selalu memiliki dimensi cakupan yang luas terutama dalam implikasinya terhadap karya yang diperdebatkan. Dan disadari pula bahwa menulis sebuah telaah kritis atas sebuah karya sastra bukannya tanpa resiko, mengingat hakekat karya sastra itu sendiri sebagai hasil kreativitas manusia yang bersifat imajinatif, intuitif, dan sangat terbuka pada kemungkinan penafsiran yang multi dimensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu kenyataan yang sangat ironis di mana kita melihat tingkat produktifitas berkarya semakin terus meningkat sementara tulisan-tulisan kritik semakin sulit kita temukan, padahal telah sama-sama kita ketahui berapa banyak mahasiswa sastra yang setiap harinya diwajibkan untuk membuat telaah ilmiah dalam bentuk esai, baik berupa kritik sastra, maupun artikel populer dan di sisi lain tidak pernah diwajibkan untuk menulis karya sastra. Apakah ini sebuah pertanda masih rendahnya kesadaran kita untuk bersikap kritis, di mana kalangan yang secara khusus mendalami bidang yang berkaitan dengan study sastra ini pun tidak bersedia mengkritisi diri sendiri, sehingga layaklah timbul sebuah pertanyaan: apa pula yang dapat kita harapkan dari kalangan umum di luar kalangan berpendidikan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan lain yang mungkin dapat kita kaji adalah adanya sikap 'ewuh pekewuh' sebagai suatu bentuk peninggalan tradisi, yaitu suatu sikap di mana rasa sungkan atau enggan untuk mengedepankan wacana kritik sebagai bentuk penyadaran dan koreksi dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Di mana segala bentuk kritik tidak dapat di terima sebagai sebuah bentuk relasi antar personal yang dapat hadir dengan sewajarnya. Benarkah budaya ini yang mendorong kita menjadi alergi terhadap segala bentuk kritik? sehingga segala bentuk wacana kritik yang diharapkan menjadi sebuah pertukaran pemikiran yang ilmiah dan dewasa justru akhirnya berkembang menjadi sebuah debat kusir untuk mencari pembenaran atas pandangan masing-masing, adalah sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan karena hal demikian sering kita lihat di mana-mana bahkan di antara kalangan paling terpelajar sekali pun. Di mana pemberi kritik dan pihak yang dikritik bersikukuh pada persepsi masing-masing yang sepenuhnya hanya mengacu pada subyektifitas nilai-nilai yang mereka akui benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama tampaknya menghantui dunia sastra kita, di mana penulis, pengarang, penyair barangkali juga lebih suka menerima pujian atas karya-karya mereka dan berusaha mati-matian menentang segala bentuk kritik baik yang ditulis melalui pendekatan praktis pragmatis maupun yang di landasi oleh teori sekali pun. Polemik semacam ini muncul terutama karena sifat karya sastra dan terutama dalam genre sajak yang sangat terbuka pada munculnya berbagai penafsiran, di mana penilaian subyektif selalu di pakai sebagai pembenaran atas keberadaan karya-karya tersebut. Kita tentu masih mengingat dalam perjalanan sastra kita ada beberapa polemik berkaitan dengan kritik ini antara lain yang paling fenomenal tentu saja adalah peristiwa pengadilan puisi yang dimotori oleh Slamet Kirnanto, Darmanto Jt. dan kawan-kawan atas keberadaan Majalah Horison dan eksistensi kepenyairan Sapardi Djoko Damono, Rendra,  dan Subagio Sastrowardoyo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga pernah membaca kritik pedas Sapardi atas sajak Racmat Djoko Pradopo dalam esainya 'Kritik Puisi Dewasa Ini' yang menilai sajak Rachmat yang berjudul 'Kamilah Itu, Ya Bapa' adalah sajak yang sepenuhnya gagal, saya tampilkan sajak tersebut di sini sebagi contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah datang pasukan pembebas&lt;br /&gt;Sangkur-sangkur terhunus bagi penindas&lt;br /&gt;Kamilah itu, ya bapa, kamilah itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami adalah ratapan abadi&lt;br /&gt;Yang akan bangkit dari ratapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamilah itu ya bapa&lt;br /&gt;Para petani, buruh, pegawai dan siapa pun juga&lt;br /&gt;Yang mau bangkit dari ratapan dan tindasan&lt;br /&gt;Menghunus sangkur mengkilat&lt;br /&gt;Buat jantung para pencoleng dan pengkhianat&lt;br /&gt;Yang menjauhkan mimpi dan cita kami&lt;br /&gt;Negeri tenram bahagia kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dinyatakan oleh Sapardi, sajak itu gagal sekali pun ia sendiri yakin bahwa pasti banyak orang yang akan menyukai sajak tersebut, bahkan sapardi yakin seorang mahasiswa sastra sekali pun akan menganggap sajak itu sebagai symbol atau metafora keberadaan masyarakat masa itu. Namun sajak itu di nilai gagal karena sang penyair tidak akrab dengan nilai-nilai yang ingin dia ungkapkan, tidak ada penghayatan yang sampai kepada pembaca sebagaimana seperti yang diinginkan oleh penyairnya. Puisi itu gagal karena sebagai sebuah karya sastra ia gagap menyampaikan gagasannya sehingga nilai-nilai yang berusaha diamanatkannya menjadi kabur. Demikanlah sedikit kutipan pandangan Sapardi atas sajak Rachmat Djoko Pradopo.  Dan dalam perjalanan sastra kita tentu saja banyak sekali kita menemukan kegagapan nilai dalam puisi dan oleh karenanya banyak puisi yang gagal atau jatuh kepada kitsch. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila kita kembali pada hakekat kritik itu, kita masih bisa bertanya apakah si penulis atau si penyair yang dikritisi mampu menyadari kegagalannya, apakah ia bersedia menerima kritikan itu sebagai sebuah realitas berpikir sehingga ia dapat menghasilkan karya yang lebih baik di kemudian hari? Benarlah bahwa sebuah sajak selalu membuka kemungkinan penafsiran, kecuali tentu saja sajak-sajak gelap yang tak bersedia membuka dirinya pada kemungkinan itu, dan barangkali pula kenyataan ini tidak disadari oleh sang penyair, kesalahan penafsiran atau pun kegagalan dalam menangkap maksud sebuah sajak barangkali masih bisa kita perdebatkan lebih lanjut sebagai kegagalan penyairnya ataukah kegagalan pembacanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan itu pasti tidak terlepas dari keberadaan sajak itu sendiri sebagai sebuah struktur yang otonom, manakala ia hanya tampil sebagai sebuah arsitektur kata yang manipulatif, sebagai sebuah gagasan yang bias atau bahkan kabur, terbungkus terlampau dalam oleh pemikiran-pemikiran abstrak penulisnya sehingga justru tampil sebagai sebuah karya yang gelap. Begitupula dengan karya-karya yang bertele-tele dan berlebihan dalam ungkapan puitiknya namun tidak mampu mendukung pemaknaan, atau sebaliknya terlampau minim kata-kata sehingga tidak tertebak apa maksudnya adalah merupakan bentuk-bentuk karya yang gagal ini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pembaca awam yang tidak di bekali dengan seperangkat metode untuk menggali struktur sebuah sajak sehingga dalam menghadapi karya-karya semacam ini tentu saja akan sulit menemukan esensi keindahan di dalam sajak tersebut. Namun bagi sesama penulis, penyair atau kritikus yang memiliki seperangkat alat pendekatan apakah itu berupa dukungan kepekaannya sebagai penulis dan juga seperangkat teori-teori yang bisa ia pergunakan maka sudah seharusnya dapat memperoleh sebuah penilaian yang lebih obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak landasan teori yang dapat dipakai dalam mendekati sebuah sajak, apakah itu uji struktur, sosiologis, psikologis, filosofis, semiotic, resepsion estetetis, penelusuran intensi penyair, pragmatis dialogism atau pun berbagai teori mutakhir seperti dekonstruksi misalnya bisa dipakai sebagai suatu alat metodologis membedah sebuah karya sastra, dan apa pun hasil akhirnya memang tetap membuka kemungkinan berhasil tidaknya analisis itu karena dalam proses ini sangatlah sulit memperoleh hasil yang final dan tentu saja sangatlah tidak fair bila kita menilai bobot seorang penyair semata-mata dari satu buah karyanya saja. Keberadaan seorang penyair nantinya akan terbukti dari kemampuannya untuk terus berkarya secara konsisten dan tentu saja dari kemampuannya lolos dari setiap ujian kritik atas karya-karyanya sementara tolok ukur sebuah kemajuan dapat dilihat dari seberapa besar perhatian publik atas karya-karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali itulah yang perlu menjadi perhatian kita semua yaitu sanggupkah kita memberi kritik dan juga menerima kritik dengan jiwa besar, tentu saja kita mengharapkan kritik yang sehat dan konstruktif yang menambah wawasan berpikir dan bukanya kritik yang merusak atau bahkan membunuh kreatifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2004   &lt;br /&gt;Teriring ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada  Agnes Veronica, Agustinus Wahyono dan Dodi Iskandar, atas kesediaannya berbagi gagasan dan pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107691181590575279?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107691181590575279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107691181590575279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_15_archive.html#107691181590575279' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107691160665851043</id><published>2004-02-16T13:02:00.000+07:00</published><updated>2004-02-16T13:09:23.140+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>From:  Agnes &lt;serenade@i&gt; &lt;br /&gt;Date:  Fri Feb 13, 2004  9:29 pm&lt;br /&gt;Subject:  Kesalahan Dalam Menafsirkan Sebuah Karya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Mas Titon,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang sekali Anda menanggapi tulisan saya.&lt;br /&gt;Pertentangan akan selalu ada dalam karya sastra. Sebagian adalah&lt;br /&gt;kesalahpahaman dalam mengartikan pemikiran seseorang. Maklum, menafsirkan&lt;br /&gt;sebuah puisi adalah menafsirkan sebuah misteri. Kalau tidak, jangan buat&lt;br /&gt;puisi, buat cerpen saja. Sebab di situlah letak keasyikannya mengartikan&lt;br /&gt;sebuah puisi. Asal tidak seruwet karya Nostradamus&lt;br /&gt;Terus terang saya tersanjung, puisi saya dipilih sebagai contoh di milis&lt;br /&gt;ini. Sekaligus bertanya-tanya, 'Mengapa?'. Saya tidak pernah minta pendapat&lt;br /&gt;Anda untuk memberikan kritik dan saran.&lt;br /&gt;Apa karena saya tidak menuliskan biodata saya (tidak selengkap seperti yang&lt;br /&gt;Mas tuliskan) dalam buku itu, tapi lolos seleksi di antara ribuan puisi&lt;br /&gt;lain? Itu sebenarnya, uji kemampuan buat diri saya juga Mas.&lt;br /&gt;Apa orang melihat karya saya atau orang melihat biodata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma orang yang tidak mau menerima pemikiran orang lain itu perlu&lt;br /&gt;dipertanyakan juga, apakah pemikirannya sendiri itu selalu benar adanya?&lt;br /&gt;Kalau pun iya, apakah bukan suatu keegoisan menghakimi karya orang lain?&lt;br /&gt;Kasihan, Mas, andai ulasan ini Anda sampaikan kepada penulis pemula.&lt;br /&gt;Dia akan down mentalnya dan tidak berani menulis lagi.&lt;br /&gt;Tapi Mas tenang saja. Buat saya yang kebetulan punya beberapa tulisan&lt;br /&gt;(cerpen) yang dimuat di beberapa media cetak dengan nama pena lain,&lt;br /&gt;tentu tidak berdampak parah. Toh saya punya pangsa penggemar tersendiri Saya selalu berusaha mengingat kata-kata seorang penyanyi tenar Malaysia&lt;br /&gt;yang juga digemari di Indonesia: 'Tak mati dikeji, tak hidup dipuji.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut orang boleh hitam semua, namun pemikiran boleh berbeda.&lt;br /&gt;Kebebasan seorang penyair dalam berekspresi juga adalah sastra itu sendiri&lt;br /&gt;menurut saya, selama tidak merusak moral atau merugikan orang lain.&lt;br /&gt;Bagaimana pandai-pandainya aja kita menikmati sesuatu.&lt;br /&gt;Sama dengan cara memasak ayam; ada yang suka digoreng, diberi bumbu rujak,&lt;br /&gt;panggang sama kecap atau yang gak doyan sama sekali dengan alasan tidak suka&lt;br /&gt;sampai gara-gara flu burung.&lt;br /&gt;Apalagi dalam puisi modern puisi bebas&lt;br /&gt;Tidak ada pakem yang bilang metafora sesuatu harus menuruti aturan tertentu.&lt;br /&gt;Asal masih pantas diperbandingkan dan masuk diakal, cukuplah itu.&lt;br /&gt;Orang bisa diumpamakan kodok atau bunga atau tanah. suka-suka, yang&lt;br /&gt;penting saya tidak akan menyamakannya dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke tulisan saya, sekedar pemikiran saya yang sederhana ini dan&lt;br /&gt;tentunya masih di bawah standar yang ditetapkan oleh Mas Titon (tapi&lt;br /&gt;ternyata puisi saya cukup menarik perhatian Anda sehingga Anda mau&lt;br /&gt;bersusah-payah untuk mengulas  maka saya coba mengungkapkan apa yang&lt;br /&gt;sebenarnya ada dalam pemikiran saya yang menurut Anda seolah-olah tidak&lt;br /&gt;menuju pada suatu titik karena pertentangan yang terus-menerus. Parahnya&lt;br /&gt;saya dituduh sebagai yang hanya pandai memainkan kata-kata tak bermakna&lt;br /&gt;lagi untuk kepentingan penulis pribadi lagi (aduh, bahkan saya tidak&lt;br /&gt;menuliskan biodata dibuku. Malahan Mas Titon tuh yang nulis komplit biodata&lt;br /&gt;di situ, termasuk tempat Mas bekerja, nama istri dan kedua anak Mas juga ada&lt;br /&gt;di buku itu)wahwahwah&lt;br /&gt;Mari dikuliti sekali lagi pemikiran dalam puisi saya di bawah ini yang saya&lt;br /&gt;sampaikan dengan gaya awam, karena saya tidak bisa menerangkan dengan&lt;br /&gt;kata-kata seindah pakar-pakar sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sebuah Buku Catatan' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah buku catatan&lt;br /&gt;yang menyimpan apa yang kubutuhkan&lt;br /&gt;Kata orang aku harus mencatatnya&lt;br /&gt;sebelum matahari terbenam&lt;br /&gt;sebelum semuanya menghilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Seorang wartawan harus menulis berita aktual, sebelum basi dan ditutup&lt;br /&gt;kasusnya. Beberapa orang mengharapkan itu diekspos demi kepentingan orang&lt;br /&gt;banyak. Mumpung juga keadaan masih terang, orang yang kena kasus masih lepas&lt;br /&gt;berkeliaran, kebenaran harus ditegakkan.=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah buku catatan&lt;br /&gt;yang ketika kuisi dengan semua harapan&lt;br /&gt;dengan semua pikiran terbaikku&lt;br /&gt;harus kuhapus begitu selesai kutulis&lt;br /&gt;Sebab katanya lagi,&lt;br /&gt;matahari akan terbenam&lt;br /&gt;bila tulisan itu tidak segera kuhapus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Ketika wartawan itu sudah siap menuliskan semuanya, ia harus membuangnya&lt;br /&gt;ke tong sampah, karena orang-orang tadi (yang takut akan dampak dari tulisan&lt;br /&gt;itu) dan orang-orang yang lain (yang terkena dampak buruk dari tulisan itu)&lt;br /&gt;meminta untuk tidak diekspos.=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah buku catatan&lt;br /&gt;yang tetap kosong&lt;br /&gt;walau tersentuh dan terbuka suatu ketika&lt;br /&gt;Sebab pemiliknya tidak tahu&lt;br /&gt;Apakah harus terisi atau kosong&lt;br /&gt;Apakah matahari harus tenggelam&lt;br /&gt;atau tetap berada ditempatnya&lt;br /&gt;Apakah orang-orang tidak marah&lt;br /&gt;jika gelap melanda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Kebingungan pada si wartawan, membuat ia pusing. Harus ditulis atau tidak&lt;br /&gt;sih sebenernya?&lt;br /&gt;Sebagai pekerja, tentunya harus menuruti aturan atasan untuk tidak&lt;br /&gt;menuliskannya. Juga ketakutan bahwa orang-orang tertentu akan marah&lt;br /&gt;karenanya (bila matahari tenggelam). Sehingga ia membiarkannya kosong saat&lt;br /&gt;itu. =&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya&lt;br /&gt;Aku butuh sebutir aspirin&lt;br /&gt;bukan sebuah buku catatan kosong&lt;br /&gt;Sebab&lt;br /&gt;Matahari akan tetap terbenam juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Orang yang pusing mungkin butuh sebutir aspirin untuk menyembuhkannya,&lt;br /&gt;butuh dukungan untuk menguatkannya, butuh keberanian untuk mengungkapkan hal&lt;br /&gt;yang sebenarnya, bukan sebuah buku catatan kosong, bukan membiarkan&lt;br /&gt;kebenaran dibekap. Dengan perkataan lain, buku itu harus tetap terisi.&lt;br /&gt;sebab bagaimana pun juga matahari akan tetap terbenam, bagaimana pun juga&lt;br /&gt;kebusukan akan tetap terungkap, bagaimana pun juga kita kena getahnya.&lt;br /&gt;Mudahnya begini, andai ada kasus korupsi, maka kita diam atau tidak, kita&lt;br /&gt;dan orang lain tetap dirugikan karenanya. Pelaku akan tetap dapat untungnya.&lt;br /&gt;Jadi mau pilih yang mana? Punya persediaan aspirin untuk para penulis? =&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian deh Mas Titon.&lt;br /&gt;Maklum bukan penyair besar, jadi cuma itu yang bisa saya tulis.&lt;br /&gt;Dengan segala kekurangan saya.&lt;br /&gt;Terima kasih sudah bersedia menulis ulang puisi saya di milis ini.&lt;br /&gt;Maklum saya kurang aktif di milis maaf, Pak Moderator &lt;br /&gt;Dan saya juga akan memaklumi semua yang setuju dengan pendapat saya di atas&lt;br /&gt;atau yang tidak suka dengan pendapat saya tersebut. Saya tidak akan&lt;br /&gt;berdebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tanda terima kasih, saya juga ingin mengetengahkan puisi Anda:&lt;br /&gt;'Kupu-kupu di dalam namamu' dalam buku yang sama.&lt;br /&gt;Maaf jika hanya bait yang terakhir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(oleh: Titon Rahmawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kebusukan namamu akan melekat&lt;br /&gt;di atas dahi, batu nisanmu&lt;br /&gt;tak akan pernah lagi terhapus&lt;br /&gt;oleh guratan pasir sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejanggalan dalam bait ini kalau mau bicara menyangkut metafora atau&lt;br /&gt;simile atau apa pun namanya. Memang betul sejarah yang sudah terjadi tidak&lt;br /&gt;bisa dihapus. Gurat berarti goresan yang dalam. Biasanya untuk dikenang&lt;br /&gt;supaya tidak terlupakan. Tetapi mengapa Anda membuatnya di atas pasir?&lt;br /&gt;Yang gampang terhapus dan kerap hilang tertiup angin?&lt;br /&gt;Semoga bisa menjadi refleksi balik buat Anda.&lt;br /&gt;Selamat berkarya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Surabaya,&lt;br /&gt;Agnes&lt;br /&gt;(yang bukan penyair besar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107691160665851043?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107691160665851043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107691160665851043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_15_archive.html#107691160665851043' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107666614553937650</id><published>2004-02-13T16:54:00.000+07:00</published><updated>2004-02-13T16:58:17.390+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kilometer&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau baru saja menyelesaikan kilometermu yang pertama&lt;br /&gt;Dalam geliat batu kerikil, aspal dan kayu bakar&lt;br /&gt;Kulitmu mengkilat terpanggang matahari&lt;br /&gt;Tapi kau belum lagi mengeluh&lt;br /&gt;Sekali pun tenggorokan demikian kering&lt;br /&gt;Dan batu-batu pun menjerit&lt;br /&gt;Sahut menyahut dengan bemo, bajaj, dan bus kota&lt;br /&gt;Apa arti kesibukan lalu lintas itu tanpamu?&lt;br /&gt;Tapi kau belum lagi mengeluh&lt;br /&gt;Sekali pun kantong demikian kering&lt;br /&gt;Istri dan anak di kampung pun menjerit&lt;br /&gt;Sahut menyahut dengan gubug reyot, &lt;br /&gt;Piring – sendok berkarat,&lt;br /&gt;Dan harapan yang belum juga tiba.&lt;br /&gt;Kalau kau demikian penting&lt;br /&gt;Kenapa kau tak juga mengeluh?&lt;br /&gt;Membanting semua tulang-tulangmu&lt;br /&gt;Demi kilometer ke-dua&lt;br /&gt;Kilometer ke-tiga&lt;br /&gt;Ke-empat&lt;br /&gt;Ke-lima&lt;br /&gt;Ke-sepuluh&lt;br /&gt;Ke-duapuluh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta berdebu, 2001&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107666614553937650?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666614553937650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666614553937650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_08_archive.html#107666614553937650' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107666574820437765</id><published>2004-02-13T16:48:00.000+07:00</published><updated>2004-02-13T16:51:40.140+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Orang Yang Tersesat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buat mereka yang kutemui di Gg. Taslim&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaga telah mengotori diriku dengan warna malam&lt;br /&gt;Aku jadi begitu kosong dan tanpa daya&lt;br /&gt;Ingin rasanya keringkan darah sendiri&lt;br /&gt;dan mengisinya kembali dengan darah bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup telah menyihirku dengan kenikmatan anggur&lt;br /&gt;dan nasib yang tiada berkepastian&lt;br /&gt;Kadang-kadang aku tersesat sendirian&lt;br /&gt;lupa jalan pulang ke rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering mendengar orang berseru-seru di telingaku&lt;br /&gt;tapi tak kutemui satu jasad pun di sana&lt;br /&gt;Aku begitu kesepian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga wanita-wanita yang berkubang dalam merihku&lt;br /&gt;Seolah baru kemarin sore saja&lt;br /&gt;Aku mengisi mereka dengan semacam roh kemunafikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru oleh jelagaku aku menjadi begitu kosong dan tanpa daya&lt;br /&gt;Menanti hari-hari yang akan remukkan kepalaku&lt;br /&gt;Dengan pecahan genting dan batu-bata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu pedih oleh ketidakberdayaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1994, Kampung Melayu  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107666574820437765?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666574820437765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666574820437765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_08_archive.html#107666574820437765' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107666548463955661</id><published>2004-02-13T16:42:00.000+07:00</published><updated>2004-02-13T16:47:16.623+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Perahu Kertas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Untuk Ratri dan semua pekerja seks&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu dibalik senyummu&lt;br /&gt;ada kepedihan yang harus kau kunyah setiap malam&lt;br /&gt;dan tak mungkin tersapu oleh gerimis.&lt;br /&gt;Barangkali kau pun berpikir&lt;br /&gt;betapa mudahnya menangkap seekor kumbang&lt;br /&gt;dan menyimpannya di balik kutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kudengar renyah tawamu&lt;br /&gt;sekali pun sesungguhnya aku tahu&lt;br /&gt;ada yang sumbang dalam hatimu&lt;br /&gt;menghitung rupiah demi rupiah&lt;br /&gt;dari sisa kondom di tempat sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat bertanya&lt;br /&gt;'Apa kau belum lelah  juga?'&lt;br /&gt;dan kau cuma tertawa&lt;br /&gt;'Pilihan apa yang aku punya?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pilihan itu selalu ada Ratri&lt;br /&gt;bila saja kau mau &lt;br /&gt;dan tentu saja terserah padamu&lt;br /&gt;tapi mungkin juga&lt;br /&gt;pilihan itu tak semudah yang kuduga&lt;br /&gt;seperti  juga tanda &lt;br /&gt;yang terlanjur melekat di dada&lt;br /&gt;menoreh begitu dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kepedihan itu&lt;br /&gt;seperti perahu kertas yang rapuh&lt;br /&gt;dan perlahan-lahan tenggelam.&lt;br /&gt;Betapa sulitnya menggantungkan harapan&lt;br /&gt;pada seutas benang keimanan&lt;br /&gt;dan selaput tipis kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Melayu, 1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Tempat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kepada sobatku Widyo W.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar suara desah menghuni tembok&lt;br /&gt;dan orang lalu lalang mengisi piringnya&lt;br /&gt;dengan semacam kepuasan semu&lt;br /&gt;lalu mereka menyantapnya malam-malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu apa yang orang cari&lt;br /&gt;Selain harapan dalam setumpuk kartu ceki&lt;br /&gt;Yang mereka banting di meja sejak sore gerimis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang menenggak arak kezaliman&lt;br /&gt;dan mengosongkannya sampai tandas&lt;br /&gt;bersama bangku-bangku yang mabuk darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tembok masih kudengar suara desah&lt;br /&gt;barangkali erangan seorang perempuan&lt;br /&gt;entah nikmat entah kesakitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin berhenti lebih lama &lt;br /&gt;dan mengisi kembali tustelku dengan kenangan&lt;br /&gt;tapi temanku mengajakku pergi&lt;br /&gt;dengan sedikit angkuh ia berkata,&lt;br /&gt;'Di sini bukanlah tempat kita!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1994, Kampung Melayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107666548463955661?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666548463955661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666548463955661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_08_archive.html#107666548463955661' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107666349372096187</id><published>2004-02-13T16:10:00.000+07:00</published><updated>2004-02-13T16:14:51.373+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sekali Lagi Tentang Pentingnya Kritik Sastra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oleh Titon Rahmawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usianya yang relatif masih muda media sastra di internet telah menunjukkan perkembangan yang cukup fenomenal. Hal ini dapat kita pantau dari semakin maraknya situs-situs sastra yang bersifat pribadi maupun umum, serta makin meningkatnya kegairahan berkarya dari sekian banyak nama-nama baru yang terus bermunculan di jagad maya ini. Di CyberSastra saja misalnya lebih dari 2000 karya berbagai bentuk yang antri untuk memperoleh kesempatan dimuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi dari tinginya tingkat kreativitas ini adalah semakin banyak sarana yang dibutuhkan untuk dapat menampungnya, untungnya media internet ini boleh di bilang 'unlimitted' seperti di ungkapkan Medy Loekito dalam pengantarnya atas antologi 'Graffiti Gratitude'. Sebagaimana disanggah pula oleh Medy bahwa sastra cyber dengan segala kebebasannya tidak berarti bebas mutu apakah pernyataan tersebut sudah sepenuhnya dapat dibuktikan masih merupakan sebuah pekerjaan rumah bagi mereka yang bergiat di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu muncul saya kira  karena masih adanya keprihatinan khususnya mengenai sangat sedikitnya tulisan dalam bentuk kritik sastra baik dari segi kuantitas apalagi dari segi kualitas. Padahal kritik sebagai bagian integral dari perkembangan sastra itu sendiri menduduki arti sangat penting sekali pun kenyataannya keprihatinan yang sama telah muncul di berbagai media lain. Barangkali pula ini memang penyakit yang tengah mendera dunia sastra kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik sastra sebagai bentuk pemahaman terhadap sebuah karya sastra memang membutuhkan pendekatan yang sedikit berbeda dari penulisan karya sastra itu sendiri, pendekatannya tidak semata-mata kreatif tapi juga ada pendekatan keilmuan atau teoritis, dan sebagaimana ditengarai oleh para peminat dan pengamat sastra kita saat ini  permasalahan utama dalam kritik sastra adalah kompetensi dari pelaku kritik itu sendiri yang implikasinya berlanjut kepada bagaimana pendekatan atas kritik tersebut, bobot kualitas atau mutu sebuah kritik dan akhirnya opini yang muncul sebagai konsekuensi atas sebuah kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini terdapat kesenjangan antara pelaku kritik dan penerima kritik seolah ada tarik ulur dari segi kompetensi yang didasari oleh besarnya ego masing-masing yang sangat subyektif sehingga budaya kritik tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan di mana semua bentuk kritik membangun dapat diterima dengan jiwa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelaku kritik seringkali hanya memberikan penilaian yang dangkal tanpa didasari oleh sebuah kepekaan estetis yang cukup, jadi kritik muncul sebagai sebuah sikap arogansi semata-mata. Pada akhirnya unsur kompetensi ini pulalah yang menjadi unsur utama mandulnya tulisan kritik sastra yang berbobot.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun juga kritik sastra sangat dibutuhkan kehadirannya, karena hanya lewat kritiklah bobot sebuah karya teruji, dan dengan kritik pulalah seorang penyair yang serius dapat berkembang mencapai puncak estetisnya dalam berkarya. Saya yakin keberhasilan Chairl Anwar mencapai bobot puitisnya tidak terlepas dari peran HB. Jassin dan kritik-kritiknya yang sangat menyaran. Yang jadi pertanyaan kita sekarang adalah di mana dapat ditemukan orang setaraf Jassin yang bersedia secara aktif memberikan kritik yang berbobot kepada para penulis muda pemula sementara hal tersebut masih menjadi sebuah pertanyaan besar bahkan di kalangan para akademisi sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya bagi media sastra modern yang 'unlimited' ini memberikan alternatif dengan menyediakan rubrik khusus untuk kritik sastra baik secara umum maupun sajak secara khusus, karena sekali pun para penikmat / pembaca telah terlibat dengan memberikan penilaian pada karya-karya yang dimuat dan tentu saja telah melewati sebuah seleksi yang ketat namun hal itu di rasa belum memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik apa pun bentuknya, baik ilmiah formal, maupun kritik kreatif spontan yang tidak formal akan menajamkan perasaan estetis penulis secara langsung. Sekaligus keberadaan rubrik ini diharapkan dapat menjadi jawaban terhadap kecurigaan pihak luar atas kompetensi para editor, di mana para editor dapat mempertanggungjawabkan jelas tidaknya kriteria serta bobot penilaian estetis mereka secara sungguh-sungguh dengan menuliskan pendekatan kritisnya dan bukan atas dasar sikap arogansi semata-mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Oktober 2003   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di cybersastra.net dan bumimanusia.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107666349372096187?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666349372096187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666349372096187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_08_archive.html#107666349372096187' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107666325792304984</id><published>2004-02-13T16:05:00.000+07:00</published><updated>2004-02-13T16:11:29.013+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Licentia Poetica: Legitimasi Anarkisme Penyair?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oleh Titon Rahmawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala Licentia Poetica diterjemahkan sebagai kebebasan berekspresi di mana seorang penyair boleh melanggar rambu-rambu kaidah tata bahasa, kaidah moral atau mungkin juga kaidah hukum maka yang terjadi adalah anarkisme  atau dekadensi, karena anarkisme bukanlah semata-mata gejala sosial  begitu pula dekadensi bukanlah semata-mata gejala psikologis, dan pada kenyataannya demikianlah yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya bahasa adalah media ekspresi bagi kehadiran sebuah sajak, karena itu sajak yang baik tak mungkin terlepas dari kaidah tata bahasa agar dapat sampai (terkomunikasikan) kepada khalayak. Sajak sebagai hasil pemikiran, pengalaman, atau perenungan adalah merupakan pencerminan sikap (attitude) pola pikir (idea), dan perilaku (behaviour) manusia (human) karena itu sajak (sastra) yang baik sebagaimana dinyatakan oleh Immanuel Kant adalah sajak yang mampu mencerminkan prinsip kemanusiaan atau 'humanitat'. Tentu saja prinsip di sini adalah sejalan dengan kepentingan moral, bahkan dalam akhir hidupnya Kant masih menyampaikan, 'das gefuhl fur humanitat hat mich noch nicht verlassen' bahwa humanitas belum lenyap dari dirinya sekali pun ia sedang menjelang ajal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama telah menjadi inspirasi bagi Voltaire dimana ia beranggapan bahwa dalam kegiatan sastra manusia harus dihidupi oleh semangat intelektual. Manusia berpikir, membaca, menulis dalam semangat 'homo homanus' yaitu manusia yang berjiwa halus, berbudaya dan manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana korelasi dan implikasi dari kebebasan berekspresi pada diri penyair dan hasratnya untuk meraih 'pathos' yang boleh diartikan sebagai hasrat memperoleh simpati dan empati atas karyanya? Menurut Voltaire gairah itu tidak terlepas dari konsep intelektualitas di mana karya yang diarahkan untuk dapat menggugah secara emosional dan estetis harus dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual rasional. Jadi sebenarnya prinsip dasar hasrat diri seorang penyair tetaplah sejalan dengan hakekat pokok sastra yaitu berbicara untuk kepentingan moral sekali pun kita harus menerima kenyataan bahwa ada kepentingan lain yang juga butuh untuk dikemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak bermaksud untuk membicarakan kaidah-kaidah moral itu karena sebagai manusia kita sudah di bekali kesadaran tersebut, tulisan ini sebetulnya ingin mencari kunci jawaban bagaimana sebuah karya bisa di nilai baik atau buruk, layak atau tidak layak tampil dalam sebuah media yang sedang mencoba menegakkan dirinya menjadi sebuah media kreatif yang terhormat dan berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala membaca karya saudara Rian Arif yang bertajuk 'kekasih-kekasih' yang dimuat di situs ini tanggal 14-04-2003, saya langsung di hadapkan pada pertanyaan tersebut. Secara pribadi saya menilai saya sedang menghadapi (meminjam istilah Sutardji Calzoum Bachri)  'sebuah bangkai sajak   di mana  pendekatan apa pun yang saya pakai untuk mengapresiasi sajak-sajak tersebut baik lewat pendekatan analisis, sosiopsikologis, historis, didaktif atau bahkan sebagai puisi mbeling menurut terminologi Remy Sylado sekali pun saya tetap terbentur pada suatu kenyataan bahwa sajak-sajak itu adalah sampah murahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali itu merupakan sebuah kecurigaan pribadi, tapi saya tak mau gegabah menilai bisa saja apresiasi sayalah yang dangkal karena itu saya mencoba menghubungi beberapa rekan yang biasa terlibat dalam diskusi sastra dan ternyata rekan-rekan tersebut memberikan penilaian yang sama yaitu rasa muak, jijik, persis seperti reaksi kita menghadapi bangkai tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya tidak ingin gegabah karena itu saya menulis komentar langsung kepada saudara Rian Arif sebanyak (3) tiga kali untuk minta klarifikasi dan sayang-sayangnya tidak (belum) memperoleh tanggapan hingga sekarang karena mungkin kesibukan aktivitas saudara Arif, karena itu di dorong rasa kepedulian dan juga rasa memiliki atas keberadaan situs ini yang sudah saya anggap rumah sendiri maka saya memberanikan diri menulis surat terbuka ini, dengan maksud untuk memperoleh kejernihan, meningkatkan apresiasi bersama, dan terlebih untuk menegakkan wibawa para editor. Bagaimana pun kriteria dan titik tolak kehadiran sebuah karya dalam situs ini tidak terlepas dari tanggung jawab dan kewenangan para editor karena itu saya pikir relevan bila saya alamatkan surat terbuka ini kepada para editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada masalah Licentia Poetica sebagai sebuah kesadaran aspiratif seorang penyair dalam menuangkan ekspresinya seharusnya ditempatkan pada posisi yang proposional, dan saya tidak melihat hal tersebut pada karya saudara Rian Arif, ada sebuah paradoks di mana dalam pengantar saudara Arif menyatakan tidak hendak bermaksud melecehkan harga diri wanita sementara sajak itu jelas-jelas (denotatif) merupakan sebuah bentuk pelecehan di mana disitu di ekspos atau kalau boleh dibilang  sexual exhibitionism yang gamblang dengan memamerkan aurat dan adegan-adegan seksual yang eksplisit dan menerakan nama-nama person (wanita)  yang saya yakin bukanlah nama samaran sebagai pihak yang 'dilecehkan' dalam media terbuka semacam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saja ungkapan-ungkapan dalam sajak yang muncul bukanlah sebuah realitas yang semata-mata harafiah kita mungkin bisa memahami tapi seorang dengan kadar intelektual terbatas pun akan memahami ungkapan sajak itu dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling seperti sebuah film biru atau menurut seorang rekan penyair seperti buku stensil murahan yang barangkali hanya layak untuk konsumsi pribadi tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekali lagi tulisan ini tidak bermaksud menghakimi atau menjadi sebuah 'pengadilan puisi' seperti yang dulu pernah terjadi, tetapi manakala kebenaran di selewengkan dan kejernihan di bungkam maka sudah saatnya para penyair menggoreskan penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuningan, 30 Oktober 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107666325792304984?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666325792304984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666325792304984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_08_archive.html#107666325792304984' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107666295337732735</id><published>2004-02-13T15:57:00.000+07:00</published><updated>2004-02-13T16:05:05.903+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Lentik-Lentik Api Sebuah Sajak&lt;br /&gt;(analisis atas sajak 'Moksa' karya Saza)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami sajak bagi saya adalah seperti mengejar bunga rumput liar yang berlari di tengah padang, kadang-kadang kita bisa menangkap maknanya, kadang-kadang pula tak menyiratkan apa-apa. Karena itu saat menghadapi sebuah sajak yang bisa saya lakukan adalah menerima sajak itu sebagaimana adanya sebagai sebuah teks yang coba kita komunikasikan dengan kesadaran kita. Pada saat teks tersebut berinteraksi dengan diri kita maka kita boleh berharap akan menangkap lentik-lentik imajinasi seperti kita menangkap lentikan korek api di dalam kegelapan. Pada saat itulah kita memperoleh pencerahan, tetapi pencerahan adalah persoalan individu dan tidak terlepas dari penafsiran seseorang atas sebuah karya yang sepenuhnya tergantung dari latar belakang diri masing-masing orang, juga pada kemampuan resepsi dan persepsinya di mana tanggapan, pemahaman, penerimaan atau penolakan adalah bagian dari tingkat apresiasi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini saya ingin mengulas sajak 'Moksa' karya Saza yang berdasar apresiasi pribadi saya adalah sebuah sajak yang berhasil:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Moksa (sajak saza)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teruntuk Rodant Oi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Dari kota-kota tenggara &lt;br /&gt;antara Erie dan Michigan lahirlah : pemuda gila&lt;br /&gt;Berkubang darah Aria yang patah &lt;br /&gt;Sampah sampah yang membusuk di perutnya&lt;br /&gt;Dan hantu-hantu yang membawa bara api &lt;br /&gt;Hingga laki laki malam itu datang mengetuk pintu&lt;br /&gt;Membawakan anggur, roti dan air suci&lt;br /&gt;Di atas altar hijau dan bilik bilik pengampunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Mereka duduk berhadap-hadapan dalam tabung cahaya,&lt;br /&gt;Tanpa wajah, mata, dan suara &lt;br /&gt;Hanya angin selatan membawa pesan laki laki malam itu,&lt;br /&gt;'Diriku dan Dirimu adalah Satu, &lt;br /&gt;Selayak Miacis yang melahirkan Anubis dan Basset'&lt;br /&gt;Pemuda gila itu menangis memecahkan cermin cermin berkarat di kamarnya&lt;br /&gt;Mengucap manta-mantra iblis dan mengelilingi kristal hitam yang lapuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Tembok kamar pemuda gila itu meratap&lt;br /&gt;Memanggil manggil masa lalu &lt;br /&gt;Dan darinya keluar tangan tangan yang berusaha mencengkramnya&lt;br /&gt;Dia berlari keluar membawa pigura-pigura kosong&lt;br /&gt;Dan menunjukkan pada setiap orang yang lewat &lt;br /&gt;'Adakah kau kenal orang di dalam pigura ini?'&lt;br /&gt;Mereka tertawa dan melemparkan batu pada sang pemuda dan berteriak&lt;br /&gt;'Pergilah ke neraka !!'&lt;br /&gt;Dia terus berlari hingga ke ujung Sungai Besar dan terisak dipinggirnya&lt;br /&gt;Ketika bulan muncul diatas air sang pemuda melihat laki laki malam itu&lt;br /&gt;Menangis seperti dirinya dengan bayangan seribu warna &lt;br /&gt;Langit menarik nafas dalam dalam&lt;br /&gt;Sang pemuda gila berenang mengejar sang lelaki malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Laki-laki itu telah berdiri di depannya kini&lt;br /&gt;Tanpa wajah, mata dan suara&lt;br /&gt;Tapi dia begitu mengenalnya seperti saudara kembar yang tak pernah terlahirkan&lt;br /&gt;Pemuda gila itu memberikan pigura kosong pada lelaki malam&lt;br /&gt;Dan bercerita seperti kesetanan tentang penduduk kota yang melaknatnya&lt;br /&gt;Lelaki malam melengkungkan dahan pepohonan seperti bibir badut yang tersenyum&lt;br /&gt;Di dekapnya sang pemuda dan diberikannya selembar foto usang &lt;br /&gt;Dan menuliskan sesuatu di pasir dengan lumut lumut merah, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'J A M E S'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Sang pemuda menatap kosong lelaki malam&lt;br /&gt;Yang perlahan meredup seiring cahaya matahari terbit&lt;br /&gt;Raganya terasa lelah dan indranya terasa mati &lt;br /&gt;Namun dia tersenyum dan meletakkan tangannya di dada&lt;br /&gt;'Kaulah Messia itu, James'&lt;br /&gt;Dan pemuda itu pun tertidur seribu tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, April 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat memperoleh latar belakang sajak ini dari komentar langsung  penyairnya yang dituangkan dalam proses kreatifnya. Dari situ pula dapat kita tangkap wawasan dan kedalaman penyairnya. Saya selalu percaya bahwa sajak yang baik adalah sajak sebagai hasil perenungan dan bukanlah sajak yang kosong. Sajak yang baik lahir dari ungkapan terdalam diri penyairnya dan dalam proses kreatif itu saja kita dapat menilai bahwa sajak 'Moksa' lahir dari rasa prihatin yang mendalam atas nasib seorang sahabat, ekspresi puitis muncul dari pemahaman atas penderitaan  dan nasib sahabat si penyair yang menjadi gila karena pergolakan batin yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai latar sajak dapat kita ketahui bahwa sajak ini berlatar dikota-kota Tenggara antara Erie dan Michigan yaitu danau-danau besar di Utara Amerika, latar berikutnya menukik ke dalam sebuah kamar yang ditinggali oleh seorang pemuda gila yang merupakan tokoh utama dalam sajak ini. Si pemuda gila adalah pengejawantahan dari Rodant Oi, sesuai dengan profile yang digambarkan oleh si Penyair sebagai seorang pemuda yang ditinggal cerai orang tuanya dan di asuh oleh saudara perempuan  satu-satunya. Yang menonjol dari karakter tokoh utama ini adalah keadaannya yang penuh penderitaan atas kemiskinan, keterluntaan dan ketidak berdayaan sehingga memunculkan pemberontakan dalam dirinya, ia ingin terlepas dari keterkungkungan itu sehingga ia nekat menjual dirinya kepada iblis, hal ini mengingatkan saya pada kisah Dr. Faust dan Mephistopeles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lihat dari strukturnya sajak ini adalah sajak naratif yang sedikit banyak mengingatkan kita pada balada ala WS Rendra pada awal-awal masa kepenyairannya di mana unsur romantis dan melankolis   sangat menonjol sekali pun beberapa ungkapan keras muncul seperti 'memecahkan cermin-cermin berkarat'  dan 'Pergilah ke Neraka!' tapi unsur melankolis itu terasa mendominasi keseluruhan sajak, hal lain yang menonjol adalah kemampuan penyair menyeret perasaan pembaca dan bahkan merebut simpati pembaca atas nasib tokoh utamanya sekali pun dia tersesat dalam perjanjian dengan iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini tersusun atas 5 bait 43 baris dalam pola bebas tidak terkekang oleh rima atau irama tertentu, hal ini memungkinkan penyair untuk lebih ekspresif mengungkapkan kesan puitiknya. Diksi yang di pilih sangat sugestif seperti beberapa ungkapan yang tadi saya sebutkan dan  juga simbol-simbol seperti anggur, roti dan air suci serta tokoh-tokoh mitologi seperti Miacis, Anubis dan Bastet mampu memberikan pelukisan yang realistis sekaligus surealistis yang mampu mendukung suasana. Suasana yang tidak menyenangkan pun berhasil di bangun dengan banyaknya unsur bunyi cacophony seperti: membusuk, berkarat, kristal, lapuk, mencengkeram, berteriak, terisak, laknat, dll sesuai dengan kehendak si penyair. Sayang sekali saya tidak dapat memberikan ulasan atas tipografi orisinil dari sajak ini mengingat format dari media ini yang terbatas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaji penglihatan yang banyak diungkap saya rasa telah berhasil menciptakan suasana mencekam dalam sajak ini dan demikian pula dengan pengimajian secara pendengaran dalam bentuk dialog pendek lebih memperkuat suasana mencekam tersebut. Sedangkan majas yang muncul lebih banyak didominasi oleh metafora yaitu pada gambaran perceraian, kemiskinan, ketakutan yang diibaratkan dengan 'darah Aria yang patah', 'sampah membusuk di perut', dan 'hantu-hantu yang membawa bara api'. Kemarahan dan kesesatan di lukiskan dengan 'memecahkan cermin berkarat', dan 'mengucap mantera iblis'.  Kita temui pula personifikasi pada 'tembok yang meratap',  'angin selatan yang membawa pesan', dan 'bulan muncul di atas air'. Kemudian Pars Pro Totto pada ungkapan 'anggur, roti dan air suci' yang melambangkan gereja  dan Totem Pro Parte pada ungkapan 'Kaulah Mesiah itu' adalah ungkapan yang dibesar-besarkan untuk menunjuk pada arti sang penyelamat. Dari segi ini saja Penyair telah menunjukkan kepiawaiannya mengolah imaji, diksi dan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menilai bahwa sajak ini memiliki daya saran yang tinggi bukan semata-maata karena telah mampu menuturkan sebuah kisah pedih yang mendorong simpati pembaca tapi terlebih pada perenungan filosofisnya bahwa penderitaan yang teramat berat dapat menyebabkan seorang jauh tersesat dan bahkan menjadi gila sekali pun kegilaan itu adalah hasil dari suatu kondisi dan betapa kejamnya penghakiman orang lain atas 'dosa' itu. Harus diakui bahwa sang penyair telah berhasil membawa kita pada 'pathos' sebuah rasa simpati dan empati atas realitas yang menghunjam jauh ke dalam jiwa seseorang, seorang schizophrenia yang mati-matian mempertahankan harkat kemanusiaannya, di mana kitab suci tak lagi punya arti, di mana ajal justru mungkin menjadi jawaban yang lebih pasti. Jiwa manusia yang kesepian dan tak pernah mencapai katarsis karena yang ditemuinya adalah jalan buntu sampai kemudian setitik harapan datang, sebagai sebuah ending yang tetap menjanjikan. Saya kira saya tidak perlu memberikan paraphrase pada sajak ini mengingat terbatasnya ruang penulisan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira ulasan di atas telah menunjukkan kedalaman wawasan dan bobot kepenyairan Sazano, lentik-lentik api itu sudah ada dalam dirinya dan menjadi tugas pribadinya untuk terus mempertahankan nyala api itu agar bara dalam dirinya tetap hangat dan mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Sekali lagi karya yang hidup, adalah karya yang mampu memberi makna, menyentuh, menyemangati dan memberi inspirasi. Dan dalam hal ini saya beranggapan 'Moksa' karya Saza telah berhasil mencapai tataran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan yang ada barangkali adalah pada pilihan ungkapan puitiknya yang cenderung berkesan terlampau feminin, romantis dan melankolis untuk menggambarkan sebuah pengolakan jiwa yang demikian dahsyat tetapi bagaimana pun saya dengan senang hati menyampaikan pujian saya atas karya ini seperti yang telah saya sampaikan langsung kepada penyairnya,  bahwa karya-karyanya selalu mengingatkan saya pada Tagore dan lukisan-lukisan Mucha, dan selalu ia jawab dengan nada rendah,'Saya belum apa-apa Mas, bagi saya kerja belum lagi selesai.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kado ulang tahun buat Sazano&lt;br /&gt;15 Oktober 2003&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107666295337732735?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666295337732735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107666295337732735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_08_archive.html#107666295337732735' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107649440604938095</id><published>2004-02-11T17:09:00.000+07:00</published><updated>2004-02-11T17:38:35.013+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Hypogram, Pemahaman Sajak &lt;br /&gt;Melalui Pendekatan Intertekstualitas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Titon Rahmawan&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sebuah komentar yang cukup menggelitik atas sajak seseorang yang dipertanyakan orisinalitasnya membuat saya berpikir mengenai karya-karya yang terinspirasi oleh karya orang lain. Banyak orang pasti bertanya apakah karya semacam ini merupakan sebuah upaya penjiplakan atau suatu bentuk pengaruh, sehingga kita boleh memberi cap plagiator atau epigon pada  orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kita mesti mengkajinya lebih jauh pada karya itu sendiri, di mana saya beranggapan bahwa bentuk penjiplakan tentu saja berbeda dengan peniruan gaya. Tak ada sedikit pun unsur kreatifitas dalam sebuah karya hasil menjiplak sementara dalam peniruan gaya yang terjadi adalah kegagapan daya ungkap personal seorang penulis yang belum menemukan bentuknya sendiri sehingga merasa perlu untuk mengikuti gaya ungkap orang lain, dan gejala ini dapat kita jumpai di mana-mana. Segala bentuk penjiplakan tentu saja tidak dapat kita hargai, sementara bentuk epigonisme barangkali masih dapat diterima dalam konteks sebagai sebuah proses untuk  menjadi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar permasalahan itu kita masih bisa mengkaji bagaimana pula dengan karya-karya yang lahir sebagai sebuah hasil inspirasi setelah membaca karya orang lain? Kita bisa melihatnya melalui pendekatan intertekstual yang mula-mula dikemukakan oleh Michael Riffaterre dalam bukunya 'Semiotics of Poetry' (1978) yang menyatakan bahwa karya sastra adalah merupakan   a dialectic between text and reader, pembaca memiliki peranan untuk menemukan dan menafsirkan response yang terkandung dalam sajak. Dengan kata lain pembaca bertugas untuk menemukan makna atas unsur-unsur sebuah sajak yaitu di dalam kata-katanya.  Riffaterre juga menyatakan bahwa sajak akan menemukan pemaknaannya yang penuh manakala dilihat posisinya dalam hubungannya atau pertentangannya dengan karya lain. Dari situ kita kenal istilah 'hypogram' yang menurut pandangan DR. A. Teeuw merupakan latar: tulisan yang menjadi dasar (yang eksplisit maupun yang tidak) bagi penciptaan (kreasi) karya baru lainnya. Sutardji Calzoum Bachri dalam esainya 'Hijau Kelon' pun pernah menyatakan bahwa sebuah karya seringkali di tulis di atas lembar kertas kerja orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hypogram ini Teeuw telah memberi contoh yang sangat konkret yaitu sajak Amir Hamzah 'Berdiri Aku' sebagai hypogram karya Chairil Anwar 'Senja Di Pelabuhan Kecil', dalam kajiannya Teeuw menemukan bahwa sajak Chairil baru memperoleh pemaknaannya yang hakiki lewat hubungan intertekstualitasnya dalam kontrasnya dengan sajak Amir sebagai sebuah alternatif yang mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 tahun setelah tulisan Teeuw  dalam esainya 'Estetika, Semiotic dan Sejarah Sastra' tersebut,   saya melihat semakin banyak bukti kebenaran teori Riffaterre via analisis Teeuw dalam perkembangan perpuisian Indonesia modern. Sebagaimana Teeuw saya sepakat bahwa prinsip intertekstualitas lebih jauh jangkauannya dari sekedar perkara pengaruh (epigonisme) atau penjiplakan. Pendekatan intertekstualitas akan sangat membantu pembaca untuk lebih jauh dalam memahami sebuah sajak, tanpa terlepas dari pemahaman atas strukturnya sehingga dapat diperoleh dimensi penghayatan yang lebih utuh dan lengkap atas karya-karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kita pahami bahwa intertekstualitas seringkali bukan merupakan sebuah proses kesadaran atau kesengajaan dari seorang penyair, karena lintasan-lintasan peristiwa, pengalaman literer, perenungan seringkali merupakan potongan-potongan kejadian yang kabur hubungannya antara satu dengan lain, dan sebuah judul yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran kita untuk kita jadikan judul sajak bisa saja merupakan potongan sebuah teks karya orang lain, siapa tahu? Namun gejala itu sebenarnya dapat ditelusuri kembali secara obyektif bila saja kita mau secara jujur melakukan pembongkaran atas lahirnya sebuah proses kreatif. Dan sesungguhnya pengkajian ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan tidak saja untuk memahami sebuah karya tapi juga untuk lebih memahami sejarah sastra itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa temuan, saya tampilkan beberapa karya yang bisa kita kaji apakah merupakan sebuah hypogram atau bukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/  karya Ani Sekarningsih (saya tampilkan keseluruhan di sini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu Nuh&lt;br /&gt;(buat: c.m.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katamu 'ba' perahu Nuh&lt;br /&gt;Mengapung&lt;br /&gt;Bertopang sebongkah batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun, berkayuh kasrah&lt;br /&gt;Di samudra tak bertepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan,&lt;br /&gt;'Ba' cekungan mata yang tungal&lt;br /&gt;bernahkoda sirr yang mendayung kasrah&lt;br /&gt;Menggulung gelombang,&lt;br /&gt;menjerat badai&lt;br /&gt;dengan nafasNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Jibril menganga&lt;br /&gt;menambat perahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang, wahai rasulNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dari mimpiku, 13 Januari 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2/ karya Candra Malik (hanya saya kutip 3 bait pertama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu Ba'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nuh mengetuk pintu Maha Samudera&lt;br /&gt;di ujung lelangitan dia menegur,&lt;br /&gt;:setelah burai nyawa kan'an&lt;br /&gt;sesudah ngarai berubah lembah&lt;br /&gt;dan perahu ba' dipikul sebongkah batu&lt;br /&gt;'sekarang, apa lagi'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nuh mengetuk pintu Maha Air Bah&lt;br /&gt;di mula purnama dia menawar,&lt;br /&gt;setelah banjir bandang menguap&lt;br /&gt;sesudah sapi-sapi melenguh&lt;br /&gt;dan perahu ba' dipikul sebongkah batu&lt;br /&gt;'haruskah kususun satu umat lagi'&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;nuh mengetuk jendela Maha Gila&lt;br /&gt;:setelah direngkuh julukan gila&lt;br /&gt;sesudah membiarkan diri diludah&lt;br /&gt;dan perahu ba' dipikul sebongkah batu&lt;br /&gt;'masihkah aku mesti di rekah mega-mega'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dua karya di atas kebetulan sama-sama di muat dalam antologi puisi cyber 'Graffiti Gratitude'. Tak pelak lagi sajak Candra Malik merupakan sajak yang sangat bagus dan berhasil, saya bahkan menilai sajak tersebut merupakan salah satu sajak yang paling menonjol dalam kumpulan ini pertama-tama dari keberhasilannya sebagai sebuah karya interteks karena sajak ini jelas-jelas terinspirasi dari kitab suci Al Quran di ambil dari kisah Nabi Nuh. Sebagai sebuah karya interteks dengan mengacu pada karya besar  yang memiliki nilai-nilai universal membuat sajak Candra memiliki beban psikologis dan filosofis yang tidak ringan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya itu harus dimengerti dari konteksnya dengan kebenaran universal itu dan sekaligus dari kajian interteks yang sifatnya yang religius dan dogmatis. Dan di mana Candra ingin menampilkan kisah ini bukan dalam bentuk epik melainkan dalam bentuk lirik mengundang kesulitan tersendiri. Sajak ini tergolong pula sebagai sebuah sajak yang cukup panjang terdiri dari 13 bait dan seluruhnya 66 baris membutuhkan sebuah energi daya ungkap yang rumit dan pasti tidak gampang. Dan di sinilah keunggulan Candra dimana dia secara konsisten mampu merangkai kesatuan sajak itu sebagai sebuah karya yang utuh, runtutan kisah yang sanggup memikat pembaca hingga ke baris terakhir tanpa sedetik pun kita kehilangan pesona. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sajak yang sarat dengan muatan filosofis, di mana manusia daif tengah menggugat kekuatan di luar dirinya, mempertanyakan alasan di balik sebuah kejadian fenomenal dalam sejarah kemanusiaan, dan secara tidak langsung mempertanyakan eksistensi kosmologi universal itu, mempertanyakan asasi ketuhanan dengan seluruh kuasaNya, bahkan seorang seperti Nuh masih harus bertanya… dan di setiap baris sajak kita  dibawa pada perenungan itu sampai akhirnya kita dipertemukan dengan jawaban seluruh pencarian. Sajak yang sangat menyentuh, memukau, liris dan sangat puitis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri menyelubungi seluruh tubuh sajak seperti tabir sutera yang halus dan saya yakin karena sajak ini demikian memukau sehinga seorang Ani Sekarningsih pun turut tersentuh, terinspirasi untuk juga menulis 'Perahu Nuh'. Bukti pertama yang dapat kita tebak adalah bahwa sajak Ani ditujukan kepada c.m. sebuah inisial yang pasti merujuk pada nama Candra Malik.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Ani sepenuhnya merupakan responnya atas karya Chandra, di mulai dengan baris pertama: 'katamu 'ba' perahu nuh, Kalau dalam karya Candra kita merasakan sebuah 'style' ungkapan perasaan yang liris dalam rima dan iramanya, halus cara pengungkapannya dan banyak bertabur metafora berlapis-lapis dengan repetisi di beberapa barisnya maka pada sajak Ani terasa lebih lugas, ungkapan-ungkapan pendek  langsung, sajak ini pun cuma 5 bait, bait pertama merupakan sebuah referensi dari sajak Candra sementara bait berikutnya yang di mulai dengan kata 'kataku' adalah sepenuhnya milik Ani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses kreatif lahirnya sajak 'Perahu Nuh' Ani telah memberikan tanggapannya atas pengalaman literer intertekstual, pertama respon atas sajak Candra ke dua dari pemahaman pribadinya atas Al Quran dan mungkin juga dari referensinya yang lain, di sinilah muncul lapisan-lapisan penafsiran itu, bahwa karya Ani tak mungkin dapat kita pahami semata-mata dari karya itu sendiri tanpa melihat hubungannya dengan sajak Candra, dan juga kita tak mungkin memahami karya Candra tanpa mengkaitkannya secara intertekstual dalam hubungannya dengan kisah Nabi Nuh sebagaimana kita pahami dari teks kitab suci Al Quran, hubungan intertekstual ini menjadikan kerja penafsiran menjadi semakin kompleks tapi keutuhan sebuah karya menjadi lebih dapat diterima setelah kita dapat memilah-milah hubungan antara unsur-unsurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca kajian di atas saya yakin bahwa kerja kreatif secara intertekstual merupakan sebuah kerja yang layak dihargai sebagaimana kerja kreatif lainnya,  dan bobot kepenyairan seseorang secara obyektif dapat kita nilai kembali dari karya-karya yang dihasilkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107649440604938095?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107649440604938095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107649440604938095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_08_archive.html#107649440604938095' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107606216783073215</id><published>2004-02-06T16:59:00.000+07:00</published><updated>2004-02-06T17:13:37.420+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Beberapa prosa liris:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Biografi Dari Bunga Matahari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuas gemetar menangkap kepedihan di ujung kanvas putih, putih semata. Tube-tube cat yang pucat menelan dirinya di atas palet yang kosong, hampa dari bau terpentin yang memabukkan. Sedang singa menggerogoti tubuh sekerat demi sekerat makin tenggelam oleh tawa yang membuat gila dari para perempuan sundal itu, tawa mereka menyakitkan telinga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga jadi mengucur darah, mengucur darah! oleh tajamnya sembilu hasrat yang resah mengotori tangan dengan rasa pedih, menggores, menusuk, mengerat. Lebih nyeri di jantung sendiri yang rindukan angan, rindu warna, rindu jiwa. Pikiran jadi tambah gila, hilang bentuk, hilang rupa, hilang  pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedihnya sepi membelenggu hati menikam-nikam kanvas tanpa daya, tak lagi mampu guratkan garis dan warna bergelut dan terus bergelut dalam jiwa yang rindu dendam, dan kehampaan diri makin membuat lupa berhenti pada pencapaian puncak kesia-siaan. Mengapa tak seorang pun mengerti? mengapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Van Gogh membunuh dirinya sendiri dalam hutan yang terbakar, terbakar oleh pikiran yang kalut. Bunga matahari luruh kelopaknya satu-satu memenuhi liang lahat yang dingin, tapi ia belum mati, belum lagi. Masih tersisa pistol berasap dan potongan telinga untuk kekasih yang rindu dimakan sepi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Van Gogh tak mati, sekali pun seseorang telah menyusun pusara dari pangkuannya dalam keranjang penuh kentang dan malam penuh bintang memenuhi mimpi yang tak sampai. Anggur demi anggur di café penuh pelacur bersama Theo, Dr. Gachet, Gauguin serta semua nama dari almanak yang menyimpan ingatannya, menyimpan kenangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak mati - belum lagi, sekali pun kanvas terkoyak sepi sepanjang Borinage, Antwerpen lalu Paris yang penuh duri-duri. Ia tak mati, ia tak mati sampai Arles memanggilnya dengan penuh kecintaan; rumah kuning itu, taman bunga Irish, pohon-pohon Cypres dan rumah sakit Saint Remy yang menunda kegagalan demi kegagalan, tapi ia tak mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, lelaki malang itu mencintai kepedihan, tetapi ia lebih mencintai cahaya lebih daripada jiwanya yang lelah mencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Topeng-Topeng Membuat Kita Tenggelam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri di tubir waktu, penuh hasrat menanggalkan topeng yang mulai usang, wajah jadi potret resah menyimpan hati yang gelisah seperti merasa asing dari diri sendiri. Betapa sulitnya berterus terang juga kepada batin yang terlanjur sepi jauh dari makna cinta dan kasih. Bukankah tak ada yang perlu disembunyikan dari guratan tangan sang nasib, hidup sudah tertulis dan perjalanan telah menerakan jejak kita di pasir waktu. Tak ada jalan untuk kembali, tak ada yang bisa kita ingkari tak ada yang mungkin dipungkiri lagi, tapi kita masih saja sembunyi dari realitas di luar diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topeng-topeng itu tidak sempurna sembunyikan luka-luka wajah kita, carut marutnya hati dan goresan-goresan tangan yang menggambarkan kekecewaan, tak ada yang sempurna, tak ada yang sempurna, seperti mimpi yang kabur, angan-angan yang lepas harap berusaha terus mencari jalannya pulang tapi jalan itu tak pernah ada, memang sesungguhnya tak pernah ada, karena mata kita buta tak mampu melihatnya, sedang kita masih saja berdiri di tubir waktu dengan kepala berpaling menatap masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topeng-topeng hanya membawa derita, pengingkaran, ketidak pedulian, dan juga kepahitan yang mungkin akan selamanya membelenggu diri, hidup yang penuh kesia-siaan rangkaian kepedihan demi kepedihan yang membuat kita tenggelam makin jauh tenggelam kedalam sumur tanpa dasar bersama topeng-topeng kepalsuan yang telah melekat abadi di wajah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasrat Dalam Kaleng Coca-Cola&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut sudah jadi tawar dari keinginan menyetubuhi milik sendiri, karena pikiran begitu banyak disibukkan oleh setrika, penggorengan, sikat sepatu, botol susu, kain pel dan sabun cuci. Hari-hari merajam sepi dari pagi ke pagi, sedang badan tak lagi punya tempat buat angan-angan. Hasrat terlampau lelah buat berbagi dari diri yang asing dan sekaleng coca-cola. Pikiran mendengung oleh lemari es yang membeku dan kemarahan gemetar mengusir mimpi dari pompa air yang mengalir lewat pipa-pipa yang kosong, menyumbat penis, menyumbat hidung, menyumbat tenggorokan, menyumbat wastafel dan jamban juga. Hati jadi begitu rapuh, begitu mudah menyakiti diri sendiri. Dan mulut pun semakin tawar oleh hasrat yang kering, angan-angan pergi ke luar rumah mencari kesenangannya sendiri dalam kerlap-kerlip lampu kota, dalam tumpukan tabloid, dalam remang-remang kalutnya pikiran, kemana saja asal bukan rumah yang ingin dilupa dari waktu 30 menit saja. Rumah sudah bukan lagi milik sendiri, segala sesuatu telah berubah jadi milik orang lain dan hasrat jadi tandas dalam kaleng coca-cola berkarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suara Pengemis Dalam Diriku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengemis datang menyapaku dengan sungai rembulan dalam matanya mengharap kebijaksanaan 500 perak. Aku menggeleng saat itu melepas berkat tasbih pada otot lenganku yang kaku, 'Mengapa engkau membenci diriku wahai anak Adam?' Ia bertanya dengan sungai rembulan dalam matanya. Doa terdiam dalam mulutku, tiba-tiba kata-kata jadi bisu sendiri. Suara cicak memengkis diriku, malam jadi begitu asing kedalamannya, waktu jadi begitu arif kedukaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupejam mata merenungi jiwa yang kosong mencoba mendengar kembali suara pengemis itu, tapi ia pergi begitu saja dalam desau angin. Doa-doa jadi bisu sendiri dalam malam sungai rembulan yang simpan 500 perak di matanya, dalam suara cicak yang begitu arif dukanya, dalam suara waktu yang begitu asing kedalamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembulan menetes jadi hujan menggigilkan hatiku yang kering, rindukan suara pengemis dalam diriku, benarkah aku demikian miskin oleh ketidakhadiran 500 perak dalam diriku? Ataukah pengemis itu yang terlampau kaya dibanding batinku yang papa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang malam itu aku berlari-lari kesetanan mencari doaku yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2003 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pulo Gadung Siang Itu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, orang-orang makan dan minum di warung itu sambil menyimpan harapan dan penantian pada bangku-bangku bus yang kosong, AC yang sejuk dan sesaknya tas penuh bawaan. Anak-anak masih berebut segelas es jeruk yang akhirnya tumpah ke atas meja bersama toples-toples, botol penuh kecap dan sambal jadi setumpuk kejengkelan yang bercokol di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang masih sibuk membuat percakapan agar diri tak sepi diantara bangku-bangku dan mata-mata penuh rasa curiga akan cederakan hari-hari, juga kepulan asap rokok yang membusuk di dada makin pekat saja. Wajah-wajah gelisah, wajah-wajah lelah, menjauhkan diri dari teriakan penjual koran yang makin parau. Pulo Gadung jadi selembar cucian yang telah lama kering di atas jemuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terminal telah terkepung oleh orang-orang lalu-lalang, datang dan pergi, semut-semut antri mencari sekepal nasi dan preman-preman dengan lengan penuh tatto berkeliaran mencari mangsa, dan teriakan:'Copet! copet!' buyarkan lamunan siang itu yang mulai membakar Pulo Gadung dengan garangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cempaka Putih, 1993  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sepanjang Siang di Pulo Gadung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang membayang seperti asap, harapan yang begitu kering pada tumpukan koran yang tak laku semenjak pagi. Lama juga rasanya ingin segera terjaga dari lamunan sejuknya segelas coca-cola dan bau sate kambing yang mengelitik perut laparku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mandi lagi dan menciptakan telaga di tengah-tengah terminal ini, biar semua orang bisa menghirup nafasnya kembali dan tak ku lihat lagi wajah-wajah kumal berpeluh itu. Benar, benar tak ada sedikit pun kecintaan di hatiku yang tawar, pada hiruk-pikuknya terminal ini yang telah begitu lama tertelan oleh deru debu dan asap bus kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepapaan telah memaksaku terdampar di sini, bukan atas kemauanku sendiri mengais sisa-sisa lamunan yang terbaring lesu di kampungku. Tak kukira kota begitu penuh asap dan kekotoran, membuatku tak percaya lagi manusia saat segerombolan preman merampas dompet dan harga diriku di jembatan penyeberangan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku tahu barangkali aku masih harus menunggu lebih lama sebelum dapat berkirim kabar kepadamu -  hasrat yang belum lagi sampai - dan sepanjang siang ini wajahmu membayang seperti asap, memacu jantungku, memacu darahku, untuk mengalahkan preman-preman terminal ini, kota ini, dan diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cempaka Putih, 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pulo Gadung Adalah Monumen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulo Gadung adalah rawa-rawa tandus, tempat orang-orang memacu diri sambil memasang cermin agar mereka yang datang dan pergi dapat mematut diri, mengambil dan juga memberi apa yang mereka ingini. Sering-sering ada berita di situ tentang orang-orang yang bertemu dengan orang lain dari tempat yang jauh, mereka bergandengan tangan membuat tenda, kedai-kedai dan ambulan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus kota adalah tempat peristirahatan paling nyaman dari kejaran preman yang lapar. Seperti kita juga yang belum minum semenjak pagi dan tukang koran lupa menawarkan berita tentang peperangan dan runtuhnya peradaban. Akhirnya kita sama-sama melubangi tembok terminal dengan cangkul dan linggis, kemudian kita menyusunnya lagi dengan gelas-gelas dan pecahan kaca yang kita ambil dari warung-warung terdekat. Banyak orang menangis saat tembok itu runtuh dan orang-orang ramai berebut kepingan batu-bata buat dijadikan panorama di dalam gubuk-gubuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulo Gadung sudah lama tenggelam jadi rawa-rawa bersama tenda-tenda, kedai dan teriakan massa, dan hati kita makin tandus oleh kerinduan hiruk-pikuknya zaman yang lalu lalang bersama metromini dan bus antar kota. Di situ seseorang telah mendirikan monumen megah sekali untuk mengingat kembali peradaban kita yang telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cempaka Putih, 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107606216783073215?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107606216783073215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107606216783073215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_01_archive.html#107606216783073215' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107605443049972463</id><published>2004-02-06T14:59:00.000+07:00</published><updated>2004-02-06T17:45:59.576+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Malam Kian Kelam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(cerpen Titon Rahmawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kipas angin tergantung lesu di langit-langit, terperangkap sarang laba-laba berputar lambat jelmakan bayangan muram merayapi dinding abu-abu kusam bangsal rumah sakit itu. Kulihat ada bercak-bercak merah di sekujur tubuh lelaki itu, sesekali mulutnya menyeringai menahan nyeri yang menyangkut di tenggorokan. Kucium bau busuk nafasnya  hingga ke tempatku berdiri. Noda-noda kuning bekas air seni telah meninggalkan noda karat di atas sprei, dan laki-laki itu tak lagi sangup mengerahkan seluruh persendiannya.seolah terbaca pada wajahnya bahwa usia adalah angka-angka yang tak lagi punya makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku terasa penuh seperti genangan air kemih dalam tempolong yang minta segera di buang ke kakus, setelah lewat jaga jam pertama. Infus telah diganti beberapa kali dan laki-laki itu bahkan tak mampu membuka kelopak matanya sendiri. Dari ruang sebelah masih terdengar erangan dan sengal nafas, juga keluh para perawat yang harus menghabiskan sisa malamnya, menyesali waktu yang tak juga kunjung usai. Sementara malam merambat demikian perlahan dalam pekatnya  cangkir kopi di atas meja. Rutinitas bergulir dari detik ke detik merangkaki malam yang kian lengang, lorong-lorong makin terasa suram di bawah temaram cahaya lampu 10 watt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gelisahku aku berjalan dari satu ranjang ke ranjang yang lain di bangsal ini, penuh dengan wajah-wajah kelabu yang kusam menyedihkan, sedang di luar bulan menitik pada malam yang kian pudar menembusi lubang-lubang di dinding, tetesannya jatuh ke atas wajah lelaki yang aku tungui, membuat wajah itu semakin pucat tenggelam dalam matanya yang cekung. Malam kian kelam dan mulut lelaki itu menganga membentuk rongga, tenggelam begitu dalam seperti lobang sumur gelap mengantar senyap. Ada goresan batu di atas keningnya mengalirkan manik-manaik cahaya menghiasi dahinya dengan keheningan. Laki-laki itu telentang dalam kesenyapan seperti sebuah arca yang beku. Tali hidupnya hanya sebetas desah nafas perlahan yang nyaris tak terbaca. kedamaian seolah terlupa dari pembaringan itu seperti ada yang ingin segera pergi bersama daun-daun yang luruh di pekarangan rumah sakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berasa bosan menunggu sendiri dan semut-semut merah serasa menjalari kaki, menggerumuti tubuhku sedikit demi sedikit dan tanganku bergetar setiap kali menangkap isyarat dari detak-detak jam di dinding di atas pembaringan lelaki itu.  Pukul 11 lewat 15 menit masih beberapa puluh menit lagi sebelum waktuku habis. Jemu menunggu, aku jadi demikian tak sabar, padahal pekerjaan ini telah aku jalani berjuta-juta kali, tetapi setiap moment penantian selalu saja membuatku gelisah dan aku tak sanggup menafsirkannya mengapa. Dingin malam terasa menggigit lebih dari biasanya, menusuk merembes lewat pori-pori dinding langsung menembus jubah malamku. Segera perasaanku tergoda untuk meminjam selimut lelaki itu karena kutahu ia tak akan memerlukannya sebentar lagi.&lt;br /&gt;Aku dapat membaca pikiran dan kegelisahannya, sekali pun kabur seperti titik-titik embun dalam cadar kabut. Dunia laki-laki itu terperosok jauh ke dalam rumah-rumah gubuk di pinggir kali, gubuk-gubuk dari kertas karton dan papan kotak bekas, ada seorang bocah di sana, kulit dekil penuh koreng dengan mata kelereng yang bening barangkali itu satu-satunya mutiara yang dapat ditemukan di tempat busuk itu, dan juga seorang wanita dengan rambut acak-acakan sibuk oleh tumpukan kertas koran, kardus-kardus dan sampah. Kehidupan yang penuh dengan warna lumpur dan karat, sedang laki-laki itu berdiri saja di bendul pintu termangu untuk waktu yang sulit untuk di duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat pandangan pasrah wanita itu, mungkin saja ia istri lelaki itu dan juga tangan penuh koreng tengadah milik bocah lelaki yang mungkin saja anaknya mata mereka seperti mengharap sesuatu entah apa, namun yang pasti hanyalah sebuah tamparan di pipi dan tendangan di kaki yang mereka terima. Kabut yang suram seperti genangan keruh air kali tempat orang-orang membuang hajat, mandi dan gosok gigi. Dan bau busuk itu semakin keras tercium, di sini di atas pembaringan rumah sakit kelas kambing tempat laki-laki sekarat itu menahan pedihnya batu-batu yang merajam tubuhnya setelah sebuah usaha pencopetan yang gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingin bercakap dengan angin, 'maafkan aku, sesungguhnya tak ada yang dapat kuperbuat, karena engkau sendiri yang mencuri hidupmu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat air mata mengalir dari ujung mata lelaki itu, dan aku tahu ia tidak saja menyimpan kepedihan dalam bibirnya yang kelu, aku sadari dalam tiap moment seperti ini selalu saja ada hal lewat yang harus di sesali. Laki-laki itu bukan saja telah kehilangan mimpi tapi ia juga telah kehilangan kesempatan. Tubuhnya jadi begitu dingin menyimpan luka-lukanya barangkali juga kepedihan dan kekecewaan hatinya, aku dapat merasakannya sampai jauh ke ulu hati, sedang di luar kudengar jeritan kelelawar dalam desah dingin malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku tak begitu peduli, apakah dulunya lelaki itu cuma seorang gali, atau seorang pencopet kelas teri yang akhirnya menemui naasnya, ia tak lebih busuk dari orang-orang lain juga. Dunia yang asing bagiku, karena aku lebih suka wangi kelopak-kelopak mawar dan kamboja yang luruh di terpa angin yang selalu membawaku kembali ke tempat roh-roh orang mati, dunia yang begitu tenang, jauh dari riuhnya peradaban, kebobrokan, dan kemunafikan. Yang ada cuma jasad-jasad yang terbaring tenang dalam genangan waktu menunggu saat penghakiman tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan laki-laki di atas pembaringan itu pun barangkali tak akan pernah menyadari bahwa aku sudah begitu dekat dengan dirinya hanya sebatas degupan jantung, hingga waktu itu pun tiba, pukul 11 lewat 55 tepat  saatnya bagiku mengucapkan salam, mengecup keningnya dan membawa arwahnya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. Februari 2004  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107605443049972463?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107605443049972463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107605443049972463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_01_archive.html#107605443049972463' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107605412625236919</id><published>2004-02-06T14:53:00.000+07:00</published><updated>2004-02-06T17:47:59.373+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kitsch, Karya Sastra Tanpa Nilai Sastra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Titon Rahmawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lanjutan diskusi tentang penilaian atas karya sastra seorang rekan mengajukan tema berikut ini: Apakah yang sesungguhnya membedakan sebuah karya sastra dengan karya yang tidak bernilai sastra tentu saja tema itu kembali mengundang perdebatan seru. Mengenai pertentangan dalam menilai sebuah karya sastra pernah saya sampaikan dalam tulisan saya sebelumnya (lihat: Pertentangan Dalam Memahami Dan Menilai Karya Sastra). Dalam kesempatan ini saya ingin lebih banyak mengulas tentang karya yang tidak bernilai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan mengenai sastra (kesusasteraan) dapat di pakai sebagi langkah pertama kita berpijak, kesusasteraan adalah karya tulis yang memenuhi ketentuan orisinalitas, artistik atau keindahan, baik dalam isinya maupun pengungkapannya sehingga mampu menggerakkan jiwa penikmatnya. Sebagaimana saya ungkapkan dalam tulisan saya terdahulu masih ada beberapa konvensi yang harus dipahami dalam memberikan sebuah penilaian dan tentu saja karya yang tidak bernilai adalah karya yang mengingkari konvensi-konvensi tersebut dan sekaligus juga bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran universal yang diemban oleh sebuah karya sastra yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra tanpa nilai sastra itu biasa disebut juga dengan kitsch. Menurut Sapardi Djoko Damono, kitsch adalah merupakan karya tiruan yang mengambil bahan dari kebudayaan yang sejati di mana karya tersebut hanya menuruti selera masyarakat luas namun tidak peka lagi terhadap inti kebudayaan tersebut, dengan kata lain kitsch adalah semuah imitasi dari hasil kebudayaan-kesenian-kesusasteraan sejati dan dipergunakan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri penulisnya. Kalau saya boleh mengutip kembali pernyataan Aristoteles bahwa semua karya yang baik harus mengandung kebenaran universal Disini jelas bahwa kitsch sebagai sebuah tiruan (imitate) telah mengingkari kebenaran universal itu karena imitasi berarti pula palsu (fake) yang tidak memiliki nilai orisinalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya karya-karya kitsch muncul dari dorongan budaya instant tanpa motif dan kalau pun ada motif pastilah motif yang dangkal semata-mata untuk kepentingan tertentu dari penulisnya. Kitsch muncul sebagi slogan atau jargon sebagai corong kepentingan, di mana muatan estetis dan budaya diabaikan oleh karena muatan slogan itu menjadi yang lebih penting. Karya muncul sebagai sebuah ungkapan klise yang terlampau umum atau bahkan terlampau verbal di mana realitas tampil naïf apa adanya dan tidak kita temui benih-benih kreativitas di dalamnya. Sajak di bawah ini bisa kita pakai sebagai contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Buku Catatan&lt;br /&gt;Karya Agnes Veronica&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah buku catatan&lt;br /&gt;yang menyimpan apa yang kubutuhkan&lt;br /&gt;Kata orang aku harus mencatatnya&lt;br /&gt;sebelum matahari terbenam&lt;br /&gt;sebelum semuanya menghilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah buku catatan&lt;br /&gt;yang ketika kuisi dengan semua harapan&lt;br /&gt;dengan semua pikiran terbaikku&lt;br /&gt;harus kuhapus begitu selesai kutulis&lt;br /&gt;Sebab katanya lagi,&lt;br /&gt;matahari akan terbenam&lt;br /&gt;bila tulisan itu tidak segera kuhapus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah buku catatan&lt;br /&gt;yang tetap kosong&lt;br /&gt;walau tersentuh dan terbuka suatu ketika&lt;br /&gt;Sebab pemiliknya tidak tahu&lt;br /&gt;Apakah harus terisi atau kosong&lt;br /&gt;Apakah matahari harus tenggelam &lt;br /&gt;atau tetap berada ditempatnya&lt;br /&gt;Apakah orang-orang tidak marah&lt;br /&gt;jika gelap melanda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya&lt;br /&gt;Aku butuh sebutir aspirin&lt;br /&gt;bukan sebuah buku catatan kosong&lt;br /&gt;Sebab&lt;br /&gt;Matahari akan tetap terbenam juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal-hal yang tidak konsisten dalam karya di atas dan ungkapan-ungkapan yang bagi pembaca menjadi tidak jelas maksudnya karena si penulis pun tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Pertama-tama sajak ini bertumpu pada sebuah realitas, karena sulit bagi kita untuk mengandaikan bahwa catatan itu dan terbenamnya matahari itu adalah sebuah &lt;em&gt;style&lt;/em&gt; sebuah ungkapan puitis yang mengandung metafora atau simile tertentu akan tetapi realitas itu sendiri bertolak belakang dengan penalaran sebagaimana dalam bait pertama bahwa kata orang: aku lirik harus menulis catatannya sebelum matahari tenggelam sebelum catatan itu hilang  tapi dipertentangkan dengan bait ke dua di mana katanya (orang) lagi matahari akan terbenam bila tulisan itu tidak segera dihapus oleh si aku lirik. Dari sini sajak itu seolah mengajak pembaca ke arah mistis: siapa yang dapat menentukan terbenamnya matahari? Namun pada bait ke tiga justru si aku lirik tidak tahu apa yang harus diperbuatnya pada ungkapan sebab pemiliknya tidak tahu, dan dalam bait terakhir sajak ini semakin terlihat seberapa bobot sajak ini di mana si aku lirik ternyata cuma membutuhkan aspirin dan bukan sebuah catatan karena toh matahari akan terbenam juga. Sebuah karya yang berawal dari miskinnya gagasan dan berakhir dengan nonsen. Inilah contoh kitsch yang saya maksud di mana karya ini tidak mencerminkan kebenaran universal dan penulis gagap dalam menyampaikan gagasannya bahkan kita tidak menemukan adanya sebuah lentik gagasan pun di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak yang baik tidak pernah berawal dari kekosongan, selalu ada lentik pemikiran, ada selubung misteri yang melingkupinya dan misteri itu menimbulkan multi penafsiran sehingga cita rasa keindahan itu mampu menggerakkan jiwa pembaca dari yang imanen hinga mampu bergerak ke    arah yang transenden.  Karya yang tidak mampu menggerakkan kesadaran  dan hanya berhenti sebagai sebuah teks yang verbal tanpa bobot atau nilai sastra tidak akan mampu menciptakan riak dalam diri pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitsch tidak kita temukan adanya visi, motif, dan olah kreatif yang mampu menunjukkan karakter penulisnya, karena itu kitsch sering muncul dalam sajak-sajak untuk kepentingan agitasi, slogan corong kepentingan kelompok tertentu, juga dalam puisi-puisi gagu yang tidak mampu merefleksikan pemikiran penyairnya, miskin kata-kata dan miskin gagasan, puisi berhenti sebagai bunyi tanpa adanya koherensi ke arah pemaknaan, juga dalam sajak yang tampil terlampau lugu tanpa adanya suatu ‘style’ sebagaimana karya puisi di atas sehingga tidak kita temukan adanya suatu kiasan, metafora yang meningkatkan apresiasi atas karya itu. &lt;br /&gt;Juga karya-karya eksperimental yang tidak di dukung oleh struktur budaya dan penalaran yang jelas. Dalam kecenderungan puisi modern yang lebih mengarah ke prosa kita juga temui kitsch dalam karya-karya padat kata tapi tak mendukung makna dimana kata-kata ditumpuk sedemikian rupa tapi tidak jelas hubungannya antara satu dengan yang lain tanpa adanya upaya meneguhkan makna sajak secara keseluruhan. Juga sajak yang tidak menunjukkan totalitas yang sublim, utuh, intens, dan mampu mendorong hasrat penulis menuju pathos sebagai cerminan puncak kreativitas berkarya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam genre lain kita temui cerpen atau novel yang semata-mata mengejar popularitas dan aspek ekonomisnya semata, karya demikian begitu mudah jatuh menjadi kitsch apabila terlampau mengedepankan melodrama, romantisme semu dan hanya menjanjikan mimpi-mimpi, karena karya semacam ini pun mengingkari hakekat kebenaran universal itu. Begitu pula dengan karya-karya yang tidak menampilkan orisinalitas gagasan atau pengungkapan dan tidak ditemui jejak-jejak kreatif di dalamnya. Dalam cerpen atau novel kita bisa temukan karya tanpa plot yang jelas, tanpa penokohan yang berkarakter, kejadian-kejadian yang serba kebetulan, komedi yang tidak lucu, parody yang tidak mengesankan serta tidak adanya konflik dan penjiwaan, semuanya berakhir dengan serba gampang, permasalahan terselesaikan begitu saja, alur cerita serba mudah di tebak, stereotype, tidak imaginatif, realitas yang diungkapkan terlampau lugu dan  melodaramatis yang berakhir dengan murahan. Terlebih lagi karya-karya yang jelas-jelas merendahkan atau bahkan melecehkan derajat kemanusiaan, menghindari kebenaran serta tidak mengajak pembaca untuk belajar menjadi arif tapi justru menjerumuskan kepada kebebalan dan kedunguan adalah karya-karya dalam kategori ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi apakah karya-karya demikian sepenuhnya salah, tak bernilai, dan dapat kita cap sebagai sampah? Barangkali itu akan menjadi topik perdebatan berikutnya mengingat dalam derasnya arus budaya pop sekarang ini selalu terbuka berbagai macam kemungkinan, semuanya berpulang kepada pembaca, karya macam apa yang ingin dibacanya. Dan seperti yang disinyalir oleh Seno Gumira Ajidarma, dalam masyarakat yang nyaris tidak memiliki budaya membaca tulisan macam apa pula yang bisa dianggap bernilai? Setidaknya masih ada yang dapat kita perdebatkan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2004   &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107605412625236919?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107605412625236919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107605412625236919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_01_archive.html#107605412625236919' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107595608042813648</id><published>2004-02-05T11:40:00.000+07:00</published><updated>2004-02-06T17:35:16.640+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ziarah Panjang Seorang Penyair &lt;br /&gt;Untuk Menemui Kekasihnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(oleh titon rahmawan)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya untuk memahami sajak-sajak Agus Manaji telah memaksa saya untuk mengikuti sebuah perjalanan ziarah yang panjang dan dalam menelusuri lorong-lorong bahasa yang kaya dengan metafora, ke lorong kalbu yang penuh perenungan, ke lorong benak yang sarat dengan pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Manaji adalah seorang yang kompleks dan rumit, liris, berperasaan halus, santun dan berpikiran mendalam, itulah sepintas kesan yang berhasil yang saya tangkap dari beberapa sajaknya yang berhasil saya peroleh dari beberapa situs internet. barangkali kesan tersebut belum berhasil mewakili sosok penyair Agus Manaji yang sebenarnya karena terbatasnya informasi yang dapat saya peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak awal mula kemunculannya di situs ini, sajak-sajak Agus telah memukau perhatian saya terutama atas impresi dan ekspresinya yang kuat dan kemampuannya membungkus sajak-sajaknya dalam gagasan metafora yang sedemikian halus memikat. Benang merah utama karya-karya Agus adalah perenungan, pemikiran, pencarian, dan kerinduannya kepada Sang Kekasih yaitu Sang Khalik, dan sebagian besar sajak-sajaknya memang mengisyaratkan sebuah nafas yang sama. Ungkapan mengenai Kekasih ini muncul dalam sajaknya surat yang tak selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajak doa kehilangan airmata, kita rasakan sebuah perenungan yang dalam oleh sebuah perasaan kehilangan, karam, tersengal, terpenggal, terjungkal sebagai sebuah ironi atas ulah manusia yang malas menerjemahkan gelap. Sajak ini sarat dengan metafora yang merupakan kekuatan utama sajak ini. Agus dengan piawi berhasil membangkitkan imaji pendengaran, penglihatan dan perabaan kita untuk menghayati sajak ini. Agus seolah mengajak kita untuk mengikuti sebuah perjalanan metafisis menyaksikan dinding-dinding cahaya, padang-padang terbakar, dan sudut-sudut kota yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan selanjutnya Agus membawa kita melihat sebuah pemandangan hutan mungil dalam dada kota dalam sajak lanskap, di situ kita di ajak merenung tentang hakekat puisi yang telah dikerdilkan oleh denyut kota sementara diri sang penyair berdiri di tepian diam-diam mencatat peristiwa yang mengguratkan makna. Dalam sajak ini sungguh terasa kemahiran Agus mengolah diksi memainkan rima dan irama sehingga lahir sajak yang merdu mengalun, tengok kutipan berikut:&lt;br /&gt;	Kucatat diam-diam rengkuhan paling getah&lt;br /&gt;	Dari pepohonan entah yang membayang pasrah&lt;br /&gt;	Di sungai darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak rambut merupakan sajak pendek yang ekspresif menyuarakan perasaan penyair lewat personifikasi, dan metafora sajak ini berbicara tentang kerinduan, pengorbanan, dan keimanan namun terbungkus dalam selubung sutra yang sedemikian halus, lembut dan indah sehingga memaksa kita untuk mengurai selubung itu dengan sangat hati-hati sebelum mencapai keseluruhan keindahannya secara utuh. Tema yang hampir sama mengilhami dan menjiwai sajak dan Kau membidikku serta sajak surat yang tak juga selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema yang sedikit berbeda kita temui dalam sajak impresi perempuan berkerudung biru yang merupakan sajak naratif yang mengkisahkan sebuah perjuangan seorang perempuan untuk mencari identitasnya, untuk menemukan kembali Cahayanya lewat sujud kepasrahan, lewat dzikir dan doa sekali pun orang–orang terus menghujat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam sajak improvisasi untuk sisa hujan salah satu sajak terbaik menurut penilaian saya kembali Agus mengajak kita menziarahi kesetiaan, kepedihan, harapan dan doa di dalam taman hati yang penuh misteri. Metafora yang membungkus sajak ini begitu pekat, begitu liris, begitu syahdu, coba simak kutipan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait pertama:&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;	Kau simak nadi kayu berdenyut, dan kambium&lt;br /&gt;	memecah kerut, menempuh larut&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt; Pada bait ketiga:&lt;br /&gt;	dan airmata.Biarkan saja, kini, segala duka dan huruf&lt;br /&gt;	huruf tak bergugus kata, terbaca getar seribu nama;&lt;br /&gt;	berkelebatan menampar pagi hari kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus telah mencapai pathos dalam ekstase penyatuan dirinya dengan Sang Kekasih. Sebuah ritual ziarah yang mengharukan, menyentuh dan membebaskan. Sebuah catatan perjalanan yang akan terus dikenang karena ziarah itu bukan saja memberi arti atas sebuah perenungan dan mengguratkan makna atas sebuah pemikiran yang dalam tapi sekaligus juga mampu memperkaya orang lain. Dalam hal ini saya pribadi merasa sangat berterimakasih atas berkas-berkas kemilau mutiara yang sekali pun bukan milik saya dan telah membuat saya cemburu tapi telah pula memperkaya batin saya, dan kepada Agus Manaji saya menunggu ziarah-ziarahmu berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Desember 2003&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107595608042813648?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107595608042813648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107595608042813648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_01_archive.html#107595608042813648' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107595444388514560</id><published>2004-02-05T11:11:00.002+07:00</published><updated>2004-02-05T11:24:17.640+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Muatan Filosofis Dan Beban Moral Sebuah Sajak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(analisis atas sajak &lt;strong&gt;Demikianlah Sabda Zarathustra &lt;/strong&gt;karya Rini Fardhiah)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali disodori sebuah teks yang berbau filsafat maka yang pertama kali kita bayangkan adalah hal-hal yang rumit, abstrak dan pemikiran tentang keberadaan Tuhan. Ada anggapan bahwa filsafat seperti juga agama adalah identik dengan moral, dimana filsafat dan agama dipandang sebagai sarana untuk menumbuhkan nilai-nilai &lt;em&gt;humanisme&lt;/em&gt; yaitu nilai keluhuran budi manusia yang halus dan berbudaya. Dalam tataran lain sastra sering dianggap memiliki visi yang sama, sastra yang baik selalu dikaitkan dengan kemampuannya mengemban nilai-nilai kemanusian. Namun pada kenyataan praktiknya tidaklah demikian, beban moral justru merupakan sebuah stigma yang mempersulit kedudukan sastra itu sendiri karena kenyataan yang ada sastra sering tampil untuk mengungkap kebobrokan  jiwa manusia. Dalam konteks inilah saya ingin mengkaji sajak Rini Fardhiah yang berjudul &lt;em&gt;Demikianlah Sabda Zarathustra&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang awam sajak ini bukanlah sajak yang gampang dimengerti karena saratnya muatan filosofis dan karena sajak ini banyak berbicara mengenai Nietzsche tentu saja kita mesti paham siapa sebenarnya Nietzsche. Muatan filosofis dalam sajak ini memang sepenuhnya tidak terlepas dari diri penyairnya, bagaimana pun sebuah sajak adalah perwujudan obsesi sang penyair. Dalam hal ini saya melihat Rini sebagai penyair memiliki kegairahan menulis karena ia banyak berpikir dan mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek moralitas, kebenaran, eksistensi dan esensi manusia, kehidupan dan juga kematian dalam prosesnya mengejar cakrawala tertinggi yaitu Sang Entitas Maha Sempurna. Dalam beberapa tulisannya apakah itu sajak atau esei Rini selalu muncul dengan tema yang kurang lebih sama dan saya yakin tema itulah yang menjadi curahan obsesi pribadinya, dan oleh karena itulah Rini mencintai filsafat, sebuah perasaan cinta yang sangat mendalam karena dalam mewujudkan perasaan cintanya ia banyak melakukan penggalian nilai-nilai di mana ia mencoba menemukan mutiara dalam lentik-lentik pikiran Nietzsche, Leibnitz, Descartes, Spinoza dan beberapa nama filsuf lain yang banyak ia singgung dalam diskusi sastra. Saya melihat kegelisahan Rini bukan semata-mata kegelisahan filosofis tapi juga merupakan gairah puitik di mana ia banyak mengekspresikan pemikirannya dalam bentuk sajak. Tentu saja melihat latar belakangnya yang sedemikian rupa bisa kita katakan bahwa sajak ini tidak lahir dari kekosongan, sekali pun secara berkelakar ia menyampaikan bahwa sajak ini lahir dari sebuah ketidak sengajaan sebagai komentar atas tulisan seorang member di  milis bunga matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari strukturnya sajak ini cenderung sebagai sajak ekspresif di mana sang penyair menggunakan pilihan kata atau diksi yang lugas dengan gaya penceritaan naratif tanpa terikat rima irama untuk memperkuat kesan ekspresinya. Secara keseluruhan sebenarnya sajak ini merupakan sebuah ironi yang memunculkan efek ekstrem atas tingkah laku manusia dan di dominasi oleh beberapa pertanyan retoris yang dimaksudkan untuk menyindir perilaku manusia. Hampir setiap ungkapan bernada sinis sehingga efek ironis benar-benar menohok perasaan pembaca. Bahkan Rini yang notabene seorang perempuan dengan berani mempergunakan ungkapan yang bagi sebagian orang akan dianggap cukup vulgar yaitu pada ungkapan &lt;em&gt;Aku minta maaf kerena telah menjilati puting adik tiriku&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Sebab kau sibuk menyedot susu sapi betina itu&lt;/em&gt; sekali lagi bagi orang awam yang menafsirkan ungkapan tersebut berdasar makna denotatifnya akan terjebak pada belantara kata-kata yang menyesatkan padahal sesungguhnya ungkapan tersebut merupakan ungkapan bermajas pars pro toto yang merujuk pada hubungan incest (hubungan sexual antar saudara) dan bestiality (hubungan sexual dengan hewan) sebagai wujud kemuakan Rini atas standard moralitas manusia yang menurut Nietzsche telah mengalami dekadensi dan barangkali benang merah itulah yang menjadi alasan mengapa Rini memilih Nietzsche dalam sajaknya ini dan bukan Spinoza misalnya, karena seluruh sendi pemikiran Nietzsche adalah ingin merombak seluruh tatanan kebenaran dan moralitas yang menurutnya telah mengalami dekadensi dan salah satu ungkapan Nietzsche yang paling terkenal adalah &lt;em&gt;Gott Ist Tot&lt;/em&gt; bahwa tuhan sudah mati dan manusialah yang telah membunuhnya. Ini sejalan dengan tema sentral sajak ini tapi sebagai ungkapan yang ironis bahwa pada kenyataannya ungkapan itu masih tetap merupakan pernyataan yang kontroversial hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak unsur bunyi cacophony yang tidak merdu dalam sajak ini seperti pada kata kelelawar, memaki, iseng, sarang, menjilati, mati, gila, menyedot yang semuanya memberi kesan menjijikkan dan pilihan kata itu sepenuhnya mendukung pemaknaan yang ingin di capai si penyair. Selain muatan filosofis yang paling menonjol dari sajak ini adalah muatan ekspresifnya karena itu pilihan kata-kata yang lugas dan berani menjadi sangat sugestif di dukung oleh efek pencitraan secara visual dan audio yang dominan. Dari segi membangun imaji ini sajak Rini telah berhasil mencapai sasarannya, sekali pun ungkapan ekpresifnya terasa terlampau dominan sehingga mengurangi aspek liris sajaknya namun tentu saja hal ini tak terlepas dari beratnya tema yang ia angkat yang terus terang membebani dirinya dalam upayanya memadukan dengan aspek keindahan bahasa. Praktis kita hanya merasakan aspek puitik itu justru pada baris pertama kepada siapa ia menunjukan sajak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menilai sebagai buah pemikiran sajak ini betul-betul telah merefleksikan aspirasi dan inspirasi sang penyair, tapi manakala ia telah dipublikasikan dan dihadapkan kepada sidang pembaca sebagai sebuah teks yang terbuka pada beragamnya interpretasi, teks itu muncul sebagai sebuah beban penafsiran dalam hal ini atas muatan moral dan kebenarannya di mana sajak ini bisa menjadi sebuah pisau bermata dua karena sangat dimungkinkan untuk ditafsirkan lewat dua macam makna apakah itu denotatif atau konotatif dan oleh karena pilihan-pilihan kata yang sangat terbuka pada adanya penafsiran yang sedemikain rupa bisa menggiring imajinasi ke arah yang sesat. Bagaimana pun Rini telah berusaha melukiskan sebuah realitas yang tidak semata-mata harafiah, sebagaimana yang telah ia nyatakan demikian pula dengan realitas manusia bahwa sampai detik ini masih banyak orang meragukan eksistensi tuhan, dan dengan sajak ini Rini telah lantang bersuara menyampaikan sikapnya. Dalam upayanya mencapai katarsis ia telah sampai pada suatu titik di mana bila saja ia mau mengasah kepekaan puitiknya lebih jauh dengan lebih banyak berkarya maka ia bisa meraih tataran yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudahkah aku dimengerti?&lt;/em&gt; adalah pertanyaan terakhir Nietzsche dalam Dionysos melawan yang tersalib, dalam konteks ini pertanyan itu saya rasa juga berlaku bagi Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2003 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glossary: &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Demikianlah Sabda Zarathustra&lt;/em&gt; adalah juga judul salah satu karya filsuf Friedrich Wilhelm Nieztsche yang lahir 15 Oktober 1844 di Rocken Prussian Saxony (Jerman) ia dikenal sebagai salah seorang filsuf paling kontroversial hingga saat ini seperti juga Darwin di bidang illmu pengetahuan, karya-karyanya antara lain: The Birth Of Tragedy, Untimely Meditations, Human All Too Human, The Dawn, Thus Spoke Zarathustra, Twilight Of The Idols, The Anti Christ, Ecce Homo, dan Nietzsche Contra Wagner. Tahun  1889 ia sakit parah, lumpuh mental dan dinyatakan tidak waras sampai meninggalnya tahun 1900.&lt;br /&gt;Catatan penuls: Esei ini di muat di situs Bumimanusia.or.id tanggal 30 Oktober 2003 &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107595444388514560?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107595444388514560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107595444388514560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_01_archive.html#107595444388514560' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107595418615973980</id><published>2004-02-05T11:08:00.000+07:00</published><updated>2004-02-05T17:43:02.796+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pertentangan Dalam Memahami Dan Menilai &lt;br /&gt;Sebuah Karya Sastra (Sajak)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Titon Rahmawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah forum diskusi seorang rekan menyatakan bahwa baik buruknya sebuah sajak tak dapat dilepaskan dari selera subyektif pembaca, demikian pula kecurigaan dimuat tidaknya sebuah karya di media tertentu juga tidak terlepas dari subyektifitas para redaksinya. Bahkan seorang rekan malah mempertanyakan; Apakah perlunya memberi makna pada sebuah sajak? Biarkan saja sajak itu mengalir apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya pernyataan dan pertanyaan di atas mengandung paradoks dan mengingkari hakekat proses penulisan dan pembacaan atas karya itu sendiri. Saya menyangsikan apakah mungkin kita bisa sampai pada nilai keindahan atau keburukan sebuah karya tanpa melalui sebuah pemahaman? Penghayatan atas nilai keindahan atau keburukan sebuah karya adalah sebuah proses yang melibatkan nilai rasa, di mana kepekaan seseorang diuji untuk sampai pada nilai-nilai yang obyektif, sementara itu semua bentuk penilaian tidak mungkin terlepas dari konvensi-konvensi yang berkembang dalam tatanan di mana karya tersebut lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengenal adanya beberapa konvensi yang secara tidak langsung telah membentuk dunia sastra kita.  Konvensi yang pertama tentunya adalah bahasa sebagi media ekspresi dan komunikasi sekaligus sebagai prasyarat utama sebuah karya sampai pada penikmatnya. Sebuah teks puisi dalam bahasa Inggris tentunya tidak dapat kita pahami tanpa kemampuan berbahasa Inggris pula, akan tetapi pemahaman atas kode bahasa itu saja tentunya belum cukup untuk memahami atau menilai sebuah karya. Kita masih memerlukan kode-kode lain yang tak kalah penting seperti pemahaman latar belakang. Setiap karya lahir dengan latar yang berbeda, karya yang baik selalu dipicu oleh sebuah gagasan, atau faktor eksternal lain yang mendasari kelahirannya, latar itu bisa berupa kondisi sosio budaya, pengalaman tertentu, bisa pula perenungan filosofis dan pemahaman atas latar ini menjadi salah satu pintu bagi pembaca untuk menuju pada pemahaman atas karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kode lain yang tak kalah penting yaitu kode sastra itu sendiri, di mana batasan atas nilai-nilai estetika sebuah karya sastra telah memiliki patokan lewat teori-teori yang baku dan juga lewat konvensi-konvensi yang terus menerus berkembang. Eksistensi dan pengakuan atas diri seorang sastrawan dan karyanya pastilah tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya untuk melewati ujian konvensi sastra yang telah diakui.  Segala bentuk pendobrakan dan penyimpangan atas kode-kode yang konvensional bagaimana pun akan menghasilkan kode-kode baru yang lebih up to date untuk kemudian akan duji kembali dalam perjalanannya seiring perjalanan waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun sebuah sajak jelas-jelas berbeda dengan sebuah laporan ilmiah maupun laporan jurnalistik demikian pula dengan karya sastra lainnya. Sajak memiliki dunia (realitas) nya sendiri di mana susunan diksi, baris-baris dan bait menciptakan makna yang lepas dari realitas dunia nyata, sajak bisa menciptakan realitas yang berbeda bahkan asing sama sekali dari pemahaman umum. Dalam pembacaan dan pemahaman sajak dituntut energi lebih yaitu pembacaan secara kreatif yang keluar dari kungkungan idiom bahasa sehari-hari, tanpa kemampuan pembacaan sesuai konvensi sastra ini mustahil seseorang sampai pada hakekat makna. Namun demikian tidak berarti seorang awam tidak bisa meraih pemaknaan tersebut. Sajak bukanlah kenisbian yang anti tafsir, justru kelebihan sajak adalah pada multi interpretasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya manusia telah dikaruniai kemampuan membedakan berbagai macam persepsi dan memberikan beragam penafsiran atas fenomena alam, perilaku di luar dirinya dan juga dalam kemampuannya berbahasa. Dalam hal ini manusia terlahir sebagai Homo Significans (makhluk pemberi makna) dan juga Homo Fabulans (makhluk pencerita) Jadi pada hakekatnya tanpa disadari, di sangkal atau pun diyakini sebelumnya proses mencipta (kreatif) menulis, membaca sajak adalah suatu proses untuk meraih pemahaman atas makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cenderung setuju pada pandangan bahwa segala bentuk upaya untuk melepaskan diri dari makna adalah sebuah upaya yang mengingkari kodratnya, sajak bagai mana pun bertumpu pada kata dan bukan bunyi, gonggongan anjing, eongan kucing, kokok ayam  pun bisa diberi makna sebagai sebuah pertanda musim kawin, sebuah pertengkaran atau pertanda perubahan waktu misalnya, jadi segala bentuk upaya menisbikan makna itu akan menjadi sia-sia manakala kita kembalikan nilai pada nilai, hakekat pada hakekat dan toh pada kenyataannya kecenderungan puisi mutakhir justru kembali kepada lirik sementara puisi-puisi gelap dan puisi yang mengagungkan bunyi semata hampir-hampir tidak ada penerusnya. Penisbian makna bolehlah dianggap sebagai sebuah upaya untuk melepaskan diri dari keterkungkungan budaya dan tradisi tapi bagaimana pun kode utama sastra dan terutama sajak adalah: memberikan makna pada sesuatu yang tidak bermakna, kata-kata biasa sehari-hari digubah menjadi bernilai, indah dan berseni.&lt;br /&gt;Tetapi konvensi-konvensi itu tidaklah seharusnya membelenggu kreativitas, karena kreativitas harus senantiasa bebas dari pembatasan-pembatasan. Konvensi harus dikembalikan kepada  fungsi yang sebenarnya yaitu sebagai sarana yang mengantarkan sebuah karya kepada pembacanya agar dapat memberikan penilaian yang obyektif, agar pembaca  dapat meraih makna yang diharapkan dari sebuah karya. Sajak dan karya sastra apa pun selayaknya bebas, mandiri dan tidak terikat oleh fakta realitas, karena ia memiliki realitasnya sendiri dan mematuhi kode aturannya sendiri yang bisa saja berbeda dengan dunia diluar karya itu dan menurut saya itulah hakekat sebuah  fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa yang pernah dinyatakan oleh Aristoteles bahwa sastra harus menggambarkan sebuah &lt;strong&gt;kebenaran universal &lt;/strong&gt; sulit untuk kita pungkiri kebenarannya. Kita boleh menulis apa saja dan tentang apa saja akan tetapi ia baru bisa disebut sastra apabila ia tidak menyangkal kebenaran universal itu. Sekali pun pendekatan kita atas kebenaran universal itu berbeda dengan pendekatan atas moralitas, theologi, filsafat atau pun ilmu pengetahuan, karena sastra memiliki pendekatan yang sangat khas. Disinilah nilai-nilai subyektif dan obyektif bertemu, pendekatan individu dan bukti empiris berpadu. Sajak-sajak yang individualistis dan gelap sekali pun masih memiliki ruang untuk ditafsirkan kembali untuk diberi makna dalam proses berpikir yang terus berkembang, konvensi-konvensi baru yang terus lahir, sepanjang karya itu bisa hadir dan relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Disinilah perlunya kehadiran seorang kritikus yang baik, yang mampu menjadi &lt;strong&gt;pemandu&lt;/strong&gt; dan bukannya seorang &lt;strong&gt;calo&lt;/strong&gt;  bagi para pembaca awam untuk menggali nilai-nilai universal sebuah karya terutama dalam arus karya modern kontemporer yang semakin rumit dan multi tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dan pendobrakan kode-kode sastra justru merupakan bentuk sebuah dinamika yang merupakan ciri khas dalam sejarah sastra di mana pun. Munculnya paradoks-paradoks nilai-nilai antara sastra lama vs sastra baru, tradisi vs modern, estetika pertentangan vs estetika persamaan, adalah bukti kuatnya polemik yang berkembang sekaligus sebagai tolok ukur maraknya dunia sastra kita. Demikian pula pertentangan yang muncul seputar sastra gender, ungkapan verbal seks dalam sastra adalah bagian dari dinamika yang tetap dapat kita lihat dari perspektif yang obyektif, karena dalam sastra tidak ada yang mutlak, tak ada kebenaran sejati. Sastra adalah media ekspresi manusia untuk mencapai makna eksistensinya, dan dalam perjalanannya bisa saja mencapai tataran paling luhur akan tetapi tidak menutup kemungkinan berakhir pada kesia-siaan, setidaknya dari situ manusia bisa belajar untuk mencapai kebenaran universal dengan menyadari keterbatasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Januari 2004 &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107595418615973980?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107595418615973980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107595418615973980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_02_01_archive.html#107595418615973980' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6404630.post-107543041691515052</id><published>2004-01-30T09:38:00.000+07:00</published><updated>2004-02-05T11:10:08.263+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kucatat titik-titik embun dan kubiarkan mengkristal dalam hati  agar ia tersimpan abadi sebelum mentari merebutnya dariku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6404630-107543041691515052?l=langitkubiru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107543041691515052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6404630/posts/default/107543041691515052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langitkubiru.blogspot.com/2004_01_25_archive.html#107543041691515052' title=''/><author><name>titon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12687250514184794894</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
